Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Rembug rasa ]


__ADS_3

"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Kaysan. Dua bapak-anak itu masih bersitegang setelah kepergian Rinjani.


Kaysan rasanya muak saat Ayahanda malah bersikap tenang dan menunjukkan wibawanya. Seperti dirinya yang masih menahan segalanya. Benci, tawa dan rindu yang bercampur menjadi satu. Bagi Kaysan, Ayahanda tetaplah mercusuarnya.


"Panji."


Hanya satu kata yang keluar dari mulut Ayahanda tapi mampu membuat Kaysan mengeram. Siapa yang tidak tahu perangai Panji, adik tiri Ayahanda yang kalap akan harta benda.


"Ayahanda tidak sanggup jika harus menghadapi Panji sendiri, putraku. Ayahanda butuh kamu dan keras kepalamu untuk menghadapinya. Pulanglah... sekalipun itu lima bulan lagi." Ayahanda berusaha meredam egonya saat berhadapan dengan Kaysan. Ia tahu, putranya jika dilawan dengan sifat keras akan membalasnya dengan sikap yang sama.


Kaysan berdecak kesal, hidup tak pernah membuatnya tenang sekalipun ia berada di luar negeri.


"Apalagi yang Ayahanda inginkan?"


Ayahanda tersenyum penuh arti.


"Apa yang Putraku inginkan?"


Bagi Ayahanda, bisa membawa Kaysan kembali ke tanah Jawa adalah sesuatu yang ajaib.


"Jangan mengusik Rinjani sekalipun aku tidak menjaganya. Rinjani akan tinggal bersama bunda Sasmita, dengan syarat Nanang tinggal di rumah utama."


Ayahanda mengangguk. Sangatlah mudah menyuruh Nanang untuk tidak mendekati Rinjani, ia akan mengimingi-imingi dengan restu menikah dengan Anisa.


"Apalagi, katakan sekalian agar kamu tenang melepas Rinjani pulang."


"Ayahanda tahu, Rinjani dan anakku adalah separuh nafasku. Sampai kepulanganku nanti, aku tidak mau mendengar kabar jika Rinjani kenapa-kenapa. Ayahanda bisa menjaminnya? Karena sampai saat ini, Rinjani masih menganggap Ayahanda berusaha memisahkan kita."


Tak Kaysan pungkiri bahwa kepulangan Rinjani ke tanah Jawa adalah hal terberat untuknya. Ia tahu putrinya akan terlahir saat musim dingin, dan itu akan beresiko tinggi terhadap penyakit kuning. Terlebih, tak mau Kaysan bantah bahwa ia ingin menguburkan ari-ari putrinya di dekat ari-ari miliknya. Suami mana yang tega meninggalkan istri saat melahirkan, Kaysan benar-benar tidak mengerti harus memilih mana. Tanggung jawabnya bukan soal uang yang bisa saja ia ganti, tapi tanggung jawab seorang laki-laki di pegang teguh dari janjinya. Karena Kaysan memiliki martabat yang harus ia jaga.


Martabat seorang Ningrat.


Benar yang dikatakan Rinjani, lima bulan bukan waktu yang singkat untuk mereka yang dilanda cinta.


"Ayahanda akan memberimu waktu seminggu, habiskan waktumu dengan Rinjani. Jika perlu ambillah cuti."


Kaysan tersenyum getir, "Aku akan mengambil cuti saat Rinjani melahirkan nanti. Ingatlah Ayahanda, aku meminta baik-baik sebelum aku benar-benar tidak ingin melanjutkan titah Ayahanda." ucap Kaysan telak.


Ayahanda mengangguk, "Baiklah putraku, jika satu istri saja sanggup membuatmu bahagia. Ayahanda tidak akan memaksamu lagi. Tapi ingat, Rinjani harus benar-benar mempersiapkan diri."


*


Mini bus eksekutif membawa satu rombongan keluarga Ningrat menuju rumah sakit. Begitu juga mobil polisi yang terus menjaga keselamatan keluarga Ayahanda.


Ayahanda tidak sabar melihat cucunya di dalam rahim, begitu juga Ibunda.


Rinjani tersenyum, "Beginikah caranya membuat Ayahanda dan Ibunda bahagia, hanya dengan melihat cucu mereka berenang bebas di dalam rahimku. Beginikah caranya aku membalas kebaikan Ayahanda dan Ibunda. Memberikan mereka banyak cucu, tidak cuma satu." Rinjani menahan tawa dan menggeleng cepat.


"Apa yang membuatmu senang?" Sedaritadi Kaysan melihatnya, melihat Rinjani tersenyum-senyum dengan mata yang berbinar senang.


"Mas jangan membuatku malu. Jangan meminta hasil USG lebih dari satu." Peringatan Rinjani sambil mewanti Kaysan untuk tidak berbuat konyol lagi di hadapan dokter Elizabeth.


