Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antalogi cerpen [ Nanang X ]


__ADS_3

Pengambilan foto benda keramat di istana memang membutuhkan ritual khusus seperti puasa mutihan. Tidak bisa sembarang orang bisa memotret benda-benda keramat yang hanya boleh diambil oleh kami yang sudah memiliki izin dari istana ataupun izin dari penjaga benda-benda tersebut.


Aku cukup beruntung bisa melihatnya dari dekat, walaupun sebenarnya ada kecanggungan tersendiri karena harus berhadapan dengan benda yang sakral.


Foto-foto benda keramat ini akan di publish di sos untuk menunjukkan koleksi-koleksi benda pusaka yang tidak bisa di lihat secara langsung.


Hari ini adalah hari istimewa berkaitan dengan hari jadi pernikahan Ayahanda dan Ibunda Juwita.


Sudah jadi hal umum, Ayahanda akan mengadakan pesta rakyat yang berhubungan dengan misi sosial. Seperti mengadakan donor darah massal yang di peruntukan bagi abdi dalem dan pihak internal istana dibantu oleh


palang merah Indonesia.


Tidak hanya itu, Ayahanda akan membuka pintu istana untuk menjamu tamu dan rakyat yang di undang secara resmi oleh istana.


Ayahanda dan Ibunda akan bersuka cita dengan kebahagiaan yang terasa lengkap karena di temani Dalilah dan Suryawijaya.


Ayahanda mengenalkan cucu-cucunya di hadapan para tamu undangan. Dalilah yang ceria memang menghibur suasana. Ia menemani Ayahanda, berceloteh dan menanyakan banyak hal tentang dekorasi istana. Rasa penasaran melebihi bocah seusianya. Ayahanda senang sekali, bibirnya terus melengkung membentuk senyum yang tak terurai sejak tadi.


Ibunda duduk memangku Suryawijaya membiarkan Mas Kaysan dan Mbak Jani menemani beberapa tamu istimewa.


Ayahanda dan Ibunda memang sedang menyiapkan kedua sejoli itu untuk mengganti posisi mereka. Rinjani memang tampak canggung saat ini, tapi mas Kaysan terus merangkul bahunya seperti memberitahu bahwa istrinya tak perlu cemas dan takut.


Lalu Aku?


Sebagai tim dokumentasi, sedaritadi aku di tugaskan untuk mengambil momen-momen penting. Foto-foto inilah yang akan di publish di sosial media milik istana dan beberapa akan menjadi dokumentasi pribadi.


Duduk di samping Ibunda, aku memeriksa hasil jepretan ku. Aku tersenyum puas manakala hasilnya banyak yang tidak perlu di edit lagi.


"Makan dulu, Nang." ujar Ibunda.


"Baik Ibunda. Tapi Nanang masih kenyang." ujarku sambil tersenyum. Ku cubit pipi Suryawijaya yang menggemaskan.


"Bubu mana?" tanyaku iseng padanya.


"Bu... Bu..." bibirnya lalu bergetar ingin menangis.


"Bubu mantan kekasihku." ujarku yang langsung disambut gelengan kepala oleh Ibunda.


"Bagaimana, sudah ambil keputusan untuk pergi ke Jerman?" tanya Ibunda.

__ADS_1


"Satu rumah menanyakan hal itu. Nanang masih bingung Ibunda." jawabku sambil mengambil gambar.


"Kenapa tidak mengabdikan dirimu di istana, Nang? Keraton butuh anak-anak muda sepertimu untuk membangkitkan semangat nguri-uri budaya yang sudah banyak ditinggalkan oleh generasi sekarang. Istana butuh contoh anak muda dari generasi penerus istana yang masih dan tetap melanjutkan tradisi budaya lintas generasi!"


Aku merinding setelahnya. Permintaan Ibunda sama saja titah yang harus aku patuhi. Rasanya aku ingin pergi dan menghilang dalam sekejap saat aku tak bisa berkata apa-apa. Jujur, darah biru ini akan mendarah daging selamanya.


Iya atau tidaknya aku mengabdi di istana. Ada darah leluhur yang mengalir dalam darahku. Aku akan malu kalau sampai aku kehilangan jati diriku sebenarnya.


"Ibunda sangat tahu masalahmu. Tapi tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk hanya melupakan mantan. Karena sejatinya cinta dan cemburu itu sama-sama memiliki prinsip menguatkan dan melemahkan. Sedangkan kamu sudah melewati permasalahan cinta yang ruwet dengan Rinjani dan Kaysan. Tapi lihatlah dirimu sekarang. Kamu berhak bangga karena kamu adalah pangeran dengan kelembutan hati yang tulus."


Aku merasa tersanjung. Tapi aku butuh waktu memantapkan hati agar benar-benar yakin jika pilihanku adalah sesuatu yang berguna dimasa sekarang dan saat aku tua nanti.


"Ibunda ingin ke toilet. Titip Suryawijaya. Kalau rewel berikan kepada bubu mantan kekasihmu."


