Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 58. [Side Story - Jambu air mawar ]


__ADS_3

Tekanan gula darahku sedang tidak stabil, tubuhku lebih cenderung terasa pening dan dingin. Siang hari ini hanya ada kesunyian di dalam kamar, hingga dencit pintu kamar terbuka. Menampakan Ibunda yang membawa setangkup sedap malam ditangannya.


"Bagaimana keadaanmu, Kay?"


Ibunda menaruh sedap malam itu pada vas kaca berisi air. Jari jemarinya menata kembali sedap malam dengan rapi.


"Apa menikah akan semenakutkan ini, Ibunda?"


"Ada apa denganmu, Kay? Wajahmu semrawut, matamu merah, apa kamu sakit?"


Aku tersenyum kecut, Ibunda duduk disampingku menepuk pahaku. Ku usap wajahku sambil menerawang ke udara.


"Tidurlah, malam nanti adalah malam panjang untukmu."


"Apa benar kata Rinjani, Ibunda. Jika tergesa-gesa akan merubah jalan ceritanya."


"Memang apa yang dikatakan Rinjani, Kay?"


Ibunda mengelus rambutku, saat aku menyandarkan kepalaku di paha Ibunda. Sentuhan lembut dari tangan keriput Ibunda akan tergantikan oleh tangan mungil yang akan menggenggam tanganku, mengikuti setiap langkahku.


"Tergesa-gesa memang tidak baik, anakku. Semua ada prosesnya. Perkenalan, jalan cerita, kamu sama Rinjani menyebutkan apa le, mendalami karakter?" [ tole : panggilan anak laki ; Jawa ]


"Iya Ibunda."


"Nah, ibarat kamu memanen pohon telo yang baru kamu tanam satu bulan. Apa yang kamu dapat le?"


"Akar, Ibunda."


"Lalu, jika kamu memanen ketela saat berumur 4 bulan apa yang kamu dapat le?"


"Singkong, Ibunda."


Ibunda tersenyum, "Enakan singkong rebus ya le, apa lagi mendung-mendung begini."


"Ibunda!" Aku kira Ibunda akan memberi sebuah solusi. Tapi yang ku dapat adalah keinginan Ibunda untuk memakan singkong rebus. Ibunda terkekeh, sambil mengelus kerutan didahiku, "Tegang amat, le. Jika diibaratkan, kamu dan Rinjani adalah singkong dan keju. Sebuah kombinasi sempurna antara sebuah kenikmatan lokal dan kenikmatan luar yang dijadikan menjadi satu. Tergesa-gesa dalam sebuah hubungan artinya kamu tidak bisa menikmati jalan cerita cintamu, apa yang kamu lakukan adalah sebuah tekanan ego dalam dirimu."


Aku menghela nafas berat, "Jadi Rinjani ingin menikmati masa-masa mendalami karakter lebih lama, Ibunda. Tapi bukankah witing tresna jalaran saka kulino, Ibunda. Aku ingin menikmati masa-masa mendalami karakter tanpa membuat kesalahan. Ibunda tahu, aku laki-laki dewasa."


Ibunda terkekeh, sambil menggeleng cepat, "Bilang saja, kamu sudah tidak sabar."

__ADS_1


Aku tersenyum sambil mengangguk, "Ibunda tidak tahu, jika berdekatan dengan Rinjani membuatku menahan semuanya. Menikahinya adalah pilihan yang tepat."


"Sabarlah, nanti malam Rinjani akan menjadi istrimu. Ingat pesan Ibunda, Kay. Bimbinglah Rinjani dengan ketulusan dan kesabaran. Hormati dia seperti kamu menghormati Ibunda."


Ibunda menepuk bahuku, "Kay, ingat. Rinjani masih kecil, ora waton!" Ibunda tersenyum jenaka.


