Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 68. [ Gosok pijat Urut ]


__ADS_3

Ritus pagiku mulai kembali pada jadwal harianku. Cakram yang sudah terpasang pada tubuhku seperti tahu, kapan aku harus los dol dan kapan aku harus ngerem. Cakram yang terhubung pada aturan dan ketentuan, mengajakku untuk tidak bermalas-malasan, aku bagai permainan boneka kayu. Setiap gerak tubuhku seperti di bawah 'tuntutan' keadaan.


Selepas Kaysan pergi bekerja, aku akan mengikuti kegiatan Mbok Darmi bekerja. Jika dalam waktu senggang, Mbok Darmi akan mengunyah daun sirih dan injet secara bersamaan. Bibirnya akan merah merekah seperti memakai gincu, rasanya terlihat aneh. Sekali aku mencobanya, rasa kebas dan getir bersampur menjadi satu, aku tak kuasa. Lalu muntah! Seisi perutku keluar tanpa sisa.


Mulutnya akan senantiasa memberi wejangan kehidupan, seakan semua proses kehidupan sudah ia tela'ah dan menyisakan bekas pada setiap kerutan di tubuhnya.


Di hari-hari tertentu seperti malam Sabtu Kliwon, Mbok Darmi akan membuat sesaji berupa bunga-bunga yang di taruh dalam satu cawan perak, air mawar dalam kendi dan setangkup bunga sedap malam, tak lupa aroma dupa yang semerbak wanginya terkadang membuatku kliyengan. Mulutnya akan membaca rapalan Do'a, aku tidak mengerti artinya apa, karena pelajaran yang aku tangkap baru sampai melihat cara membuat sesaji. Setelahnya aku akan ikut belajar menghafalkan mantra yang seperti sajak rima, mantra Do'a pada gusti Sang Hyang Widhi.


Perempuan tua itu slalu menepuk pipiku, setelah selesai melakukan 'Extrakulikuler', "Pelan-pelan saja, yang penting paham."


Meski sebenarnya tidak begitu, semua yang diajarkan Mbok Darmi adalah pelajaran yang harus aku tela'ah mentah-mentah.


*


Sudah seminggu aku tinggal dirumah ini, Nindy sering menemaniku dalam banyak kegiatan, lebih tepatnya kegiatan bergibah ria sambil melihat rekaman-rekaman film yang ia mainkan. Satu fakta lagi yang aku ketahui tentang Nindy, dia adalah seorang seniman muda berbakat.


Apa darah seni juga mengalir dalam darah anak bangsawan, sungguh aku belum banyak memahami tentang darah kebangsawanan. Darah yang memiliki nilai keagungan dari para leluhur. Sedangkan darahku hanya sebatas darah merah, darah putih, hemoglobin dan darah kotor.


Aku hanyalah perempuan biasa, yang sedang naik derajat.


*


Kaysan seperti biasa. Laki-laki itu akan pergi dari pagi sampai sore, ia akan bermain dengan tanggungjawabnya. Namun, jika malam menjelang Kaysan akan mengunciku di dalam kamar. Kadang hanya sebatas bermain argumentasi tentang masa depan. Atau, main pijit-pijitan. Seperti malam ini, Kaysan menengkulupkan badannya. Memintaku untuk mengurut punggungnya. Aku tersenyum simpul, sambil duduk diatas bokongnya.


Aku mulai mengurut punggungnya dengan minyak Gosok Pijat Urut, "Memang kerjaan mas harus angkat beban berat ya?"


"Iya, seperti sekarang. Sepertinya makanan dirumah ini cocok dengan perutmu."


Aku terkekeh, "Mas mengejekku? Makanan dirumah ini memang enak-enak mas, tapi kenapa badan mas tidak gemuk ya? Apa makanan dirumah ini tidak cocok dengan perut mas?"


Tanganku masih mengurut punggungnya yang lebar, punggung yang nyaman untuk tempatku bersandar. Punggung yang slalu aku cengkeram saat bersenggama.


"Bukan tidak cocok, tapi aku sedang menjaga pola makan. Aku ingin terlihat awet muda, untuk tetap terlihat tampan bersanding denganmu, Rinjani."


"Bukannya kalau laki-laki semakin dewasa semakin terlihat berwibawa ya mas, semakin terlihat menawan gitu."


"Saat aku berusia 40 tahun, kamu sedang berusia 26 tahun, Rinjani. Wanita berusia segitu adalah wanita menawan bagi seorang pria. Aku ingin terlihat menarik dimatamu, agar kamu tidak mencari laki-laki yang berkulit mulus tanpa penuaan dini."


Aku menepuk punggung Kaysan, sambil turun dari bokongnya. "Harusnya aku yang takut mas, laki-laki semakin matang usianya semakin matang pula pikirannya. Yang ada nanti banyak gadis-gadis yang mendekati mas karena mas seperti sugar daddy."


