
Semua istri dan anak-anaknya Ayahanda berkumpul di pendopo belakang rumah utama.
Semua sudah mendengar kabar jika Ayahanda tetap akan menjadikan Kaysan putra mahkota dan menjadikan ia Raja. Tidak ada yang bisa menolak secara terang-terangan amtitah Ayahanda. Jika beliau sudah marah, untuk bernafas lega di dekatnya pun terasa sulit. Dada rasanya akan sesak.
Juwita Ningrat melangkah pergi, ia masih tak rela kebahagiaan anaknya di usik kembali, tapi dalam benaknya, ia juga mendambakan kehadiran mereka kembali. "Duh Gusti, Mbakyu nesu." ucap bunda Sasmita, istri kedua Ayahanda berkilah, "Lalu bagaimana dengan putraku, kangmas? Ia juga bisa menjadi putra mahkota dan dilantik menjadi calon Raja."
Anak ketiga Ayahanda bernama Gusti Raden Mas Andri Haryanto Pangarep.
Sampai di usia tiga puluh tahun, Ayahanda belum juga memberikan gelar baru berupa GPH untuknya.
"Belum saatnya, Sekar Tanjung."
Ayahanda menatap Andri yang menunduk.
Semua laki-laki duduk bersila, sedangkan perempuan duduk bersimpuh. Nindy yang diketahui adalah adik dari Andri Haryanto Pangarep merangkak mendekati Ayahanda.
"Sendiko dhawuh, Ayahanda. Izinkan aku menebus kesalahanku dan menjadi putri kesayangannya Ayahanda kembali."
Ayahanda tersenyum simpul, "Apa kehidupan diluar sana sudah mengenyahkanmu dari hingar-bingar popularitas atau karirmu sudah selesai?"
Semua mengheningkan cipta. Nindy menunduk, skandal dengan pejabat negara membuatnya menjadi wanita yang di pandang sebelah mata oleh para produser film. Ayahanda tak acuh, ia sudah tahu kelakuan Nindy jika berada di luar istana. Pergaulan sehari-hari di ibu kota membuatnya berubah.
"Maafkan Nindy, Ayahanda. Maafkan Nindy. Nindy akan memperbaiki semuanya."
Nindy menyembah kaki Ayahanda, Ayahanda bergeming. Ibu Nindy yang melihat kejadian itu geram, anak perempuan yang diharapkan menjadi anak kesayangan Ayahanda dan membuatnya menjadi permaisuri menggantikan posisi Juwita Ningrat, nyatanya malah membuat jarak antara dirinya dengan Ayahanda semakin menjauh.
"Apa hanya Kaysan dan Rinjani yang bisa di ampuni dosa-dosanya, sedangkan anak-anakku tidak?"
Sekar Tanjung berurai air mata, ia meminta putrinya untuk bangkit. Nindy hanya menunduk, ia kalut dengan rayuan yang di berikan oleh pejabat negara yang memintanya sebagai istri siri, sedangkan sang pejabat sudah memiliki istri sah. Semua itu terkuak kebenarannya oleh para haters Nindy yang diam-diam mengikutinya sebagai paparazi.
"Kesalahan memang bisa di perbaiki, dan PERBAIKILAH sebelum aku mencopot gelar kalian dan membuatku semakin malu."
Suara Ayahanda menggelegar.
Nindy mengucapkan terima kasih dan mengecup tangan Ayahanda.
Suasana tampak tegang. Berbeda dengan suasana hati Ibunda yang sedaritadi tergeletak di atas kasur Kaysan dan Rinjani. Suara nyaring Rinjani yang mendominasi Kaysan, dan Kaysan yang slalu saja pasrah dengan kelakuan Rinjani, membuat Ibunda tersenyum.
"Sebentar lagi anak-anakku kembali." Gumam Ibunda, Kitty yang menjadi tempat curhat Ibunda hanya bisa pasrah saat tangan Ibunda mencubit pipinya, "Rinjani pasti sudah gendut sepertimu."
Khayalan Ibunda membuatnya senang, ia keluar dari kamar dan kembali ke pendopo belakang.
"Aku akan ikut menjemput mereka." serunya sambil duduk bersimpuh diantara istri-istri Ayahanda yang lain.
"Aku juga ikut." ujar Sadewa, ia memiliki maksud lain dengan tujuannya. Ia berjanji akan menemui Irene. Bribikan barunya.
"Tapi kamu kuliah, Wa." cegah Nakula.
Sadewa menajamkan matanya.
"Diam." ucapnya lirih.
Ayahanda memegang kepalanya, "Bubar, kembalilah ke kamar kalian masing-masing!" titah Ayahanda, rombongan darah daging Ayahanda berlalu, menyisakan Rama yang masih tetap berada di pendopo belakang.
__ADS_1
"Ada ada putraku, Rama?" tanya Ayahanda.
Rama mengatupkan kedua tangannya.
"Ayahanda sudah tahu dimana mas Kaysan berada?" Sikap Rama yang lemah lembut membuat Ayahanda tak berani membentaknya, ia seperti Juwita Ningrat saat muda, saat semua keadaan belum menghantamnya dengan keras. Saat keadaan sudah berdiri dengan angkuhnya, Juwita Ningrat menjelma menjadi Ratu yang berhati hangat namun juga kejam. Contoh saja preman pasar gayam yang dulu pernah mengejar-ngejar Rinjani, mereka di hukum habis-habisan. Begitu juga Broto dimejo, Ibunda ratu akan menyegel rukonya jika masih mengerjakan bisnis simpan-pinjam berkedok Rentenir yang kemudian meresahkan masyarakat. Kejamnya ratu Juwita Ningrat, bukan kejam seperti penjahat atau pembunuh darah dingin, kejamnya Ibunda hanya untuk membentuk pola hidup yang makmur dan sejahtera tanpa harus membuat kekacauan.