*


Lepas bercengkrama dengan Ibunda, aku sudah bersiap untuk di rias lagi oleh sesepuh yang sudah menunggu di ruang tengah. Bau dupa semerbak wangi, taburan bunga melati putih berserakan diatas lantai. Keris pusaka yang hanya keluar disaat tertentu berada di genggaman sesepuh yang sedang merapal sebuah Do'a.


Aku duduk bersila didepannya, menunggu tangan keriput beliau merias wajahku. Tak banyak yang di poles di wajahku, hanya sedikit bedak, lebihnya hanyalah rapalkan Do'a yang tak berhenti dari mulutnya.


Satu persatu ikatan dan belitan jarik menghiasi tubuhku, rajutan bunga melati putih tergantung di keris yang beliau selipkan balik punggung ku. Satu lagi mahkota pangeran sebagai sentuhan terakhir sebelum aku benar-benar menjadi raja.


*


Di pendopo belakang tempat dimana akan terjadi ucapan sakral seumur hidup, sudah dihiasi dengan surai-surai sutra berwarna putih dan cahaya temaram lampu taman tak luput dari perhatianku.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Rinjani pasti sudah bersiap. Dia pasti sudah cantik dengan senyumnya yang manis dengan busana basahan yang aku pilih. Aku tergelitik, membayangkan saja sudah membuatku tersenyum senang.


"Kay, Kay, ada apa?" Ah! Ibunda, mengejutkan lamunanku. Membuyarkan imajinasiku.


"Hanya tidak sabar menunggu Rinjani, Ibunda."


Ibunda menaruh nampan berisi nasi putih dan air putih diatas meja, lalu duduk di dekatku.


"Dengarkan Ibunda anakku, setelah kamu mengucap ijab Kabul nanti. Rinjani akan sah menjadi bagian keluarga kita. Kelak, lebih banyak mengalir darah campuran dalam darah dagingmu dan Rinjani. Ibunda hanya bisa berdoa, semoga Leluhur merestui."


"Terimakasih, Ibunda."


"Kamu yakin akan menundanya? Menunda untuk tidak segera memberi Ibunda cucu?"


Kalut bersemayam di benakku, "Biarkan aku dan Rinjani saling belajar mengasihi, Ibunda. Biarkan Rinjani belajar menjadi bagian keluarga kita dulu, aku juga ingin Rinjani mengenyam pendidikan tinggi. Rinjani akan kuliah."


"Kenapa kamu terburu-buru anakku, nikmat pernikahanmu dan Rinjani."


"Ayahanda perlu bukti, Ibunda. Ayahanda meragukanku dan Rinjani. Dengan kuliah Rinjani akan memiliki lebih banyak wawasan. Ibunda tahu, keputusan yang aku lakukan adalah keputusan besar. Kay tidak bisa melihat Rinjani dipandang sebelah mata."


"Sabar ingaran mustikaning laku, anakku. Percayalah, tidak ada yang menganggap Rinjani sebelah mata. Jika ada orang yang menganggap Rinjani seperti itu, dia akan berhadapan dengan Ibunda."

__ADS_1


"Termasuk, Ayahanda? Ibunda, cukup Do'akan Kaysan dan Rinjani saja. Do'a ibu sudah lebih dari cukup untuk menenangkan Kaysan."


Ibunda mengangguk, "Sudah waktunya untuk buka puasa Kay, minumlah dulu."


Suara adzan magrib terdengar berkumandang, setengguk air putih membasahi tenggorokanku, lalu sekepal nasi putih perlahan mengisi lambungku. Tak ada cerutu yang mampu menenangkan pikiranku, hingga akhirnya hanya gemericik air mancur dan ikan-ikan koi yang mampu meredam rasa gelisahku.


*


Hujan baru saja mereda, menyisakan malam yang dingin, semakin dingin saat tiupan-tiupan angin menyerbu bahuku. Dari sudut ini ku lihat, iringi-iringan keluarga Rinjani mulai mendatangi halaman belakang rumah.


