Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 126. [ Jajanan pasar ]


__ADS_3

Malam ini ku rebahkan diri diatas kasur, di sampingku masih ada lelaki yang setia menungguku, mesti di pangkuannya bukan ada aku, melainkan laptop yang sedaritadi ia pandang.


"Kemarin Nanang juga gitu waktu menungguku, kalian emang sama saja!" gerutuku yang dijawab sarkasme oleh Kaysan.


"Laptop adalah istri keduaku, yang slalu ku pegang dan bawa kemana saja. Tak pernah protes apalagi meminta uang jajan."


Mataku benar-benar terpincing, "Oh... masih membahas soal bunga-bunga yang aku kirim untuk Ayahanda?" Aku menutup paksa laptop Kaysan.


"Tatap mataku, dan jawab aku!" Kaysan menatap lekat mataku, "Seandainya aku tidak puasa bibirmu yang cerewet ini sudah aku telan!"


"Coba saja!" Aku memanyunkan bibirku.


"Bebek kesasar kedalam kamar!" cela Kaysan. Ia kembali membuka laptopnya.


"Beraninya sama anak bawang, coba saja kalau aku sudah sembuh nanti. Sudah habis bubur sum-sum mu!"


"Bubur sum-sum?" tanya Kaysan penasaran.


"Benih super yang gak sampai ke tempatnya." jelasku, "Sepertinya benihmu harus di kasih GPS biar sampai ke rahimku, Mas. Kalau kesasar lagi Rinjani harus merasakan ini lagi."


"Kecewa?"


"Tidak, takutnya nanti ada drama suami gadungan dan istri bohongan lagi. Rinjani hanya ingin Nanang melanjutkan perjalanan cintanya, begitu juga dengan hatimu, Mas. Cemas kan. Cemburu juga kan?" Kaysan mengangguk, tangannya kembali sibuk mengetik sesuatu di keyboard laptopnya.


"Tugas Rinjani sudah selesai mas?"


"Baru dikerjakan, kembalilah ke kampus kalau sudah sembuh."


"Rinjani mau kuliah online aja, Mas!"


"Apa ada masalah di kampus, atau dengan teman-teman mu?" tanya Kaysan menyelidik.


"Aku capek berbohong, tiap kali Anisa mau ke kost-kostan aku slalu bilang lagi part time kerja. Belum lagi kalau di kelas, Slamet slalu menggodaku." Aduku pada Kaysan, bukan apa-apa meskipun Slamet tidak terang-terangan menggodaku, tapi gelagatnya bisa terbaca olehku, "Slamet yang duduk di bangku belakangmu?"


Aku mengangguk, "Dia suka sekali mencolek pinggang ku." Bahuku mendadak terangkat membayangkan saat Slamet mencolek pinggangku dengan dalih meminjam catatan atau meminjam pulpen.

__ADS_1


"Besok akan aku urus Slamet, dan kamu tidak boleh kuliah online!"


"Kenapa?"


Kaysan menoleh dan menyeringai, "Tidak kuliah artinya tidak mendapatkan uang jajan. Karena dirumah semua sudah disiapkan." Tawanya memenuhi gendang telingaku, membuatku kesal.


*


Pagi menjelang diiringi kokok ayam kintan, sedangkan puas matahari malu-malu menyusup masuk ke dalam celah kamar. Ku endus aroma parfum yang menyeruak seisi ruangan, Kaysan sudah mandi dan menungguku terbangun.


"Selamat pagi istriku." Kaysan merapikan anak rambutku.


"Selamat pagi suamiku." Balasku dengan malu-malu, masih menyembunyikan sebagai wajahku dibalik selimut.


"Hari ini kamu dimandikan Mbok Darmi, setelah mandi aku tunggu di pendopo belakang."


"Maunya dimandiin mas Kaysan!"


"Jangan seperti itu, belum saatnya." Kaysan mengusap pipiku, "Nanti aku yang menyisir rambutmu dan memakaikan bedak. Hmm... mau pakai lipstik warna apa?" Kaysan sudah beranjak dari tempat duduk dan menuju meja rias. Ia membuka brankas make-up, berkali-kali dahinya mengernyit saat membaca satu persatu make-up yang berada di tangannya. Bahunya terangkat, satu brankas penuh ia bawa ke arahku.


"Harusnya aku yang bertanya, untuk apa mas membelinya sebanyak itu? Memang kita mau buka salon." Sejujurnya masih banyak pertanyaan yang ada dalam benakku, tentang makeup itu.


"Belinya dimana? Sama siapa?" tanyaku diselimuti rasa curiga.


Kaysan memutar matanya, "Di Mall. Waktu itu aku hanya meminta alat make-up lengkap yang cocok untuk gadis berusia 20 tahun." jelas Kaysan sambil tersenyum lebar.


