
POV Rinjani.
Aku biasanya duduk meringkuk di atas sofa di samping jendela. Namun, kini aku memilih berdiri, bergeming sembari menyandarkan kepalaku di kusen jendela.
Batin bersikukuh untuk tetap menyimpan rasa sesak di dalam dada. Namun, air mata berkhianat dan tumpah ruah di pipiku.
Cahaya matahari yang menyilaukan mata, seketika menghilang tertutup oleh bayangan.
"Berhentilah menangis. Karena saya akan kerepotan mengurus Dalilah." ujar Santosa. Ia menimang-nimang Dalilah.
"Aku tidak menangis." dustaku. Buru-buru ku hapus air mataku.
"Mencintai seorang Pangeran memang butuh perjuangan, butuh hati yang seluas samudera seperti nama saya."
Ku lihat Dalilah terus mengamati gerak-gerak bibir Santosa.
"Yang ndoro ayu alami sekarang, belum semuanya terlihat. Masih banyak yang tersembunyi dan akan menyergap ndoro ayu diam-diam."
"Lebih baik besok pak Santosa pakai masker. Kasian Dalilah." Segera saja, aku mengalihkan pembicaraan, karena tidak mungkin aku curhat dengan bujangan. Salah-salah akan menjadi salah paham dan menganggapnya sebagai tempat curhat.
"Beginilah putrimu, padahal saya tidak banyak bicara jika sedang mengasuhnya."
"Lebih baik pak Santosa cepat mencari istri, karena Bapak terlihat berpengalaman dalam mengasuh bayi." ujarku menghibur diri. Santosa tersenyum, "Boleh saya mencium Dalilah?"
Mataku membulat, Dalilah di cium om-om, Astaga. Kenapa kedua manusia di depanku sama-sama genitnya.
"Sebentar? Memang selama kamu menggendong Dalilah, kamu belum pernah menciumnya?" Santosa mengangkat tinggi bahunya.
"Saya tidak berani jika belum mendapat izin dari yang punya." ujar Santosa sopan.
Aku menatap Dalilah dan Santosa.
"Hanya mencium keningnya, dan itu harus dihadapan ku."
Santosa tersenyum kecil, ia menatap Dalilah. Dan, melabuhkan kecupan singkat itu di kening Dalilah. Aku melihatnya, melihat Santosa melakukan itu dengan penuh kasih.
"Terimakasih ndoro ayu. Saya bersyukur Kanjeng Sultan mengizinkan saya untuk bekerja disini. Meskipun hanya menjadi baby sitter. Padahal badan saya kekar, berotot, tapi tidak apa-apalah. Saya tetap bersyukur."
Aku mengangguk. Dia sudah membuktikan dirinya bisa menjadi orang yang dipercaya. Dan, aku berhutang budi dengannya---karena sudah menyelamatkan ku dari drama baby blues.
"Semoga putriku masih mengingatmu saat dewasa nanti, jika yang mengasuhnya adalah seorang om-om."
Aku tergelak sendiri saat imajinasiku membayangkan Dalilah menatap om-om yang sudah berambut putih---Dalilah marah-marah dan merengek tak mau percaya.
"Begitu bagus, menangis tidak memperbaiki keadaan."
Aku menatap Santosa sekilas, mungkin jika dia datang terlebih dahulu sebelum Kaysan. Aku pasti akan mengaguminya sebagai laki-laki dewasa dengan santun yang baik.
Sedaritadi kami berbicara lewat celah jendela yang terbuka, "Kapan-kapan aku akan metraktirmu jalan-jalan, beli bakso langganan dan cilok rasa rindu."
Santosa mengangguk, ia menimang-nimang Dalilah dan memberinya ASI-P dari botol bayi yang di ulurkan Mbok Narsih.
Ku hampiri Dalilah yang sudah terpejam menikmati debar jantung Santosa.
"Sepertinya sudah cukup Dalilah bersamamu. Istirahatlah." Aku mengambil alih Dalilah.
__ADS_1
"Saya menunggu traktiran makan siang dari ndoro ayu."
"Iya-iya, besok weekend ini. Barang si kembar, dan lainnya. Tidak berdua!!!" Aku menegaskan kalimat terakhir.
Santosa mengangguk, "Ramai-ramai lebih seru daripada hanya berdua, maklum nanti bisa menimbulkan fitnah."
"Pinter..." kataku sambil lalu menuju kamar.
POV Kaysan.
