
Gegaraning wong akrami
Dudu bandha dudu rupa
Amung ati pawitané
Luput pisan kena pisan
Lamun gampang luwih gampang
Lamun angèl, angèl kalangkung
Tan kena tinumbas arta
Penguat dalam pernikahan itu
Bukan harta bukan pula fisik
Tetapi hati sebagai modal
Sekali jadi, akan jadi selamanya
Jika mudah, maka akan semakin gampang
Jika sulit, sulitnya bukan main
Tak bisa ditebus dengan harta
Tembang Asmaradana.
*
Demi kebaikan bersama, Kaysan mengizinkanku untuk pergi ke kedai Laura Bakery selama Kaysan pergi mengajar.
Eyang Dhanangjaya ikut bersama Kaysan, sedangkan Mbah Atmoe ikut bersamaku. Kedua kakek ini menjadi saksi atas kegiatan kami berdua.
"Mbah, Jani mau buat kue. Do'akan berhasil ya." Aku tersenyum jenaka, ku elus perutku yang buncit sambil merasakan tendangan keras dari telapak kaki mungil ini. Rasanya aku lebih hidup, saat ada gerakan nyata dari janin yang aku kandung.
Mbah Atmoe tertawa, "Mbah tidak mau jadi orang pertama yang merasakan kue buatanmu."
Hatiku tertusuk duri mendengar penuturan Mbah Atmoe. Padahal aku belum mengaduk telur dan tepung menjadi satu. Laura terkekeh mendengar pembicaraan kami berdua.
"Mbah ingat kemarin kamu masak-masakan dengan Nakula dan Sadewa, dan hasilnya. Kaysan tidak mau memakannya."
"Namanya juga masak-masakan Mbah, tidak serius hanya untuk bersenang-senang." jawabku, sungguh aku ingin tertawa terbahak-bahak saat memaksa Kaysan untuk memakan masakanku.
Mbah Atmoe terdiam sejenak, "Lama kelamaan Mbah merasa bersalah karena merepotkan mu dan Kaysan, Nduk."
Aku mengerjap tak mengerti, apa maksudnya Mbah Atmoe sudah tidak betah disini dan kehidupan yang membutuhkan banyak adaptasi.
Laura menepuk bahuku, "Terkadang orangtua slalu berkata seperti itu. Tapi sebenarnya mereka hanya tak mau menyusahkan kita." Laura pergi ke dapur.
"Jani, bilang pada kakek Atmoe. Apa beliau mau bekerja di peternakan sapi? Itu akan membuatnya melepas rindu dengan kampung halaman."
"Mbah kangen makam Mirisewu? Atau Mbah Atmoe mau bekerja di peternakan sapi milik teman Tante Laura?" tanyaku. Aku mendekati Mbah Atmoe. Berusaha menebak-nebak keinginan Mbah Atmoe.
Mbah Atmoe berpikir keras, Laura datang membawa teh hangat untuk Mbah Atmoe.
__ADS_1
"Letak peternakannya tidak jauh, nanti bisa di antar Keenan. Sedangkan Jani bisa di sini selama tidak ada orang di rumah, aku akan senang karena banyak yang membantuku."
Laura tersenyum, ia menunjukkan foto peternakan sapi dari layar ponselnya.
"Kau bisa bersenang-senang dengan teman sebayamu kakek."
Mbah Atmoe menatapku, ia berusaha mencari persetujuan. "Biarkan nanti kita bicarakan dengan mas Kaysan, Laura. Hmm... ayo kita buat kue, aku ingin memberi kejutan untuk mas Kaysan."
Laura mengangguk, ia merangkulku dan mengajakku ke dapur.
Hari ini Laura mengajariku untuk membuat cheese cake. Keju dan susu yang melimpah di kota ini, membuatku tak pernah kehabisan stok untuk memakannya. Anak ini sepertinya ingin diakui jika dibuat di luar negeri.
Laura dengan baik mengajariku satu persatu proses membuat adonan kue. Ia juga banyak bercerita saat pertama kali ia memilih untuk membuka kedai kue yang dibelikan mendiang suaminya. Hobi membuat kue mengubahnya menjadi usaha dan membuatnya sibuk. Seakan kesibukan itulah yang mengikis rasa kesepiannya karena sering di tinggal pergi suaminya.
"Semoga rasanya tidak buruk." kataku sambil memasukan loyang ke dalam oven.
"Tidak akan buruk jika di buat dengan kesungguhan." Laura tertawa saat melihat wajahku penuh dengan adonan tepung terigu.
"Kamu anak kecil yang membawa anak kecil. Bagaimana rasanya?" Laura duduk di kursi, sedangkan aku merapikan perkakas kotor dan mencucinya.
"Sangat mengejutkan, ada hal-hal baru yang aku rasakan." jelasku, Laura mengangguk.
"Sudah tahu jenis kelaminnya?"
Aku mengangkat bahu, "Entahlah, belum waktunya untuk USG lagi." Aku masih mencuci perkakas, sambil sesekali meladeni pertanyaan Laura. Bagiku, Laura memang memiliki karakter kuat dalam menghadapi mahligai rumah tangganya dulu. Sifat tegas dan disiplin yang diajarkan suaminya membuat ia berdiri sendiri saat suaminya divonis mati.
"Sepertinya kuenya sudah matang." kata Laura. Ia mengambil sarung tangan dan tak mengizinkanku mengambil loyang panas itu sendirian.
"Kita diamkan sebentar sampai dingin, setelah itu tinggal kita beri cream cheese dan keju parut." Laura membiarkan kue itu berada di suhu ruang.
*
"Dasar orok, sabarlah. Bapakmu pasti menghubungiku." Aku menusuk-nusuk perutku dengan jari. Janinku membalasnya dengan tendangan bebas. Geraknya berubah-ubah. Kadang begitu keras sampai aku tersentak kaget.
