Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 102. [ Bondi beach ]


__ADS_3

Matahari juga belum menyingsing tinggi, tapi kilaunya sudah berderang terang menyusup lewat jendela yang terbuka. Cahayanya menyoroti seorang laki-laki yang sudah berendam di dalam jaccuzi, sambil menyesap sebatang rokok di tangannya. Suamiku, dari tadi malam sudah tak banyak bicara, bahkan tidurnya membelakangi ku.


Aku tahu hatinya sedang gamang, akupun begitu. Ku sibakkan selimut yang menutupi kakiku dan beranjak mendekati suamiku. Dia tak menyadari langkahku, matanya terlihat melamunkan, entah.


"Selamat pagi mas." Rangkulan tangan sudah membelit lehernya, ku kecup juga kepalanya.


Kaysan terkejut, lalu membalasnya dengan deheman, mulutnya melanjutkan lagi menyesap rokok. "Mau Rinjani temani?" tanyaku setelah beralih duduk di sisi jaccuzi.


Kaysan tampak menatapku sekilas, lalu mengangguk. Aku tersenyum simpul, ku lepas pakaian tidurku dan ikut menyembunyikan bagian bawah tubuhku ke dalam air dingin. Sydney pagi ini benar-benar panas, jika di kotaku matahari secercah ini sudah berada di atas kepala, tapi di Sydney baru menunjukkan jam tujuh pagi.


Kaysan mematikan rokoknya, tangannya lalu merangkul bahuku. "Selamat pagi Istriku." Nadanya penuh penekanan, seolah-olah dia ingin berkata pada dunia, jika aku hanya miliknya. Rasa cemburunya sungguh lucu, masih tak berubah sejak dulu saat ia tahu aku sudah pernah berciuman dengan adiknya, Nanang. Rasanya dunia begitu sempit, cinta pertamaku, dan cinta terakhir ku adalah satu keluarga. Inilah kenyataan yang sebenarnya, selama dua tahun Nanang menjadi pembohong yang ulung dan selama itu aku percaya.


"Mas, sudah ngopi?"


Di dalam jaccuzi Kaysan masih memakai celana kolor, badannya dibiarkan terbuka, mempertontonkan bagian yang membuatku nyaman bersandar. "Rinjani suka punggung kamu mas." Kepalaku bersandar dilengan Kaysan, dengan tangan yang sudah bergelung di perutnya. Memeluknya di dalam air sama sekali tidak mengurangi rasa hangat yang tercipta.


Beberapa kali pertanyaan hanya dijawab dengan deheman. "Mas tidak mau memberi Rinjani ciuman selamat pagi? Rasanya ada yang kurang, jika belum di cium mas Kaysan."


Celakanya, Kaysan lalu mengangkat tubuhku. "Katakan jika hanya ada aku dihatimu, Rinjani?" Aku tersenyum manis, sambil mengelus kumis tipisnya yang sedang tumbuh, "Belah saja dadaku jika mas tidak percaya, bukankah seharusnya Rinjani yang bertanya dengan mas Kaysan. Apa hanya Rinjani yang akan mengisi hati mas Kaysan? Atau Rinjani hanya akan dijadikan persinggahan sementara?"


"Omong kosong apa yang kamu katakan, Rinjani. Jelas hanya ada namamu di hatiku."


"Bagaimana jika diluar sana ada rinjani-rinjani yang lain, apa mas tidak tertarik dengan mereka?"


"Percuma aku mengajakmu bulan madu, jika disini hanya akan bertengkar."


"Rinjani tidak mengajak mas Kaysan bertengkar, Rinjani hanya butuh kepastian."


"Jika kamu butuh pengakuan, bukan sekarang waktunya Rinjani."


Kaysan melepas pelukannya, "Rinjani belum di cium, apa bibir Rinjani sudah membosankan?"


"Apa maumu, Jani?"


"Panggil aku sayang!"


