Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 129. [ Ubo rampe ]


__ADS_3

Pagi ini Kaysan mengantarku sampai di gerbang belakang rumah yang akan aku tempati selama seminggu disini. Didalam mobil, ia terus memberiku kata-kata penyemangat, berkali-kali kecupan juga mendarat di seluruh wajahku, hingga bedak yang aku kenakan luntur karena bibirnya yang rindu.


Bangunan lawas dengan arsitektur Belanda ini tampak menyeramkan bagiku. Pasalnya, belum apa-apa sudah terlihat ubo rampe yang diletakkan di depan kamarku. Aku masih ragu untuk membukanya, hingga seorang abdi dalem menyapaku.


"Silahkan masuk, Gusti Raden Ayu." Abdi dalem itu membuka pintu yang berderit. Aku menatap sekilas lalu mengangguk. Bangunan ini, astaga. Aku ingin pulang saja.


Menyadari raut wajahku yang ragu, abdi dalem itu tersenyum. "Tidak ada yang perlu ditakutkan."


Aku terhenyak, "Dirumah ada Mbok Darmi, kalau disini siapa nama simbok?" [ Simbok biasanya digunakan untuk panggilan ibu generasi tua ]


"Mbok Ningsih."


Aku mengangguk dan tersenyum simpul, "Terimakasih Mbok Ningsih dan salam kenal."


"Sudah ada pakaian yang disiapkan. Gantilah, setelah ini simbok akan mengajakmu berkeliling." Aku sadar sedaritadi tas minggatku masih aku sampirkan di bahu kiriku. Aku tersenyum kecut, ketakutanku membuatku sedikit linglung.


Baju khusus yang aku kenakan adalah kain jarik yang harus aku gunakan dengan mode kemben. Sedangkan rambutku harus disanggul polos, tentunya aku tidak bisa sendiri, aku di bantu Mbok Ningsih.


Mbok Ningsih tersenyum. "Cantik sekali, pantas saja pangeran jatuh hati." Wajahku tersipu, "Mbok Ningsih sudah tahu, kehadiranmu di sini tak lebih dari ujian yang harus kamu jalani. Memang ada kalanya manusia harus melakukan pembuktian. Supaya, orang bisa menilai, mergo wong urip iku wangsinawang."


Aku mengangguk, selain hanya bisa pasrah, aku hanya bisa menurut. "Lepas asal kakimu, ayo kita jalan-jalan. Banyak hal menarik disini." Mbok Ningsih tersenyum.


Apa yang aku pelajari dirumah benar-benar aku terapkan disini. Dari mulai berjalan dengan anggun, senyum yang merekah, tunduk dengan yang lebih tua, hingga untuk bernafaspun aku atur sedemikian rupa. Meskipun di dalam dadaku bergemuruh layaknya perut gunung yang siap meledak.


Setiap langkah kakiku bisa jadi sedang di nilai secara diam-diam. Banyak mata yang mengawasimu sekarang. Namun, ada saja keadaan yang membuatku tak bergeming, dari mulai anak kecil yang merengek, seorang lansia yang kesulitan berjalan, hingga seorang turis asing yang membutuhkan translator bahasa.


Berbekal maps dan pengetahuan yang aku dapat di kampus dan Kaysan, aku mulai memandu turis asing itu untuk berkeliling di sekitar Keraton.


"No, sir. It's free." Aku mengantupkan tanganku saat segerombolan turis asing yang berasal dari Eropa ini ingin memberiku tips perjalanan yang menurut mereka menyenangkan. Padahal terkadang aku tergagap-gagap menjelaskan benda-benda yang terpajang dan ruang-ruang penting di Keraton ini.


"You're still young, but why you want to be a courtiers?" [ Kamu masih muda, tapi kenapa kamu mau menjadi abdi dalem?"]


Tanpa sadar aku mengangkat bahu.


"It's just challenge. Before I can get a position, I have to dedicate myself to this palace." [ Ini hanya tantangan. Sebelum aku mendapat posisi ku, aku harus mendedikasikan diri untuk keraton ini ]

__ADS_1


"How old are you?"


"Turn 21 years old, march."


"Amazing, in the palace need more courtiers like you. Beautiful dan smart."


Aku tertawa kecil, batinku siapa yang mau. Gadis-gadis seusiaku masih asik mengarungi hati demi hati para lelaki.


Jalan-jalan diakhiri dengan swafoto bersama. Mereka tetap bersikukuh memberiku tips dengan alih-alih untuk membeli minuman. Aku menyelipkannya dua lembar uang euro di sela-sela jarik di depan payudaraku.


Dibawah pohon mangga tua, aku kembali menemui Mbok Ningsih dan berkumpul dengan abdi dalem Estri lainnya. Namun, pikiranku melayang entah kemana. Hingga rombongan Ayahanda datang dari sisi selatan. Beberapa abdi dalem bergegas mendekati Ayahanda setelah mendapat titah dari para Patih untuk berkumpul. Mataku mengedar, itu artinya termasuk aku?


Kami melakukan laku dhodhok, karena belum terbiasa aku hampir terjengkang, hingga abdi dalem di belakang ku harus menyangga punggungku. "Ati-ati lan waspodo."


