
[ POV Kaysan ]
Setelah tahu jika Rinjani kesusahan dalam memahami tugas kuliahnya. Tanganku iseng membuka laptop miliknya, memang ada beberapa bab yang belum ia kerjakan. Dengan teliti aku mengetik jawabannya, ini sebagai bentuk permintaan maaf atas kekacauan yang terjadi.
*
Pagi menjelang membawa harapan, ku temui Nakula di meja makan. Bagai dua orang yang berbicara lewat ilmu kebatinan, Nakula mengambil HPnya dan mengirimku sebuah pesan yang berisikan sebuah alamat.
Tanpa mempedulikan Ibunda yang menyuruhku untuk sarapan, aku bergegas menuju lokasi tersebut, aku tahu Rinjani disana. Mobil melesat cepat menembus padatnya jam kerja.
Setibanya di sebuah indekos bertingkat tiga, aku memicingkan mataku betul-betul, Rinjani tinggal disini bersama pasutri-pasutri yang asik berjemur di pagi hari.
Dengan masker dan kacamata hitam aku bergegas menuju kamar Rinjani, sepertinya kost ini cukup bebas karena tidak adanya satpam penjaga.
Aku mendengus lemas, saat tatapan pasutri-pasutri tadi menatapku penuh tanda tanya, sedangkan aku hanya bisa membungkuk hormat sambil bergegas menaiki anak tangga.
Tiba di lantai dua, mataku mengedar mencari nomer 14. Benar saja, dia ada di indekos ini, ku lihat sendal jepit berwarna pink ada di depan pintu kamarnya.
Kegelisahanku perlahan sirna, saat istriku berdiri dengan rambut yang berantakan dengan mata yang terlihat masih menyipit. Aku melongok ke dalam kamarnya. Rasanya aku ingin terbahak-bahak menertawai Rinjani yang menjadi korban atas penyesalan Nakula. Seluruh kamar ini isinya Hello Kitty. Anak itu. Tidak ada yang bisa marah dengan Nakula atas kejadian yang telah menimpanya. Hanya kepada Rinjani, 'lah anak itu perlahan membuka jati dirinya. Kelak, adikku akan menjelma menjadi laki-laki dewasa dan memiliki kekasih lagi, tanpa ada rasa penyesalan yang masih bersemayam di benaknya. Dan, dia tak lagi kepayahan untuk menuruti kemauan Rinjani atau, Nakula akan menjadi jomblo limited edition karena terlalu sering berada di dekat Rinjani, seolah-olah istriku adalah kekasihnya.
*
__ADS_1
Kata-kata yang keluar dari mulut Rinjani bernada sindiran dan kecemburuan, seolah-olah menjadikan aku laki-laki yang beruntung, dicintai istri yang sedang berkorban untuk kepentingan bersama. Aku hanya tersenyum, seperti aku sedang baik-baik saja. Tapi tidak di benakku, dik. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam sini, entah kapan aku bisa membicarakan padamu, dik. Aku butuh keberanian untuk mengatakan semua kejujuranku.
...Lantas, jika kamu tidak terima, kamu pergi....
...Lantas, bagaimana dengan diriku....
*
Mataku perlahan terbuka, tak ada siapa-siapa, ku lihat secarik kertas berada dibawah vas berbentuk Hello Kitty.
"Ngorok yang nyenyak. Rinjani kuliah dulu sayang."
Kata-kata sayang begitu menyenangkan bagiku. Hatiku berbunga-bunga, hingga aku lupa tak memakai kacamata dan masker. Langkahku mantap keluar dari kamar kost Rinjani. Hingga tatapan-tatapan pasutri tadi begitu terpukau sekaligus terperangah melihat siapa aku.
*
Selepas menari, Nurmala Sari semakin bertingkah. Dia mengajakku untuk ke bioskop, katanya ada film horror terbaru, film kesukaan kami berdua. Semenjak tahu jika kehidupan dikerajaan tak jauh-jauh dari Leluhur yang menjaga kami, kehidupan kami di isi dengan film-film horror. Bukannya takut, kami akan tertawa melihat tingkah laku hantu bohongan.
