
Usianya sudah tidak muda lagi, tapi wajahnya masih mulus nan ayu. Alisnya mempertegas wajahnya, dagunya runcing, senyumnya kadang manis kadang menakutkan. Apa lagi sorot matanya.
Jari-jarinya lentik seperti tak pernah mengangkat beban berat, rambutnya masih hitam legam, entah di semir atau anugerah Tuhan yang menciptakan rambutnya belum beruban mesti usianya sudah menginjak setengah abad.
Panggilannya adalah Tuniang - Ratu Niang [ panggilan nenek untuk Kasta Brahmana, Bali ]
*
Pagi ini sebelum aku diizinkan untuk pergi ke kampus, aku sudah disidang habis-habisan oleh Ibunda. Kata Ibunda gantian, jika semalam Kaysan yang di sidang Ayahanda sampai jam sembilan, kini giliran ku yang disidang di pendopo belakang. Naas aku seperti tikus yang diguyur minyak goreng. Bentuknya sudah tak karuan, amburadul!
Ibunda yang biasanya lemah lembut, kini tatapan matanya seperti ada gejolak amarah. Aku tak paham kenapa mereka bisa semarah ini denganku dan Kaysan. Padahal kami hanya bersembunyi di lubang tikus yang mewah. Tidak berkeliaran seperti tikus-tikus berdasi yang enak pergi keluar negeri.
"Kamu tahu cah ayu, hubunganmu dan Kaysan adalah hubungan tersembunyi."
Aku mengangguk.
"Bagaimana bisa kalian menginap di kamar hotel yang sama. Meski itu sebenarnya adalah hotel milik keluarga. Tapi, kelakuan kalian berdua bikin Ibunda geram."
"Maaf Ibunda." ucapku menyesal.
"Uwis, Mbakyu, uwis." [ Sudah, Mbak, sudah.]
Tuniang Dewi yang sedari tadi hanya diam menyimak akhirnya mengelus rambutku, "Deloken, Mbakyu. Bocah ini ra salah, sing salah iku anakmu, Kaysan." [ Lihatlah, Mbak. Anak ini tidak salah, yang salah itu anakmu, Kaysan.]
"Ora iso, Wi. Kabeh salah, bocah Iki ro cah gemblung kae salah. Jian, mumet aku, Wi." [ Gak bisa, Wi. Semua salah, anak ini sama anak gila itu juga salah. Jian, pusing aku, Wi.]
Ibunda memegang kepalanya. Sekarang kedua wanita berusia sama ini berdebat.
"Sang Hyang Widhi. Bocah Iki ayune ra umum, anakmu kae, Kaysan mantan perjoko tuo. Wajar nek pengene disayang-sayang." [ Sang Hyang Widhi artinya Tuhan yang maha Esa dalam istilah kaum Hindu. Anak ini cantiknya gak umum, anakmu itu, Kaysan mantan perjaka tua. Wajar kalau maunya disayang-sayang."
"Betul cah ayu?" tanya Ibunda dengan mata yang menelisik.
"Iya to Ibunda, mas Kaysan memang minta disayang-sayang, sampai Jani tepar."
"Cah gemblung, Kaysan...!" Ibunda mencak-mencak. Sedangkan Tuniang Dewi tersenyum sambil berkata, "Anakmu, memang TOP, Wi. Aku akui keberaniannya." [ mencak-mencak : marah-marah ]
"Cukup, Wi. Kamu tidak membantuku malah ikut membela dua anak itu. Wes, cah ayu sana berangkat kuliah. Nanti jangan lupa latihan menari."
Aku mengangguk, mencium punggung tangan Ibunda, "Ibunda jangan marah-marah terus, nanti Ibunda hipertensi. Jani takut gak punya ibu lagi."
Jeweran mendarat ditelingaku, "Kaysan yang mengajarimu seperti ini, anak itu bener-bener!!!" ucap Ibunda mengebu-gebu.
"Ibunda, sakit."
"Ahhh!" Ibunda melepas telingaku, "Maaf cah ayu." Dielus pipiku, "Kalian berdua sudah bikin Ayahanda senewen, Ibunda hanya tidak mau kalian dihukum Ayahanda. Besok-besok kalau mau berduaan jangan di hotel."
"Lalu dimana Ibunda?"
"Kebon, biar di gigit nyamuk, kalau perlu di gigit tengu sekalian. Biar gatel, biar tahu rasa."
__ADS_1
"Gak bisa to, Wi. Kalau di kebon nanti kayak binatang. Bercinta seenaknya." Tuniang Dewi tersenyum kecut.
"Kamu itu datang untuk membantu anak ini menari, bukan untuk membantunya dalam perbuatan terselubung."
Lagi-lagi dua Wi Wi ini berdebat, aku melirik jam ditanganku. "Mpun cukup sementen ibu-ibu, Jani pamit dulu. Dihukum dosen nanti kalau terlambat."
