
"Ibu Rinjani sudah bisa di jenguk, silahkan untuk suaminya bisa menunggu." Sayup-sayup ku dengar suara dokter Vanya memanggil Suamiku. Apa Kaysan disini, apa dia mau menemaniku. Tuhan, aku belum siap melihat wajahnya, ia pasti juga kecewa.
Setelah mendapat persetujuan dari Kaysan melalui sambungan telepon, bunda Sasmita meminta dokter Vanya untuk mengoprasi janin yang berkembang di luar rahimku. Aku menangis, masih tak percaya jika Tuhan belum mempercayakan padaku dan Kaysan seorang bayi. Apa mungkin ini arti dari ketergesaan yang Kaysan lakukan. Semua berdampak tidak baik untuk semuanya. Selesai melakukan operasi aku di bawa ke ruang pre oprasi.
Ku dengar perdebatan kecil diantara mereka di luar ruangan. Hingga Nanang melongok ke dalam ruanganku, bibirnya melengkung membentuk senyuman.
"Istriku..." Nanang! Sungguh ingin aku sumpal mulutnya, tapi apa dayaku, untuk mengangkat tangan saja aku tidak kuat. Aku berdehem.
"Mas Kaysan ada diluar, mau ketemu?" tanya Nanang sambil duduk di dekatku. "Boleh." jawabku lirih.
"Aku suamimu, mas Kaysan anggap saja Om kita. Mengerti."
Nanang benar-benar menggunakan kesempatan ini saat aku dan Kaysan tidak bisa berbuat apa-apa, selain harus memainkan sandiwara cinta di bangsal rumah sakit.
"Sebentar, aku panggilkan Om kita." Aku ingin tergelak saat Nanang mengedipkan matanya.
Nanang keluar untuk memanggil Kaysan. Selang beberapa menit, Kaysan datang, wajahnya sendu. Langkahnya lemas berjalan ke arahku, sedangkan Nanang sibuk menutup gorden dan menutup pintu. Ia berdiri seperti penjaga tiket masuk auditorium RRI.
Setelah mencium kening, Kaysan menggenggam tanganku. Erat sekali, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Apa yang di pikirkan Kaysan membuatku cemas.
"Mas." panggilku pelan.
Kaysan mendongkak, matanya yang sendu menatapku, jika aku bisa, aku akan menebus batas mata itu, menyelami setiap apapun yang ia rasakan.
"Jani mengecewakan ya?" tanyaku. Kaysan menghela nafas panjang, "Aku lebih kecewa saat kita gagal bersama, hanya saja ini semua diluar kehendak kita. Tak ada yang perlu disesali, cukup kamu kembali bersamaku nanti di rumah kita."
Suami gadungan itu mendengus kesal, "Sepertinya sudah cukup mas, selama Rinjani di rumah sakit, aku akan menjadi suaminya. Mas pulang saja, aku sudah terbiasa menjaga Rinjani selama dua tahun."
Kaysan menggeleng, "Aku titipkan 'istriku' kepadamu. Jangan bertindak di luar batas! Mengerti kamu BRM Nanang?" Kaysan menatap lekat ke arah Nanang.
Nanang menoleh, "Mengerti GPH Kaysan." jawabnya tak berselera.
"Istriku, pencet tombol emergency jika Nanang sudah bertindak melebihi batas. Aku tahu kamu sudah tidak mencintainya." Kaysan berkali-kali mencium punggung tanganku.
__ADS_1
"Biarkan aku yang mengerjakan tugas kuliahmu, sebagai ganti atas aku yang tidak bisa menjagamu saat ini. Mengertilah kemesraan kita terbatas di muka umum." Kaysan membungkuk saat ingin mencium kening ku, "Lekas sembuh, berjanjilah setelah keluar dari sini, kamu akan tetap ceria." Kaysan mencium keningku.
