Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Sedu sedan ]


__ADS_3

Kaysan dan Nanang tak lebih dari laki-laki yang terjepit di antara cinta dan adat yang di junjung tinggi. Memilih salah satunya sama saja mengorbankan sebagian jiwanya. Tidak ada yang salah dengan keduanya, karena takdir tak bisa dipilih sesuka hati manusia.


Apa cinta sebegitu hebatnya? Hingga membuat Adam dan Hawa membuat kesalahan di hadapan Sang Pencipta. Dan, kesalahan itulah yang menjadi titik awal ditemukannya istilah C I N T A.


*


Seminggu berlalu. Nakula dan Sadewa sudah bersiap untuk kembali ke tanah Jawa. Sedu Rinjani tak henti-hentinya meminta mereka untuk tetap tinggal di Australia. Hatinya melankolis, entah harus bagaimana lagi Kaysan merayu Rinjani untuk melepas adik-adik mereka kembali ke bumi Pertiwi. Mbah Atmoe hanya tersenyum, eyang Dhanangjaya memilih diam sembari menyaksikan cucu-cucunya berdebat tentang peliknya perpisahan.


"Sudah to Mbak, malu!" seru Sadewa, ia tak habis pikir dengan sikap Rinjani. Sedaritadi tangannya tak mau melepas tangan Sadewa dan Nakula.


"Mbak kesepian, jangan pulang." Rengek Rinjani. Bagai anak kecil, ia kehilangan teman untuk bermain.


"Mbak, liburan semester sudah selesai. Kami harus kembali ke rumah dan pergi ke kampus. Nanti kalau ada waktu luang kami akan kesini lagi. Janji." Sadewa mengangkat jari kelingkingnya. Rinjani menggeleng tidak mau.


"Ayolah mas bujuk istrimu, kalau gak kita ketinggalan pesawat." Kini giliran Sadewa yang merengek minta tolong kepada Kaysan.


"Sudah dua Minggu mereka menemanimu dan menuruti keinginanmu. Sudah waktunya mereka pulang, jika tidak Ayahanda benar-benar akan kemari untuk menjemput kita. Kamu mau?" Kaysan mencoba merayu Rinjani untuk kesekian kalinya.


"Lagipula Mbak Jani masih ditemani Mbah Atmoe dan eyang." Nakula menimpali. Bukannya mereda, Rinjani dibuat melotot dengan penuturan Nakula.


"Kalian berdua mau membuatku menjadi cucu kurang ajar! Tidak mungkin Mbah Atmoe dan eyang menemaniku masak-masakan dan main air di taman belakang, yang benar saja!" seru Rinjani. Ia lupa, ada janin yang dapat merasakan kegundahan hatinya.


Mendekati jam-jam take off, rengekan Rinjani semakin menjadi-jadi.


"Jangan pergi... Temani Mbak..."


"Mbak janji gak ngerepotin kalian."


Nakula dan Sadewa saling melempar pandang. Senyum dan helaan nafas panjang sebelum akhirnya mereka memeluk Rinjani, "Makanya ayo pulang Mbak, Mbak tidak akan kesepian karena dirumah ada keluarga. Rumah Bunda masih terbuka lebar untuk Mbak Jani dan mas Kaysan jika kalian mau pulang nanti." kata-kata Nakula bak rayuan maut yang merenggut sebagai benteng pertahanan Rinjani.


Pulang...rumah...keluarga...kampus...Nina...Burosmini...dan semua kenangan. Berputar-putar di kepala Rinjani. Ia mendadak lesu, sedunya perlahan memudar ketika ia mengingat jika pulang ada yang harus ia hadapi-Ayahanda dengan segala macam perintahnya.


Rinjani membalas pelukan hangat dari si kembar, "Janji, besok kalau anakku lahir kalian ke sini. Jangan lupa hadiahnya, yang banyak." pinta Rinjani.


Nakula dan Sadewa mendelik tajam, dengan cepat mengangguk sambil berkata iya, "Yasudah sana pergi, sebelum keinginan anakku berubah lagi." Sungguh Rinjani tak tahu diri. Ia melepas pelukannya dan bersikap tak acuh terhadap si kembar.


Kesempatan ini digunakan si kembar untuk cepat-cepat pergi. Mereka mencium tangan Mbah Atmoe, eyang Dhanangjaya dan Kaysan secara bergantian.

__ADS_1


Rinjani melengos, ia tak mau menatap adik-adiknya yang tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahnya.


"Jangan ngambek, nanti cepat tua!" teriak Sadewa. Mereka kemudian masuk kedalam ruang tunggu bandara setelah melakukan pemeriksaan e-tiket dan pemeriksaan metal detektor.


"Apa jadinya mas Kaysan setelah ini, Wa?" tanya Nakula. Bukan hanya Rinjani saja yang sedih. Nakula yang dekat dengan Rinjani, sangat tahu jika Rinjani memang kesepian jika ditinggal Kaysan pergi bekerja. Kondisi mereka tak jauh beda saat Rinjani dan Kaysan masih berada di rumah Ayahanda. Kehadiran Nakula dan Sadewa memang pelipur hati Rinjani. Apalagi untuk Rinjani, bercanda dengan si kembar slalu membuatnya bisa melepas kegundahan hatinya.


"Palingan cuma ngambek sebentar, gak dikasih jatah. Mereka berdua gak bisa jauh-jauh dari urusan ranjang. Sudah ah! Surat buat Anisa kamu bawa belum?" jawab Sadewa, ia sebenarnya sebal karena belum puas di ajak Keenan jalan-jalan di kampung halamannya.