Aku tak bisa berkata apa-apa saat Ayahanda dan Ibunda sudah menyuruhku dengan titahnya. Titah yang tidak bisa aku bantah. Sepertinya aku harus belajar memberontak seperti Indy. Gadis yang bebas mengutarakan pendapatnya, tanpa takut dihukum seperti aku. Andai saja bukan aku pewaris tahta kerajaan, mungkin aku bisa bertingkah semuaku, seperti adik-adikku yang lain, tanpa perlu pencitraan, hanya perlu mematuhi paugeran yang ada.
Tiba di bioskop XXI. Ku lihat istriku duduk dengan sahabatnya yang sedari tadi sudah menatapku tajam, mulutnya siap merajam kalimat-kalimat menasehati. Seperti kata Rinjani, jika Nina adalah seorang ustadzah yang biasa mengisi kajian sore di masjid tempatnya tinggil.
__ADS_1
Ku lihat tangan Rinjani mencengkeram lengan Nina erat-erat, sepertinya mengisyaratkan untuk tidak menyalak. Kulihat, perlahan senyum di wajah Rinjani mulai hilang.
Aku dihukum atas keadaan ini, aku dihukum dengan perasaan seperti ini. Tuhan, berilah keberanian untuk mengatakan semua kepada Rinjani, agar aku bisa melangkah tanpa ada ketakutan, takut akan Rinjani pergi.
Bagiku di dalam bioskop selama hampir dua jam, lebih menakutkan saat tahu Rinjani tak bersorak ketakutan seperti penonton lainnya. Dia diam seribu bahasa.
*
Rinjani datang membawa salah satu boneka besar Hello Kitty, senyumnya mengembang, wajahnya sudah nakal sejak ia sudah duduk di dekatku. Tangan sudah mengelitik pusarku. Ada apa dengan Rinjani, dia tidak seperti biasanya. Jika cemburu ia akan selalu meledak-ledak atau memukul lenganku berkali-kali. Ada apa dengan senyuman itu, ada dengan istriku. Apa sehari saja bertemu dengan Nina, ia sudah mencuci otak Rinjani.
Harusnya sekarang Rinjani marah dan cemburu karena kejadian siang itu, tapi kali ini justru ia malah meminta jatah. Hmm... bukan mauku tapi apa boleh buat, ku nikmati setiap sentuhan tangannya, sehari tidak tidur dengan Rinjani, tubuhku ada yang salah.
*
Aku tahu Rinjani sedang menguji ku, akal-akalan dari mana dia mengajak Kitty menjadi bagian dari rencananya. Boneka jumbo ini begitu menyebalkan, menatapku seperti aku yang salah dengan semua ini. Rinjani lebih memilih memeluk boneka tak bernyawa, membiarkan aku yang rindu hanya memeluk guling.
Semakin malam membuat ku resah dengan kata-kata Rinjani. Akankah aku bisa mengatakan semuanya, dan membiarkan Rinjani menerima rasa sakit yang tak sebanding dengan rasa sakit yang aku miliki. Banyak hal yang menjadi keraguanku saat ini, Nanang dan Rinjani akan menjadi saudara, lalu bagaimana dengan perasaan mereka. Tuhan, aku ingin Rinjani jika cemburu semakin meledak-ledak, semakin banyak racauan yang keluar dari mulutnya semakin bagus. Itu tandanya Rinjani telah cinta mati kepadaku, mangga matangnya yang sudah tergila-gila dengan kedua Cherry kecilnya.
*
Suatu pagi yang mendung, dibulan Desember. Rinjani membawa senampan teh tawar hangat dengan beberapa camilan. Berbulan-bulan dia telah berubah, dia menjelma menjadi wanita yang pendiam, kata-kata yang keluar dari mulutnya tak lebih dari kata-kata jawaban atau pertanyaan. Selebihnya dia akan sibuk dengan kegiatan sepulang kuliahnya, dari mulai les kepribadian, menari, membuat sesaji, atau belajar teteg bengek lainnya yang masih bersangkutan dengan kegiatan kerajaan. Rinjani menjelma menjadi wanita yang sulit aku tebak, dia jarang mengatakan keluh kesahnya, dia jarang tertawa, atau dengan tingkah konyolnya dia akan memintaku melakukan berbagai macam hal yang diluar kebiasaan ku.
__ADS_1
Rinjani berubah, dan perubahannya semakin membuat jarak di antara kami semakin menjauh.
Happy Reading, jgn lupa like ๐