
Werdi suksmo rehing tresno
Gegambaran suwargoluko
Prapti suci wosing ati
Siro yayi kang den anti
Mukso wuyung datan lewung
Sorot siro kang pinunjul
Duh gusti moho mukti
Sun suwiji mring sejati
Sekaring sunyo ngombak rogo
Endahing siro kang sun roso
Asmoro wedho wohing janji
Duh garbaning sun kang ginowo pesti
Rahasia jiwa ungkapan cinta
Adalah lukisan keindahan sorga
Demi pengabdian tulusku wahai muara hatiku
Hanya dirimu yang ku tunggu
Hilang penderitaan mustahil di kehampaan
Karena cahayamu selalu memancar
Wahai tuhan yang maha mulia
Biarlah aku hidup bersama dia
selama-lamanya
Ketika bunga-bunga kesunyian
bergelombang di ragaku
Hanya keindahanmu yang melebur didalam rasaku
Sastra asmara wedha ini janjiku
Ketahuilah bahwa engkau sudah
di takdirkan untukku
*
...Aku meronta....
"Turunkan aku mas, turunkan aku!" Aku memukul-mukul dada Kaysan. Bak adegan film aksi, pahlawan slalu keluar disaat keadaan benar-benar genting. Mbok Darmi menemui awak media dan menceritakan kebenaran yang sesungguhnya. Mbok Darmi pun berani bersumpah jika apa yang ia katakan bisa dibuktikan.
"Aku datang, membawamu pulang." ucap Kaysan menurunkan tubuhku. Di wajahnya sama sekali tidak ada guratan kecewa ataupun guratan pilu yang menyedihkan. Justru diwajahnya terpancar rasa hangat yang mendebarkan.
"Mas... Ayahanda marah, Ayahanda pasti semakin tidak suka denganku." Aku mengerucut bibirku, "Mas benar-benar bertindak di luar kendali. Jalan kita semakin sulit." Aku memukul-mukul dada Kaysan semakin kencang. Mataku sudah berkaca-kaca, tak tahu lagi harus berbuat apa dengan kisah cinta ini. Semua sudah aku pasrahkan, namun ada saja yang harus aku tangisi.
"Kita akan pergi dan membuat kehidupan kita sendiri. Diluar rumah, diluar istana." kata Kaysan sambil mengecup keningku.
"Kamu sudah berjuang keras. Sudah saatnya kita bahagia tanpa adanya campur tangan dari Ayahanda."
Tangisku tersedu-sedu di pelukan Kaysan.
"Kita mau kemana, mas. Bukannya jani harus kuliah... Jani tidak mau menjadi anak durhaka karena sudah memisahkan bapak dan anak. Mas, jangan bertengkar dengan Ayahanda." Aku mengguncang lengan Kaysan.
"Mereka tidak memahami kita." ucap Kaysan dengan tenangnya.
__ADS_1
"Tapi tadi Ayahanda belum mengatakan siapa pemenangnya. Bisa jadi Rinjani yang menang kan, mas."
Kaysan menggeleng, "Meskipun kamu menang dalam sayembara ini. Masih banyak pihak yang akan menjegal langkah kita."
Aku berada di persimpangan dilema.
Ikut Kaysan pergi ataukah menyerahkan diri membuat semua ini hancur sekalian di depan mata, "Aku yang akan memilih bercerai denganmu, mas. Kita akan memilih jalan kita sendiri-sendiri."
Aku mengangkat kain jarik ku, tergesa-gesa aku menuju kembali ke bangsal kencana, "Coba saja kalau berani! Ayahanda tak akan mendengar suaramu." Kaysan melangkahkan kakinya lebar-lebar di sampingku, ia menoleh dan tersenyum jenaka.
"Bisa-bisanya masih tersenyum dalam keadaan seperti ini. Mas gila!"
"Aku tergila-gila padamu."
Aku menggeretakan kakiku di atas tanah.
"Segila inikah kisah cinta kita, segila ini!!!"
Sanggul polos yang aku kenakan sudah tak beraturan, rambutku semrawut. Bajuku sudah tidak beraturan. Bahkan keris yang terselip di depan perutku sudah hilang entah kemana.
"Lihatlah, kamu sudah seperti orang gila, apalagi kemben yang kamu kenakan kalau melorot aku yang repot." Kaysan menyeringai.
"Ada baiknya kita pergi sekarang. Sebelum Ayahanda semakin marah melihat kisah cinta kita."
Aku mengikuti langkah Kaysan dengan lemas. "Kita mau kemana mas? Terus bagaimana nasib bapak di Melbourne?"
tanyaku saat kami sudah berada di dalam mobil.
"Kita akan hidup di Melbourne. Kita akan hidup disana."
"Hidup di Melbourne, hidup di luar negeri." kataku pada diri sendiri.
"Jauh banget mas kaburnya, tidak bisakah kita hidup di sini saja. Bersembunyi di pedesaan. Hidup sederhana."
