
Sekarang usianya sudah tujuh Minggu, bentuknya sudah tak seperti kecebong. Meskipun belum terlihat tonjolan di perutku tapi rasanya aku sudah tidak sabar melihatnya semakin tumbuh dan berkembang. Anakku pasti mengemaskan seperti aku dan Kaysan. Memiliki kulit putih sepertiku dan senyum menawan seperti milik Kaysan. Membayangkan jika anakku nanti menjadi primadona, membuatku harus waspada terhadap segala yang mendekatinya. Ah pasti sulit untuk menjaganya kelak. Belum apa-apa aku sudah seperti ibu yang posesif.
"Keen, ayo pulang." Hari ini Keenan mengambil alih tugas Bapak. Karena Bapak harus membantu Laura memenuhi pesanan kue yang membuat mereka berdua kewalahan. Terlebih satu karyawan yang bekerja dengan Laura hanya bisa membantu ala kadarnya. Karena ia juga harus menjaga kedai Laura bakery dan memenuhi pesanan pelanggan.
"Obatnya sudah?" tanyanya.
Aku tersenyum kecut. Aku lupa meminta uang lebih kepada Kaysan. Terlebih obat disini harganya mahal, karena kualitasnya lebih bagus.
"Aku baik-baik saja. Tidak ada gangguan dengan janinku, lebih baik kita pulang sekarang." kataku. Keenan menajamkan matanya, "Mana resep vitaminnya?"
Tangan Keenan menengadah. Aku terkejut, maksudnya dia ingin membayar tagihan rumah sakit dan obatnya.
"Jangan, Keen. Ini bukan tanggung jawabmu." Aku berjalan mendahului Keenan. Ia tetap bersikukuh dengan menahan lenganku.
"Kemarikan, biar aku yang menebusnya. Kata mama ibu hamil diusia muda masih rentan terhadap keguguran." jelasnya, hatiku yang mudah membolak-balik perasaan akhirnya menatap tajam ke arah Keenan.
"Ini mahal, uang jajanmu tidak cukup."
Keenan justru tertawa mengejekku, "Uang tak penting untukku, lebih baik digunakan untuk membantu orang lain apa salahnya. Sudah kemarikan." pintanya lagi, ku lihat ia tulus membantuku.
"Aku memang perlu, tapi gaji mas Kaysan belum cair."
Keenan hanya tersenyum, ku ambil secarik kertas dari balik tas selempangku.
"Tunggulah disini dan jangan kemana-mana." Ia mengambil resep vitamin yang dianjurkan dokter untuk menguatkan rahimku.
Keenan pergi, meninggalkan ku yang termenung memikirkan Kaysan. Sudah satu bulan ia sibuk mengurus pentas teaterikal yang diadakan sekolahnya. Kadang ia tak ada waktu untuk sekedar sarapan bersama, atau membuat segelas susu coklat untuk anak yang aku kandung hasil buah cinta kami berdua.
Jika malam tiba ia masih sibuk membuat naskah drama. Waktu benar-benar memisah kedekatan kami berdua, begitu juga komunikasi yang tak seintens biasanya.
Kadang aku butuh tempat untuk bersandar. Dan, kali ini tembok yang dingin ini membuat musim semi ini lebih dingin dari musim dingin tujuh Minggu yang lalu.
"Jangan banyak melamun, ayo kita pulang." Keenan membuyarkan lamunanku. Aku terkejut, ia menyerahkan plastik berisi vitamin dan obat.
"Jadwal minumnya tiga kali dalam sehari. " Aku tersenyum sambil menyimpan plastik itu ke dalam tasku. "Terimakasih Keen, besok aku akan mengganti uangmu."
"Tidak perlu repot-repot, mama slalu berkata jika kamu akan menjadi kakakku."
Aku dan Keenan keluar dari rumah sakit. Anak seusia Keenan justru sudah mahir mengendarai mobil. "Kamu punya SIM?" tanyaku penasaran.
"Tidak." jawabnya santai.
"Terus kalau kita ditangkap polisi bagaimana, aku tidak mau berurusan dengan pihak berwajib."
Keenan hanya diam, ia melajukan mobilnya keluar dari area parkir rumah sakit.
