
Setiap hari selasa hanya ada satu mata kuliah, meskipun aku bisa pulang cepat dan berlatih menari. Aku masih enggan untuk pulang kerumah. Semakin cepat pulang kerumah berarti semakin lama berlatih menari. Kakiku masih ngilu sisa percintaan semalam, sedangkan matahari belum bergulir diatas kepala. Main dulu sepertinya bisa, apalagi ku dapati seorang laki-laki sudah nangkring di atas motor.
"Mbak." panggilannya dengan senyum penuh arti.
"Hmm."
"Mbak tidak ingkar, 'kan?" Nakula loncat dari atas motor orang, lalu menghampiriku.
"Kita pergi lihat kost, Mbak. Lalu, pergi membeli Air Jordan."
"Apa itu Air Jordan?" dahiku mengernyit.
"Sepatu, Nike. Seperti yang Mbak janjikan."
"Jam segini pasarnya sudah bubar, Nakul." jelasku.
"Mbak, bukan di pasar karang gayam. Tapi di Mall."
"Kamu kalau ada maunya kenapa cerewet, ya sudah ayo." ajakku sambil memakai helm.
"Aku boncengin, Mbak."
"Tidak bisa! Kamu bawa mobil kodokmu sendiri."
"Kodok dibawa Sadewa dan pacarnya."
"Jomblo! Makanya cari pacar."
"Brisik!"
Nakula menyaut salah satu helm dari motor yang terparkir di dekatnya, "Nakul, motor siapa? Ngawur, kamu maling ya?"
"Besok aku kembaliin. Aku tahu siapa pemiliknya." jelas Nakula dengan mantap.
"Yakin? Mbak gakmau punya adik maling helm, aku bilangin Ibunda."
"Wadulan!" [ tukang mengadu ]
Nakula naik ke atas motor, "Kunci." Tangannya menengadah, dengan cepat aku merogoh kantong celanaku.
"Ini... jangan ngebut."
"Hmm." Aku naik ke atas motor, sungguh aneh rasanya diboncengin adik ipar.
Motor keluar dari area parkir perkampusan. Dengan kecepatan sedang aku ikut mengedarkan pandangan, meniti jalan yang kami lalui. Entah mau dibawa ke kost-kostan mana, Nakula masih diam saja akupun tak bertanya kemana.
Hingga akhirnya motor sampai ke kost-kostan tak jauh dari arena kampus, dan laundry kiloan bu Rosmini. Nakula pintar sekali membuat drama ini begitu mendramatisir.
...Kost Muslimah Aisyah....
......... Dan Kost Pasutri....
__ADS_1
"Kenapa kost pasutri?" tanyaku pada Nakula, saat kami berdua sudah memasuki area indekost dengan cat tembok berwarna putih. Bangunan ini bertingkat tiga, terlihat jika lantai paling bawah di isi oleh pasangan pasutri, karena banyak jemuran beraneka ragam jenis pakaian yang ditaruh di depan pintu. Menggelantung tanpa rasa malu.
"Bisa saja nanti Mbak dan Mas menginap disini. Jadi aku pilih kost pasutri." jelas Nakula yang langsung ku tepuk bahunya.
"Ngawur kamu! Bagaimana jika kupingku nanti diisi dengan kalimat-kalimat menyeramkan dari pasutri-pasutri itu."
"Mbak pikir kami juga tidak mendengar suara kalian berdua asyik-asyik setiap malam."
"Mbak gak tau. Mbak kan sudah pake mode senyap."
"Senyap-senyap! Besok minta mas Kaysan buat kamar kedap suara. Aku jomblo, Mbak gak mikir perasaanku?"
"Cup... cup... cup.. Maafkan Mbak dan Mas." Senyumku menyeringai.
Tiba dilantai paling atas, dengan nomer kamar 14, Nakula membuka pintunya.
Kepalaku melongok ke dalam kamar, betapa terkejutnya aku dengan pilihan Nakula saat ini.
Semua full Hello Kitty, dari seprai, gorden, karpet, sarung bantal dan sendal gemes berbulu. Semua warnanya Pink. Astaga... warna yang paling aku hindari.
Aku dan Nakula melepas sepatu, lalu masuk ke dalam kamar dengan pintu yang masih terbuka lebar.
"Yakin ini pilihanmu?" tanyaku heran sambil melihat pernak-pernik yang Nakula pilihkan.
"Hmm."
"Apa ini termasuk obsesimu menyukai Hello Kitty?"
"Narnia kekasihku, dulu dia menyukai Hello Kitty. Aku tak sempat membelikannya, karena waktu itu aku menganggap itu hal yang tidak penting."
"Narnia, kekasihmu yang disurga?"
Nakula mengangguk. Pupil matanya mendadak berair, buram dan aku melihatnya.
"Mau cerita, siapa Narnia?"
Nakula menunduk, ia terlihat semakin menunduk dalam dan bersembunyi dibalik bonekanya. Adik iparku menangis, sesenggukan.
"Menangislah." Aku mengelus bahu Nakula, "Nanti Mbak temenin ke makam Narnia mau? Mbak mau tahu dimana kekasihmu beristirahat sekarang."