"Dokternya tidak keberatan." Bela Kaysan, "Harusnya kamu paham, saat-saat itulah aku bisa melihatnya. Hal terbahagia dalam hidupku. Ehmm..." Lanjut Kaysan sambil menjeda ucapannya.


"Jangan KB ya, dik. Aku ingin memiliki anak banyak."


Dari bangku belakang, Sadewa dan Nakula tertawa. Sepertinya mereka mendengar obrolan Kaysan dan Rinjani.


"Hamil, hamil, hamil. Pokoknya buat Ayahanda senang dengan bayi-bayi kalian. Agar kami tak memiliki adik."


Tawa mereka meledak.


"Apapun yang membuatmu senang, mas. Mau punya anak berapa? Dua, tiga?" ucap Rinjani yang tak menghiraukan ocehan si kembar.


"Lima."

__ADS_1


Rinjani memejamkan mata mendengar kalimat itu. Memiliki anak lima adalah ekspetasi Kaysan. Tidak tahu dengan realita nanti.


Rinjani mengangguk, "Baiklah, asal mas berjanji untuk kembali. Karena Rinjani tidak bisa membuatnya sendiri."


Kaysan menarik pinggang Rinjani dan menyurukkan kepalanya di helaian rambutnya.


"Aku akan merindukan rambutmu yang harum, aku akan rindu memainkan rambutmu."


Kaysan mengelus rambut Rinjani dengan lembut. "Dik, jangan pakai lingeriemu jika tidak bersamaku."


Rinjani menatap mata Kaysan, dan tersenyum lembut.


"Ya, Jani berjanji tidak memakainya."


Kaysan menatapnya ragu, "Janji?" tanyanya kurang yakin.


Rinjani mengangguk mantap, "Pegang janjiku, mas."


Kaysan mengecup kening Rinjani, lama sekali...


Rinjani menutup perutnya dengan selimut, sambil menggeleng tak mau di USG saat Ayahanda dan Kaysan begitu menatapnya nyalang.


Ibunda menghela nafas, "Bisa-bisa cucuku tidak mau keluar dari perut ibunya jika kalian seperti ini. Keluarlah dari ruangan ini. Tidak akan lama." Ibunda mengandeng tangan Kaysan dan Ayahanda.


Kaysan bergeming, ia sudah terbiasa melihat perut Rinjani. Tidak untuk Ayahanda.


"Ayahanda yang keluar, Rinjani akan takut jika Ayahanda masih disini." seru Kaysan.


Sadewa dan Nakula yang mendengar perdebatan ikut masuk ke dalam ruang Obgyn.


"Sudah dok, periksa saja agar aku yakin jika aku tidak kalah taruhan."


ujar Sadewa, ia masih tak percaya jika yang dikandung Rinjani adalah seorang putri. Membelanjakan kebutuhan bayi dari mulai bedong bayi, baju bayi, gurita bayi, perlak, pampers, sarung tangan, sarung kaki dan semua printilan lainnya membuat dompet Sadewa menjerit. Begitu juga uang tabungannya.


Setelah mendapat aba-aba, dokter Elizabeth pun memeriksa kondisi rahim Rinjani. Ia tak menyangka jika mertua sang pasien yang terkadang bertingkah konyol di ruangannya adalah seorang pemimpin istana.


Kaysan terus mengumbar senyum, saat matanya menatap perut Rinjani dan layar monitor secara bergantian.


Sang jabang bayi sedang bergerak aktif.


"Seperti biasa, Dok." kata Kaysan, dokter Elizabeth mengangguk.


"Saya juga belum pernah berfoto dengan kalian, bolehkah lima kali juga seperti foto USG?" Dokter Elizabeth tersenyum jenaka, tangannya sibuk mengambil berbagai pose dari jabang bayi.


"Kenapa terlihat sama saja, coba jelasnya yang lebih spesifik mana perbedaan laki-laki dan perempuan, Dok?" ucap Sadewa yang membuat Kaysan melotot.


"Sudah dibilang perempuan ya perempuan, apa kamu bermaksud mengintip putriku?" Suara Kaysan terdengar menggelegar seisi ruangan.


Sadewa tersenyum kikuk, "Ampun mas, ampun."


"Sudah dibilang kalah ya kalah. Kasian." Ejek Nakula.


Ayahanda memiting kedua leher anaknya dengan kedua lengannya.


"Diamlah, kalian mengganggu konsentrasi Ayahanda melihat cucu Ayahanda."


"Apa Ayahanda sudah tidak sayang kita, Ayahanda sudah abai dengan kita?" Rengek si kembar yang membuat Rinjani tersenyum puas.


Ayahanda terkekeh melihat wajah cemberut si kembar, sudah lama Ayahanda tak melihat Nakula dan Sadewa manja terhadapnya.


"Kalian sudah punya pacar, harusnya kalian cemburu pada laki-laki yang mendekati pacar kalian. Bukan malah cemburu dengan keponakan kalian yang belum lahir."


