
Bagiku tak lebih indah dari ini, melihat pusara ibu dan bercerita panjang lebar tentang keluh kesahku. Aku seperti orang gila, berbicara sendiri, tertawa, menangis, lalu berjalan-jalan melihat pusara-pusara Leluhur lainnya. Pemakaman bagiku tidak menakutkan, yang lebih menakutkan adalah kenyataan.
Seperti sebuah tamparan keras, aku mulai memahami jika ada sesuatu yang janggal. Aku mulai mengorek keterangan dari abdi dalem yang menjadi juru kunci pemakaman ini.
Namanya Mbah Atmoe Pawiro, sudah sepuh, usianya sudah menginjak 67 tahun. Tapi raganya terlihat bugar dan sanggup duduk berjam-jam lamanya. Pernah suatu hari aku datang kesini diam-diam saat jam kuliah kosong. Mbah Atmoe Pawiro sudah duduk di depan pusara Leluhur dengan baju Surjan dan kain jariknya, tak lupa keris yang berada dibalik punggungnya. Mbah Atmoe dengan baik menerimaku dipemakaman ini, justru beliaulah yang mengajariku cara berdo'a untuk meminta izin kepada Leluhur Kaysan. Izin atas gelar yang akan aku sandang nanti, kata beliau, jika Leluhur merestui semua keadaan akan berjalan seperti aspal jalan tol. Alus meski kadang bergelombang.
Sering kali bokongku kesemutan jika sudah selesai ikut merapal Do'a. Bukan hanya satu sampai dua jam, lebih. Hingga aku berkata jujur dengan Mbah Atmoe untuk mempersingkat waktu berziarah, 'mbah Atmoe menggeleng, "soyo sue, soyo apik." [ semakin lama, semakin bagus ]
"Masuknya aku ke dalam istana telah menimbulkan intrik yang luar biasa, 'mbah, sehingga ayahanda pun tega untuk menghukumku dan kangmas Kaysan."
"Sultan tidak menghukummu, Nduk. Sultan hanya ingin apa yang sudah di perjuangkan selama ribuan tahun masih terjaga hingga sekarang. Sebelum Belanda datang dan berbuat sewenang-wenang, kerajaan yang Leluhurmu dirikan sudah berdiri tegak tak terkalahkan. Siapa yang berani melawan kepemerintahan Leluhurmu, bahkan lakon di dalamnya tidak main-main. Tidak mudah mendirikan kerajaan Hadiningrat, apalagi banyak intrik politik dan hukum adat istiadat di dalamnya. Semua memang akan bertransformasi seperti perkembangan zaman, 'tapi yang sudah dijaga tak mungkin dilupakan'. Apa yang Sultan harapkan kepadamu dan GPH Kaysan hanya bertujuan untuk menjaga agar semua masih tertata seperti sedia kala. Gonjang-ganjing pasti akan terjadi, maka yang dilakukan Sultan kepadamu, hanya untuk membentuk pribadimu yang tangguh. Ratu adalah tingkatan tertinggi kedua setelah Raja, 'pun juga mengemban tugas dan amanah yang besar. Jika tidak tangguh, pasti akan tumbang."
"Lalu bagian dengan urusan selir, 'Mbah? Hatiku tidak tenang."
"Dulu kala di tahun 1665, ada kejadian yang teramat besar dalam sejarah kejayaan seorang raja Hamangkurat I, Ia kehilangan selir Kinasih yang amat ia cintai, sebelum mendapatkan Ratu mas malang yang dijuluki sebagai 'Ratu Wetan', Hamangkurat I bersedia melakukan apa saja untuk memperistri Ratu Mas Malang dengan membunuh suaminya terlebih dahulu. Cinta Hamangkurat I yang berlebihan menjadikannya tidak peduli dengan kerajaan dan mengabaikan kepentingan politik dan pemerintahan kala itu. Ia mengalami kesedihan yang mendalam atas meninggalnya Ratu Mas Malang."
"Lalu apa hubungannya denganku, 'mbah? Kangmas Kaysan tidak pernah segila itu mencintaiku."
"Apa kamu mau, Nduk. Suamimu nanti seperti Hamangkurat I yang terus-menerus mengalami kesedihan yang mendalam?"
"Konteksnya sudah berbeda, 'mbah. Jikalau kangmas Kaysan nanti memiliki selir ataupun aku nanti yang dijadikan selir, aku rasa jika berpisah kangmas Kaysan tidak sampai bersedih hati."
“Mripat iso salah ndelok, kuping iso salah krungu, lambe iso salah ngomong, tapi ati ora bakal iso diapusi.” [ Mata bisa salah melihat, telinga bisa salah mendengar, mulut bisa salah ngomong, tapi hati tidak bakal bisa dibohong ]
Bulan ini memasuki musim angin barat, hujan akan turun setiap hari. Aku suka, hanya pada hujan aku bisa menyembunyikan tangisku, hanya pada hujan aku seperti di peluk ibu. Aku masih enggan pulang, apalagi permintaan Kaysan untuk pergi ke Sydney membuatku semakin yakin jika ada alasan lain dibalik rencana 'honeymoon dan rekreasi safari alam liar'.