"Mbah mau bekerja di peternakan sapi, Nduk."Akhirnya Mbah Atmoe membuat keputusan, "Mbah tidak mau hanya menjadi satpam Kaysan. Kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti mana yang boleh dan tidaknya suatu perbuatan. Tahu hukum sebab-akibat?" Aku mengangguk.
"Laura, Mbah Atmoe mau bekerja di peternakan. Tapi bolehkah aku minta satu hal. Jangan minta Mbah Atmoe untuk menjadi anak gembala."
"Lalu? Kakek gembala?" Laura tertawa,
"Aku panggilkan Keenan untuk kemari, kalian bisa mengunjungi langsung peternakan itu." Laura kembali ke dapur, ia mengambil gawainya dan menghubungi Keenan.
"Mbah pengen pulang ke tanah Jawa?" Aku bertanya, karena masih terlihat guratan sedu di mata Mbah Atmoe.
Kadang ada kerinduan yang tak bisa di ungkapkan secara gamblang untuk seorang Mbah Atmoe. Eyang Dhanangjaya dan Mbah Atmoe masih berpikir bahwa Kaysan adalah anak Raja yang harus dihormati mesti sudah di pecat dari istana. Mbah Atmoe masih diam. Seperti kebingungan mencari solusi terbaik.
"Sebelum musim dingin aku akan meminta mas Kaysan untuk membawa kita pulang."
Dering teleponku berbunyi, ku lihat nama suamiku terlihat di layar ponsel. Dengan senang hati aku mengangkatnya, tapi slalu saja yang ditanyakan sekarang buah cintanya. Bukan aku, istrinya yang sedang mengembangkan fitur canggih pemberian Tuhan. Gua Garba, pembentuk kehidupan manusia.
Sudah makan?
Apa sudah minum susu?
Apa dia menendang terus?
Nanti jam dua aku pulang. Aku akan menjemputmu.
__ADS_1
Suara Kaysan sudah lenyap bersamaan dengan panggilan yang terputus. Padahal aku belum bilang, kalau aku habis belajar bikin kue.
Selama hampir setengah jam aku menunggu cake untuk diberi hiasan. Inilah yang aku tunggu. Seperti seorang seniman berbakat, aku menghiasi cake ini dengan cream cheese. Laura membiarkanku untuk bereksperimen dengan kue buatan ku.
Aku mulai kalut jika sudah memikirkan masa depan. Di sisi lain aku menyadari realitas yang terus menerus menjeda kebahagiaan. Kadang aku tidak yakin akan memiliki masa depan sesuai impian, kadangkala masih banyak ketidakpastian yang mendominasi keadaan. Masa depan sepertinya masih terlihat absurd dimataku.
"Sudah selesai." kataku teramat senang. Cheese cake ini sudah sedap di pandang. Tapi tidak pasti dengan rasanya.
"Laura, bagaimana?" tanyaku sambil menunjuk hasil karyaku.
"Tidak jelek. Kita bisa memakannya bersama-sama. Hmm... tentunya menunggu suamimu pulang." Laura tersenyum.
Sambil menunggu, aku menghabiskan waktu dengan melihat artikel tentang kehamilan di usia kandunganku sekarang. Aku juga mulai mencari gaya yang aman untuk bercinta. Wajahku tersipu saat melihat banyaknya gaya yang masih boleh dilakukan.
Hingga satu persatu orang yang kami tunggu datang ke kedai Laura. Bapak, Keenan, Kaysan dan eyang Dhanangjaya.
Aku menyambut mereka berempat, tak ketinggalan mencium punggung tangannya. Kaysan memelukku dan
mengusap perutku, "Apa dia nakal?"
"Memang kalau nakal mau mas jewer?" Aku menarik Kaysan untuk duduk di sampingku.
"Hari ini Jani bikin kue. Dan, sekarang kalian harus mencobanya."
Wajah-wajah mereka tak sesuai dugaanku. Mereka menatap Laura, seakan mencari pertolongan.
"Belum mencobanya sudah berprasangka buruk!"
"Enggak, hanya saja aku takut jika kamu hanya bermain masak-masakan seperti kemarin." ucap Kaysan yang tersenyum lebar. Ia seakan menutupi keraguannya.
"Enak gak enak harus di telan, mas harus menghargai usahaku." Aku merengek.
"Iya, iya." ucap Kaysan dengan nada terpaksa.
Bapak membantu Laura memotong kuenya. Aku bersorak kegirangan, kue itu tidak bantet.
"Rasanya pasti enak, ini karena anak Bapak yang membuatnya." Bapak tersenyum sambil membagikan kue itu ke piring-piring kecil, tapi mereka tampak ragu untuk mencobanya.
"Baca Do'a dulu supaya di loloskan dari rasa yang tak terduga." seloroh Mbah Atmoe.
Kami khidmat berdo'a. Kaysan menyuruhku untuk mencicipinya terlebih dahulu. Satu sendok berhasil masuk di mulutku.
"Rasanya seperti keju."
"Selera ibu hamil memang berbeda."
"Apa ini kebanyakan garam, rasanya asin."
"Paling juga pengen kawin."
"Sepertinya ngocok telurnya kurang lama, jadi kurang lembut." Kritikan-kritikan itu membuatku semakin dibuat bingung.
"Enak atau enggak? Gak usah berbelit-belit." Sergahku.
Semua orang menatapku, "Tidak baik tapi juga tidak buruk." jawab Kaysan.
Semua orang tertawa kecil melihatku yang menggerutu kesal.
__ADS_1
"Besok aku akan berlatih lagi!" jawabku. Aku mengambil lagi potongan kue itu dan memakannya. Aku lapar.
Happy Reading 💚