
Meskipun kejadian itu sudah lama, seisi pendapa agung geger karena Ayahanda tiba-tiba membuat pengumuman hasil sayembara menari antara Rinjani dan Nurmala Sari. Ayahanda memerlukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Ayahanda sendiri sudah dibuat kelimpungan akibat kelakuan putranya, Kaysan Adiguna Pangarep.
Ayahanda mengeluarkan gulungan kertas yang sudah tertulis dengan jelas, bahwa Rinjani-lah pemenangnya. Dengan dalih, cinta tak bisa dipaksakan dan restu sudah ia berikan. Ayahanda dengan lantang menyuarakan bahwa, "Gusti pangeran Haryo Kaysan Adiguna Pangarep tetap akan menjadi putraku dan mewarisi takhta kerajaan. Aku akan meneruskan kedudukan hingga Kaysan dan menantuku mampu meneruskan kepemimpinanku di istana!"
Ayahanda seperti mengorek keegoisannya sendiri karena pernah berniat memisahkan Kaysan dan Rinjani. Tapi, hati ayah mana yang terluka, sang anak lebih memilih seorang perempuan yang belum lama ia temui dan di nikahi.
Sekuat itukah cinta Kaysan dan Rinjani hingga dapat memporak-porandakan keangkuhan Ayahanda.
Sang adik yang diketahui bernama Panji Adiguna Pangarep terang-terangan menolak keputusan kakak tirinya.
"Anakmu minggat dan membuat malu istana dengan menikahi gadis biasa dari rakyat kecil, Mas!" ucapannya penuh ketidaksukaan. Panji tersenyum sinis.
Ayahanda berdiri, "Takhtaku tidak bisa kamu ambil alih, adikku. Semua sudah di putuskan dan di haruskan, jika yang mewarisi takhta adalah anak raja dan permaisuri!"
Panji tertawa, "Tidak cukupkah membuat semua ini berantakan, kangmas? Pabrik gula dan teh tidak beroperasi, semua keuangan dan alat produksi di segel putramu yang minggat entah kemana!"
Suara Panji penuh penekanan.
Pabrik gula dan teh yang tidak beroperasi menjadikan pemasukan dan pengeluaran di istana tak stabil seperti sedia kala, banyak daun-daun teh yang terbuang sia-sia, dan tebu terbaik yang di ambil alih pabrik lain.
Ayahanda tersenyum lebar, "Putraku ada di Australia, dan sebentar lagi aku akan memiliki cucu. Dengarkan aku baik-baik." Suara Ayahanda menggelegar seisi ruangan, "Keputusanku tidak bisa di ganggu gugat, kecuali jika aku mati!"
Panji semakin tertawa, tawa penuh ejekan dan ancaman. "Baiklah, bawalah putramu ke hadapan kami dan rakyatmu. Masihkah ia mau menerima kedudukannya, atau ia memilih menjadi budak cinta yang tak bisa terlepas dari istrinya!" Panji membawa pasukannya keluar dari pendapa agung.
"Siapkan tirakatan selama empat puluh hari. Puasa mutihan dan siapkan abdi dalem untuk melakukan ziarah ke makam leluhur. Tidak ada satupun yang bisa menghancurkanku kecuali diriku sendiri atau Sang Maha Kuasa!" ucapan Ayahanda begitu pilu dan penuh ambisi.
*
Ayahanda menuju kediaman selir Kinasihnya. Ia akan membabat habis anak-anaknya yang masih belum mengatakan keberadaan Kaysan dan Rinjani. Keadaan sudah diluar keterbatasannya untuk membuat Kaysan tetap menjadi putra mahkotanya. Banyak pihak yang akan menjegalnya termasuk adik tirinya yang ingin menduduki jabatan sebagai pimpinan istana.
"Kumpulkan anak-anakku!" Suara Ayahanda begitu dingin, tidak ada ekspresi hangat semenjak kehadiran Ayahanda di rumah bunda Sasmita.
Bunda Sasmita kocar-kacir, jika sudah seperti ini. Rayuan gombal nan lucu bunda Sasmita pun tidak akan mempan.
__ADS_1
"Baik, sebentar kangmas."
Bunda Sasmita menggedor pintu anaknya satu persatu. Nanang dan si kembar keluar kamar dengan malas. Terlebih suara menggelegar Ayahanda sudah menandakan jika sesuatu terjadi.
"Jangan bercanda, Ayahanda sedang banyak pikiran." Pesan bunda Sasmita.
Ketiga putranya mengangguk pasrah. Mereka menghela nafas panjang sebelum menghadap Ayahanda.
"Malam Ayahanda." sapa Nanang.
Ayahanda berdehem dan menunjukkan kursi di hadapannya. Ketiga laki-laki muda itu duduk dengan hati yang dicampuri rasa was-was.
"Ayahanda menginap disini?" tanya Nakula.
"Ayahanda akan menginap disini sampai kalian buka suara. DIMANA PUTRAKU KAYSAN?"