Kami berpelukan. Tanpa sadar karena histeria saat pengumuman kejuaraan yang kami menangkan dengan menyambet juara pertama.
Gegap gempita, sorak sorai, ucapan pujian terdengar memenuhi gendang telingaku. Aku merinding ketika semua orang mengapresiasi pertunjukan
Aku melepas pelukannya, "Maaf, Anne."
Anne menatapku penuh arti, lantas ia mengangguk. "Akhirnya Daddy memelukku." ucapnya sambil tersenyum.
"Bukan bermaksud apa-apa, aku hanya terbawa suasana. Usahaku berhasil, yang berarti. Aku bisa mendapat bonus pulang lebih cepat."
Aku melepas mahkotaku, dan beralih menuju anak didikku yang lain. Satu persatu, mereka memelukku dan mengucapkan terima kasih. Karena sebenarnya, perlombaan ini menjadi tolak ukur mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan jurusan seni peran. Yang berarti secara langsung, mereka akan diterima tanpa melalui seleksi penerimaan mahasiswa baru.
Tangis bahagia mewarnai penerimaan tropi juara. Aku tersenyum sesaat, dan berpamitan dengan salah satu guru pendamping yang sibuk berswafoto dengan anak didik mereka. Aku memilih turun panggung dan berjalan menuju ruang ganti. Sandiwara sudah cukup sampai aku kembali menjadi Kaysan yang sebenarnya, bukan Prabu Rama Wijaya.
Keluar dari gedung sydney opera house, aku duduk termenung sambil mengingat sesuatu yang pernah menjadi bagian penting perjalanan kisah cintaku dan Rinjani. Kejujuran dan keterbukaan membuatku bisa merasakan lega---saat itu---
Semilir angin pantai dan senja adalah perpaduan cakrawala yang indah. Aku menikmatinya sebentar sebelum sesuatu membuatku tersentak kaget.
"Anak-anak menunggu Daddy untuk pulang ke hotel bersama."
Dahi Anne berkerut tipis.
"Kita mau pesta, Daddy. Merayakan kemenangan sekolah kita. Semua guru akan pulang besok pagi sekalian cek out."
"Beri aku waktu sebentar lagi." kataku.
Anne melihatku dengan tatapan sendu.
"Jadi benar, setelah ini Daddy dan keluarga Laura akan pulang ke tanah Jawa?"
"Iya. Tanggung jawabku sudah selesai disini, Anne. Di rumah, masih banyak lagi tanggung jawab yang harus aku kerjakan. Jadi, tolong. Jadilah gadis pintar."
Anne mengangguk, "Aku akan membuat Mr. Kay bangga denganku. Kelak jika sudah dewasa nanti dan sudah ku genggam semua cita-citaku. Aku akan berkunjung ke tanah Jawa!!!" ucapnya penuh ambisi. Aku menganggap ucapan Anne hanya asal-asalan, karena aku percaya, waktu akan mengubahnya menjadi seorang model berbakat dengan kesibukan yang padat. Hingga ia akan melupakan cinta pertamanya---dan itu aku.
*
Malam hari, di ballroom hotel. Pesta pora perayaan kemenangan terjadi begitu meriah. Setengah jam hanya kami habiskan untuk mencicipi kue-kue yang tersaji di iringi sendau gurau yang terdengar kentara.
Aku sengaja menghubungi Keenan untuk bergabung bersama. Karena tadi pagi ia berkata jika dirinya menyaksikan langsung perlombaan yang aku lakukan.
"Mas, kabar buruk." katanya dengan suara bergetar.
"Apa?" tanyaku.
"Laporan dari Nakula, jika Mbak Jani tadi juga melihat pertunjukkannya. Nangis."
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih infonya. Tapi sekarang waktunya untuk bersenang-senang. Carilah pacar." kataku terang-terangan. Keenan mendengus kesal.
"Gadis-gadis disini wataknya seperti Anne. Mas tidak ingat waktu itu? Aku harus menjadi fotografer amatir yang memotret dirinya berkali-kali. Jika salah angle, aku harus mengulanginya kembali, katanya biar Perfect dan cocok untuk di upload di sosial media."
Keenan mendesis jengkel.
"Persiapkan dirimu setibanya di tanah Jawa nanti. Karena kemungkinan, hidupmu akan di penuhi oleh rayuan gombal gadis-gadis seusiamu."
