
Anisa tersenyum maklum, saat Nanang dengan antusiasnya menyambut kedatangan keluarganya. "Sabar, pesawatnya masih satu jam lagi mendarat." kata Anisa saat Nanang mondar-mandir gelisah.
Jauh-jauh hari Nanang menantikan hari ini. Hari dimana Rinjani pulang, tapi sayang. Nanang belum tahu, jika Kaysan memberi titah untuk menjauhkan dirinya dari Rinjani.
"Aku tidak membayangkan bagaimana bentuk Rinjani sekarang. Kata bunda dia sudah hamil tujuh bulan. Nanti, saat mitoni, kamu datang ya Anisa. Temani aku." ujar Nanang, ia kembali mendudukkan dirinya di samping Anisa.
"Emang boleh?" Anisa ragu, karena dia termasuk orang luar.
"Hahaha, boleh. Lusa ikutlah bunda Sasmita dan Rinjani membeli kebaya." Anisa kembali mengangguk.
"Aku lapar." Nanang tersenyum jail saat Anisa mengusap perutnya dan menunjukkan ekspresi lemas.
"Lapar atau cemburu?" Goda Nanang, sepintar apapun Anisa menyembunyikan raut wajahnya yang di tekuk. Nanang tetap tahu jika Anisa sedang berpikir keras tentang dirinya dan Rinjani.
Anisa menahan gugup yang tak kunjung pergi saat Nanang menatapnya begitu lekat.
"Anisa Rahmayani." panggil Nanang dengan mesranya.
Anisa tersenyum malu, karena gugup yang tak bisa ia kendalikan. Anisa beranjak berdiri.
"Jangan gitu."
Nanang ikut berdiri, "Wajahmu lucu banget, merah kayak tomat."
Belum cukup Nanang menggoda Anisa dengan kata-katanya. Sekarang Nanang justru mengandeng tangan Anisa, "Berdua bersamamu, mengajarkanku apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta."
Hati Anisa semakin diluluhlantakan dengan suara Nanang yang berat dan serak. Nanang memang pandai bernyanyi, dan itu salah satu poin penting kenapa Anisa menyukainya.
Ingin sekali Anisa memeluk Nanang, tapi keadaan disekitarnya membuatnya hanya bisa tersenyum-senyum.
"Sudah... Pipiku kram." Nanang terkekeh mendengar pernyataan Anisa.
"Aku yang memberitahu keberadaan mas Kaysan, itu aku lakukan hanya untuk memudahkan kita menjalani hubungan ini. Ha-ha-ha. Sudah ayo makan, bisa-bisa Bapakmu marah, pulang-pulang anaknya mengadu lapar."
Nanang menarik tangan Anisa menuju food court yang berjejeran di sekitar ruang tunggu bandara.
"Mau makan apa?"
"Apa saja yang penting kenyang."
Nanang tertawa, ia teringat Rinjani yang slalu menginginkan banyak permintaan saat berurusan dengan makanan. Anisa berbeda, dan perbedaannya membuat Nanang mengerti bahwa ia tak bisa memperlakukan Anisa seperti saat ia memperlakukan Rinjani.
*
Semangkuk soto Betawi menemani kedua sejoli yang sedang belajar memahami, memahami jika manusia memiliki karakter sendiri-sendiri.
Rinjani yang apa adanya, usil, cerewet dan keras kepala.
Kaysan yang dewasa, berwibawa dan penuh misteri.
Nakula yang pendiam tapi perhatian.
Sadewa yang somplak, dan ceria.
Nanang si bucin yang sulit move on.
Anisa yang diam-diam menghanyutkan.
Dan semua tokoh dengan segala sifat dan karakternya yang menghidupkan suasana. Tuhan memang maha adil, menciptakan manusia dengan banyak karakter, agar manusia dapat saling melengkapi satu sama lain.
*
Iring-iringan abdi dalem dan polisi yang mengamankan kedatangan Ayahanda. Berjalan bergegas menuju pintu kedatangan mereka.
Nanang tersenyum, ia menghabiskan segelas es teh miliknya. Anisa mengulurkan tissue di bibir Nanang.
"Konyol. Masih ada sisa makanan di bibirmu."
__ADS_1
"Terimakasih Anisa cantik." Nanang terkekeh, saat wajah Anisa kembali tersipu.
"Sepertinya mereka sudah datang." jelas Nanang yang membuat Anisa tersenyum simpul.
"Semoga Rinjani memang mencintai mas Kaysan, dan Nanang hanyalah kisah lamanya yang sudah terkubur dalam."
Anisa berlari kecil mengikuti langkah Nanang yang tergesa-gesa.
Benar saja, seperti para artis, kedatangan Ayahanda dan Ibunda mendapat perhatian serius dari pengunjung lain yang terkesima. Mereka antusias menyambut Ayahanda, karena desas-desus yang beredar, bahwa Ayahanda ke Australia untuk menjemput putra mahkotanya yang sempat melakukan pembangkangan.