Aku menahan lengan Kaysan saat ia sudah berdiri, "Maafkan Jani yang slalu membuat mas Kaysan khawatir."
"Aku benar-benar meminta Nanang menjagamu, barang titipan yang sangat berharga." Kaysan berusaha tersenyum, "Jaga diri baik-baik sayang." Kaysan berbalik, kini langkahnya mendekati Nanang, ia menepuk bahu Nanang seraya berkata, "Dia hanya masa lalumu yang kini menjadi kakakmu, tidak perlu menggunakan kenangan saat bersamanya."
Nanang mengangguk, "Aku memang hanya masa lalunya, mas. Dan, perlu mas ingat. Selamanya aku dan Rinjani akan bertemu. Membuat kenangan baru berbentuk keluarga." Kaysan memejamkan matanya sambil menunduk,
"Nang, jika kamu bukan adikku, kamu sudah tahu apa yang akan aku lakukan padamu. Hanya saja untuk sekarang aku berterimakasih padamu, sudah mengambil alih posisi ku. Ini hanya status palsu. Camkan itu baik-baik."
Nanang berdecih, "Ada baiknya mas mulai mengerjakan tugas kuliah Rinjani. Dia akan di rumah sakit selama tiga hari. Selama tiga hari juga aku akan membolos kuliah, tolong mas atur alasannya." Nanang tersenyum jenaka.
"Kamu seperti pohon pisang, punya jantung tapi tidak punya hati." Kaysan membuka pintu kamar dan bayangnya mulai menghilang.
Dari atas ranjang aku ingin tertawa, tapi untuk terbatuk saja aku mengalami sakit yang luar biasa di bagian perutku paling bawah. "Dasar suami gadungan!" gerutu ku saat Nanang duduk di sampingku.
"Dasar istri bohongan!" balas Nanang tak kalah nglawaknya.
"Nanti ada perawatan yang akan mengganti pembalutmu, karena aku tak mungkin menggantinya." Nanang mengangguk bahu, kepalanya menggeleng seperti enggan membayangkan apa yang terjadi.
"Bunda pulang ke rumah utama untuk mengambil baju gantimu." jelas Nanang sambil bermain game online di HPnya. Aku tak bertanya lebih lanjut, aku memilih menerawang udara, memikirkan bagaimana langkah kakiku setelah ini. Sepertinya semesta sedang memberiku banyak rintangan sebelum menjadi seorang Ratu.
Lengang menguap saat seorang perawat masuk sambil tersenyum, ia mendorong meja makan pasien berserta obat-obatan yang harus aku minum, "Waktunya minum obat ibu Rinjani, setelah makan malam."
Dengan konyolnya, Nanang menyeletuk, "Istri sama memang sudah lapar, Sus. Makanya wajahnya cemberut."
Perawatan bernama Andini itu semakin tersenyum, "Saya memakluminya, silahkan istri pak..." Perawat Andini menjeda ucapannya, "Nanang, saya Nanang." ucap Nanang dengan bangga.
"Silahkan pak Nanang, istrinya dibantu makan. Karena kondisi perutnya yang tidak boleh mengalami guncangan. Ada baiknya istri pak Nanang tetap berbaring selama 24jam setelah operasi tadi. Tapi pastikan Ibu Rinjani sudah kentut terlebih dahulu sebelum makan."
"Istriku, apa kamu sudah kentut?" tanya Nanang. Aku tersenyum malu-malu dan mengangguk.
"Siap, Sus. Setelah ini saya akan menyuapi istriku, dengan senang hati."
__ADS_1
Andai disini ada raket nyamuk sudah ku setrum bibirnya sedaritadi. "Harusnya kemarin bilang saja suamiku lagi di luar kota, tidak perlu mengaku-ngaku jika kamu suamiku." Aku memasang wajah masam.
