
Indy membawa satu baskom perak berisi air hangat dan handuk kecil. Tak lupa minyak kayu putih yang ia selipkan di kantong celananya.
"Bersihkan dulu badan Rinjani, lalu baru dikasih minyak kayu putih." Tidak ada salahnya anak ini ada disini, jika tidak aku akan dirundung kepanikan sendiri.
"Baik. Terimakasih Ndy."
"Tapi! Jika tiba-tiba badan Rinjani demam, harus segera dibawa ke rumah sakit."
"Kenapa, Ndy? Apa separah itu?" Kepanikan mulai melandaku lagi, aku sudah berdiri dengan harap-harap cemas melihat Rinjani.
Mata Indy membulat, "Bagaimana tidak demam. Ada benda asing yang mendadak masuk ke tubuhnya lalu bertingkah semaunya."
"Ndy, bawa Rinjani ke rumah sakit. Mas, gak tega melihatnya."
Indy menaikan kedua tangannya, "Lalu mas akan bilang, jika Rinjani pingsan karena malam pertama. Lalu mas juga akan membuka sendiri rahasia yang mas tutupi." Indy menggeleng lalu pergi meninggalkan kamar, kepalanya sedikit melongok ke dalam. "Bersihkan hati-hati!" Lalu, pintu kamar tertutup dengan rapat.
Aku membuka selimut yang menutupi tubuh Rinjani. Memeras handuk dengan air hangat, dan mulai membersihkan wajah Rinjani. Desah lembut nafas gadis yang sudah hilang selaput daranya, begitu sendu mendayu-dayu. Matanya terlihat bengkak, sebengkak rasa bersalahku. Bibirnya terlihat merah merekah karena terlalu sering ia gigit karena menahan sakit.
"Maaf, Rinjani." Ku elus pipi ranumnya, sembari menyelipkan anak rambutnya, "Kamu cantik, tak terganti."
Dengan perlahan, handuk yang aku pegang mulai membersihkan tubuh Rinjani. Tak ada nafsu, hanya ada rasa sesal dan kasian dengan tubuh kecil yang tadi mendekapku erat-erat.
"Maafkan aku, Rinjani." Mataku merah, saat menyadari bekas keperkasaanku yang tertinggal di selaput dara Rinjani. Begitu sulit aku ungkapkan dengan kata-kata, aku seperti bajingan tengik yang memaksa seorang gadis menyerahkan harga dirinya.
Aku merutuki kesalahanku. Ku usap bekas darah yang mulai mengering dengan hati-hati.
Malam semakin larut, menyisakan udara dingin yang menyentuh kulit tubuhnya yang terbuka. Selesai membersihkan semua tubuh Rinjani, aku mengusap minyak kayu putih di perut dan di punggung Rinjani. Memijit kakinya berulang kali agar rasa sakit dan nyeri ditubuhnya berkurang.
Tak jua terbuka mata nafas itu terdengar halus. Aku menghela nafas, sambil menerka-nerka apakah Rinjani pingsan lalu tertidur pulas.
Ku sentuh dahinya, tidak ada suhu tubuh yang meningkat, detak jantungnya juga terdengar stabil. Aku sedikit bisa tersenyum, ku peluk erat tubuhnya sambil terus menatap wajahnya yang membuatku merasa nyaman, membuat rasa bersalahku sedikit bisa aku tepikan.
Rinjani, sudah ku tandai tubuhmu dengan jiwaku. Rinjani, tak akan ku lepas meski harus jiwaku sebagai ganti atas dirimu di sisiku.
*
__ADS_1
Pagi menjelang, riuh suara burung berterbangan seakan membuatku tersadar sisa semalam. Tubuhku rasanya retak, tulang-tulangku rasanya menjadi kaku. Ku tatap nyalang Rinjani yang masih memejamkan matanya, Astaga! Dia tak kunjung bangun. Ku usap hidungnya dengan minyak kayu putih. Kembali memeriksa suhu tubuhnya, masih terlihat stabil.
Aku biarkan Rinjani menikmati tidur panjangnya.
*
Selepas mandi 'besar', aku memilih keluar kamar mencari Indy.
Terlihat adikku sibuk di dapur, karena yang ia pelajari dari Ibunda dan ibunya. Seorang istri harus pandai dalam merawat suami termasuk dalam kategori memasak.
"Mau kopi mas?"
Aku mengangguk sambil membuka laptop di pangkuanku. Memeriksa laporan penting dan berkas-berkas online yang masuk melalui email.