Awak media juga ikut meliput momen berharga ini. Mereka ingin mendengar afirmasi dari Ayahanda mengenai kabar yang beredar.
Nanang merangkulkan tangannya di bahu Anisa. Ia tersenyum senang, orang-orang yang ia sayangi tiba dengan selamat di tanah kelahiran mereka.
Ayahanda mengadakan press confress sebentar, sedangkan keberadaan Rinjani yang tidak terlihat oleh awak media membuat pertanyaan-pertanyaan itu semakin berdengung dengan nyaring.
Nanang mengedarkan pandangannya, sosok wanita gemuk yang menggunakan mantel dan menutup wajahnya dengan masker berjalan menghindari awak media dan kerumunan orang-orang.
Nanang yang hafal gerak-gerik itu mengajak Anisa untuk mengikutinya.
*
Saat perjalanan panjang menuju kampung halaman, Rinjani meminta agar keberadaannya tidak di ekspos awak media sampai Kaysan kembali. Ia ingin berada di dekat Kaysan---laki-laki pelindungnya, saat semua mata tertuju padanya, saat Ayahanda akan mengenalkannya secara resmi dihadapan rakyatnya.
Nanang mencekal tangan Rinjani, membuat Rinjani tersentak, "Ibu hamil!" ujar Nanang.
Rinjani menghela nafas, ia menoleh sesaat. Tatapan justeru tertuju pada Anisa yang tersenyum datar.
Rinjani menarik paksa tangannya. Ia kembali melangkahkan kakinya lebar-lebar. Kata Ayahanda sudah ada mobil jemputan dengan lambang istana yang menunggu di parkiran mobil.
Nanang tak pantang mundur, ia menyejajari langkah Rinjani. "Kamu harus hati-hati, Mbak. Jangan sampai terpeleset."
Rinjani menghela nafas, ia membuka maskernya. "Satu, mas Kaysan akan membunuhmu jika kamu mendekatiku. Dua, Ayahanda sudah merestuimu berpacaran ataupun menikah dengan Anisa. Sebaiknya kamu menjaga perasaan Anisa. Sorry, Nang. Ini bukan waktu yang tepat. Aku tidak mau ada banyak orang yang tahu kedatanganku, terlebih tanpa mas Kaysan." ujar Rinjani yang membuat Anisa gelisah.
"Mas Kaysan tidak ikut pulang? Kenapa aku jadi takut jika Nanang akan mendekati Rinjani. Meskipun, mereka keluarga. Aku juga memiliki rasa cemburu terhadap Rinjani." gumam Anisa dalam hati.
"Besok-besok Ayahanda harus membeli mobil yang berbeda-beda, atau di cat dengan warna yang random." Rinjani wira-wiri sambil mengomel sendiri. Ia memilih duduk sambil memijit kakinya. Semua badannya terasa pegal, terlebih kakinya yang menopang berat tubuh yang naik drastis. Lamunannya berlari liar menuju kenangan saat Kaysan akan memijit betis Rinjani saat betisnya sudah seksi. Rinjani tersenyum tipis, "Kangen."
Bersamaan dengan itu Nanang datang, dengan Anisa yang setia di belakangnya.
"Ikut saja dengan kami, Jani. Kamu terlihat pucat." Suara Anisa membuat Rinjani mendongkak.
"Jangan sampai keberadaanku membuat kalian bertengkar, berjanjilah."
Anisa membantu Rinjani berdiri.
Nanang hanya terdiam, ia menatap Rinjani dari atas ke bawah.
"Tidak ada yang salah dengan dirimu, tapi apa hamil membuatmu galak?"
Rinjani berdecih, "Ayo pulang, punggungku capek banget."
Anisa menggandeng tangan Rinjani, mereka mengikuti langkah Nanang menuju mobilnya.
Press confress selesai, Ayahanda meminta awak media untuk bersabar sebentar sampai waktu yang tidak di tentukan---tepatnya saat cucunya lahir. Ayahanda akan mengenalkan mereka bertiga dengan gegap gempita yang akan di adakan di alun-alun kota.
Ponsel Rinjani bergetar, ada panggilan masuk dari Nakula.
Nakula • "Mbak ngumpet dimana?"
Rinjani • "Mbak dengan mas Nanang dan Anisa. Bilang kepada Ayahanda, Jani langsung ke rumah bunda Sasmita."
Nakula • "Mbak ingat pesan mas Kaysan?"
Rinjani • "Ingat! Sudah-sudah, banyak bicara membuatku tambah lapar.
Nakula • "Jaga jarak aman!"
__ADS_1
Rinjani • "Cerewet!"
Anisa menoleh saat Rinjani berkata jika ia akan tinggal di rumah bunda Sasmita, "Jadi mereka akan tinggal serumah? Astaga, bisa-bisa Nanang semakin tidak bisa melupakan Rinjani. Apalagi Rinjani terlihat tambah cantik dengan aura keibu-ibuan." Anisa menghela nafas, entah bagaimana nasib hubungannya dengan Nanang setelah adanya Rinjani yang berada di antara mereka.
