Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 127. [ Tidak ada judul ]


__ADS_3

Tepat hari ini adalah jadwal kontrol yang akan aku lakukan. Tapi, belum juga keluar dari kamar, Kaysan sudah mewanti-wanti agar tidak terlalu berdekatan dengan Nanang. Tidak boleh bergandengan tangan atau bertatap-tatapan.


"Namanya suami-istrikan harus mesra, Mas. Kalau enggak mesra dikira lagi marahan." cela ku yang disergah bantahan oleh Kaysan. "Itu jahat!"


Aku memegang dadaku dan mulutku melongo, "Jahat darimana, Mas. Jahat itu kalau aku dan Nanang berduaan dikamar sambil buka-bukaan dan gitu-gituan."


"RINJANI!!!"


"Ampun, Gusti. Hamba telah lancang." Aku mengatupkan kedua tanganku saat Kaysan menarik telingaku dan memelintirnya.


"Ampun... ampun... Rinjani tidak akan berkata seperti itu lagi." Kaysan menghela nafas, ia melepas telingaku.


"Ini sudah termasuk dalam kdrt mas, nanti dirumah sakit akan Rinjani visum."


"Ucapanmu juga termasuk dalam kdrt kategori kekerasan verbal yang melukai perasaan ku." Kaysan menusuk-nusuk dadanya, "Sakit hatiku, Dik."


"Aku sembuhkan pakai peluk sini, atau aku beri sentuhan lembut." Aku sudah meraba-raba dada Kaysan, tangannya mencekal pergelangan tanganku.


"Penggoda!"


"Aku mau kamu jadi rexona, Mas. Setia setiap saat." Ku endus ketiaknya saat menyembunyikan wajahku di dadanya,


"Setelah kontrol, pulanglah ke rumah. Jangan kelayapan atau jajan di pinggir jalan. Otakmu semakin tidak karuan karena kebanyakan micin." Kaysan mengelus rambutku, "Satu lagi, satu Minggu lagi sayembara dimulai. Pastikan kamu benar-benar mengatakan apa yang kamu rasakan pada dokter Vanya."


Puas Kaysan memberi titah kepalaku menengadah, "Vitamin terbaik untuk aku adalah kasih sayangmu, kesetiaanmu dan uangmu, mas." Aku nyengir.


"Rinjani jujur, Rinjani tidak munafik." Aku menatap matanya, matanya begitu menghanyutkan. Begitu aku ingin menyelaminya, ia terpejam.


"Seandainya aku tak punya uang, apa kamu masih bisa bertahan denganku?" Ia bertanya setelah selesai memakai dasi dan jas kerja.


"Asal tetap bersamamu aku mau, uang bisa dicari, tapi nyaman itu lebih berarti."


Kaysan tersenyum simpul, "Baiklah, ayo kita keluar. Nanang sudah siap menjadi suami palsumu."


*


Diruangan dokter Vanya, aku dan Nanang mendengarkan hasil kontrol pemeriksaan. Semua sudah stabil, hanya saja aku tidak boleh mengangkat beban berat. Beberapa vitamin sudah dokter resepkan, tinggal menebus obat di apotek rumah sakit. Kami beranjak berdiri dan mengucap terimakasih.


Setelahnya kami berjalan menuju bagian farmasi rumah sakit. Kami berdua layaknya pasangan muda yang sedang marahan, aku dan Nanang menjaga jarak. Ia tak acuh terhadapku, tak seperti kemarin.


"Apa mas Kaysan memarahimu?" tanyaku, takutnya diam-diam Kaysan membombardir Nanang dengan berbagai hal yang menyudutkan dirinya. Nanang berhenti, ia menoleh, ia terdiam sejenak.

__ADS_1


"Aku hanya bilang mencium tanganmu saat tidur." Aku menutup mulutku, ternganga tanpa bisa mengeluarkan suara.


"Kamu bersungguh-sungguh melakukan itu semua?" Nanang mengangguk, "Hanya sekali, karena pikiranku sudah di transfer energi negatif dari hantu yang menunggu ruanganmu." jelas Nanang yang tidak masuk akal.


Ku pukul bahunya, "Ada baiknya kamu memang pacaran sama Siska, agar energi negatif mu tersalurkan padanya!"


Aku meluapkan kekesalanku pada lantai, pikiranku sedikit terhenyak saat tahu Nanang diam-diam mencium tanganku.


"Kamu pulang saja duluan, aku akan memakai taksi online!"


"Jangan marah..." Nanang mencoba menegosiasi keadaan saat ia melihat wajahku yang masam, "Maaf-maaf. Aku salah."


*


Kopi di cangkir Nanang hanya menyisakan ampasnya. Sedangkan kopiku masih setia memenuhi cangkir dengan latte art bergambar hati yang terombang-ambing di pahitnya kopi dan manisnya susu.