Dahiku mengerenyit saat tahu jika banyak pesan yang masuk ke nomer Rinjani. Tepatnya pesan masuk dari mantan kekasihnya, Nanang. Aku hanya diam, jika itu masih termasuk kategori menanyakan kabar. Rinjani tidak tahu, jika apa yang aku bayar untuk Jasmine Adriana sudah sepaket dengan penyadapan nomer HP sekaligus mata-mata untuk menjaganya.
"Bagaimana, Rinjani? Masih belum sadar mas?" Indy menaruh kopi hitam diatas meja. Semerbak harumnya sudah mengajakku untuk kembali bekerja.
Aku mengangkat bahu, "Biarkan dia istirahat, Ndy. Paling tidak mas bisa mencicil pekerjaan yang tertunda."
"Mas heran, dia seperti orang tidur, Ndy. Nafasnya teratur, kakinya berkali-kali malah menendang mas sambil mengigau tidak jelas."
Seketika seisi ruangan penuh dengan gelak tawa Indy yang terbahak-bahak, "Jadi dia tidur sampai saat ini. Astaga! Untung tidak kita bawa ke rumah sakit mas, bisa jadi kita yang kena malu karena ulahnya. Mas juga, kalian bisa saling melengkapi. Baguslah."
"Ndy, pulanglah. Mas butuh kamu dirumah."
"Aku pikirkan tentang tawaran mas, tapi tidak gratis."
"Katakan?"
"Selendang hijau."
"Tidak!"
"Mas harus memilih."
__ADS_1
"Tidak jika selendang hijau, Ndy. Tidak akan!"
"Baik jika mas tidak mau, jangan paksa Indy untuk pulang ke rumah."
"Selain selendang hijau, mas akan turuti."
Indy tidak menjawab, aku sudah dibuat tak berselera dengan membahas 'selendang hijau'. Akhirnya aku memilih untuk kembali ke dalam kamar.
Berlama-lama melihat Rinjani yang masih memejamkan mata. Terukir kembali kenangan indah bersamanya, meski tak sering berjumpa tapi semua tingkah lakunya membuat hidupku lebih banyak warna. Lebih dari sekedar warna hijau di hidupku.
Rinjani, ada banyak hal yang belum kamu ketahui tentangku. Jika kamu mengetahui kebenaran yang bukan dari mulutku, apa kamu masih bisa mempercayaiku, masih bisa tersenyum manis untukku. Rinjani, rasa bersalah akan menghantuiku terus menerus setelah kamu ada di genggamanku, setelah kamu menjadi istriku.
Lalu ku dengar suara lirih memanggil namaku, suara yang aku tunggu-tunggu sedaritadi malam.
Mata itu mengerjap, manik mata hitamnya mulai terlihat.
Ku cium keningnya sambil meminta maaf berkali-kali karena kesalahanku, dalam dekapan ia malah ikut serta meminta maaf karena tidak membuatkanku teh tawar hangat.
Bagaimana bisa ia memikirkan permintaanku, setelah semalam ia sudah menjamuku dengan baik. Bagaimana bisa mata polos ini merasa bersalah karena tidak membuatkanku secangkir teh. Bahkan aku saja melupakan sholat subuh seperti biasanya.
Setelah itu Indy datang, seperti biasanya dia akan menyeletuk dengan senangnya. Menggoda emosi Rinjani yang masih terlihat malu-malu sambil memegang selimutnya. Pipinya mengembang saat Indy dengan jujurnya mengatakan sudah tahu semuanya.
Senang menggoda Rinjani, Indy keluar tanpa merasa bersalah. Aku masih sedikit geram dengan tawarannya tadi. Hingga aku memilih diam.
Aku senang, Rinjani tidak marah dengan kejadian semalam. Justru ia menyebutnya sebagai 'tusuk-tusuk sate ayam' tak mengerti lagi dengan istilah itu aku cukup terhibur dengannya.
Tugasku belum usai, aku masih harus memandikan Rinjani.
Memandikan tubuh polosnya sudah seperti ritus yang aku sukai. Melihatnya tersipu, tersenyum malu-malu, lalu dengan perlahan merangkulkan tangannya dileherku.
Pikiranku kembali melayang ke udaranya, sudah tak bisa lagi ku tahan ia yang sudah bergejolak dibalik celana.
Aku kembali menyusuri lekuk tubuhnya, bermain dengan pucuk kenikmatannya. Rinjani mengaduh, menahan rasa sakitnya lagi. Maafkan aku Rinjani, aku laki-laki dewasa yang butuh belaian nan kasih sayang. Sungguh menggelikan, bagaimana bisa aku terjatuh pada pelukan seorang wanita biasa. Tubuhku begitu tidak bisa aku kendali meski belum banyak gaya yang bisa ia lakukan.
POV Kaysan End. ๐
__ADS_1