Kami serempak mengatupkan tangan di depan wajah, setelahnya kami mendengar titah. Kami diminta untuk menyiapkan semuanya, karena esok hari akan diadakan jamuan istimewa untuk tamu agung.


Sebelum Ayahanda pamit undur diri, Ayahanda menyuruhku untuk mendekat. "Sendiko dhawuh, Ay... Sendiko dhawuh Gusti." Aku menunduk, lupa jika aku sedang bersandiwara.


Semua mata tertuju padaku, aku sejujurnya malu, apa lagi menggunakan baju terbuka seperti ini.


Ayahanda tersenyum, "Anak ini adalah mahasiswa pilihan, tentunya jika sudah di pilih pasti mumpuni."


Aku mengangguk, "Rinjani siap, Gusti."


Selepas kepergian Ayahanda. Aku dibawa Mbok Ningsih menuju tempat dimana kami harus menyiapkan semuanya.


Ini sudah siang dan belum terlihat adanya jadwal makan siang, sedangkan aku lapar. Belum perintah Ayahanda untuk menjadikan aku penari pembuka semakin membuat asam lambungku meningkat. Aku mual, tubuhku mengeluarkan keringat dingin.


Ya Tuhan, kadang batinku ingin menyerah, jiwaku sudah lelah, tapi langkah kakiku sudah sejauh ini. Terseok-seok, tertatih, tersandung, terjungkal, tertendang, rasanya sudah biasa. Sudah berkali-kali bercinta, sudah hafal ritme ranjang Kaysan, sudah hafal semua tai lalat di tubuhnya. Apalagi ukuran ****** ********. Akankah cinta ini seperti buah durian. Tajam diluar manis di dalam. Hubungan ini tak ubahnya seperti menyatukan potongan kain menggunakan jarum. Butuh sesuatu yang tajam untuk membentuk pola indah dan seragam.


"Ehm... Pikiran jangan kosong." Senyum senja itu semakin menunjukkan urat-urat prihatin.


"Eh... iya Mbok. Jani lapar, kata mas Kaysan tidak boleh telat makan." Aku mengadu layaknya cucu kepada nenek.


"Sebentar lagi. Kita selesaikan dulu tugasnya." Mau tidak mau, berbagai jenis buah-buahan, bunga-bungaan, sajian sedap lainnya harus segera ditempatkan di wadah-wadahnya. Harusnya aku tidak mengeluh, toh dulu sewaktu belum mengenal Kaysan aku sudah sering menikmati nasi garam dan puasa dadakan karena tidak punya uang.

__ADS_1


Matahari semakin condong ke arah barat, beberapa nampan ubo rempe untuk sesembahan dan hantaran Do'a sudah diletakan di pendopo agung. Tak lupa taburan bunga melati sudah disebar diantara ubo rempe, begitu juga asap kemenyan yang menyala.


Mbok Ningsih merapal Do'a sebagai bentuk sembah bekti, sedangkan aku hanya mengamininya. Sudah umumnya, ubo rempe di letakkan di tempat sakral atau wingit. Sebagai wujud saling menghormati, mengasihi, dan menghargai antarmakhluk hidup.


*


Kali ini ketakutanku terbesarku bukanlah kegagalan, melainkan tidur di tempat asing sendirian. Tanpa gadget, tanpa seorang pelindung, tanpa kasih sayang, hanya pada pelita kecil ini aku menggantung harapan. Berharap jangan mati di tengah malam. Aku tidak takut gagal, tapi aku masih takut dengan hal-hal yang berbau mistis. Termasuk kamar mandi yang gemercik airnya tak bisa diam.


Sehabis shalat subuh, aku sudah berkemas diri. Tidur disini seperti melakukan adventure di tengah hutan. Desir angin yang berhembus kencang, suara jangkrik yang bersautan, hingga suara kuda! Hatiku merinding disko.


Jikalau aku bisa memilih, aku akan meralat kata-kataku dan membatalkan sayembara. Jika akhirnya selama tujuh hari tujuh malam aku melakukan uji nyali.


*


Langkah kakiku menuju dapur umum, dapur dimana para abdi dalem Estri memasak sajian yang kami racik kemarin siang. Aku si anak bawang hanya bisa menurut dengan sesepuh lainnya. Entah membantu atau justru merusak sajian, yang penting tanganku ubet.


Mataku hanya bisa merekam, sedangkan tanganku hanya bisa mencontoh.


*


Lepas dari dapur umum, aku di giring menuju ruang make up, tempat dimana aku harus bersiap untuk menari.


Selesai di make up, aku harap-harap cemas. Sekecil kesalahan akan membuat nilaiku berkurang. "Jangan sepaneng." Mbok Ningsih mengulurkan teh hangat. Aku menggapainya. Sedikit tenang saat teh hangat ini meluncur ke tenggorokanku.


"Tamunya datang jam berapa, Mbok?"


"Sebentar lagi."


Aku tersenyum kecut, dan harap-harap cemas.


*


Ubo rampe adalah hidangan makanan yang termasuk dalam kategori sesaji yang berupa buah-buahan, jajanan pasar, nasi tumpeng, dll. Termasuk bunga setaman, kemenyan dan rokok. Tak melulu soal kejawen, ubo rampe bertujuan sebagai media hantaran do'a untuk menghargai antar makhluk ciptaan-Nya, alam dan Tuhan.


Happy reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2