"Cukup mentaati peraturan jalan dan menggunakan sabuk pengaman, sudah cukup aman dari kejar-kejaran pihak polisi." jawab Keenan.
"Keen, ajak aku ke tempat yang sering kamu kunjungi. Aku bosan di rumah."
Hari masih siang, masih banyak waktu untuk kembali ke rumah. Apalagi di rumah tidak ada siapapun. Rasa kesepian akan mengajakku untuk berpikir terus tentang Kaysan.
"Makan siang dulu, mama akan memarahiku jika lalai dalam menjagamu."
Kenapa selalu tante Laura yang dibawa-bawa Keenan untuk menyetujui keinginanku. Tinggal jawab iya saja repot.
Aku mengangguk, "Baiklah, apapun itu makan siang akan lebih asik jika ada yang menemani."
"Hahaha, suamimu sibuk dengan anak didiknya. Hingga lupa anak yang di dalam rahimmu juga butuh perhatian darinya."
Aku berdecih, "Usiamu masih 17 tahun, belum mengerti jika tugas seorang suami itu berat." Aku kesal, Kaysan memang tidak ada waktu untukku, tapi aku juga tidak terima jika ada orang lain yang menyalahkan Kaysan. Bagiku, tidak ada orang lain yang boleh menilai Kaysan kecuali diriku!
"Kehamilan memang membuatmu sensitif. Sudah turun." katanya.
Mataku mengedar menatap sekeliling.
__ADS_1
Mobil berhenti di depan sebuah cafe.
"Turunlah, ini cafe temanku. Kamu bebas memilih apa saja untuk dimakan." kata Keenan, ia melepas sabuk pengaman mobil.
"Hey, usiamu masih 17 tahun. Apa kamu tidak sekolah?"
Aku mengekori langkah Keenan untuk masuk ke dalam cafe.
Di meja kasir ia menyerahkan lampiran daftar menu makanan.
"Apa saja yang penting halal." kataku. Aku berjalan menuju kursi taman. Cafe ini memiliki dua ruangan, indoor dan outdoor. Dan, disini banyak bunga yang sedang bermekaran.
"Hubungi suamimu, beri tahu dia jika kamu sedang di cafe bersamaku." Keenan duduk di depanku.
"Tidak perlu, jam segini dia sibuk." Balasku. "Keen, kamu belum menjawabku, kenapa kamu tidak sekolah?"
Keenan tertawa, "Aku home schooling."
"Bukannya tidak seru, tidak banyak teman jika home schooling."
Makanan datang, Keenan membelikan aku segelas jus alpukat dan semangkok salad buah. "Keen, orang Indonesia kalau tidak makan nasi namanya belum makan." jelasku sambil tersenyum lebar.
"Disini tidak ada nasi, lebih baik minta mama Laura jika kamu mau makan nasi." jelasnya.
Ia menyantap makan siangnya. Sedangkan aku dengan lahap menyantap salad buah dan menghabiskan jus alpukat. Keenan tertawa, "Sepertinya porsinya kurang, mau tambah?"
Aku tertawa, kehamilan kali ini benar-benar membuatku rakus.
"Tidak, Keen. Tapi aku minta satu permintaan lagi boleh. Sebelum kita pulang."
Keenan mengambil vape dari kantong jaketnya. "Boleh, tapi izinkan aku menepi sebentar."
Aku melihat Keenan seperti melihat si kembar. Adik-adikku yang sering membantuku dalam banyak hal. Bagaimana kabar mereka. Andai mereka ada disini dan menemaniku. Aku tidak akan kesepian seperti ini. Lamunanku tertuju pada tingkah konyol mereka berdua. Aku tersenyum, aku rindu dengan si kembar.
"Apa yang membuatmu senang?" Keenan kembali duduk di depanku.
"Sembilan? Itu sangat banyak." Keenan tak percaya. Aku tertawa, "Kamu tak akan mengerti jika aku menjelaskannya. Lebih baik kita bergegas."
*
Disinilah aku dan Keenan berada, tak jauh dari tempat dimana Kaysan menghabiskan waktunya bekerja.
"Ini sudah hampir jam pulang sekolah. Kamu yakin tidak mau ke mobil suamimu?"
Aku menggeleng, "Tidak, nanti mas Kaysan marah."
"Kenapa? Harusnya dia senang jika melihatmu."