"Apa itu sugar daddy, Rinjani?"


Kaysan bangkit dari tidurnya, sambil mencari kaos dan mengenakan.

__ADS_1


"Sugar daddy itu om-om, mas. Om-om yang banyak duitnya terus suka sama gadis-gadis muda." Aku berjalan mendekati wastafel yang terletak di depan pintu kamar mandi, mencuci tanganku setelah main pijat-pijatan selesai.


"Tidak akan." Kaysan menepuk pahanya, "Duduk sini."


Aku merengut sambil menggeleng, "Lelah aku mas, besok jadi kuliah."


"Duduk!"


Aku menggeretakan kakiku diatas lantai, lalu duduk dengan malas di paha Kaysan.


Tangan itu sudah kembali nakal, memeluk tubuhku dengan erat sambil mengendus ceruk leherku. Aku merinding. Bulu-bulu halusku dengan mudahnya berdiri.


"Besok aku antar kuliah."


"Yakin?" Aku mengernyitkan dahi.


"Iya, aku ingin mengantarmu sekolah."


"Tuh kan! Mas udah kayak sugar Daddy kalau begini. Memang Jani anak kecil pake dianter sekolah." Aku mencubit hidung bangir Kaysan, "Kata Ibunda hidung mas mancung karena sering di cubit Ibunda, mas ngeyel katanya."


"Benarkah?"


Aku mengangguk, "Mas dulu sering dihukum Ayahanda ya?"


"Lihat sini?" Aku mengikuti sorot matanya, dia terpejam. "Gak usah merem juga kali mas, Jani gak akan cium." Aku menjulurkan lidahku, merangkak mundur dari samping Kaysan.


"Apa yang kamu lakukan, Rinjani?"


"Nyiapin buat kuliah besok, mas."


"Sudah kamu cas laptopmu? Ehm... atau jangan-jangan kamu tidak tahu caranya nge-charge laptop?"


Aku melirik tajam ke arah Kaysan, "Aku gak ndeso banget ya mas, sembarangan. Tapi, kemarin diajari Nindy." Aku terkekeh sambil menyembunyikan wajahku di balik tas ranselku.


Kaysan tersenyum lalu mengecup keningku, "Bagaimana bisa aku menikahi gadis unik sepertimu, Rinjani. Bawa saja satu buku, selebihnya nanti dikampus kamu akan mendapatkan buku bimbingan."


"Unik atau udik, mas?"


"11,12."


Jawaban Kaysan membuatku melongo. "Terus, terus aja ngeledek Rinjani."


Kaysan tersenyum lalu mengecup lagi keningku, "Mau udik atau unik, kamu tetap cantik dimataku."

__ADS_1


"Katanya kalau cantik membosankan, manis aja deh mas. Biar saja gula semakin kehilangan esensinya."


"Terserah kamu saja, Rinjani. Tidurlah, besok adalah hari baru untukmu."


Aku menahan tangannya, "Bagaimana kalau dikampus nanti ada cowok yang deketin, Rinjani?"


"Tidak masalah. Kamu sudah menjadi milikku."


"Tapikan, Jani gak mungkin bilang sudah punya suami, mas. Apa lagi bilang suamiku, kamu."


"Kamu siapa?"


"Ya, kamu mas. Siapa lagi."


"Kamu siapa?"


Aku mendongak menatap Kaysan, laki-laki ini benar-benar menyebalkan.


"Kamu, Kaysan."


"Hahaha, kamu adalah gadis kecil yang berani memanggilku dengan panggilan 'kaysan', sebutan namaku dengan baik begitu juga dengan gelarnya."


Aku melongo, sambil mendongkak tak percaya, "Gusti Pangeran Haryo Kaysan Adiguna Pangarep."


Kaysan semakin tertawa, lalu menggendongku menuju ke arah ranjang. "Tidurlah."


"Ceritakan tentang kisah hidupmu, mas."


"Tidak akan. Aku ceritakan tentang nabi-nabi saja."


"Nabi-nabi?"


"Ya, nabi Adam."


"Baiklah, ceritakan mas."


Diatas ranjang, Kaysan memelukku sambil mulutnya terus menceritakan kisah nabi Adam saat bertemu dengan hawa. Kedua manusia pertama di bumi itu dihukum Tuhan karena melakukan kesalahan. Dari sebuah kesalahan Adam dan Hawa, cinta begitu banyak menanam arti sebuah penantian dan pengorbanan. Dari sebuah kesalahan yang di sebut 'cinta' terlahir kita, generasi penerus yang membuat cinta begitu banyak berkembang dengan istilah-istilah lainnya. Tak masalah jika sudah berjodoh pun bertahun-tahun lamanya, jodoh pasti bertemu.


Mataku semakin memejam saat Kaysan menepuk bahuku perlahan dan mengecup keningku lembut.


Aku mencintaimu, Rinjani.


Like n love kak, terimakasih ๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2