
Sinar matahari pagi menerpa wajahku. Hari ini aku kembali kuliah, setelah beberapa hari kemarin aku izin dengan alasan sakit---sakit hati.
Ada hal yang membuatku kesal. Gosip jika aku selingkuh dari Isabelle sudah merebak luas bagai gosip panas seorang primadona kampus yang mudah sekali tersebar sampai ke lubang tikus.
Aku merasakan hatiku kecut. Barangkali aku hanya butuh menghindar, atau berbincang-bincang santai dengan Isabelle. Dan, meminta maaf secara langsung dari hati ke hati. Tapi... Tapi Isabelle? Mustahil dia masih berprasangka baik padaku.
Perselingkuhan itu membuahkan hasil tatapan sinis dari orang-orang di kampus yang mengetahui hubunganku dengan Isabelle, karena mereka mengganggap aku dan Isabelle adalah pasangan terpopuler years of the years.
Oke... kali ini aku gak akan gegabah lagi. Mungkin benar yang di katakan Nakula, kalau aku harus mulai mengikuti jejaknya. Fokus skripsi, kerja, cari pacar lagi untuk dijadikan istri. Kataku dalam batin untuk menyemangati diri sendiri.
Sayangnya baru saja aku memasuki koridor kampus, Isabelle menunjukkan wajah yang berubah, seperti cuek tapi tetap mengamati langkahku baik-baik.
Lama-lama aku benar-benar mengikuti jejak Nakula. Memasukkan kedua tangan ke dalam kantong jaket, dan berlagak sok cool.
"Hei, dengar." katanya. Tepat saat aku berjalan di depannya.
"Ada apa, Belle?" tanyaku. Gugup.
Biasanya, dulu, saat aku baru memasuki koridor kampus, Isabelle akan menyambutku, dengan manja menggandeng tanganku.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Isabelle.
Aku nyengir terus seperti orang sinting. Masih belum bisa menjawab apa yang aku rasakan, saat ini, setelah sekian lama bersama. Aku rasa hal yang menjadi kebiasaan selama bertahun-tahun, seperti menguap begitu saja.
"Aku baik-baik saja." jawabku.
Isabelle tertawa masam. Alih-alih melontarkan isi kepalanya, Isabelle menarik tanganku. Menuju entah.
__ADS_1
And...here I am. Standing in front of Isabelle's house.
"Kamu gila, Belle. Aku ada jam kuliah!" sergahku setelah Isabelle melepas penutup kepala. Ku tarik nafas dalam-dalam, lalu berusaha kembali menetralkan perasaan. Panik jelas iya, untuk apa Isabelle mengajakku ke rumahnya. Dan, aku tahu. Jam segini, orangtuanya sudah sibuk kerja.
"Kejutan..." ujarnya tanpa beban. Isabelle membuka pintu rumahnya. Rumah yang sering aku kunjungi, berkali-kali tanpa pernah aku hitung sudah berapa kali aku makan di rumah ini.
"Apa yang kamu rencanakan?" tanyaku. Masih enggan untuk masuk ke dalam rumahnya. Meskipun di dalam rumah masih ada pembantu, tapi gelagat Isabelle memang sudah tidak beras.
"Sadewa..." suara Isabelle berubah menjadi serak.
"Jagalah sampai kamu menemukan calon yang pantas untuk menjadi suamimu." ujarku. Aku tahu maksud Isabelle. Sesuatu yang tidak berani aku singkap lebih jauh.
Isabelle merengut, ia menarik tanganku dan membuatku berada di pelukannya.
"Wa..." rengeknya.
Isabelle memelukku erat sekali. Seolah dia tidak mau aku jauh darinya.
"Semakin lama aku memikirkanmu, semakin susah bagiku untuk jauh darimu, Wa."
"Isabelle!!!" suaraku naik setengah oktaf, bahkan selama berpacaran dengan Isabelle baru kali ini aku meneriaki namanya, "Belle, lebih baik kita kembali ke kampus. Aku masih ada kelas!" imbuhku lagi.
Isabelle terdiam dari rengekannya sebelum akhirnya kepalanya menggeleng, "Aku mau bersamamu, aku belum terbiasa sendiri." ujarnya.
Aku dan Isabelle sama-sama bertransformasi dari remaja belasan tahun menjadi laki-laki dan perempuan dewasa. Bukan hal yang mudah bagi kami melewati masa-masa labil yang mudah merubah mood dalam berpacaran.
Aku dan Isabelle sama-sama belajar, bagaimana cinta sanggup memporak-porandakan hati, merubah hal yang seharusnya biasa saja menjadi luar biasa. Lambat-laun, aku sadar. Semua karena cinta kami berdua.
__ADS_1
Isabelle adalah cinta pertamaku, setelah awalnya aku dan Nakula pernah bertengkar karena merebutkan satu wanita. Kami memutuskan untuk tidak memilikinya...
Saat itu Nakula lalu bertemu dengan Narnia, sedangkan aku asyik dengan dunia remaja hingga memasuki masa kuliah, Isabelle menarik perhatianku karena logat bicaranya.
Dengan kelakar ku, aku mendekatinya. Lambat-laun, kami mulai terbiasa. Dan aku terang-terangan menyatakan bahwa ada perasaan lain selain hanya teman tapi mesra. Isabelle menerimaku, dan saat itulah semua terjadi hingga semua sirna karena kesalahanku.
Isabelle menemaniku dari jauh sebelum Irene hadir di hidupku. Aku pun juga merasakan pahit, saat Isabelle begitu terpuruk setelah putus dariku.
"Kita ke kampus, oke. Besok Minggu ikutlah denganku ke panti." kataku berusaha mencari celah kecil untuk melihat apakah Isabelle masih enggan untuk membaur dengan anak-anak yatim piatu. Aku memang menyukai kegiatan sosial, entah itu ke panti asuhan, menjadi volunteer di lokasi bencana, atau kegiatan-kegiatan lainnya yang membantu banyak orang. Bunda slalu mengingatkanku untuk menjadi manusia yang berguna untuk sesama.
Dalam benakku, aku memang menginginkan seorang pendamping yang bersedia ikut denganku, berpetualang mencari hal-hal baru. Tapi Isabelle... sedari kecil ia memang diajari disiplin, tapi tidak untuk jiwa sosialnya. Isabelle mempunyai kelas yang berbeda.
Isabelle mengangguk sambil tersenyum kecil. Raut wajahnya tidak lagi berseri.
"Kalau jodoh, kita akan kembali lagi, tapi jika tidak. Ada seseorang yang lebih baik untukmu, percayalah."
Isabelle menoleh ke arahku, menatapku cukup lama dengan ekspresi sedih, membuat hatiku miris.
"Maaf." kataku sembari mengambil alih kunci mobilnya.
"Sadewa... ada kalanya manusia bisa memperbaiki kesalahannya. Dan, aku yakin kamu mau melakukan itu."
Otakku mendadak runyam, aku sudah memutuskan keduanya, tapi keduanya masih saja berharap. Andai aku bukan pangeran, pasti merekapun tidak ada yang merebutkan playboy sepertiku.
"Kita lihat nanti."
Happy reading ππ
__ADS_1