"Nanti sewaktu penobatan ku, jika ada pihak yang membocorkan jika aku pernah nikah gimana, dan mas Kaysan mendapatkan janda. Apalagi jika media tahu yang menikahiku adiknya sendiri. Bisa runyam urusannya." ucapku mengebu-gebu di selingi nyeri yang membuat wajahku berkali-kali mengernyit karena sakit.
"Sudah makan dulu, lapar membuatmu galak!" kata Nanang sambil mengangkat piring berisi makanan rumah sakit. "Ini makanan sehat, tidak seperti makanan yang kebanyakan micin, jadi rasanya memang agak hambar. Seperti kita." Entah karena apa, ada genangan air mata yang sudah mengisi kelopak mataku.
"Jangan menangis nanti air matamu habis." Nanang mengambil tissue dan menghapus air mataku, "Sudah sudah. jangan menangisi keadaanku. Ayo makan, jika tidak aku habiskan sendiri."
Aku merajuk layaknya anak kecil, "Cari pacar agar aku tenang melangkah dengan mas Kaysan. Lengkapi kebahagiaanmu, Nang. Aku mohon."
Nanang mengusap wajahnya kasar, "Setelah ini, aku akan cari pacar. Kalau perlu gadis yang membuatmu cemburu dulu menjadi pacarku."
Mataku menajam, "Jangan Siska, dia bukan gadis baik-baik!" sergahku cepat.
"Tanganku sudah pegal memegang sendok, buka mulutmu." titah Nanang.
Mau tidak mau aku menuruti suami gadungan ku. Melahap semua makanan yang ia campur menjadi satu. Hingga semua habis tak tersisa, "Perutmu semakin lebar ternyata." Nanang tersenyum, "Tidak berubah." lanjutnya lagi sambil menaruh piring ke atas meja, setelahnya ia mengambilkan air putih dan obat yang harus aku minum.
"Cepet sembuh istri orang. Habis ini tidur, karena aku juga mau makan malam."
Nanang membantuku mengangkat kepalaku, lima butir obat aku tenggak sekaligus bersama air putih yang meluncur bebas di tenggorokanku.
"Terimakasih, Nang."
Area parkir rumah sakit.
Kaysan menendang roda mobilnya, "Kenapa semua kacau, kenapa semua tak bisa sejalan dengan apa yang aku inginkan." Kaysan meracau sendiri, ia pikir keluh kesahnya hanya angin yang mendengarnya.
"Ada dosa masa lalu yang harus kamu bayar, mungkin saat ini waktunya Tuhan memberimu pembelajaran dengan hadirnya Rinjani disisimu." Bunda Sasmita baru saja sampai di area parkir rumah sakit. Ia mendapati Kaysan memaki pada mobilnya sendiri.
Kaysan berbalik, ia cukup terkejut dengan kehadiran Bunda Sasmita, "Dulu banyak gadis yang kamu tolak, hingga sekarang kamu takut kehilangan seorang wanita yang amat berarti untukmu. Mungkin ini adil dengan apa yang dirasakan oleh gadis-gadis itu. Mereka pernah menaruh hati untukmu, sedangkan kamu tak acuh terhadap mereka."
Kaysan bergeming, ia hanya menatap gelapnya malam tanpa cahaya rembulan. "Putraku, kata seorang pujangga, kamu adalah tokoh utama yang diidam-idamkan oleh para wanita, sedangkan Rinjani adalah mawar yang merekah diusianya. Ibarat sebuah perumpamaan, hubungan kalian ada di atas kelopak mawar yang menjuntai gontai." Bunda Sasmita menepuk bahu Kaysan, "Bersabarlah, badai belum juga surut." Bunda Sasmita melenggang ke dalam rumah sakit, ia membawa totebag berisi baju ganti Rinjani dan barang bawaan pesanan Nanang. Sedangkan Kaysan mengeraskan rahangnya, ia semakin kalut dengan keadaannya.
__ADS_1
Happy Reading π
Rahayu kersaning Gusti π