"Waktu kita menginap di hotel kala itu." lanjutnya lagi sambil mengambil beberapa warna lipstik. Ia mengulurkan padaku, memintaku untuk memilih.


"Warna peach blossom."


Ketukan pintu kamar terdengar, "Itu pasti Mbok Darmi. Jangan beranjak sendiri!"


Kaysan menuju pintu kamar dan membukanya. Terlihat Mbok Darmi masuk sambil mengulum senyum, "Datan susah lamun kelangan." [ Jangan sedih ketika kehilangan sesuatu ]


Mbok Darmi duduk disampingku, "Sabar cah ayu. Semesta sedang bekerja dengan caranya, cara terbaik untukmu dan 'den bagus." Aku mengangguk.

__ADS_1


"Airnya sudah siap, Mbok." kata Kaysan.


*


Selesai di mandikan Mbok Darmi, kini giliran Kaysan yang menjadi makeup artist untukku. Di depan meja rias, Kaysan mengeringkan rambutku, menyisirnya, juga memakaikan aku lipstik dan bedak.


Sesuai permintaanku, Kaysan mengecup keningku sebagai sentuhan terakhir sebelum kami berdua ke pendopo belakang.


Satu hal yang paling membahagiakan adalah dikelilingi orang-orang yang menyayangiku, meskipun aku bukan terlahir dari keluarga Ningrat. Pun demikian aku merasa tidak enak hati, tatkala mendapati jamuan istimewa dari para abdi dalem yang bekerja dirumah ini.


Diatas rumput manila, beralas karpet merah, kami bersama-sama menikmati pagi dengan sentuhan hangat matahari yang menerpa tubuh kami. Jajanan pasar tak luput menjadi sajian sederhana yang membuat kami menembus batas kasta yang membumbung tinggi memisah antar Drajat. Seperti jajanan yang bernama klepon, jadah, apem dan lemper, mereka memiliki filosofi-filosofi sendiri yang melekat erat dengan masyarakat jawa. Apalagi apem, kue yang lahir sejak jaman Sunan Kalijaga sudah menjadi bagian penting dari prosesi Tingalan Dalem Jumenengan atau peringatan kenaikan takhta. Tak heran jika aku nanti akan mendapat ekstrakulikuler membuat kue apem.


"Sabar ya." Kaysan duduk disampingku, ia menjadi penonton saat beberapa abdi dalem asik melahap kue-kue yang tersaji. Aku mengelus bahu Kaysan. Melihat Kaysan yang puasa menjadikan aku tak berselera untuk menyantap sajian kue-kue itu, aku hanya terlena bersandar di lengan Kaysan.


"Kenapa diam saja, makanlah."


"Tangan Jani lemes, mas suapin ya." Aku menekuk tanganku yang tergantung lemas.


"Pintar sekali alasanmu, mau yang mana?" tanya Kaysan, ia menarik satu tampah yang masih utuh isinya.


"Mau semua, tapi porsinya sedikit saja." Kaysan menghela nafas, ia mengambil beberapa butir klepon, onde-onde, dan cenil, tak lupa lumpia goreng.


"Emm... enak." Gula merah muncrat di dalam mulutku saat aku menggigit klepon yang Kaysan suapkan. "Manis seperti kulitmu mas."


Kaysan kembali menyuapiku onde-onde, "Hmm... sekali gigitan tidak cukup mas, seperti kamu saat menggigitku." Aku berbisik di daun telinga Kaysan. Sedangkan para abdi dalem tersenyum malu-malu mendengar ocehan ku, seakan mereka segan untuk tertawa.


Kaysan kembali menyuapiku onde-onde, mataku berbinar-binar, seakan jengah aku goda, Kaysan menaruh piringnya di atas pahaku, "Makan sendiri!"


Aku merajuk, "Bukankah calon Raja harus tegar mengahadapi rayuan. Ayo suapi aku lagi mas." Rayuku lagi dengan mata yang mengedip-edip. Kaysan memutar bola matanya, ia kembali menyuapiku lumpia goreng dengan isian rebung bambu, "Apa bedanya rebung ini dengan mas Kaysan?"


Mata Kaysan mendelik, tidak mau menanggapi pertanyaan ku, "Ibarat sebuah bambu, rebung ini masih muda, masih lembut dan renyah di gigit, sedangkan mas Kaysan seperti bambu ORI yang kuat dan mampu bertahan lama diterpa hujan, badai, petir, matahari namun juga menjadi sarang Kuntilanak."


Tak kuasa menahan tawa, beberapa abdi dalem akhirnya undur diri dengan senyum yang nyaris menjadi tawa. "Lalu apalagi istilahnya dengan cenil ini?" Kaysan memasukan beberapa jumlah cenil ke mulutku hingga aku kesulitan mengunyahnya. Mataku melotot dengan karma instan yang aku rasakan. Aku tersedak-sedak hingga membuatku merasa hampir mati kehabisan oksigen.


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2