Pikiran Nakula langsung melesat pada Rahma, wanita dewasanya. Kebetulan sekali ia sedang berada di dekat Kaysan. Nakula tersenyum lebar, "Baiklah, aku akan mengorek informasi dari mas Kaysan."


Ruang Obgyn berubah menjadi studio foto dan ruang wawancara. Ibunda dengan cermat menanyakan perihal keamanan penerbangan untuk ibu hamil.

__ADS_1


Kaysan dan Rinjani sudah pasrah jika harus berpisah. Semua mereka lakukan untuk kebaikan anak mereka.


"Kita akan mencari informasi tanggal yang aman untuk pulang. Putriku, apa yang kamu inginkan setelah ini."


Rinjani menatap Kaysan untuk mencari persetujuan, Kaysan mengangguk.


"Katakan saja keinginanmu, sebelum Ayahanda berubah pikiran dan menakutkan lagi." Bisik Kaysan ditelinga Rinjani.


Rinjani mengangguk, "Ayahanda, Jani mau memberi tau hal jika Bapak masih takut bertemu dengan Ayahanda. Ehm... tanpa mengurangi rasa hormat, apakah Ayahanda mau menemui Bapak?"


Alis Ayahanda terangkat, dan disinilah mereka sekarang berada. Gedung KBRI cabang Melbourne.


"Akhirnya saya bisa bertemu dengan besan saya setelah sekian lama disembunyikan Kaysan." Ayahanda menjabat tangan Herman, dengan senyum yang mengembang.


Herman tersenyum kecut, ia tak tahu rencana apa yang dilakukan putrinya dengan mendatangkan Ayahanda ke tempat kerjanya. Bahkan Herman terlihat masih menggunakan baju khusus office boy.


"Maafkan saya Paduka raja tidak menyambut kedatangan Paduka berserta anggota keluarga saat berkunjung kesini waktu itu."


Rinjani menyembunyikan senyumnya di balik lengan Kaysan, "Bapakmu sebentar lagi pingsan, dik." Rinjani memukul punggung Kaysan.


"Kalian begitu menakutkan. Wajar saja kalau bapak mau pingsan. Mas ini, bantu Bapak mencarikan suasana."


Kaysan terkekeh, "Pulanglah, pak. Karena malam mulai besok Ayahanda akan menginap di hotel. Ada hal yang perlu kita sekeluarga bicarakan."


Ayahanda merangkul bahu besannya.


"Tidak apa-apa, saya tidak mempermasalahkan hal itu. Benar kata Kaysan, ayo kita pulang bersama dan membicarakan tentang kepulangan putri kita ke tanah Jawa."


Herman menatap Rinjani sekilas, Rinjani mengangguk.


"Baiklah kalau begitu, ada hal yang sama yang perlu saya bicarakan dengan paduka raja."


Tawa Ayahanda menggelegar, "Panggil saja kangmas, itu lebih santai. Rilex..."


Mungkin detak jantung Herman sekarang sudah tak karuan. Wajahnya sayu, tubuhnya gugup seperti saat pertama kali Rinjani berhadapan dengan Ayahanda.


*


Makan malam sederhana di restoran cepat saji membuat Rinjani merasakan kehangatan saat semua keluarga yang Rinjani sayangi berada di sekelilingnya. Begitu juga Kaysan, ia merasa putrinya membawa keajaiban.


Dua buah burger sudah Rinjani habiskan, begitu juga sepiring spaghetti.


Si kembar yang melihatnya tak kuat menahan tawa. "Pantes tambah gendut, ternyata..."


Rinjani mendengus kesal, ia menunjuk si kembar di hadapan Kaysan.


"Mereka tidak tahu jika hamil itu memerlukan asupan makanan dan nutrisi yang banyak."


Mata Kaysan menajam, seakan-akan memperingati si kembar untuk tidak membuat Rinjani ngambek dan berakhir rengekan.


"Hihihi, baba Godzilla takut bubu Godzilla marah." seru Sadewa, Nakula mengacungkan jempol setuju.


Kaysan menggebrak meja, "Kalian benar-benar akan aku pecat menjadi adik jika masih membuat Rinjani merengek. Tapi, tidak jadi. Kalian akan menjaga Rinjani di rumah kalian nanti sebagai bakti kalian terhadap calon Raja."


Sadewa dan Nakula menatap Ayahanda, "Benarkah mas Kaysan akan menjadi Raja setelah Ayahanda tidak lagi memimpin istana?"


Ayahanda mengangguk, Ibunda juga.


"Rinjani akan tinggal dengan kalian, dan kalian harus bersedia mengawasi Rinjani dan menjaganya. Satu lagi, awasi Nanang!" ucap Ayahanda telak.


"Nggih, ndoro."


Sadewa dan Nakula pasrah, tak berani membantah dengan kedua laki-laki yang menjadi sumber utama isi dompet mereka.


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2