Ketiga laki-laki muda itu saling menoleh dan menatap. Nanang tampak gusar, ia memikirkan bagaimana hubungannya dengan Anisa jika urusan Ayahanda dengan Kaysan belum kelar.
"Apa Bendoro Raden Mas Nanang sedang mengerjai ayahnya sendiri untuk mengetuk satu persatu rumah di perumahan Rathdowne village?" tanya Ayahanda dengan berbinar-binar, secercah titik terang sedang menghampirinya.
"Rumah mas Kaysan sewaktu kuliah di Melbourne, Ayahanda masih ingat?" jawab Nanang lagi. Sedangkan Nakula dan Sadewa saling menendang kaki di bawah meja. Mereka takut jika mas Kaysan marah karena telah membocorkan rahasia besar yang tidak mereka lakukan.
"Tapi!" Nanang berkilah, "Ayahanda harus berjanji untuk merestuiku berpacaran dengan Anisa, gadis biasa seperti Rinjani."
Ayahanda tersenyum simpul, "Jika hanya berpacaran saja Ayahanda restui, tapi tidak yakin jika memasuki jenjang pernikahan. Putraku Nanang, ada yang menjegal langkah kita jika Ayahanda tidak dapat menemukan Kaysan. Percayalah, kita selesaikan dulu masalah Kaysan dan Rinjani. Setelah itu, baru kita bahas masalah ini." Ayahanda menepuk bahu Nanang.
Dari balik pintu, bunda Sasmita mendengar obrolan suaminya dan putranya. Ia tak habis pikir dengan pikiran Nanang yang begitu naif.
"Duh Gusti, Mbakyu Juwita pasti murka."
Bunda Sasmita gelisah, ponselnya ia genggam erat-erat. Hatinya bimbang antara menghubungi Juwita Ningrat atau tidak, "Besok sajalah, lagian malam ini jatahku."
Memiliki banyak istri tak membuat Ayahanda tamak untuk melakukan hubungan seksual setiap hari. Ada masanya, Ayahanda hanya menginginkan kekuatan batin dari setiap istri-istri yang memanjakannya.
__ADS_1
"Ada masalah apa, kangmas?" Bunda Sasmita menaruh kopi hitam di atas meja.
"Panji. Ia menginginkan aku lengser jika tidak bisa membawa Kaysan pulang ke istana. Jika tidak, ia akan meneruskan takhtaku. Besok akan ada press confress berkaitan dengan keluarga kerajaan. Dan masalah penjemputan paksa Kaysan dan Rinjani kita akan membicarakan besok dengan keluarga yang lain."
"Sabar, nanti darah tingginya kumat." Bunda Sasmita mengelus dada Ayahanda.
"Kangmas harus meminta persetujuan permaisuri, jika tidak anakku Nanang akan di jewer lagi!" Adu bunda Sasmita pada suaminya.
Sang suami tersenyum, ia tahu Juwita Ningrat tidak segan menjewer siapapun yang menurutnya tidak patuh dan tunduk terhadapnya, "Bukan hanya Nanang saja yang di jewer, Sas. Kamupun akan terkena imbasnya."
Bunda Sasmita mengangguk setuju.
"Apa Mbakyu masih suka mengunci diri di kamar Kaysan?"
"Aku rasa ia hampir gila jika Kaysan tak pulang-pulang. Apa aku salah, Sas? Bukannya aku tidak percaya dengan Rinjani, hanya saja anak itu masih banyak kekurangannya." jelas Ayahanda.
"Ada kekurangan pasti ada kelebihan, kangmas. Andai kangmas dulu mau membuka diri untuk Rinjani dan tidak memaksakan diri. Ia akan belajar dengan baik dan ikhlas, karena hatinya tidak ada tekanan yang membebani."
Nanang yang masih menyaksikan kedua orangtuanya bercengkrama hanya manggut-manggut saja sambil mengiyakan semua gagasan bunda Sasmita.
"Kamu juga, jangan membawa Anisa terlalu jauh. Jangan melambungkan harapan pada anak gadis, terlebih lagi dia sahabatnya Rinjani. Awas ya Nang, jika Rinjani pulang ke tanah Jawa kamu masih menyisihkan sebagian hatimu untuknya!" cecar bunda Sasmita.
"Sudah-sudah, untuk sekarang jangan menambah masalah. Ayahanda pusing."
keluh Ayahanda sambil memegang kepalanya.
Bunda Sasmita tersenyum manis, "Yasudah, ayo kangmas kita istirahat
di kamar." Bunda Sasmita membantu Ayahanda berdiri, Nanang yang melihatnya hanya mendesis.
Ayahanda dan bunda Sasmita telah mengajarinya banyak hal, ada saatnya untuk berwibawa, ada pula saatnya lelah tak bisa lagi dipendam sendiri dan harus dibagi.
Happy Reading ๐
__ADS_1