
Sepuluh tahun pernikahanku dengan mas Kaysan sudah memberiku tiga malaikat kecil yang berharga dan tak ada gantinya.
Aku cinta mati kepada putra dan putriku yang telah memberiku warna kehidupan yang lebih nyata. Warna kehidupan yang benar-benar aku rasakan sebagai seorang Ibu.
Putriku Dalilah sudah sekolah dasar kelas
dua. Adiknya, Suryawijaya sudah masuk masuk TK 0 besar. Adiknya Suryawijaya, Pandu Mahendra sudah masuk PAUD.
Sedangkan aku ndoro ayu Rinjani, mati-matian menyelesaikan skripsi. Waktu hamil Pandu Mahendra aku benar di buat pusing tujuh keliling dengan hormon ibu hamil yang membuatku teler.
Dan akhirnya berbuntut panjang pada kuliah private dan mundurnya jadwal skripsi yang harus aku rampungkan.
Aku butuh gelar sarjana agar tidak di ejek oleh adik-adikku. Keenan, ia sudah lulus S1 lebih awal.
Dia... menjadi perimadona kampus, entah berapa cewek yang mengejar-ngejarnya. Namun, setelah tahu siapa keluarganya.
Gadis-gadis itu mendadak ciut dan mundur teratur. Tapi, hanya satu yang terus ada untuk Keenan yaitu Isabelle.
Mantan kekasih Sadewa.
Keduanya sama-sama memiliki kecocokan. Kalau sedang jalan berdua, mereka seperti couple yang serasi.
Isabelle lebih menghargai ku sekarang ketimbang dahulu. Atau, memang kita sama-sama sudah menginjak usia yang matang secara fisik dan mental.
Isabelle sekarang menjadi model di usia tiga puluhan awal. Entah kapan dia akan nikah karena adikku Keenan masih menikmati masa-masa mudanya dan belajar lagi tentang kehidupan sehari-hari seorang Ningrat.
Adikku Kyle, dia satu sekolah dengan Suryawijaya.
Bapak dan Mama Laura memang sengaja menyekolahkan cucu dan anaknya di sekolah yang sama agar mempermudah mobilitas.
Kami hidup berdampingan dengan rukun. Dan, yang lebih membahagiakan sekarang adalah Nanang dan Sadewa sudah menyelesaikan studi S2nya di luar negeri. Mereka akan pulang dalam minggu-minggu ini.
Keduanya jarang pulang ke tanah Jawa selama lima tahun kemarin. Mereka sepertinya asyik menikmati masa-masa kebebasan itu sebelum mereka di hadapan kan pada tuntunan hidup yang sesungguhnya di dalam tembok istana.
Aku menghampiri mas Kaysan, suamiku yang sudah memiliki uban. Wajahnya tak banyak berubah, begitu juga cintanya, hanya rambutnya yang bertransformasi.
Usia suamiku sekarang 44 tahun. sangat matang bukan?
"Sudah waktunya jemput Pandu dan Suryawijaya, mas." kataku sambil memegang lengannya.
"Iya sayang." balasnya sambil tersenyum. Terlihat kerutan tipis di matanya.
Romansa cinta kami kadang mengalami perubahan seperti harga cabai. Kadang melonjak tinggi, kadang merosot tajam.
__ADS_1
Tapi kami sama-sama saling memahami, entah dengan cara apa kami berdua mengurai masalah hingga akhirnya kami kembali lagi pada pelukan hangat. Terlebih selama empat tahun belakangan ini, aku benar-benar diberi pembelajaran hidup cara menjadi dewasa yang sesungguhnya.
Aku mengurus Suryawijaya dan Pandu sendiri, sedangkan Nindy memilih untuk pergi memulai kembali kisah hidupnya di ibu kota. Beberapa tawaran kerja ia dapatkan setelah publik mengetahui Nindy sang artis ibu kota sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Sekarang, ia bukan menjadi artis lagi, melainkan menjadi pekerja di balik layar film-film Indonesia.
Bukan hanya itu ia juga bergabung dengan asosiasi penggerak budaya Jawa di ibu kota. Nindy menjadi guru tari di salah satu sanggar seni di wilayah Jakarta timur.
"Pandu pasti buat masalah lagi. Mas tahu, dia usil banget kata gurunya!" Aduku pada mas Kaysan.
"Namanya anak cowok, Dik. Sudah, jangan dimarahi." jelas mas Kaysan.
"Tapi Pandu beda sama Suryawijaya, Mas. Surya lebih pendiam seperti, Mas. Kalau Pandu ini lebih kayak Dalilah!"
"Dalilah dan Pandu lebih menuruni sifat mu. Pecicilan dan banyak bicara! Sedangkan Suryawijaya meskipun wajahnya mirip kamu, sifatnya sepertiku."
Mas Kaysan mencuci tangannya setelah sedaritadi dia mengecat rambutnya.
Aku mengangguk setuju. Ketiga anak kami memang berbeda-beda, apalagi Dalilah. Sungguh, aku ingin sekali menjewer telinganya karena tingkahnya yang luar biasa pecicilan. Sulit di antur dan banyak bicara. Beginikah rasanya menjadi ibu dan bapak dulu saat merawatku waktu kecil.
Tapi mas Kaysan slalu membela putrinya. Karena hanya Dalilah yang slalu memuji mas Kaysan dengan ayah paling tampan dan seperti pahlawan.
