
Hal gila benar-benar terjadi di kamar mandi, Kaysan memandikanku seperti seorang bocah kemarin sore. Wajahku malu bukan main. Aku benar-benar telanjang bulat, sedangkan Kaysan masih memakai celana kolornya. Cahaya lilin aromaterapi membuat suasana dikamar ini begitu remang. Meski tak benar-benar terlihat polos, aku masih saja menyisakan malu yang luar biasa.
"Gak adil. Ayo mas juga aku mandikan." Godaku sambil menjentikkan jariku.
"Tidak." Kaysan tertawa pelan, "Angkat wajahmu, Rinjani. Biar ku lihat wajahmu yang bersemu merah."
"Sudah mas, sudah. Ayo kita selesaikan urusan mandi. Lalu istirahat." Aku menyaut handuk dan membelitnya ditubuhku.
"Mas kalau gak mau aku mandiin, ya sudah mandi sendiri." Aku melengos, ku buka pintu kamar mandi dan keluar dari bilik yang membuat badanku menegang tak karuan, bodohnya lagi aku slalu terbuai dengan kata-kata penuh makna yang keluar dari mulutnya.
Sesampainya di kamar utama, aku mencari tas ransel yang aku bawa tadi, pusing. Mondar-mandir tak ku temui dimana letak tas yang menyimpan baju-baju gantiku.
Kaysan dikamar mandi, sedang asik menyiram badannya di bawah guyuran shower. Kami bahkan melupakan mandi kembang tujuh rupa yang disiapkan Mbok Darmi. Bunga-bunga tadi akhirnya hanya terombang-ambing diatas air.
Bunyi pintu kamar mandi terbuka, aku melengos membuang muka. Tak berani menatap Kaysan dengan dada yang terbuka, dengan handuk kecil yang membelit pinggangnya.
"Kenapa belum pakai baju?" tanyanya sambil duduk disampingku. Aku membisu, sudah ku tebak jika ini adalah kerjaannya.
Menyembunyikan baju gantiku, supaya aku tidak pakai baju sepanjang malam.
Pintar sekali akal bulusnya, sudah curi start sebelum aku memasang kuda-kuda.
"Dimana Mbok Darmi menaruh baju-bajuku, mas?"
"Mas tidak tahu, Jani. Memang kamu taruh dimana tas ranselmu tadi?" ucapannya begitu meyakinkan.
Aku mendengus kesal, pintar sekali akal-akalan orang ini. "Sudah aku pinjam baju sama celana mas saja. Ini sudah jam setengah dua belas malam. Seharian hanya makan nasi dan air putih. Aku lemas, aku sudah tidak berdaya untuk berdebat denganmu mas." Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada.
"Jadi?" Tangannya mengelus bahuku.
"Jadi apa mas, jadi tidur?" Aku mengangguk menyetujui ideku sendiri.
Dia menggeleng.
"Lalu?" tanyaku.
Aroma lilin terapi menebarkan bau harum menenangkan. Masih sama-sama menggunakan handuk, Kaysan berjalan mendekati lemari bajunya.
"Pakailah." Ia taruh baju berukuran XL di pangkuanku, berwarna putih polos.
"Jadi baju-bajuku memang tidak ada disini?"
"Mbok Darmi pasti lupa. Sudah, bisa dicari besok pagi." Kaysan kembali berjalan menuju lemari pakaiannya.
Aku tercenung, ganti baju disini. Telanjang bulat lagi, Hiyaaa.... Aku menyaut kaos putih Kaysan dan berjalan cepat ke kamar mandi.
"Ganti saja disini!"
"Enggak."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Mas masih tanya kenapa? Dasar."
"Aku sudah lihat semua tadi dikamar mandi."
Astaga mulutnya benar-benar terlalu jujur.
"Mas, Jani lelah. Jani mau istirahat." Aku berkelit lalu masuk lagi ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, aku memakai baju yang ukurannya jelas kebesaran. Tidak memakai bra ataupun celana dalam. Aku benci keadaan ini, ini nampak senonoh seperti seorang penggoda.
Ku buka pintu kamar mandi sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Berjalan mengendap-endap menuju kamar utama.
Aku melihatnya dengan getir, ia matikan lampu utama. Kini hanya tersisa lilin yang berkobar pelan tertiup angin. Beruntung lampu utama tak menyoroti tubuhku yang liar.
Mataku mengedar, "Mas, mas dimana? Jangan main petak umpet di tengah malam mas. Mas!" panggilku sambil berkeliling, sepi. Kaysan hilang, atau jangan-jangan dia marah. Ah, sial!
