
...MELBOURNE...
Suhu Melbourne saat musim dingin bisa mencapai suhu terendah 6° Celcius. Untuk kulit Asia seperti kami, suhu ekstrem ini membuat kami menggigil, terlebih untuk kulit renta eyang Dhanangjaya dan Mbah Atmoe. Terkadang terbesit penyesalan di benakku. Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya memang tak seharusnya ikut kami sampai ke benua Australia.
Suhu dingin disini menyebabkan mereka berdua hanya bermalas-malasan di depan tungku perapian. Hal yang jarang di lakukan oleh abdi dalem.
"Tak mengapa, biarkan mereka beristirahat di sini." kata Kaysan, saat aku berkali-kali membujuknya untuk membawa pulang Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya untuk kembali ke tanah Jawa. Aku khawatir dengan kesehatan kedua laki-laki renta yang sudah aku anggap sebagai kakek.
Udara dingin membekukan langit Melbourne malam ini. Membuat kami enggan untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Wine dan sup jagung pedas adalah makanan penghangat selain tubuh laki-laki yang duduk di belakangku. Ia memelukku seraya menikmati akhir hari menuju satu tahun usia pernikahan kami.
Seperti hangatnya sebuah keluarga pada umumnya. Kami memilih menghangatkan suasana dengan menceritakan kegembiraan. Berandai-andai jika Mbok Darmi ada disini. Suasana akan lebih menghangat dengan sajian masakan khas buatan Mbok Darmi. Mbok Darmi memilih tetap kembali ke rumah Ayahanda dan menjadi abdi kinasih Ibunda. Janjinya sudah pasti dan harus ia tepati.
Sudah satu bulan aku berada di Melbourne bersama kekasihku, Bapak dan abdi-abdi kinasih Kaysan.
Kehidupan rumah tangga kami slalu di isi dengan canda tawa, dan cerita-cerita absurd sarat makna yang di ceritakan Eyang Dhanangjaya dan Mbah Atmoe.
"Waktunya istirahat anak-anakku, kiranya sudah cukup cerita-cerita yang bisa menjadi wejangan hidup kalian berdua." Eyang Dhanangjaya mendekap selimutnya. Semakin mengeratkan hingga hanya tersisa wajahnya yang nampak.
"Tidurlah dikamar eyang, disini dingin." kata Kaysan sambil membantuku berdiri. Kekurangan sinar matahari membuat tubuhku sering linu. Berminggu-minggu aku harus beradaptasi dengan cuaca dingin disini. Salju memang indah untuk Elsa, tapi tidak untukku. Awal kakiku menginjak salju, malamnya aku demam, masuk angin. Hingga bapak menyebutku 'ndeso', lagaknya sudah seperti warga asli Australia yang sudah kebal dengan musim dingin.
"Disini saja sudah cukup. Tidurlah kasian istrimu." sahut eyang. Matanya sudah terpejam, mengisyaratkan bahwa sudah tidak ada jawaban lain selain pergi ke kamar.
Kaysan tersenyum, ia menambah balok kayu di perapian agar hangatnya terjaga hingga pagi menjelang.
*
Malam menunjukkan pukul setengah sebelas. Aku dan Kaysan duduk di tepi ranjang. Senyum Kaysan yang seperti itu membuatku tersipu malu.
"Apa?" tanyaku.
"Mau yang hangat tapi bukan segelas anggur." jawabnya. Wine dengan kadar 0 alkohol adalah minuman pilihan saat musim dingin selain secangkir teh hangat dengan bubuk kayu manis.
"Lalu?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
Kecupan mesra mendarat di keningku, hingga kecupan-kecupan lain mendarat di bibirku, cuping telingaku dan ceruk leherku.
Sweater rajut yang aku kenakan sudah tersingkap dari tubuhku. Hingga tali bra mulai turun melalui lengan tanganku.
Kaysan menangkup kedua payudaraku dengan lembut, hingga menggoda pucuk ceriku dengan bibirnya.
Tak hanya anak-anak yang menyukai musim dingin, kehangatan seperti inilah mengapa pria menyukainya. Mereka akan membuat alasan jika sedang menginginkan kehangatan. Kehangatan yang membentur pada organ-organ kenikmatan.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama. Ranjang yang berukuran 200cmx120cm sudah menjadi tempat favorit kami untuk bercinta.
...Semakin sempit ranjangnya, semakin epik cara bercinta....
Salah satu yang membuatku senang adalah nafas Kaysan yang berubah menjadi parau. Saat kenikmatan terus menerus terjadi dalam waktu yang lama.
"Sayang, lepaskan." bisik Kaysan, suaranya yang merdu membuat tubuhku semakin bergetar hebat.
Kepalaku terjuntai di tepi ranjang. Berkali-kali aku mengalami pelepasan, lengan Kaysan yang sudah berkeringat menarikku. Ia kembali mengecup bibirku.
"Harusnya aku membawa obat perangsang yang Dimas berikan." Kaysan menyeringai lebar.