Kaysan menghela nafas panjang, matanya terpejam, "Baiklah, jika mas yang minta Rinjani yang cium juga boleh, tapi Rinjani belum gosok gigi? Bagaimana?"


Aku berbalik lantas duduk di pangkuan Kaysan, "Ada yang membatasi, tapi bukan jarak." Bisik ku menggoda.

__ADS_1


"Kita sedang tidak kuliah, Rinjani. Jadi jangan membuat tanya-jawab saat ini." Kaysan melepas celananya, tanpa menyuruhku beranjak berdiri.


"Aku rindu tawamu, jadilah dirimu sendiri saat bersamaku sayang."


Bulu-bulu halus perlahan meremang saat Kaysan membalas bisikanku. Kaysan terpancing hasratnya. Mudah sekali hingga terkadang membuat ku takut dengan wanita-wanita diluar sana yang menggoda Kaysan.


Air di dalam jaccuzi bergelombang, percikan-percikan airnya sudah meleleh membanjiri lantai. Hingga air dingin berubah menjadi air hangat saat tubuh kami sudah bersatu berirama dalam gerak.


*


"Apa yang kamu pakai, hapus!" Kaysan berdiri di belakangku sambil mengeringkan rambutku yang basah.


"Bedak dan lipstik, kata mas Rinjani harus bersolek biar cantik."


"Tidak perlu dandan, hanya akan ke pantai menemani adik-adik."


"Justru ke pantai itu harus memakai sun screen, kalau tidak nanti Jani gosong. Cukup mas saja yang coklat, Jani enggak mau."


"Lalu kenapa masih pakai celana pendek, mau pamer dengan Nanang?"


"Kalau cemburu bilang cemburu, jangan berkelit dan gengsi." Aku tersenyum jenaka, wajah Kaysan terlihat tertekuk di pantulan kaca. "Lihat , dahimu mulai berkeriput mas. Sudah otw tua."


"Apa jika aku tua nanti kamu masih mau mendampingiku, Jani?"


"Jika Rinjani diizinkan, sampai rambut mas berwarna putih semua 'pun akan Rinjani temani. Tapi jika Rinjani tidak diizinkan oleh pemilik semesta, mas jangan bersedih ya." Aku mengelus pipi Kaysan, "Terimakasih sudah membuka satu persatu rahasia yang mas miliki. Nanang adalah bagian kisah laluku dan celakanya menjadi keluargaku, aku tidak menyangka bahwa semua ini masih terhubung. Pasti berat untukmu mas, maafkan aku."


"Aku butuh kesiapan untuk semua ini, Rinjani. Kamu dan adikku sama-sama berarti." Kaysan menahan nafas sejenak. Lalu menghela nafas panjang, "Berjanjilah, tetap disini, bersamaku sampai aku lanjut usia."


Aku menggeleng, "Tidak janji. Rinjani ingin menua bersamamu dirumah, di kota kita, bukan disini."


Kaysan tersenyum, "Baiklah, ada baiknya kita menemui adik-adik, mereka tanggung jawab kita disini."


Kami berdua keluar dari kamar hotel, bergandengan tangan layaknya pengantin baru. Senyum terus menghiasi wajah kami berdua. Bukit rahasia itu mulai terkikis oleh welas asih.


Tiba dilantai lobby, ketiga kakak beradik itu sudah siap dengan baju pantainya. Bagaimana hidupku tidak bahagia, aku di kelilingi laki-laki tampan, gagah, dan berhati rapuh pula. Kecuali satu itu Sadewa, senyumnya sudah cerah mengalahkan sinar matahari.


"Jalan aja yuk, pantainya dekat dari sini." kata Sadewa, "Pakai sun block dan kacamata, biar kita terlihat keren tapi gak gosong." Dia mendahului langkah kami dengan girangnya. Gayanya sudah seperti pemandu wisata


Kaysan dengan wajah datarnya hanya menggeleng, "Repot ya mas punya adik banyak?"

