Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Ritme jentaka II ]


__ADS_3

Instagram : skavivi selfish


POV author.


Pukul tujuh pagi, Rinjani masih bergelung di bawah selimut, dengan Kaysan yang menjadi guling nyatanya. Tidurnya teramat nyenyak, hingga ia lupa ada Dalilah yang butuh menyusu.


Entahlah, keberadaan Kaysan membuat Rinjani bisa memejamkan matanya dengan baik. Tak seperti biasanya saat Kaysan jauh darinya. Rinjani lebih sering terjaga dari tidurnya.


Kaysan mengusap kepala Rinjani, ia tersenyum getir mendapati Rinjani begitu nyaman dipeluknya. Entah bagaimana Kaysan memendam rasa bersalahnya di kemudian hari. Hari-harinya berikutnya hanya akan diisi dengan kegelisahan, hingga Kaysan menyadari harus mengungkapkannya suatu saat nanti. Setelah ia bisa meredakan emosinya terhadap Santosa.


"Bangunlah, putri tidur. Dalilah butuh kamu." ujar Kaysan lirih. Kaysan mengecup kening Rinjani.


Semalam Kaysan tak bisa tidur, ia mengambil alih tugas Rinjani untuk menjaga Dalilah jika merengek meminta ASI. Awalnya Kaysan kikuk dan kebingungan menghadapi Dalilah yang terus merengek ketakutan melihat dirinya, hingga Kaysan berkali-kali harus bersifat jenaka dengan mengajak Dalilah bercanda.


Rinjani berdehem, ia menggeliat hebat untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku.


"Jam berapa, mas?" tanya Rinjani, sembari mengucek matanya.


"Hampir setengah delapan."


Rinjani terperangah. Kontan hendak berdiri, tapi lalu duduk lagi dengan ragu-ragu. Matanya mencari keberadaan Dalilah, "Dimana Dalilah" tanya Rinjani.


Kaysan mengacak-acak rambut Rinjani, "Rinjani dengan Mama ditanam. Mandilah, sudah lama aku tidak mencium bau shampoo dari rambutmu."


Rinjani melirik suaminya, "Tidak minta jatah, kan? Soalnya jam sembilan nanti Dalilah harus imunisasi. Kemarin lupa." jelas Rinjani. Ia melangkah menuju kamar mandi.


Belum selesai Kaysan mengamati lekuk tubuh Rinjani yang terbalut baju tidur berbahan satin yang menampilkan kemolekan tubuh Rinjani yang masih terlihat sintal. Rinjani sudah ditelan kamar mandi.


Kaysan berjalan mendekati suara gemericik air. Ia menunggu istrinya yang sedang asyik menyampo rambutnya.


"Orang mandi aja ditungguin, mas." Rinjani keluar dari kamar mandi, ia menggeleng-geleng. Rambutnya yang panjang ia gulung dengan handuk.


"Aku akan menyisir rambutmu."


"Mas sudah mandi belum?"


"Belum, aku menunggumu sampai terbangun. Karena tadi ada tangan yang mengurung diriku." jawabnya sambil menatap Rinjani.


Begitu mata mereka bertatapan, Rinjani tersipu, ia terkekeh kecil, "Lebih baik mas mandi dulu, jika tidak, nanti Santosa yang akan menemaniku."


Tangan Kaysan terulur, ia mencubit hidung Rinjani. "Santosa terus yang kalian banggakan!" sembur Kaysan.


Patutkah Kaysan membenci pada sang pengganti?


Santosa kini tak ubahnya menjadi saingan terberatnya. Saingan dalam mencuri hati Dalilah agar kembali ke dalam pelukannya.


Rinjani kembali lagi pada rutinitasnya sebagai seorang istri. Ia menyiapkan baju ganti Kaysan dan membuatkan secangkir kopi untuknya.


Baru saja, ia ingin lalu ke kamar dengan membawa secangkir kopi yang masih panas. Santosa membungkuk hormat dihadapan Rinjani.

__ADS_1


"Ndoro ayu sudah siap?" tanyanya sopan.


"Sudah, tapi nunggu mas Kaysan dulu ya." jelas Rinjani dengan riang.


"Baiklah, kalau begitu saya akan menunggu di dapur. Melihat kopi buatan ndoro ayu sepertinya membuat saya membutuhkan kafein."


Rinjani cekikikan, "Satu sendok kopi, satu sendok karamel, tanpa gula. Itu kesukaan mas Kaysan."


Santosa mengangguk, "Saya akan membuatnya."


Rinjani mengangguk, "Semoga enak seperti buatanku "


"Kalau begitu, coba ndoro ayu yang membuatkan saya kopi. Biar saya tahu bagaimana rasanya."


"Jadi kamu mau duplikat kopi buatanku?" tanya Rinjani serius.


Santosa tersenyum dan mengangguk malu-malu.


"Ya sudah, ini saja yang kamu minum. Nanti mas Kaysan aku buatkan yang baru." Rinjani mengulurkan secangkir kopi ke tangan Santosa.


"Terimakasih ndoro ayu, ini pasti enak sekali." puji Santosa yang membuat Rinjani tertawa, "Kamu slalu berlebihan pak Santosa."


Keakraban Rinjani dan Santosa tak luput dari perhatian Kaysan. Sejenak ia ingin memaki atau menyerang Santosa. Tapi mengingat Rinjani dan Dalilah tak biasa mendapat perlakuan galak, Kaysan memilih membuang nafas berkali-kali.


...rasanya cemburu tidak enak, tapi kalau cemburu nanti dikira tidak cinta. cinta terkadang menyulitkan aku.


*


Memasuki ruang Obgyn, Kaysan dengan antusias melihat Dalilah yang mau disuntik. Rinjani tersenyum maklum.