"Sudah, kenapa?" tanya Ayahanda.
Ia tersenyum. Rama pun membalasnya dengan senyuman
"Itu tandanya, aku tidak terbebani lagi dengan kedudukan menjadi calon Raja.
"Hahaha, kamu tidak sanggup? Belajarlah seperti kakakmu, dia keras kepala seperti batu."
"Mas Kaysan memang seperti Ayahanda, keras kepala dan aku tidak." jawab Rama dengan jujur.
Ayahanda semakin tertawa, "Menjadi pemimpin memang harus keras kepala, agar kelak tidak mudah untuk dijatuhkan atau di bodohi. Kamu harus belajar lagi untuk mengetahui intrik-intrik dari orang yang berniat menjatuhkanmu. Jika tidak, kamu sendiri yang akan jatuh karena kebodohanmu dan ketakutanmu."
Rama mengangguk, semua yang dikatakan Ayahanda memang benar. Tapi ia akan membuktikan dengan caranya sendiri tanpa perlu bersikap keras kepala. Baginya cukup Kaysan saja yang memiliki semua sifat yang di turunkan Ayahanda. Dan, baginya itu menyebalkan. Sudah berapa kali ia menjadi korban dari sifat kakaknya, Rama bahkan lupa kapan terakhir kali ia bertatap langsung dengan Kaysan.
"Kapan Ayahanda akan menjemput mas Kaysan?"
"Secepatnya. Jangan lupa lakukan apa yang Ayahanda perintahkan."
Rama mengangguk dan pamit untuk kembali ke kamarnya.
Tengah malam Ayahanda membersihkan diri, mulai besok Ayahanda sudah mulai melakukan puasa mutihan, niatan untuk menjemput Kaysan harus diiringi dengan laku prihatin, karena bisa saja permintaan Ayahanda akan di tolak habis-habisan oleh Kaysan dan Rinjani.
Rathdowne village, Melbourne.
Aku menghampirinya dengan barang bukti kuat, Kaysan tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya.
"Aku rasa dirumah ini tidak ada kotak makan berwarna pink."
Wajah Kaysan semakin tersenyum kaku, ia mengelus lenganku.
"Aku jelaskan sayang."
"Baik, aku akan mendengarkan."
"Itu dari Anne, aku tidak memakannya. Aku hanya menerima karena ia sudah belajar membuat nasi goreng."
"Oh."
Aku berdiri, membawa kotak bekal itu ke wastafel dan mencucinya.
"Besok kembalikan, jangan sampai ibunya marah karena kehilangan kotak makan."
Aku menaruhnya kembali kotak makan itu di hadapan Kaysan.
"Bubu tidak marah?" Kaysan mencekal tanganku.
"Kenapa marah, Keenan juga sering membelikan aku makan siang." jelasku.
__ADS_1
"Maksudmu, kamu sering makan siang dengan Keenan?" tanya Kaysan penuh curiga.
"Iya." Rahang Kaysan mengeras, ia mengeratkan cekalan tangannya.
"Aku sama sekali tidak pernah merespon ucapan Anne, tapi kenapa kamu malah makan siang dengan Keenan!"
"Memang Keenan orang lain? Dia bukan orang luar seperti Anne."
"Astaga, dia hanya siswa yang mengagumi gurunya, itu saja."
Aku tersenyum.
"Sudah ah, Jani malas berdebat dengan orang tua seperti kamu mas."
Kaysan melepas tanganku, "Makan siang saja terus dengan adikmu!"
Ia mengambil kotak makan milik Anne, "Tahu gitu aku kemarin memakannya!"
seru Kaysan, akhir-akhir ini dia agak sensitif terhadap semua yang aku lakukan.
Sedikit-sedikit cemburu, sedikit-sedikit ngambek, sedikit-sedikit minta di manja. Aku heran, apa laki-laki dewasa juga mengalami kondisi dimana ia berada di keadaan labil.
Kaysan masuk ke dalam kamar, entah di kunci atau tidak, aku mencoba untuk membukanya. Terlihat Kaysan sedang berbaring sambil melipat kedua tangannya sebagai bantalan kepala.
"Marah?" Aku merangkak dan menyandarkan kepalaku di dadanya.
Kaysan diam hanya terdengar suara jantungnya yang berdetak kencang.
"Keenan keluarga kita, untuk apa mas cemburu. Lagian Jani gak suka berondong, Jani sukanya mangga tua seperti kamu mas."
Rayuanku tidak berhasil, Kaysan masih diam.
"Mas tidak mau pegang perutku, putrimu dari tadi bergerak aktif."
Lagi-lagi Kaysan diam.
Aku mendongak, Kaysan memejamkan matanya. Ku kecup bibirnya lembut.
Saat hendak turun dari kasur Kaysan memegang tanganku, "Jangan pergi."
Aku memutar bola mataku karena kesal. Aku kembali menatap Kaysan, ia merengkuh tubuhku dengan erat.
"Biarlah seperti ini sampai aku bangun."
Permintaannya pun aku turuti, Kaysan kembali memejamkan matanya. Sedangkan aku, aku mulai tidak betah dengan posisi miring.
Aku terus bergerak mencari posisi nyaman. Hingga Kaysan mencubit pantatku.
"Sakit tau mas!"
"Jangan banyak bergerak!"
Aku mendesah pasrah, ku posisikan tubuhku senyaman mungkin hingga Kaysan kembali terlelap.
__ADS_1
Happy Reading ๐