Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 112. [ My sun ]


__ADS_3

"Oooh... sunshine ... great sunshine ... beautiful sunshine ... only you."


"Mas, kita dimana?" Baru saja kami tiba di sebuah villa setelah perjalanan panjang menuju tempat ini.


"Tempat dimana aku suka menyendiri."


"Tau gitu tadi Jani nyanyi naik-naik ke puncak gunung."


"Kamu pandai bernyanyi, turunlah."


"Sebentar... ini punya keluarga atau sewa mas?" Aku mengedarkan pandanganku ke luar kaca.


"Aman." Kaysan tersenyum tipis.


Setelah kami berdua keluar dari mobil, Kaysan mengajakku untuk langsung masuk ke dalam villa.


Sebenarnya ini sudah larut malam, karena sebelum memutuskan untuk sampai ke villa ini, kami memerlukan perdebatan panjang. Ternyata berkencan secara backstreet itu menyusahkan.


"Kok gelap mas? Kok serem, ini gak ada hantunya kan?"


Tiba di ruang tamu, Kaysan menghidupkan lampu. "Maukah kamu menemaniku semalam disini?" tanya Kaysan sambil berlutut di hadapanku.


"Kamu emang suka banget bawa aku ke tempat antah berantah, kalau aku bilang tidak, kamu juga bakal maksa." Aku melengos pergi, langkah kakiku ku bawa ke sofa kulit berwarna hitam.


"Rinjani!"


"Apa mas?"


"Kita perlu bicara empat mata."


"Baik sayang, duduklah kemari." Aku menepuk sofa di sebelah ku. Senyumku mengembang.


"Ada apa?" lanjutku.


"Aku kangen kamu."


"Jangan ya mas, kita sedang berjuang."


"Aku mohon sudahi usahamu untuk melanjutkan puasa. Badanmu semakin kurus."


"Baik jika itu sudah menjadi bagian perintahmu mas. Ada lagi yang mau mas bicarakan?" tanyaku selagi Kaysan semakin terdiam.


"Waktu itu Ibunda bercerita tentang seorang gadis yang dikejar-kejar preman lalu menabrak tiang listrik di pasar karang gayam."

__ADS_1


"Itu aku."


"Itu memang kamu, malamnya Ibunda bercerita tentangmu, disini aku memilih untuk merenungkan kembali permintaan Ibunda untuk mendekatimu, paginya aku bertemu dengan mu. Masih ingat?" tanya Kaysan sambil mengusap dahiku, "Aku masih ingat waktu itu dahimu lebam, tapi kamu terlihat cantik."


Wajahku tersipu, ditariknya tubuh ku ke dekapannya. "Tidak perlu berkorban demi menjadi Ratu, aku akan melepas semua gelar dan memilih hidup sederhana denganmu. Aku sudah bahagia seperti ini."


"Tidak bisa seperti itu mas. Tidak!" Aku melepas pelukan Kaysan, "Jangan menjadi pecundang sejati. Percayalah Rinjani bisa menjadi pilihan yang tepat untukmu. Mas Kaysan hanya perlu mengajariku." Aku beranjak berdiri.


"Rinjani Alianda Putri!"


Aku menggerutu dengan perasaan menyesal, "Lebih baik kita tidur mas, Rinjani temani malam ini." Aku tersenyum manis sembari mengulurkan tanganku, Kaysan menarik nafas, "Baiklah." Lalu ia menggandeng tanganku.


Sesampainya di kamar yang berada di lantai dua. Kaysan memilih untuk berdiri di depan jendela, "Aku bisa menjadi laki-laki yang rapuh dan tak tahu arah jika kamu pergi dariku, Rinjani."


Aku melipat kedua tanganku dan mendengus kesal, "Jangan meragukan ku!"


Kaysan berbalik, "Tidak, aku tidak meragukan mu, aku hanya takut kehilanganmu."


"Jika aku yang harus mengalah, aku sendiri yang akan mencoba menjauhimu mas. Tapi tidak, aku masih setia bersamamu sampai sekarang, justru inilah waktu yang tepat untuk membuktikan bahwa aku memang bisa." Aku memeluk Kaysan saat ia merentangkan tangannya. "Kamu memang berani, tidak salah aku memilihmu." Kami terdiam sambil berpelukan erat.


"Apa mas masih menjadi dosen di kelasku?" tanyaku setalah kami sama-sama duduk di tepi ranjang.