Aku ingin tertawa saat mendengar candaan Ibunda. Ku taruh kameraku dan mengambil alih Suryawijaya.


Bocah ini menatapku bingung. Karena sedaritadi aku memang sudah memakai baju kejawen lengkap dengan blangkon dan keris yang terselip di balik punggungku.


"Aku ini om Nanang. Cinta pertama ibumu. Sedangkan Bapakmu cinta keduanya dan kamu cinta ketiganya. Dapet bagian akhir. Jangan sedih!" ledekku pada Suryawijaya.


Tak menunggu lama, bocah ini sudah menyita perhatian tamu undangan. Tangisnya terdengar sampai ke telinga ibunya.


"Ibunda mana?" tanya Rinjani.


"Ke toilet. Ini anak kalian. Aku mau lanjut motret acara donor darah." Ku ulurkan Suryawijaya ke tangan ibunya.


"Cariin Nina! Ajak dia kesini! Dia pasti capek."


Dasar tukang perintah! gumamku sembari menjauhinya. Aku ini sedang menghindari Nina, sekarang takdir justru mengajaknya untuk mendekat pada keluarga inti.


Nina memang mendapat undangan khusus sebagai tamu istimewa sekaligus perawat magang yang membantu petugas PMI. Secara umum, dia memang sudah dianggap keluarga oleh Ayahanda. Terlepas dari statusnya sebagai sahabatku dan Rinjani.


Membawa kamera yang beratnya sekitar 1,5kg. Aku mulai membidik sudut-sudut terbaik. Hingga lensa kameraku menangkap sosok gempal yang sedang asyik bercengkrama dengan abdi dalem yang mengantri untuk donor darah.


Ku hampiri Nina dan memanggilnya.


"Apa, Nang?" jawabnya.


"Di panggil, Mbak. Di suruh ke dalem."

__ADS_1


"Aku belum selesai." bantahnya.


"Udah mau duhur, istirahat dan sholat dulu!" ujarku.


Nina hanya tersenyum, ia kembali melanjutkan memeriksa berat badan, tensi darah, dan hemoglobin salah satu abdi dalem.


"Berat badan gak cukup, Pak. Kuy, makan dulu yang banyak biar bisa donor darah tahun depan." ujar Nina menyarankan.


"Bagi tips menggemukkan badan Mbak?"


Nina tertawa kecil, "Tipsnya bahagia luar dalam. Satu lagi, makan saja apa yang ingin di makan. Otomatis kita senang dan badan auto gendut sepertiku."


Sifatnya memang 11 12 dengan Rinjani. Yang membedakan hanya bentuk tubuhnya. Untuk wajahnya mirip Audy Item saat muda, hanya saja rambutnya aku tidak tahu. Itu area sensitif miliknya dan hanya suaminya kelak yang akan tahu bagaimana wujud polos seorang Nina.


Aku sudah memantapkan hati untuk tidak terjebak dalam cinta yang berawal dari persahabatan. Aku tidak ingin jika nantinya aku dan Nina bermusuhan hanya karena masalah percintaan atau patah hati.


Bagiku sulit untuk mendapatkan seseorang yang baik seperti dirinya, dan aku takut kehilangannya karena membuatnya terluka. Biarlah seperti ini, seperti sebelum-sebelumnya. Saat aku dan Nina mudah membicarakan hal-hal sepele dan saling mendukung satu sama lain.


Kata Ibunda cinta itu menguatkan dan melemahkan. Jika cinta Nina hadir untuk menguatkan, itu memanglah dirinya. Lahir batin aku tahu bagaimana sifatnya, tapi jika cinta hadir untuk melemahkan itu bukan dirinya.


Dari semua sisi. Nina memang mengandung sisi positif. Tapi sayangnya sisi positif itu ia berikan untuk semua orang.


"Rinjani dimana, Nang? Aku sudah selesai." jelas Nina, ia melepas almamaternya dan mencuci tangannya di wastafel.


"Aku antar ke ruangan mas Kaysan. Tadi Suryawijaya minta tidur siang." jawabku sembari mendahuluinya.


"Baru kali ini aku lihat kamu pakai baju kejawen. Aura wajahmu semakin berkharisma." jelas Nina.


"Gak usah ngrayu. Aneh tahu!" tukas ku.


Nina tertawa kecil, "Takut amat jatuh cinta, Nang. Aku gak masalah kok di tolak. Lagian aku sadar diri. Yang penting apa yang mau aku bicarakan sudah tersampaikan."


Santai banget Nina membicarakan hal itu, sedangkan aku memejamkan mata sejenak mendengar nada bicaranya. Ku hentikan langkahku dan berbalik perlahan.


"Aku nyaman seperti ini, Nin. Aku mau kita bersama tanpa status pacaran!"


Nina diam, lalu mengangguk pelan.


"Kita memang sudah saling sayang dan tak akan terpisah. Aku ada di belakangmu sampai kamu mendapat cinta yang sanggup membahagiakanmu."

__ADS_1


...Tamat....


__ADS_2