Terlihat gadis kecil yang menyita perhatianku, tak memakai alas kaki, tak memakai kaos hitam dan celana cargo, ia tampak lucu, dia pasti sebal karena baju itu. Ingin sekali aku mendekatinya, mengejeknya karena terlalu cantik malam ini.


Rinjani, lima menit lagi kamu menjadi bagian hidupku. Bagian dari impian-impianku.


*


Janji suci terucap, gadis kecil yang berdiri dengan mata berbinar-binar itu sah menjadi milikku. Jantungku memburu, langkah kakiku ingin segera berlari memeluknya. Mencoba merasakan, hmm... dia akan merasakan mangga manisku.


Tapi prosesi pernikahan ini tak sampai disini, masih ada tradisi yang harus aku lakukan dan selesaikan.


Langkah kakiku dengan pasti mendekatinya, dia tersenyum. Manis sekali, membuat jantung dan kewarasanku berdetak tak karuan. Tapi pias yang ku dapat, Rinjani benar-benar menjadi istriku. Aku tak mengira, dia sungguh berani menjadi bagian penting dari perjalanan hidupku.


*


Malam semakin malam, satu persatu keluarga Rinjani meninggalkan rumah. Ku lihat gadis kecil dan cantik di dekatku sudah tak bisa diam, dia mulai cerewet, berbisik, suaranya masuk ke dalam gendang telingaku, mengobrak-abrik isi jantungku.


Dia semakin tak bisa diam, aku tahu dia pasti sudah lelah. Bahkan semakin malam, udara dingin semakin meningkat. Membuatku ingin mendekapnya erat.


Kami berjalan menuju kamar, banyak yang ia tanyakan tentang adikku. Entah kenapa, membicarakan para adik membuatku kesal. Delapan dari sembilan adikku adalah laki-laki semua, tentunya bukan adik kandung. Adik dari para istri dan selir Ayahanda. Rumah utama ini adalah kamar untuk para adik-adikku jika ingin berkunjung ke rumah utama Ayahanda. Bisa dibayangkan berapa banyak kamar di rumah utama ini, hingga akhirnya aku menyuruh Rinjani agar tidak tersesat di rumah ini atau salah masuk kamar.


Tiba di depan pintu kamar, dia tampak ragu untuk melangkah menuju tempat istirahat. Dia membisu, terdiam seperti batu. Matanya seperti linglung, dia tampak ragu.


Tanpa aba-aba, aku menggendongnya. Bukan Rinjani jika tidak meronta, pukulan kecil dari kepalan tangannya membuatku malah semakin menjadi-jadi. Dia malah seperti sedang memijit punggungku, Ah! Ku lempar dia diatas ranjang. Astaga, aku lupa dengan pesan Ibunda untuk memperlakukan gadis kecil ini dengan lembut. Sampai dia harus berkata, 'Mas, sadar mas.'


Aku seperti sudah kesetanan, berdekatan dengan istriku. Membuat Ehm..., keperkasaanku sedang diuji.


Aku menghela nafas, melepas satu persatu printilan busana yang aku kenakan. Melihat Rinjani yang hanya menunduk membuatku gemas, aku menyadari jika hal ini terlalu tabu untuknya. Bukannya mereda, aku dibuat gila dengan pertanyaan polos Rinjani, 'Mandi sendiri-sendiri kan?'


Isi otakku mulai merajalela, hingga tercetus ide dari resep subur dr.bryan untuk mandi bersama.

__ADS_1


Imajinasiku melayang ke udara saat memandikan Rinjani. Dia terus menunduk dengan pipi yang merona tanpa berani melihatku. Di balik celana kolor yang aku pakai, keperkasaanku berdiri. Tubuh bagian atasnya bagikan jambu air mawar, berbentuk bulat kecil, berwarna kuning pucat, berkulit licin dan agak keras.


[Masih flashback ^_^, POV Kaysan]


__ADS_2