"Aku hanya dosen tamu untuk menyemangati mu waktu itu, tugasku hanyalah urusan universitas. Jadi kalau kamu rindu, kamu bisa mencariku diruangan kemarin, aku ada disana setiap hari sampai jam 12."


"Seorang pemilik dan pemimpin bebas menentukan jam kerjanya, yang penting semua sudah terkoordinasi dengan baik." jawab Kaysan.


"Ya sudah tunggu apa lagi. Sini Jani puk... puk."


*


Mentari pagi menampakkan dirinya dengan perlahan, membiaskan cahaya dan menebarkan kehangatan dari balik awan putih.


"Mas, yakin mau berenang sepagi ini?" tanyaku setelah menyiapkan baju Kaysan dan bathrobe di atas meja.


"Sudah lama aku tidak berenang, temani saja di pinggir kolam." Kaysan melepas bajunya, dan hanya menyisakan celana kolor bermotif batik. Setelah melakukan pemanasan dan merenggangkan otot-ototnya, Kaysan melompat ke dalam kolom renang. Kecipak air mengenai kakiku.


"Jangan lama-lama, nanti masuk angin."


"Kemarilah, jangan hanya duduk di bangku." cecar Kaysan yang semakin intens menyipratiku dengan air.


"Mas, nanti basah."


"Basah karena air, bukan karena aku." ocehnya lagi sebelum menyelam ke dalam air. Mau tak mau akhirnya aku duduk di pinggir kolam dan memasukan sebagai kakiku ke dalam air.

__ADS_1


Gelombang air dan bayangan Kaysan mulai mendekatiku, sebelum akhirnya tubuh Kaysan muncul ke permukaan air.


Gayanya selangit, apalagi air yang menetes dari ujung rambutnya membuat ku ingin mengucap syukur, karena telah mendapat suami yang begitu matang dan tampan.


"Tidak adil jika aku sendiri yang basah." Kaysan tersenyum jenaka, lalu tangannya memelukku dengan kepala yang ia usap-usapkan di bajuku.


"Geli mas... geli. Ha-ha-ha."


Aku menahan bahu Kaysan.


"Mas... geli tahu, sudah mas... sudah cukup." ucapku terbata-bata saat Kaysan justru semakin menggelitiki pinggang ku. "Mas kayak anak muda saja, banyak tingkah!" Kaysan tersenyum.


"Sebentar lagi aku ulangtahun, kamu mau kasih kado apa?" tanyanya masih setia berdiri di depanku.


"Ah! Mas semakin tua saja." ejekku sambil mencubit perutnya. "Sekalipun Jani memberi kado, itupun dari uang jajan yang mas Kaysan berikan."


"Yang penting kado, yang banyak, seumur-umur aku belum pernah di beri kado oleh seorang wanita." jelasnya lagi sambil mengalungkan tangannya di leherku.


"Dulu memang dengan Nurmala Sari tidak di beri kado?" tanyaku curiga, mana mungkin sepasang sahabat kecil itu tidak pernah bertukar kado.


"Maunya kamu dan jangan membahasnya."


"Kenapa?"


"Aku sudah melupakannya."


"Kalau Rinjani kalah, apa mas berniat menikahi Nurmala Sari dan menjadikannya Ratu?"


"Aku akan membawamu pergi ke Australia dan tinggal disana. Tak peduli jika Ayahanda menentangnya."


"Jangan bertengkar dengan Ayahanda. Jangan buat Rinjani semakin merasa bersalah karena pernikahan ini. Harusnya dulu Rinjani menolak untuk menikah dengan mas Kaysan kalau akhirnya akan seperti ini. Harusnya aku dulu memendamnya saja."


"Jadi sebenarnya kamu dulu juga mencintaiku, katakan jika sebelum kita mendalami karakter dulu kamu sudah ada rasa padaku. Kamu gengsi?" tanya Kaysan mengebu-gebu.


Ku tusuk-tusuk dada Kaysan, "Apa iya aku harus bilang, aku suka kamu pangeran, aku mau jadi istrimu, nikahi aku dan hamili aku." Aku berdecih.


Seketika Kaysan tersenyum lebar, "Ha-ha-ha. Aku semakin tidak ragu jika kamu memang akan berjuang keras untuk kita." Kaysan tersenyum lalu mengecup pipi ku berkali-kali, "Sudah mas sudah, nanti puasamu batal."


"Akan aku persembahkan selendang hijau untukmu, sebagai bentuk dukungan penjagaku untukmu."


"Selendang hijau?"


Satu persatu akan terkuak kebenarannya ya. stay with Kay & Jani and stay Healthy ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2