Nakula tak menjawab, masih diam. Ku biarkan dia berlari mengejar kenangannya. Sedangkan aku memilih untuk merebahkan diri di atas kasur selebar 120cmx200cm. Cukup nyaman, lebih nyaman dari kasur saat aku tinggal di kontrakan.
Sambil menunggu Nakula puas menangis, aku ikut berkelana mencari pencerahan. Jika Anisa menginap disini, lalu bagaimana caranya aku bisa tidur disini? Guling bernyawaku pasti resah, aku juga. Tidur dengan Kaysan ternyata menyenangkan. Apalagi bau ketiaknya, Ah! pengen jadinya.
Lama menunggu, Nakula mulai bergerak menuju kamar mandi. Aku melihat wajahnya, merah dan sembab.
Ah, adik. Ternyata belum bisa move on. Secinta itukah kamu dengan Narnia. Aku jadi penasaran bagaimana rupanya. Dia pasti cantik, tak seperti pacar Sadewa yang nyebai itu. Belagunya minta ampun. Ingin aku jambak jika tidak ingat siapa aku nanti. [ nyebai : menyebalkan ]
"Mbak." panggilnya.
"Hmm, sudah?" tanyaku tak berani mengejeknya.
__ADS_1
"Ayo."
"Jadi beli Air Jordan?"
"Hmm... Jangan bilang-bilang pada yang lain."
"Kenapa, malu?"
"Tidak."
"Jika laki-laki menangis, tentu masih ada kelembutan hatinya. Tak apa, aku simpan rahasia Hello Kitty dan 15menit yang lalu."
Nakula keluar dari kamar dan memakai sepatunya. Akupun juga. Kami berdua turun dari anak tangga, meski dilihat sinis oleh penghuni kost-kostan lainnya. Aku tidak peduli, kost ini hanya menjadi sebagian kisah drama yang akan aku perankan.
Tiba di parkiran motor, aku dan Nakula bergegas menuju Mall. Masih dengan kebisuan, hanya deru mesin kendaraan yang menemani perjalanan kami.
Selang tiga puluh menit motor yang kami tumpangi sudah terparkir rapi di parkiran. Aku dan Nakula berjalan layaknya sepasang kekasih yang sedang marahan. Nakula mendahuluiku, akupun hanya mengekorinya, karena aku tidak tahu harus dimana membeli Nike Air Jordan.
Sudah dua kali kami menaiki eskalator, dilantai ini Nakula sudah sibuk menoleh kiri-kanan. Banyak store penjual sepatu, tapi entah mana yang akan Nakula tuju.
Hingga langkah kakinya berhenti tepat di depan store Nike. Dia sedikit tersenyum, "Mbak, jangan norak."
Aku melongo, "Memang Mbak norak gimana?"
"Pokoknya jangan norak, awas!" Ancam Nakula sambil menunjukku.
Aku mengangguk. Aku memilih duduk, membiarkan Nakula bertingkah semaunya.
Nakula asyik melihat jenis-jenis sepatu yang tidak menarik untukku. Aku lebih suka model old school, semacam Converse. Dan, sepatu yang aku pakai ini, masih sepatu yang lama. Converse Made in Thailand. Sepatu yang menemani masa-masa berjuangku.
"Nakul, sudah belum?" tanyaku menghampirinya. Dia tidak menoleh, asik melihat satu persatu sepatu yang cocok untuknya.
"Mbak, lapar." kataku dengan nada mengiba. Tempat ini dingin, mendadak aku dirundung rasa lapar. Perutku keroncongan.
"Sebentar, Mbak. Ini pilihan yang sulit.."
Aku menghela nafas. Ku lihat bandrol yang terpasang. Mataku membulat seketika, mendadak kartu debitnya akan hilang isinya, bisa jadi aku di bunuh Kaysan setelah membelikan Nakula Nike Air Jordan. Bagiamana tidak harga Nike limited edition menebus angka 70 juta. Ini mah bisa untuk beli dua pasang sapi metal dan bisa aku ternakkan.
"Mbak tidak sanggup." Aku menggeleng.
"Jadi Mbak bohong?" Nakula menaruh sepatu yang sudah ia pilih, raut wajahnya mendadak muram durja.
"Nakul..., Mbak bisa dimarahi mas Kaysan. Mbak beliin yang jutaan rupiah, jangan yang puluhan juta. Mbak bisa dihukum mas Kaysan." kataku berbisik saat penjaga toko memandang kami penuh curiga.
"Lihat sepatu Mbak, ini saja KW. Lebih baik uangnya buat beli mobil daripada beli sepatu. Kita beli saja di pasar, nanti dapet banyak." lanjutku lagi. Mata Nakula membulat seketika.
"Yasudah ke store lain, tapi janji belikan sepatu baru. Mbak juga belum ganti biaya membeli perabotan kamar!"
"Iya!" Aku dan Nakula tersenyum kaku, sembari berlalu meninggalkan penjaga toko yang terlihat sebal dan menggerutu.
Like n love ya reader, Happy Reading ๐
__ADS_1