Apalagi ada teman perempuan Keenan yang membuatnya terkesima. "Sudah. Kira-kira apa isi suratnya? Apa jangan-jangan Mbak Jani gak merestui hubungan mas Nanang dan Anisa? Apa perlu kita baca dulu?" Nakula meminta persetujuan Sadewa. Jelas sifat usil Sadewa membuat Nakula mengeluarkan surat itu dari dalam tas ranselnya.


"Yakin gak papa kita buka?" Nakula ragu. Ia hanya menimbang-nimbang amplop surat berwarna pink itu ditangannya, tanpa berani membukanya


"Memangnya kamu tahu alasannya kenapa Mbak Jani tidak merestui hubungan antara Anisa dan mas Nanang? Mbak Jani sudah cinta mati sama mas Kaysan, jadi gak ada alasan bagi Mbak Jani tidak merestui hubungan mereka." seru Sadewa. Kadang menjadi anak kembar tak slalu memiliki satu pemikiran. Ada saja pembahasan yang membuat mereka berdebat tentang sesuatu yang tidak seharusnya mereka pikirkan.


"Wa, kalau nanti kita di sidang Ayahanda gimana?" Pesawat sudah mengudara satu jam yang lalu. Mereka tetap memikirkan bagaimana cara memberikan alasan terbaik dan logis untuk Ayahanda.


"Ada Bunda." jawab Sadewa, ia lelah dengan pertanyaan Nakula.


"Lama-lama kamu cerewet, ketularan Mbak Jani!" cela Sadewa.


"Memang kamu gak cerewet?" Bela Nakula. Sadewa memejamkan matanya.


*


Masih di area parkir bandara, Rinjani menunggu pesawat terbang yang membawa adik-adiknya pergi meninggalkannya. Kaysan terdiam, ia menyadari bahwa dirinya memang tidak memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang dengan Rinjani. Ia hanya berpikir, umurnya sudah tidak pantas untuk bersenang-senang layaknya si kembar.


"Ayo pulang, mas." kata Rinjani, ia melangkah gontai menuju mobil Kaysan.


"Langsung pulang atau mau makan es krim dulu?" Bujuk Kaysan. Ia tahu es krim dapat membantu penambahan berat badan janin dalam kandungan. Terlebih es krim memang enak saat musim panas.


Rinjani hanya mengangguk. Ia masuk ke dalam mobil.


"Mbah Atmoe, Eyang, mau langsung pulang atau ikut makan es krim?" tanya Rinjani. Kaysan masuk ke dalam mobil dan memakaikan Rinjani sabuk pengaman.


"Ikut makan es krim. Sekali-kali." jawab Mbah Atmoe.


"Seumuran kami sangat jarang makan es krim. Apalagi gigi sudah sensitif." kata eyang Dhanangjaya.

__ADS_1


Mobil keluar dari area parkir bandara. Tak butuh waktu lama, merek sudah sampai di kedai penjual es krim aneka rasa. Tak hanya itu, berderet-deret pula kedai penjual sajian cepat saji.


"Mau es krim rasa lemon, ditambah dengan buah berry." kata Rinjani, ia sudah duduk di kursi. Di ikuti Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya yang sibuk melihat daftar menu.


"Es krim rasa kopi." kata Mbah Atmoe.


Eyang Dhanangjaya masih bingung,


"Semua rasanya enak eyang." kata Kaysan. Mengajak lansia untuk jajan makanan anak muda memang sulit untuk menentukan pilihan.


"Es krim dingin, nanti gigi eyang ngilu. Kalau sudah begitu, eyang repot sendiri. Disini tidak ada puyer." Rinjani menahan tawa, "Jus buah saja, mas. Es-nya sedikit."


"Ide bagus cucuku. Jus buah dikasih es krim satu sendok." Pinta eyang Dhanangjaya. Kaysan lalu menuju kasir untuk memesan dan membayarnya.


Mereka berempat menunggu pelayanan membuatkan pesanan. Hingga akhirnya, tiga mangkok es krim dan segelas jus tersaji di meja makan.


"Kamu yakin memakannya, bukannya lemon itu asam." Dahi Kaysan mengernyit, membayangkan rasa es krim lemon yang dimakan Rinjani dengan lahap.


"Enak mas." kata Rinjani. "Seger."


Wajah Rinjani tak menunjukkan jika rasa es krim lemon itu asam. Hingga Kaysan yang memilih es krim rasa cokelat, menyendok es krim milik Rinjani. Ia penasaran dengan rasanya.


"Kamu bilang ini tidak asam! Mulutmu sepertinya sudah tidak peka terhadap perbedaan rasa." Seloroh Kaysan yang langsung menyantap es krimnya untuk memudarkan rasa asam di tenggorokannya.


"Tapi Jani suka. Jani mau lagi!"


"Tidak!" jawab Kaysan.


"Nanti kalau anaknya ngeces gimana, nanti kata orang-orang, keturunan ningrat kok ngeces."


"Ningrat juga manusia. Tidak luput dari kesalahan. Kalau khilaf itu pasti. Pilih rasa lainnya!"


Rinjani mengalah, suaminya jika sudah memiliki titah susah dibantah. "Yasudah rasa anggur."


Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya yang melihat kedua manusia yang meributkan rasa es krim, dibuat semakin ngilu ketika dinginnya es krim menyentuh gigi sensitif mereka. "Lebih enak minum kopi atau bajigur."


Happy Reading πŸ’š

__ADS_1


follow ig Skavivi_selfish untuk info lengkap tentang novelku. πŸ˜πŸ™


__ADS_2