"Bubu siapkan gantinya. Nanti sekalian mampir ke rumah sakit ya, Mas. Ibunda pengen ketemu Pandu."
"Gak sekalian mandiin mas, Dik? Sudah lama sekali loh mas tidak dimandiin adik Jani." Mata mas Kaysan mengerling nakal. Sungguh tidak berubah, tapi terlihat aneh di usianya sekarang. Dia banyak gaya.
Aku tertawa kecil, "Aku sudah tiga puluh tahun, Mas. Udah tidak pantas dipanggil adik."
Aku mengambil handuk mas Kaysan.
"Tidak lama, ya. Anak-anak sudah nungguin kita di sekolah. Pandu seneng, Suryawijaya yang khawatir." kataku yang di sambut anggukan kepala mas Kaysan.
"Ibunda masih belum ada perkembangan, Dik. Memungkinkan sudah waktunya kita menggantikan posisi ayahanda dan Ibunda?"
Aku melepas kaos mas Kaysan sambil berjinjit.
"Lusa, Rinjani pendadaran terakhir, Mas. Do'akan lancar ya biar bisa gantiin Ibunda."
Mata kami berdua bertemu, sendu. Kesehatan Ibunda memang sudah menurun, hingga Ibunda memang harus di rawat intensif di rumah sakit.
"Kamu sudah siap? Yakin?" tanya mas Kaysan serius.
Aku mengangguk.
"Kalau begitu lepas juga bajumu. Kita mandi berdua."
__ADS_1
Aku merengut, "Rinjani kira sudah siap menjadi GKR Rinjani dan Sultan Agung Kaysan Adiguna Pangarep."
Mas Kaysan mencium keningku.
"Cepatlah. Sebelum anak-anak kita tidak memberi kesempatan untuk kita berdua."
Aku tertawa. Tapi tidak memenuhi keinginan mas Kaysan karena berkali-kali aku diingatkan Ibunda untuk tidak bercinta di kamar mandi.
"Nanti di kamar ya. Setelah mas selesai mandi." ujarku sembari menyirami tubuh mas Kaysan dengan shower.
"Tanggung, Dik."
Aku mendesis, bukit gairah mas Kaysan memang sudah memuncak.
"Jani hanya membantu ya, Mas. Kita harus cepat-cepat. Pokoknya cepat." kataku sambil tersenyum jenaka. Aku memang memahami mas Kaysan yang suka cepat-cepat.
Tak butuh waktu lama mas Kaysan sudah klimaks.
"Yah, beneran cepet keluarnya." kataku.
Mas Kaysan tersenyum lebar. "Maklum, Dik. Libidonya tidak lagi seperti dulu."
Mas Kaysan duduk diatas wastafel. Selagi aku melanjutkan membersihkan rambutnya dari cat rambut berwarna hitam.
"Kelihatan ubannya juga gakpapa, Mas. Gak perlu keliatan muda lagi. Anak juga sudah tiga!"
"Bukan begitu, Dik. Tapi Dalilah. Ayahanda rambutnya ubanan, sudah tua. Nanti Dalilah dewasa Ayahanda terlihat seperti kakek-kakek. Dalilah gak mau Ayahanda cepat-cepat tua, nanti gak ada yang belain Dalilah kalau bubu marah!" Mas Kaysan meniru gaya bicara Dalilah.
Aku menghela nafas, dan buru-buru menyelesaikan mandi berdua yang diselingi pembicaraan penting.
Selesai mas Kaysan mandi, aku buru-buru mengganti bajuku yang basah mengingat jam sudah pukul sepuluh pagi. Pandu dan Suryawijaya pasti sudah siap-siap untuk pulang. Sedangkan perjalanan menuju ke sekolah mereka butuh waktu tiga puluh menit.
"Suryawijaya pasti sudah panik ini mas. Anak itu paling sensitif dan tepat waktu. Jadi kita jemput Suryawijaya dulu sebelum Pandu." ujarku sambil merapikan rambut.
"Jangan panik, Dik. Suryawijaya juga harus memahami kalau ibunya juga milik bapaknya. Bukan hanya milik dirinya." jelas Kaysan yang malah menyulut bibirku untuk mengatakan kejujuran, "Nah ini. Sama kan sama kamu, mas. Posesif!"
Mas Kaysan memelukku, "Kelak dia yang akan menggantikan aku, Dik. Jagalah Suryawijaya seperti Ibunda menjagaku sewaktu kecil."
Aku mengusap punggung mas Kaysan, "Iya mas. Yuk... Anak-anak sudah nungguin Bubu dan Baba. Ibunda juga nungguin cucu-cucunya."
Mas Kaysan mengangguk, ia merangkul bahuku dan mengajakku melangkah bersama menuju pelataran rumah.
Tidak banyak yang berubah di rumah ini selama sepuluh tahun aku mengarungi hidup bersama keluarga mas Kaysan. Ayam kintan masih hidup dan memiliki penerusnya. Mbok Darmi masih sehat dengan jamu tradisional buatannya. Pak Parto sudah menemukan pendamping hidupnya lagi.
__ADS_1
Semua terjadi tidak dengan cara kebetulan. Tapi karena ada campur tangan dari Sang Hyang Jagad, sang pemilik alam raya ini.
...Happy Reading ๐...