Pesonanya Keenan siapa yang tak menolak. Adik tiri Rinjani akan menjadi buah bibir jika sudah berada di tanah Jawa. Tubuhnya jangkung, matanya perak keabu-abuan---menuruni genetik Laura. Satu lagi, keunggulan dari Keenan. Ia sudah dewasa sebelum waktunya. Dewasa dalam berpikir dan tingkahnya. Beberapa majalah dewasa aku temukan di kamarnya. Tentu tanpa sepengetahuan Laura dan Bapak, aku mengintrogasi Keenan secara empat mata. Jawabnya alasan klasik remaja---keingin tahuan hal baru. Pendidikan seksual sejak dini memang di terapkan di SMA, namun tak ayal justru memicu keinginan tahuan yang berlebihan untuk remaja-remaja labil yang mencari jati diri. Aku sebagai seorang ayah dari si cantik Dalilah juga di buat was-was dengan persoalan tersebut. Besok saat Dalilah remaja, aku akan menjaganya dengan memberinya banyak pengawasan ketat.
"Bagaimana dengan Mbak Jani, mas. Mama sedaritadi meneleponku untuk meluruskan kesalahpahaman antara mas dan Mbak. Mama takut, Mbak Jani jadi murung." ujar Keenan dengan khawatir.
"Biarkan saja, seminggu lagi mas akan pulang untuk memberinya kejutan." Aku tersenyum dan tak sabar menunggu waktunya pulang.
Pesta berlanjut hingga pukul sebelas malam.
Beberapa siswa sudah kembali ke kamar masing-masing. Menyisakan beberapa siswa yang masih menikmati kudapan dessert.
Aku dan beberapa guru lain masih asyik mengobrol di smoking room, membahas tentang kepulanganku nanti. Beberapa menyayangkan keputusanku, tapi selebihnya sudah menjadi hak asasi manusia untuk memilih keputusan besar.
Malam ini sekaligus sebagai malam perpisahan antara aku dan guru-guru yang lain. Kami menghabiskan waktu bersama dengan mengambil topik pembahasan laki-laki dewasa. Kedekatan ku dan Anne menjadi buah bibir mereka. Sesekali ada yang menyuruhku untuk menjadikan Anne sugar baby. Aku tertawa garing, dan kembali lagi menuangkan anggur dingin ke dalam gelas.
Tak ayal, sesuatu yang klasik memang tidak bisa terlepas dariku.
Harta, Takhta, dan Wanita adalah godaan yang sering menghampiriku. Aku ingin melakukan resolusi, yang berarti ada banyak aturan yang harus aku patahkan dan kembangkan.
Ku langkahkan kaki menuju kamar dengan gontai. Kepalaku pusing. Bersenang-senang dengan pria bule membuatku kapok. Tidak hanya satu atau dua botol anggur yang kami habiskan, melainkan ada satu krat anggur merah yang berarti kami menghabiskan 24 botol berisi 330ml anggur merah dengan kadar 19,7°.
"Daddy, mabuk." Suara itu teramat aku kenali, meski aku tak melihatnya.
"Menjauhlah dariku..." kataku serak.
"Aku akan mengantar Daddy ke kamar!"
Ku tepis tangan Anne yang ingin memapah tubuhku.
"Ini peringatan terakhir sebelum aku benar-benar..."
*
Keesokan paginya, aku mendapati diriku sendiri di kamar. Kepalaku pening, mataku sulit terbuka. Dengan gerakan acak, aku mencari ponselku.
Ku pijit pelipis keningku saat tahu waktu sudah menunjukkan siang hari.
Banyak pesan masuk yang mengatakan ada beberapa siswa dan guru yang sudah pulang ke Melbourne. Termasuk Anne.
Aku mengingat semalam, Anne menghampiriku. Kami berdebat kecil sebelum aku benar-benar terpejam, dan sekarang berada di dalam kamar.
Pikiranku menerawang, siapa yang memapah tubuhku hingga ke kamar!? Tidak mungkin Anne si kerempeng, ia pasti kewalahan memapah tubuhku yang besarnya dua kali lipat dari tubuhnya.
Aku mengusap wajahku kasar, ada baiknya aku melihat rekaman cctv sepanjang koridor ballroom hingga ke kamarku untuk memastikan sendiri kebenarannya.
Setelah selesai bersiap untuk pulang, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi langsung ruang cctv. Ada perdebatan alot dengan petugasnya. Namun, setelah aku menjelaskan siapa diriku. Akhirnya mereka membiarkan aku melihat rekaman cctv semalam. Aku menggeram, sesuatu akan meletus dari kepalaku.
Anak kurang ajar...!!!
__ADS_1
Happy reading 💚