"Lungo kono, rasah muleh!" [ Pergi sana, gak usah pulang! ] Ibunda mengibaskan tangannya. Baru empat langkah aku berjalan, kepalaku menoleh.
Ibunda berteriak dengan nada diatas volume rata-rata, "CAH AYU....!!!"
"Iya Ibunda." Aku berbalik, menghampiri Ibunda lagi yang mengangkat tangan kanannya.
Ku cium punggung tangannya, dielus kepalaku dengan tangan kirinya, "Belajar yang rajin."
"Aku kira Ibunda mau memberiku uang jajan."
"Njaluk bojomu." [ Minta suamimu ]
"Sini cah ayu, salim juga dengan Tuniang."
Aku mendekati Tuniang Dewi, mencium punggung tangannya. Kemudian Tuniang Dewi berbisik ke telingaku, "Maklum cah ayu, semalam tidak dapat jatah. Jadi sedikit galak."
"DEWI SEKARTAJI!"
Ibunda memukul bahu Tuniang Dewi.
"Iya Tuniang, sepertinya Ibunda memang kurang piknik. Jadi agak sensi." kataku juga berbisik di telinga Tuniang Dewi.
*
Aku berlalu pergi ke kampus seperti biasanya. Sedangkan Nakula dan Sadewa sudah berangkat sejak tadi.
Tiba di parkiran kampus, aku mendapati Nanang yang menatapku. Tapi ia hanya diam ditempatnya. Namun sorot matanya mengikuti setiap langkah kakiku. Aku bak di kejar bayangan masa lalu. Andai dia tahu aku sudah menikah, tentu dia tak akan mendekatiku. Atau mengharapkan kisah cinta lama bersemi kembali.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, hari ini adalah mata pelajaran mengenai antropologi budaya, fokus mempelajari interaksi dan hubungan antar manusia. Di jurusan ini juga akan mempelajari seluk-beluk, serta unsur-unsur kebudayaan yang dihasilkan dalam kehidupan manusia. Tapi lagi-lagi, dosen jurusan ini mangkir dengan izin sedang tugas seminar di luar kota.
Alhasil pagi ini hanya di beri modul pembelajaran, dan mahasiswa diminta untuk pergi ke perpustakaan.
"Jani, kapan aku bisa mampir ke kostmu." Anisa merangkul bahuku.
"Hah, kost?" dahiku mengerenyit. Ya, akhir-akhir ini aku lebih dekat dengannya, bisa jadi dia teman dekatku satu-satunya dikampus.
"Iya, ke kostmu. Sekali-kali aku juga mau merasakan jadi anak kost."
Mampus, batinku.
Aku harus membuat drama lagi saat ini. Membuat kebohongan sekali lagi.
"Weekend gimana, kamu boleh main ke kostku. Kalau hari-hari biasa aku ada part time kerja."
__ADS_1
"Kerja dimana, Jani? Aku mau ikut."
Aku berdecih dalam hati, bohong bisa kira-kira juga kali ini mulut. Sekarang harus jawab gimana pula.
"Jadi tukang setrika, hehe." Aku ketawa menutupi kebohonganku. Mampus mampus. Dihukum Kaysan pasti, dihukum Ibunda, apalagi Ayahanda.
Sungguh dunia panggung sandiwara.
"Aku kira part time di cafetaria, kalau gitu weekend besok aku izin sama ayahku untuk menginap di kostmu."
Aku mengangguk pasrah, bodo amatlah pikir besok, toh ini masih hari Senin.
Tiba di perpustakaan, aku dan Anisa berpencar mencari buku bacaan yang menjadi bahan pembelajaran kali ini.
Kata Nakula perpustakaan ini menyimpan banyak kenangan terindah untuknya. Dan, ditempat inilah aku mendapati ia duduk sendiri sambil memegang sebuah buku ditangannya.
"Nakul..." panggilku pelan.
"Hmm."
Aku duduk disampingnya, mengeluarkan sebuah permen dari kantong celanaku. Alpeliebe rasa mint dengan coklat didalamnya. "Makan gih, biar rilex. Tegang amat wajahmu."
"Diem, Mbak."
"Nakul?"
"Hmm."
"Nakul bantu aku cari kost di deket sini, tapi jangan bilang sama mas."
"Mbuh, Mbak."
Nakula sudah beranjak berdiri, "Mbak beliin sepatu Nike." Bujuk ku sambil mengikuti langkahnya, aku tahu si kembar ini adalah Nike addict.
"Limited edition?"
"Ya ya, tapi aku terima beres. Pokoknya yang khusus kost putri termasuk fasilitasnya, jangan muluk-muluk. Cukup kasur, lemari, rak buku. Sama buku-buku untuk mendramatisir keadaan."
"Hmm."
"Sip." Aku mengacungkan jempolku, senyumku mengembang.
"Nakul, beli dimana sepatunya?"
"Pasar."
Aku mengangguk, "Oke, besok kita ke pasar karang gayam."
"Ngawur!"
__ADS_1
Like n love ya reader. ππ