Rinjani menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil. Ia mengelus perutnya. Ia merasakan perutnya yang keroncongan sekaligus tendangan kemas dari putrinya.
"Nang, Dalilah lapar. Bisa tidak nanti mampir di rumah makan Padang, dia ingin makan rendang."
"Dalilah? Siapa?" jawab Nanang, ia masih fokus mengemudi.
"Dalilah itu anakku, keponakanmu." jelas Rinjani.
Nanang mengangguk, "Baiklah Dalilah, nanti om belikan nasi Padang."
"Anisa Rahmayani juga mau nasi Padang?" lanjut Nanang lagi saat melihat wajah Anisa cemberut.
"Aku masih kenyang." jawab Anisa ketus.
"Aku akan peduli jika itu sudah berurusan dengan hati, percayalah. Aku kembali karena tidak bisa melahirkan di Australia. Aku tinggal di rumah bunda Sasmita, tapi Nanang akan tinggal di rumah Ayahanda. Anisa, mengertilah. Tidak ada mas Kaysan membuatku takut menghadapi Ayahanda sendiri."
Anisa menunduk, Nanang mengerti kekalutan hati Anisa. "Rinjani itu bucinnya mas Kaysan. Jadi jangan salah paham dengan kedekatan kita, dan perhatian yang aku berikan. When we have each other, we have everything." ucapan Nanang seketika membuat Anisa tenang, kali ini.
Mobil berhenti di depan rumah makan Padang.
"Traktir ya, Nang. Aku gak punya uang." Rinjani cekikikan. Ia keluar dari mobil dengan senang.
Anisa menahan tangan Rinjani, "Pakai maskernya."
Rinjani menepuk jidatnya, "Aku lupa, Dalilah sudah tidak sabar untuk makan nasi Padang dengan rendang daging sapi jumlahnya tiga porsi."
Seketika Nanang melihat isi dompetnya, "Anisa Rahmayani, sepertinya kita minum es teh satu gelas berdua. Uangku tidak cukup."
"Mana lihat?" Rinjani menarik dompet Nanang, ia kaget masih terselip foto mereka berdua saja berada di photo box.
"Ini masih ada kartu debitnya, masa isinya kosong." Rinjani tidak percaya, ia mengambil kartu debit Nanang. Dan membawanya pergi melangkah masuk ke dalam rumah makan.
*
Rinjani bersendawa, saat ketiga porsi makannya sudah habis tak tersisa. Ia tersenyum malu sambil mengusap bibirnya.
Nanang dan Anisa yang melihatnya, rasanya sudah ikut kenyang bahkan mual.
"Terimakasih om, Dalilah kenyang. Sekarang Dalilah mengantuk."
Astaga, apa begini akal-akalan ibu hamil. Aku yakin mas Kaysan pusing menuruti keinginannya. Batin Nanang.
"Aku harus mengantar Anisa pulang dulu, gak papa Mbak?"
Rinjani mengangguk, "Iya, kamu akan di marahi Bapaknya jika Anisa pulang larut malam." Rinjani terkekeh, "Sadewa bercerita tentang kalian waktu habis nonton konser metal. Ha-ha-ha, untung kamu gak dikuliti dan dijadiin wayang, Nang." Tawa Rinjani meledak.
"Bukannya terimakasih malah ngelunjak. Dasar!" Celetuk Nanang.
Anisa menggeleng dengan tingkah keduanya. Rinjani tak berubah, masih sama saat awal ia mengenalnya.
Mobil kembali melesat di jalanan kota, Rinjani mendengkur halus saat ia tertidur karena lelah melakukan perjalanan jauh.
"Maafkan aku Anisa, sepertinya nanti aku harus menggendong ibu hamil itu ke dalam rumah."
Anisa mengangguk, "Iya gak papa, toh mas Nanang tidak mungkin menghianatiku apalagi mas Kaysan."
Nanang tersenyum, "Kita harus sama-sama mengerti, bahwa semua ini tak lebih dari tanggung jawab untuk saling menjaga sesama keluarga."
Nanang menghentikan mobilnya telat di depan rumah Anisa, ia mengecup kening Anisa sejenak, "Terimakasih sudah menerimaku dan masa laluku yang akan terus berada di dekatku."
Anisa gugup, baru kali ini Anisa mendapat kecupan manis dari kekasihnya. Anisa tersenyum manis dan mengangguk.
Dari bangku penumpang, Rinjani tersedak-sedak saat melihat Nanang dan Anisa berpelukan erat. "Apa sudah sampai?" Rinjani menguap dan menggeliat. Tanpa rasa bersalah yang membuat kedua sejoli didepannya kesal.
__ADS_1
Happy Reading 💚😂