Aku cekikikan, "Keen, usiamu baru 17 tahun. Tapi kenapa kamu begitu dewasa memikirkan hal tak seharusnya belum kamu pikirkan."
Di dalam mobil Keenan menceritakan kisah cinta Laura dan Richard. Baginya kisah cinta kedua orangtuanya sudah menggambarkan bagaimana cara mengahadapi keadaan saat aroma cinta sudah memudar.
"Mama slalu berkata jika papa punya tanggung jawab besar." jelasnya. Ia menyandarkan punggungnya di jok mobil.
"Hubungi suamimu, kalian bisa pulang bersama nanti."
Aku tak habis pikir dengan pikiran Keenan. Ia benar-benar menjadi dewasa diusianya yang masih muda.
"Baiklah, aku coba."
Aku mengambil ponselku. Ku hubungi Kaysan berkali-kali, tapi dering ponselnya tak kunjung berganti dengan suara suamimu. "Tidak diangkat." Aduku pada Keenan.
"Sekali lagi." ucapnya.
Aku benar-benar menghubungi Kaysan lagi.
__ADS_1
"Mas..." panggilku.
"Apa, sayang?"
"Aku ada di depan sekolah, mas sudah mau pulang?"
"Dengan siapa? Aku akan menghampirimu."
"Keenan, mobilnya warna merah."
Kaysan menutup telepon.
Aku melirik ke arah Keenan.
"Dia akan kemari." Aku berbinar senang.
"Bagus." Keenan tersenyum.
Tak berselang lama Kaysan datang, ia mengetuk kaca mobil.
Aku keluar, ku lihat Kaysan. Ia tampak tak begitu suka dengan kehadiranku.
"Mas sudah makan siang?" tanyaku.
"Darimana saja?" Kaysan memegang bahuku.
"Aku dari rumah sakit, Mas. Keenan yang menemaniku karena Bapak sibuk di toko."
Kaysan menghela nafas, "Bagaimana keadaannya?"
"Anak ini baik. Dia tahu ibunya sendiri dirumah, jadi tidak mau membuat ibunya kerepotan sendirian."
Ia membuka pintu mobil, "Terimakasih Keen, sudah menemani istriku."
"Itu tidak gratis." Seloroh Keenan.
"Ada yang perlu aku bayar?"
Keenan tertawa, "Tidak semua bisa dibayar dengan uang." Keenan keluar dari dalam mobil.
Aku tidak tahu apa yang ingin Keenan bicarakan dengan Kaysan. Jangan sampai Keenan membicarakan tentang obrolan ringan di rumah sakit tadi.
"Istrimu kesepian, temani dia sebentar. Hanya itu yang aku minta untuk mengganti uang makan siang dan tebusan vitamin untuk janin kalian."
Mataku menajam, "Keen. Itu rahasia kita berdua."
Kaysan tersenyum getir. "Maaf aku lalai."
"Kalian bisa di dalam mobilku sebentar, biar aku ke dalam sekolah. Ada seseorang yang ingin aku temui."
"Keen. Tidak mau!" sergahku.
Namun Kaysan dengan cepat membuka pintu belakang mobil, ia mendorongku pelan.
"Baiklah, aku masih ada waktu setengah jam untuk istirahat sebelum kembali ke sekolah." Keenan lalu pergi, meninggalkan aku dan Kaysan di bangku penumpang.
"Maaf, Rinjani." kata Kaysan. Ia mengelus perutku pelan. "Maafin ayah tidak menemanimu lagi." katanya lirih sambil mengecup perutku.
Aku mengelus rambut Kaysan.
"Keenan baik seperti si kembar." jelasku, Kaysan menaruh kepalanya di pahaku.
"Kamu beruntung banyak orang yang memperhatikanmu. Berbeda denganku, hanya kamu yang slalu membuatku berarti dan diinginkan." jelas Kaysan, matanya terpejam.
"Karena aku cemburu jika mas Kaysan banyak yang perhatian. Sedangkan orang-orang yang memperhatikan aku adalah adik-adik kita sendiri."
__ADS_1
Aku mengecup kening Kaysan. Membiarkan mata itu semakin terpejam. Aku tahu kamu lelah, mas. Istirahatlah.
Happy Reading ๐