"Muleh! wes wayahe arep udan." [ Pulang, sudah waktunya mau hujan.]
"Hujan adalah bentuk lain dari rindu, jumlahnya tak bisa dihitung, datangnya bisa di tebak, perginya bisa ditunggu."
"Simbah 'mpun sepuh, tidak paham maksudmu, Nduk."
"Aku rindu, Mbah."
"jare putuku, rindu iku abot. Ben dilan karo milea wae, koe rasah." [ kata cucuku, rindu itu berat, biar dilan sama milea saja, kamu gak usah. ]
__ADS_1
"Kahanane lagi adem 'mbah Atmoe. Muleh yo?" [ keadaan sedang dingin Mbah, pulang yuk? ]
"Kamu ditunggu suamimu dibawah, wes kono ndang ndelok kangguru mlumpat-mlumpat." [ Sudah sana cepet lihat kangguru lompat-lompat.]
Sebenarnya dikampus sudah tidak ada kegiatan, hanya saja tadi pagi aku beralasan untuk mengambil beberapa buku dan bertemu Anisa. Padahal sebenarnya aku sedang duduk dengan Mbah Atmoe di atas tanah merah, bersila setelah selesai melakukan semedi. Kenapa aku menyebutnya semedi, karena setelah dari sini aku merasakan ada sesuatu yang baru. Atiku mundak tentrem.
Tempat inilah yang menjadi tujuan ku sekarang, saat sesuatu yang aku endapkan mulai di guncang keresahan.
"Simbah tau aku mau pergi ke Sydney?"
"Oleh-oleh untuk cucu Mbah juga boleh, Nduk."
"Mau apa? Boyo, kadal, singo opo truwelu?"
"Oleh-oleh slamet." Mbah Atmoe tersenyum penuh arti, sedangkan aku hanya mengangguk. "Titip ibu ya Mbah. Sekalian ini kunci motor, kalau-kalau nanti ada yang ambil."
"Ingat, lakon bojomu luwih angel, Nduk. Ojo tambah mbok gawe susah."
"Inggih." Aku membungkuk hormat sekaligus mengucap sembah sinuwun kepada 'mbah Atmoe.
Layaknya menapaki anak tangga yang terbuat dari batu andesit, aku harus berhati-hati, salah sedikit aku melangkah, aku akan terpeleset.
"Sudah besar, jangan suka main hujan-hujanan."
Aku mendongak, mendapati Kaysan sudah berdiri sambil menghalau air hujan dengan payung ditangannya.
"Hujan datang begitu cepat. Rinjani belum bisa merapal mantra pawang hujan."
Satu tangan Kaysan menuntunku turun, satu tangannya lagi memegang payung.
"Tahu darimana Rinjani ada disini?"
"Apa yang tidak aku ketahui tentangmu, bahkan aku tahu batinmu, Rinjani."
"Apakah begitu? Coba katakan apa yang Rinjani pikirkan sekarang, jika mas Kaysan betul memiliki ilmu kebatinan."
__ADS_1
"Kamu mengujiku, Rinjani?"
"Bisa dibilang seperti itu."
"Aku tahu dari Mbah Atmoe, kalau kamu suka kesini. Terimakasih, sudah belajar mengasihi Leluhurku."
"Rinjani ziarah kesini untuk bertemu ibu, karena ada banyak waktu Rinjani sekalian belajar bersemedi dengan Mbah Atmoe."
"Apapun alasannya dan tujuanmu kesini berulangkali dalam sebulan, semoga semesta merestui kita, Rinjani."
Kami sudah tiba dilahan parkir, Kaysan seperti biasa membuka pintu mobil untukku. Padahal sudah berkali-kali aku melarangnya.
"Mas Kaysan tidak kerja?" tanyaku saat Kaysan sudah berada di dalam mobil dan sibuk mencari sesuatu di bangku penumpang.
"Keringkan rambutmu dan ganti bajumu, aku tidak mau kamu sakit." Kaysan mengambil handuk kecil dan kaos hitam dari balik tas yang slalu ia bawa kemana saja.
"Disini?" Tidak sopan mengganti baju di lokasi yang masih wingit."
"Keringkan rambutmu dulu, sambil jalan kita cari tempat untuk mojok."
Kaysan fokus mengemudi, sedangkan aku sibuk mengeringkan rambutku.
Jalanan disini layaknya jalanan di pegunungan, berkelok dan sepi. Hanya sesekali kendaraan terlihat lewat beriringan dengan mobil kami.
"Sudah ganti bajumu disini, tidak ada orang yang melihatnya." Kaysan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Tapi mas melihatnya." kataku lirih.
"Kamu kan masih pakai BH, apanya yang mau dilihat, Rinjani. Kecil saja sombong!"
Mataku membulat, dengan pelan-pelan dan gerakan sensual aku melepas blouse batik yang aku kenakan.
"Kecil-kecil gini juga suka, gak tahan kalau sudah dibuka." Aku berdecih dalam hati, sedangkan Kaysan dengan mata galaknya melihatku tak berkedip.
"Baiklah, paket honeymoon siap dipesankan."
__ADS_1
Wkwkwk, ancur ancuran dah. mengobrak-abrik hatimu. ✌️😂