"Aku ingin melihatmu, menggodaku seperti malam itu." jelasnya sambil memangku tubuhku.
Setelah menghabiskan waktu bersama lebih dari satu ronde. Kaysan mengerjap sebentar lalu tersenyum puas.
"Haruskah aku mengharap musim dingin akan terus berlanjut?" tanya Kaysan.
Tangannya membantuku untuk beranjak dari ranjang.
"Kenapa?" Aku menyeka keringat di pelipis Kaysan.
Kaysan pergi ke kamar mandi, ia menyiapkan air hangat untuk membasuh tubuh kami.
"Kemarilah, bersihkan tubuhmu lalu kita merayakan ulang tahun pernikahan kita." Kaysan melongok keluar dari kamar mandi.
"Iya..." Aku berlari kecil, sambil menyilangkan kedua tanganku untuk menutupi dada.
"Hmm... Bukankah ada handuk piyama?" Kaysan menggeleng. "Mau lagi?" Alisnya naik-turun. Bibirnya senyum-senyum.
Aku meninju dadanya, "Ampun kakanda, adinda tidak kuat."
"Adinda. Besok aku akan pergi untuk mencari pekerjaan."
Dibawah guyuran shower aku membersihkan tubuhku, secepat mungkin karena semakin malam semakin dingin, "Hmm... uang dari penjualan rumah dulu tidak cukup untuk hidup kita selama disini." jelasnya lagi sambil memberiku handuk piyama. Aku keluar dari kamar mandi dan memakai baju tidur yang baru.
"Mas beneran mau kembali ke university of Melbourne?"
"Iya... hanya disana tempat yang bisa menerimaku."
Aku merenggut kesal, "Mata jangan jelalatan. Ingat istri dirumah!"
__ADS_1
Kaysan menuang air putih lalu meminumnya. "Aku slalu mengingat istriku yang suka cemburu dan suka bertindak semaunya." Kaysan menyingkap selimut dan ikut bergelung dibaliknya.
"Aku cemburu karena cinta. Bukan karena ada apa-apanya." sahutku sambil mengelus dada Kaysan.
"Begitu?" Kaysan menahan tanganku,
"Kalau tidak ada tusuk sate apa kamu juga masih cinta?" Kaysan memincingkan matanya. Aku berpikir cukup lama.
"Kalau tidak ada buah dada, apa mas juga masih cinta?" Begitulah jawabanku disaat aku dirundung kebingungan dengan membalikkan pertanyaan.
"Nafsu dan nurani adalah sesuatu yang kompleks, dua hal yang membuat manusia membentuk tali jiwa lainnya." [ tali jiwa : tali pusar antar ibu dan janin ]
Kaysan mendekap ku, "Cintaku tanpa syarat. "Aku dibiarkan menikmati belaian lembut dari tangan Kaysan.
Dongeng setelah bercinta slalu ia ceritakan, bersama falsafah-falsafah hidup yang ia pelajari dari eyang Dhanangjaya dan guru spiritual lainnya.
Aku menguap, dan mengangguk.
"Rinjani akan mempelajarinya dengan baik dan hati-hati." Kecupan manis mendarat di keningku.
*
Berita terkaitan pemecatan Kaysan sebagi putra mahkota, membuat Ayahanda memberi titah kerajaan untuk mencari kebenaran Kaysan, sebagai imbalannya akan ada hadiah yang akan diberikan kepada sang pemenang. Terlebih banyak pihak yang tidak setuju dengan pendapat Ayahanda yang akan menjadikan anak pertama dari istri kedua sebagai putra mahkota.
Aku dan Kaysan memang menutup semua komunikasi dengan orang rumah ataupun kolega lainnya, tapi kami tidak menutup berita terkait dengan kondisi kehidupan di istana.
Kepergian kami telah membuat banyak pertimbangan dalam memilih siapa yang akan menjadi penerus takhta. Terlebih setelah di umumkan besar-besaran siapa pemenang sayembara, banyak rakyat yang menuntut adanya pengesahan kebijakan baru dalam istana. Tentunya ini bukan sesuatu yang mudah. Harus banyak musyawarah dan mufakat adil yang bermaksud untuk kebaikan bersama.
*
Dinginnya pagi ini membuatku bermalas-malasan diatas ranjang. Kabut tebal terasa amat pekat di luar sana. Tak ada sedikitpun matahari yang menyusup masuk ke dalam kamar.
"Happy wedding anniversary, Rinjani." Kaysan membawa satu cupcake keju dengan lilin kecil yang menyala.
"Happy wedding anniversary too, Mas." Aku menutup wajahku, malu. Kaysan sudah gagah dan wangi, sedangkan aku masih bergeming di bawah selimut.
"Buat permintaan." Kaysan duduk di tepi ranjang, aku beranjak sambil merapikan rambutku. Seraya duduk berdekatan, mata kami saling terpejam.
Ada Do'a dan pengharapan disaat lilin itu tertiup dan memudarkan asapnya.
Happy Reading 💚
__ADS_1