"Jika itu maumu, aku turuti. Tapi untuk sekarang kita harus berkemas sebelum Ayahanda menutup rapat rumah utama."
Aku mengangguk mantap. Dalam benakku ada baiknya aku dan Kaysan pergi meninggalkan rumah. Biarkan kami berdua mengukir kisah cinta lebih lama dan mendalam.
"
Beberapa koper sudah kami siapkan, termasuk berkas-berkas penting milik Kaysan.
"Kita beneran mau ke Australia lagi, mas? Lalu bagaimana dengan kuliahku?" tanyaku buru-buru memasukan baju-baju ku dan baju Kaysan.
"Kuliah online! Kita akan berangkat ke Bandara sekarang juga." Aku yang tertekan akhirnya menepuk jidatku berkali-kali.
"Australia sedang musim dingin. Pakailah jaket dan celana panjang. Jangan lupa bawa syal dan topi." titah Kaysan, sedangkan ia sendiri sibuk mengotak-atik laptopnya.
"Tidak bisakah kita mencoba menerima ini semua." Aku bersandar di bahu Kaysan.
"Aku sudah mencobanya. Hanya saja semakin kesini semakin banyak hal yang membuat jarak kita semakin menjauh. Satu tahun pernikahan kita nanti kita rayakan di luar negeri. Hanya kita berdua."
Kaysan menghela nafas, "Maafkan jika selama bersamaku, aku tidak bisa membuatmu bahagia. Maaf, hanya dengan cara ini. Kita bisa hidup tenang." Mata Kaysan berkaca-kaca, suaranya serak, tangisnya tertahan di tenggorokan.
"Maaf ya mas. Aku menyesal telah mencintaimu, dan membawamu seperti diriku."
"Bukan waktu yang tepat untuk merayu dan bersedih hati. Cepat kemarikan barang-barangnya." Aku mengangguk.
Ketukan pintu kamar membuatku dan Kaysan melempar pandang.
"Kay... buka, Kay... Biarkan bunda bicara."
Kaysan memejamkan matanya, aku tahu inipun menjadi hal berat untuknya dan Ibunda, "Bicara baik-baik dengan Ibunda ya mas. Rinjani akan keluar." Aku menepuk bahu Kaysan, "Tetaplah disini, temani aku." Kaysan menahan tanganku. Ia mendongak, matanya terbuka, terlihat merah.
"Baiklah, aku buka pintunya."
Ibunda masuk, beliau mengedarkan pandangannya, "Kalian mau kemana, jangan tinggalkan Ibunda disini sendirian." kata Ibunda dengan raut wajah yang berurai air mata.
"Jangan pergi, Kay. Biarkan Ibunda yang membujuk Ayahanda untuk membatalkan rencananya."
"Tidak akan! Surat keputusan sudah ada ditanganku! Biarkan anak itu pergi dari sini. Kaysan putramu sudah membuatku malu." Ayahanda berdiri tegak diambang pintu. Laki-laki paruh baya itu membawa amplop coklat yang ku duga adalah surat pencabutan hak atas harta benda bergerak dan tidak bergerak.
"Jangan gunakan sepersenpun uang yang kamu dapatkan dari pabrik gula dan pabrik teh yang kamu kelola. Pabrik itu akan aku berikan untuk adikmu, Rama."
__ADS_1
Kaysan tersenyum sinis, "Semua pundi-pundi uang yang aku hasilkan selama kepimpinanku sudah aku bekukan. Tidak ada seorangpun yang bisa menggunakan sistem yang aku kelola termasuk adikku, Rama! Jika Ayahanda menginginkan pabrik itu, biarlah Rama mengelolanya dari NOL!"
Disudut ini aku tercenung melihat sebuah keluarga hancur karena diriku.
"Maafkan aku, Ayahanda. Maafkan aku." kataku sambil menyembah Ayahanda. "Jangan perlakukan mas Kaysan seperti ini." Tangisku pecah di punggung kaki Ayahanda.
"Kita pergi, Rinjani." Kaysan menarik tubuhku dari hadapan Ayahanda. Aku berdiri, Ayahanda bergeming.
Sebelum aku keluar dari kamar ini. Aku memeluk Ibunda dengan erat. "Maafkan Rinjani, Ibunda. Maafkan kami berdua." Kami berpelukan dengan tangis yang semakin memecah isi kamar.
"Kaysan pamit, Ibunda. Jaga diri baik-baik."
*
"Tego sampean mas, tego!" [ tega kamu mas, tega! ] Ibunda memukul dada Ayahanda cukup keras saat Kaysan benar-benar meninggalkan rumah.
"Bocah kui lancang, Wi!" [ anak itu lancang, Wi! ] Ayahanda masih tak mau menurunkan egonya, padahal jika dilihat banyak juga kepedihan yang tertinggal dihatinya. Anak yang ia harapkan melanjutkan kepimpinan di istana, justru rela menanggalkan gelar demi hidup bersama kekasih hatinya. Tanpa perlawanan ataupun jerit penyesalan.