Aku duduk disini, disisi ranjang sambil menarik selimut menutupi bagian bawah tubuhku.
Berpikir positif jika Kaysan mungkin keluar kamar untuk mengambil minuman atau untuk mencari udara segar.
Berkali-kali aku menguap, waktu menunjukkan pukul 00.15. Di jam ini aku senang itu artinya aku sudah bisa menjadi pemakan segalanya lagi.
Tapi apa yang bisa aku makan, dapurnya saja aku belum tahu. Apa lagi tempat tatakan gelasnya. Mungkin besok aku akan melakukan home tour. Aku ingat pesan Ayahanda tadi, aku harus menyiapkan diri. Siap gak siap aku harus siap bukan? Bahkan pertempuran belum dimulai.
Berkali-kali aku lihat pintu kamar tak kunjung terbuka. Kenapa perginya suamiku, apa iya dia tidak mau tidur denganku? Apa dia tahu aku belum siap melayaninya.
Lama menunggu akhirnya pintu itu terbuka lebar. Terlihat kaysan datang membawa senapan makanan dan minuman. Lalu ia tersenyum ke arahku, "Belum tidur?"
Ia menunjuk nampan dan menyuruhku untuk duduk di sofa.
"Mas punya celana kolor atau sarung gak?"
Kaysan tersenyum lebar sambil melihatku yang bersembunyi dibalik selimut.
"Sudahlah, Rinjani. Tidak perlu kamu sembunyikan itu dariku."
"Tapi kita mau makan mas, masak iya aku seperti ini. Nanti bukannya mas makan nasinya malah aku yang dimakan. Kata Bu Rosmini tadi gitu, malam ini aku mau dimakan sama kamu mas."
Kekehan Kaysan semakin mengencang. "Sebentar." Ia berjalan menuju lemari dan benar-benar mengambil sarung.
"Pakailah."
Aku ingin tertawa, "Aku seperti mau ronda malam pakai sarung seperti ini." Ku belitkan sarung dipingangku.
"Ayo lekas makan, aku sudah lapar, kamu juga butuh asupan energi untuk beraktivitas setelah ini."
"Beraktivitas?"
"Ya." Ku lihat dalam-dalam mata itu, mata yang begitu mendamba. Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
"Tapi mas janji dulu sama Rinjani."
__ADS_1
"Janji apa, Jani?"
"Don't leave me."
Ia tersenyum, "Makan dulu gadis kecilku."
Bugh. Ku kepalkan tangan dan meninju dada Kaysan yang bidang, "Janji dulu."
"Jika semesta mengijinkan, aku tidak akan meninggalkanmu, Rinjani. Bersamalah denganku sampai saatnya ajal memisahkan kita."
Kaysan mengecup keningku, membuatku tersipu.
*
Selesai midnight dinner. Aku sudah bergelung di bawah selimut. Sedangkan Kaysan keluar kamar untuk menyesap rokok, katanya kebiasaan setelah makan.
Tidur di tempat baru dan suasana baru membuatku gelisah, berkali-kali aku membolak-balik badan menyamankan posisi tidurku diatas ranjang. Badanku sepertinya kaget menerima kondisi baru ini.
"Huft..." Ku hela nafas panjang, lalu beranjak duduk.
"Kenapa belum tidur?" Kaysan masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
"Gak bisa tidur mas." kataku.
"Kemarilah." Kaysan mengajakku duduk diatas sofa.
"Mas saja yang kemari."
Bibirnya menyeringai, "Baik."
Dengan langkah pasti dia berjalan kearah ranjang dan ikut membenamkan kakinya dibalik selimut yang sama.
"Tidurlah kamu pasti lelah."
"Mas..."
"Iya, ada apa Rinjani?"
"Puk... Puk."
"Puk... Puk?"
Aku mengangguk, "Iya Puk... Puk disini." Ku tunjuk bahuku.
Entah karena bingung atau tidak paham tangan itu masih kaku di tempatnya. "Puk... Puk seperti ini." Aku menyampingkan tubuhku, menepuk-nepuk bahuku Kaysan dengan pelan dan pasti. Kaysan tersenyum seakan-akan menikmati sentuhan lembut dari tanganku yang mungil.
"Aku rindu ibu mas, dulu ibu sering menepuk-nepukku seperti ini."
"Besok kita ke makam ibu. Sekarang tidurlah."
"Tapi...
__ADS_1
Tapi like dulu 🤣