"Aku akan mempercepat kepindahan ku ke Jerman." ucapnya yang membuatku mendongkak sesaat.


"Secepat ini, Kenapa?"


Nanang menatapku sendu, "Maafkan aku, andaikata ini menjadi pilihan terbaik, aku akan memilih jalan yang jauh, jauh dari keberadaanmu."


"Mas Kaysan sudah cukup untukmu, sedangkan aku harus melanjutkan hidupku."


"Nang, sebentar lagi aku mau sayembara. Aku butuh dukunganmu, kalaupun aku yang gagal, aku yang akan pergi, bukan kamu." Namun, Nanang tak lagi mendebat omonganku, ia hanya mengangguk.


"Mas Kaysan tadi berpesan agar tidak mengizinkanmu untuk jajan sembarangan. Makanlah yang sehat-sehat." Nanang menarik pesanan ku, semangkok onion ring dengan saus tomat.


"Aku lapar!"


"Aku pesankan salad buah."


Nanang beranjak menuju meja kasir.


Di kafe yang banyak di hadiri muda-mudi ini, mataku tertuju pada satu meja yang sedari tadi mencuri perhatianku. Punggung itu, seperti punggung Kaysan.


Langkah kakiku mengendap-endap mendekatinya. Jika orang itu benar mas Kaysan, tamatlah riwayatnya. Terciduk makan siang dengan seorang wanita!


"Kalian?" Dahiku mengerenyit saat mendapati Kaysan duduk dengan Mbah Atmoe.


Di kafe kekinian ini, bukankah keberadaan mereka sangat menyita perhatian. Memakai blangkon dan baju Surjan, ditambah Mbah Atmoe tidak menggunakan alas kaki.

__ADS_1


"Sebentar lagi ulang tahun cucunya Mbah Atmoe, rencananya di kafe ini akan di rayakan sweet seventeen ulangtahunnya."


Mataku terpincing, "Cucunya Mbah Atmoe yang aku beri oleh-oleh waktu itu?"


Mbah Atmoe menggeleng, "Bukan. Cucu yang lain."Aku mengangguk, masih menaruh curiga kepada Kaysan.


"Maaf mas, Jani tidak izin kalau mampir dulu ke kafe. Sebentar lagi Jani pulang."


Aku membungkuk, "Ada baiknya mas jangan sering-sering main ke kafe, karena disini mas Kaysan sangat menyita perhatian." Aku berangsur mundur setelah mencium punggung tangan Mbah Atmoe.


"Titip suamiku, Mbah." ucapku lirih yang diangguki Mbah Atmoe.


Kembali ke meja pesanan ku dan Nanang, ia sudah menyantap salad buah yang ia pesan untukku. Aku tak memperdulikan itu. Keberadaan Kaysan di tempat yang sama denganku, itu pasti ada kaitannya dengan laki-laki dihadapanku. Seperti seorang penguntit, Kaysan slalu ingin tahu dimana keberadaan ku.


"Mau pulang bareng siapa?"


"Sepertinya mas Kaysan masih sibuk."


Aku mengambil tas selempang ku. Lalu menyampirkannya di bahuku.


"Mau pulang sekarang?" tanya Nanang, bertepatan dengan salad buah yang sudah habis dari mangkoknya.


"Iya, aku mau istirahat."


"He-he-he... Maaf. Sebagai adik yang mendapat mandat, aku harus berkata jujur." jelasnya. Nanang berdiri, ia menggantungkan tas ranselnya di salah satu bahunya.


Kami berdua keluar dari kafe. Dari balik kaca jendela yang tembus dari area parkiran ia mengulum senyum. Aku meninggalkan Kaysan yang melambaikan tangannya dari kejauhan.


Aku yakin ada hal lain selain rencana ulang tahun cucunya Mbah Atmoe.


Bukankah aneh tiba-tiba Kaysan membawa Mbah Atmoe ke kota, sedangkan yang aku tahu Mbah Atmoe adalah juru kunci pemakaman Mirisewu. Keberadaannya sangat di butuhkan, jikalau ada seseorang yang membutuhkan bantuan untuk merapal Do'a.


"Nang, mas Kaysan punya asisten enggak sih? Kenapa jam kerjanya tidak tentu? Bukannya kalau rektor ada jam kerjanya?"


Nanang tersenyum lebar, "Menjadi rektor adalah kedoknya untuk mengawasimu. Mas Kaysan akan keluar dari kampus saat kamu sudah dijamin aman, tidak macam-macam dan otakmu sudah pintar."


Semakin banyak penjelasan tentang Kaysan, semakin aku tak ingin melepaskannya. Dekapan ini akan semakin erat untuknya.


*


Terimakasih atas dukungan dan cinta kasihnya πŸ’žπŸ’š

__ADS_1


__ADS_2