"Katakan siapa pemenang sayembara menari tadi. Bahkan Rinjani sama sekali tidak melakukan kesalahan!" Ibunda luruh di hadapan Ayahanda. Semangatnya menghilang bersama Kaysan yang sudah melajukan mobilnya menuju Bandara.
"Wi, sejatinya aku hanya mengharap Kaysan untuk menahan diri. Tapi anak itu slalu tidak sabaran. Hanya dengan cara ini untuk menghukum Kaysan atas tindakan lancang yang ia lakukan, jika tidak para petinggi istana meragukan keprofesionalan ku sebagai Raja dan seorang ayah. Apalagi kamu lihat sendiri kelakuan anakmu mencium istrinya di depan umum, itu sudah melanggar tata krama." Ayahanda membantu Ibunda untuk berdiri.
"Biarkan anak-anakku menentukan bahagianya. Kamupun tahu siapa pemenangnya. Putriku sudah banyak belajar." Ayahanda mendekap tubuh Ibunda.
"Putramu akan baik-baik saja, biarkan mereka bersenang-senang di tempatnya. Jangan khawatir, aku sudah mendidik putramu menjadi laki-laki yang tangguh." Ayahanda memejamkan matanya, dengan helaan nafas panjang.
"Dhanangjaya yang mendidik Kaysan, bukan kamu mas! Kamu sibuk mencari istri, melupakan aku dan Kaysan." Cela Ibunda.
Bagai anak muda yang sedang bertengkar, Ayahanda dan Ibunda masih berada dalam kondisi marah tak bisa, menjauh tak mampu.
"Aku akan membuat pengumuman hasil sayembara dan klarifikasi tentang pernikahan Kaysan dan Rinjani, Tenanglah." Ayahanda merayu Ibunda, hanya saja Ibunda masih merajuk dengan caranya. Cara yang amat menggelikan teruntuk usianya. Ibunda melengos, ia terus mengungkit-ungkit janji Ayahanda saat dulu Ayahanda meminta izin untuk menikah lagi.
"Wi, aku akan melanjutkan periode selanjutnya. Biar Kaysan menikmati masa-masa pernikahannya."
"Wi... jika kamu tidak bicara, aku akan mencari istri lagi." Goda Ayahanda.
"Wi... Pahami bahwa ada beban dan tanggung jawab atas semua yang sudah di titahkan untuk menjaga nagari Hadiningrat. Bukan hanya sekedar kedudukan yang bisa membuat semua ada di depan mata. Ini soal martabat nagari." [ nagari : negara ]
Karena sudah gatal dengan rayuan Ayahanda yang tidak mempan. Ibunda berdiri, "Harusnya diwaktu kita yang sudah senja, kita bisa bahagia dengan anak-anak kita dan cucu kita. Tidak seperti ini." Ibunda keluar dari dalam kamar Kaysan, ia membawa boneka Hello Kitty yang ditinggalkan Rinjani.
"Duh Gusti." Ayahanda memijit pelipis keningnya. "Tresno cen marak'e edan!" [ Cinta memang membuat gila! ]
*
Kaysan dan Rinjani sudah mengudara di atas samudera Hindia ditemani abdi kinasih yang ikut membelot titah Ayahanda.
"Iki sing jeneng'e motor mabur." [ Ini yang dinamakan kapal terbang ; pesawat ]
"Iki manuk mabur, nanging manuk'e ora iso ngendog." [ Ini burung terbang, tapi burungnya tidak bisa bertelur ]
"Iki manuk'e lanang. Ora iso ngendong nanging ndue endog." [ Ini burungnya jantan. Tidak bisa bertelur tapi punya telur. ]
Aku menahan tawa saat mendengar obrolan absurd nan kocak ala Mbah Atmoe dan Eyang Dhanangjaya.
Mereka ikut diboyong ke Australia oleh Kaysan sebagai bentuk penghilangan diri dari keramaian dan kejar-kejaran awak media.
"Mas..." panggilku.
Kaysan tersenyum, "Maaf ya dik."
"Maaf untuk apa mas?" tanyaku heran.
"Simbah-simbah ini butuh hiburan dan tidak pernah naik pesawat. Maaf jika nanti merepotkan dengan keluhan mereka." Kaysan tersenyum penuh arti.
Sedangkan mataku membulat, keluhan itu berupa masuk angin, jetlag dan tulang sendi yang linu.
Obrolan-obralan absurd itu terus ditimpali dengan guyon waton ala abdi-abdi kinasih pilihan Kaysan. Tujuh jam mengudara dengan mereka sudah seperti mendengar wayang orang yang sedang memainkan lakonnya. [ Kinasih : sangat dikasihi, disayangi ]
Entah bagaimana jalan cerita yang akan aku lalui dengan Kaysan nanti di Australia.
Dewa asmara masih berpihak pada kita. Pada tali kasih yang mengikat tali jiwa.
Season 1 END sampai bab ini ya.
__ADS_1