__ADS_1


"Kamu lebih merepotkan daripada mereka, sayang." Astaga, suamiku. Pasti dia ingin membakar hati Nanang.


Nanang dan Nakula berjalan di depan kami, jelas mereka dapat mendengarnya. Panas matahari di kota Sydney benar-benar membakar kulit, sayang sekali aku malah menggunakan celana pendek. Pulang dari sini kulitku pasti belang-belang. "Besok ke Sydney waktu musim dingin saja mas, Rinjani belum pernah lihat salju."


Nakula menoleh dengan mulut yang mencibirku, "ndeso." [ kampungan ]


Aku berdecih, "yoben. Mas tetep cinta sama aku akan, walaupun Rinjani terlihat ndeso." [ Biarin ]


Kaysan mengangguk dengan senyum yang sama-sama mengejekku, "Ra kakang, ra adi. Podo wae, nyebai." [ Tidak kakak, tidak adik. Sama saja, menyebalkan. ]


Selang beberapa menit kami berada di jalan tak jauh dari pantai, mataku terbelalak, aku melapas kacamataku, menguceknya seakan tidak percaya dengan pemandangan yang aku lihat. "Mas, kenapa banyak ikan kering." Aku berhenti menahan tangan Kaysan, "Mas jangan lihat, nanti mas timbilan."


Di bibir pantai sudah banyak bikini girls yang berjemur, dari yang balita sampai manula, dengan bentuk bikini yang seksi dan menggoda. Apalagi saat ku lihat gadis berambut pirang berlari ke arah kami menggunakan bikini seksi berwarna hitam, air pantai yang membasahi tubuhnya, sungguh mengacaukan pikiran para lelaki.


Aku membalikkan badan Kaysan, "Tutup mata kalian!" Begitu juga badan Nakula dan Nanang secara bergantian, "Pemandangan ini mencemari otak kalian para jomblo. Kamu juga mas, nanti otakmu tercemari untuk mencari yang besar dan sintal."


Sadewa dan kekasihnya sudah merentangkan tangan untuk berpelukan, dengan secepat kilat aku mencegahnya. "Kamu aku aduin ke bunda Sasmita, kalau kamu nakal di negeri orang." Sudah seperti Nina, mulutku sudah memberi ultimatum kepada Sadewa. Sedangkan yang aku ceramahin malah cengengesan, "Aku juga bisa memberi tahu pada dunia jika Mbak dan Mas Kaysan sudah menikah."


Aku berdecih, "Awas kebablasan!"


"Masih di bawah pengawasan, Mbak. Santai."


"I miss you so, babe."


"Cuttie, nanti kamu seperti ikan kering jika berjemur lama-lama."


"It's summer time, babe. Let's have fun."


Aku terbahak-bahak, Sadewa dan pacarnya sudah bertemu sambil melepas rindu. Sedangkan ketiga laki-laki yang aku tahan masih membalikkan badannya, sama sekali tidak bergeming dari tempatnya.


"Babe, kenapa dia ada disini?" tanyanya sambil menunjuk ku.


"Cuttie, dia menjadi pengawas kami berempat."


"Babe, kenapa mereka tidak menyapaku?"


"Mereka sedang sakit mata, Cuttie. Lebih baik kamu tidak melihatnya, nanti kamu ketularan beleken."


Aku terpingkal-pingkal dengan percakapan mereka berdua, sungguh paduan yang asik.

__ADS_1


Suhu di pinggir pantai semakin lama semakin membakar kulit. Aku berbalik bermaksud mengajak Kaysan dan double N kembali ke hotel, namun mataku seketika terbelalak saat melihat segerombolan gadis yang asik berbaring sambil menatap ketiga laki-laki yang aku tahan.


"Dasar mata keranjang, kalian sama saja!" Aku menghentak kaki, dan bergegas pergi.


__ADS_2