"Kalau habis ini Dalilah rewel biarkan Dalilah digendong Santosa, karena cuma dia yang bisa membuat Dalilah tenang." ujar Rinjani mengelus lengan Kaysan.


"Aku ayah biologis Dalilah. Harusnya kami terikat secara batin dan emosional. Tapi kenapa justru dengan orang asing Dalilah nyaman!" Kaysan melirik ke arah Santosa.


Santosa seperti biasa, hanya mengangguk dan tersenyum sopan.


"Kamu memakai pelet?" tanya Kaysan tanpa berpikir panjang. Rinjani menyelanya.


"Kalau ngomong itu disaring! Santosa gak usah pakai pelet juga banyak gadis yang mendekatinya, termasuk Dalilah, anakmu. Genit!"


Kaysan terdiam. Ia sadar, Santosa jika dilihat lebih dekat memang memiliki kulit putih dan senyum yang khas. Apalagi usianya jauh lebih muda lima tahun darinya.


Kaysan kembali melirik ke arah Santosa.


"Awas saja jika putriku akan ketergantungan denganmu!"


"Lebih baik gusti pangeran fokus terhadap Dalilah, kalau Gusti resah, nanti Dalilah tidak akan nyaman berada digendong Gusti pangeran."


"Benar begitu, dok?" tanya Kaysan. Sepertinya cemburu membuatnya hilang akal dan bertingkah bodoh.

__ADS_1


"Betul gusti pangeran. Bayi adalah manusia murni yang sangat sensitif terhadap rasa disekitarnya. Biasanya jika yang menggendong dalam keadaan tertekan, gelisah, atau marah. Bayi akan merasa tidak nyaman."


Penjelasan dokter membuat Kaysan seperti tertancap pedang panjang. Ia menatap Rinjani sejenak.


"Wajar jika mas Kaysan seperti itu, Dok. Mas Kaysan pusing mikirin aku yang cantik." ujar Rinjani tanpa malu, ia meletakkan Dalilah untuk segera disuntik.


Kaysan tersenyum getir. Percuma menyesali perbuatannya sekarang yang ada justru akan membuatnya resah, dan semakin membuat Dalilah enggan berada di gendongannya.


Setelah selesai berurusan dengan imunisasi. Mereka berempat kembali ke rumah. Rinjani berkali-kali mewanti-wanti Kaysan agar tidak memarahi Santosa demi Dalilah.


Santosa berada diatas awan. Ia dengan bersemangat menggendong Dalilah dihadapan Kaysan.


"Oh ya, mas belum cerita, kenapa mas pulang lebih awal? Rinjani penasaran." kata Rinjani, mereka berdua sedang bersantai sembari bermain ayunan.


"Kemarin Rinjani juga lihat mas menari dengan Anne, itu bagus banget. Pasti mas giat berlatih." lanjut Rinjani lagi, mulutnya sedaritadi mengunyah kue buatan Laura. Laura dan Herman sendiri mengikuti kegiatan Juwita Ningrat, setelah Kaysan dan Rinjani juga pergi meninggalkan rumah.


"Itu reward dari sekolah, karena kemarin aku membawa nama sekolah pada kemenangan." jelas Kaysan dengan tenang.


"Juara berapa? Rinjani tidak lihat sampai selesai, karena waktu itu Rinjani nangis. Mas mesra banget sama Anne!" Rinjani menyandarkan kepalanya di lengan Kaysan.


"Oh ya, bagaimana kabar anak abal-abal kita mas?"


Kaysan menghela nafas, "Anne pergi setelah selesai perlombaan. Entah kemana." jawaban Kaysan hanya diangguki Rinjani.


"Kasian sekali anak abal-abal kita, ditinggalkan semua keluarganya." ujar Rinjani yang semakin menumbuhkan rasa penyesalan di benak Kaysan.


Kaysan selalu cemas tak terhingga jika Rinjani memintanya untuk menceritakan keseharian Kaysan saat tak bersamanya.


Kaysan tidak menjawab, hanya saja wajah muramnya terlihat kian menggelap. Laki-laki itu bukan orang yang banyak mengumbar ekspresi untuk menunjukkan perasaannya. Tapi kini Kaysan tidak mampu menyamarkan rasa tidak nyaman yang dikecapnya. Saat ini, keberadaan Santosa juga semakin membuatnya gusar hingga ia kesulitan menata emosinya.


Kaysan membelai wajah Rinjani, "Ada baiknya kita bersenang-senang, tidak kah kita saling merindukan?" ucapnya dengan ringan.


Rinjani mengangguk, "Rinjani memang rindu dengan mas Kaysan, tapi Rinjani malu." Rinjani terkekeh geli, "Kalau mas pegang ini, nanti muncrat." Kaysan tertawa saat Rinjani menunjuk buah dadanya.


"Jadi kamu yang kalah, karena kamu keluar duluan?" Rinjani mengangguk sambil mencolek hidung Kaysan.


"Rinjani sudah melahirkan, jadi rasanya mungkin tidak seperti kemarin." jelas Rinjani sambil menunduk.


"Memang yang kemarin rasanya bagaimana?" tanya Kaysan.


Rinjani menggeleng, "Enak-enak gimana gitu, entah sekarang."


"Kalau kamu tidak tahu, kenapa tidak mencobanya dulu?" Goda Kaysan.


Santosa yang mendengar obrolan mesum itu berdehem-dehem, mengacaukan obrolan absurd Kaysan dan Rinjani.


"Maaf, ndoro ayu. Dalilah sudah tidur, lebih baik dibawa ke kamar, karena terlalu lama di luar akan membuatnya masuk angin."


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2