Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Rombongan pengacau ]


__ADS_3

"Bagaimana keadaan cucu saya, Dok?"


"Apa jenis kelaminnya sudah terlihat, Dok?"


"Apa air ketubannya cukup, Dok?"


"Apa berat badannya naik, Dok?"


"Dok!!! Bagaimana keadaan kakak ipar saya, Dok? Apa dia cukup baik untuk kami ajak jalan-jalan, Dok?"


"Selamatkan istri saya, Dok!!!"


Rombongan pengacau ketenangan ini tak lain adalah tamu kehormatan dari tanah Jawa.


Pagi ini mereka memaksaku untuk pergi ke dokter kandungan. Dan, disinilah sekarang. Di ruang Obgyn, Ibunda, bunda Sasmita, si kembar dan Kaysan memberondong pertanyaan untuk Dokter Elizabeth. Dokter yang menangani kandungku sejak awal kehamilan.


Kedatangan gerombolan orang pertama di kotaku ini disambut sunggingan senyum dari dokter sedaritadi tak lepas dari bibir Dokter Elizabeth.


"Kamu beruntung, Jani." Dokter Elizabeth menepuk bahuku.


"Kondisi ibu dan janinnya sehat. Hanya saja per..." ucapan dokter Elizabeth terjeda saat bunda Sasmita sudah menyergahnya dengan pertanyaan lagi.


"Perlu apa Dok? Vitamin, makan yang banyak, atau hmm..." Bunda Sasmita menunjuk-nunjuk arah Kaysan. "Atau perlu, bantuan dari suaminya?" Senyum bunda Sasmita mengembang.


...Dokter Elizabeth menggeleng cepat....


"Rinjani hanya perlu minum vitamin, selebihnya baik-baik saja."


"Alhamdulillah..." Serempak mereka berbicara.


"Dok! katakan jenis kelaminnya?" tanya Sadewa mengebu-gebu.


"Rahasia. Jangan beri tahu, Dok." kataku sambil beranjak dari ranjang pasien.


"Dok, apa boleh berhubungan suami-istri?"


Tatapan kami semua tertuju pada Kaysan.


"Ora ndue isin." [ gak punya malu ]


Ibunda menjewer telinga Kaysan.


"Kawin aja terus yang ada di pikiranmu, Kay!"


Kami semua menahan tawa.


"Bunda tidak tahu, kalau aku sudah lama sekali tidak kawin. Tanyakan saja pada Rinjani." ucap Kaysan yang tak punya malu.


"Duh Gusti!" Ibunda menghela nafas.


"Apa boleh kawin, Dok?"


Dokter Elizabeth mengangguk, "Boleh asal penetrasinya tidak terlalu dalam."


"Inget Kay, masuknya hanya setengah. Jangan semua!"


Bunda Sasmita menepuk jidatnya.


"Mbakyu, anakku krungu." [ krungu : mendengar ]


"Mbar, ingat ini hanya untuk 21+, kalian jangan meniru atau mencobanya!"


Sadewa dan Nakula cengengesan. Mulut mereka pasti sudah ingin mengejekku lagi.


"Wes apal, Bun." [ Sudah inget, Bun ]


"Sudah-sudah, ayo kita pulang. Kasian dokternya dari tadi kita ganggu."


Baru sadarkah, jika sedaritadi sudah seperti arisan RT. Kenapa anak ini begitu menggemparkan dunia, bahkan wujudnya saja belum terlihat.


*

__ADS_1


Kami berenam keluar dari rumah sakit. Meninggalkan kesan mendalam untuk dokter Elizabeth, karena sebelum kepergian kami tadi. Ibunda memberi titah untuk memberikan layanan yang terbaik untuk


cucu pertamanya. Jika tidak, jampi-jampi akan menjadi hadiah terbaik untuk dokter Elizabeth.


"Mbakyu, hari ini kita jadi lihat koala?" Bunda Sasmita mengambil alih stir kemudi. Membiarkan Kaysan sedaritadi merengkuh tubuhku.


"Walah, Sas. Anakku wes koyo koala, nemplok terus. Jian, kebangetan polahe." [ wes koyo : sudah seperti, polahe : tingkah laku ]


"Maklum Mbakyu, lagi kasmaran wegah di tinggal."


Oh Tuhan. Kenapa tingkah Kaysan jadi seperti ini. Manja sekali.


"Mas udah, to. Aku malu." Aku mendorong bahu Kaysan untuk membuatnya tegak dan berwibawa.


"Dik. Kapan aku buka puasa."


Tawa meledak dari bangku paling belakang. Membuatku memincingkan mataku.


"Mas, mas. Ingat masuknya hanya setengah, jika tidak keponakanku akan terkejut dengan beda asing yang masuk sambil tusuk-tusuk."


Huaaaaa... Aku ingin menangis. Ku pukul-pukul dada Kaysan.


"Mas bikin aku malu. Mas sudah tua tapi mesumnya semakin tinggi."


"Dik, ini manusiawi." kata Kaysan tanpa merasa malu.


"Manusiawi, tapi juga tahu diri mas. Duh Gusti, bojoku." Aku menutup wajahku dengan jaket.


"Mbak, kata Keenan besok ada summer party ya?" Kini gantian Nakula yang bersuara.


"Iya party sama anak SMA."


"Kebetulan, pasti cewek-cewek pake baju minim bahan." sahut Sadewa.


"Jadi kita harus belanja?" tanyaku pada Kaysan.


"Bun, kita ke Queen Victoria Market."


*


Belanja semakin lama dan banyak, saat the power of emak-emak itu membeli berbagai macam baju yang jarang mereka dapati di tanah Jawa.


"Cah ayu, kamu mau daster?"


Daster? Aku menggeleng cepat.


"Besok saja, Bun. Kalau sudah besar perutku."


Bunda Sasmita memanyunkan bibirnya, "Nanang sudah punya pacar. Cantik sepertimu." Bisik Bunda Sasmita.


"Aku tahu, Bun. Namanya Anisa sahabatku di kampus." jelasku. Aku masih sibuk memilih sereal gandum.


"Sudah dua kali di ajak ke rumah." jelas bunda Sasmita. "Ambil yang kamu suka, Bunda dan adik-adikmu hanya sebentar disini."


Bunda yang melihatku banyak pertimbangan. Akhirnya memasukkan semua kotak sereal dengan beragam jenis rasa.


"Bun, itu terlalu banyak." kataku, Bunda Sasmita mendorong troli belanja menuju barisan susu ibu hamil.


"Mau rasa apa?"


"Coklat."


Aku melongo, bukan satu atau dua boks yang bunda Sasmita masukan ke dalam troli. Melainkan satu lusin.


"Siapa yang mau minum sebanyak itu, Bun?"


"Kamu dong, tidak mungkin Kaysan apalagi Mbah Atmoe." Bunda menyelipkan rambutku, "Jangan sungkan-sungkan dengan bunda. Ayo apa lagi yang kamu inginkan. Es krim, Kaysan bilang kamu suka memintanya."


Aku menggaruk tengkuk leherku. Bagiku ini berlebihan, terlebih isi troli belanja semua adalah kebutuhanku. Kebutuhan asupan makanan.


"Es krim rasa stoberi." ucapku malu-malu.

__ADS_1


Ibunda dan Kaysan tidak ikut dengan kami. Mereka memilih ke bagian bumbu dan rempah. Karena nanti pesta musim panas akan di adakan bersamaan dengan syukuran empat bulanan kandunganku.


*


Tiba di rumah. Kaysan menyuruhku untuk mandi dan istirahat. Sedangkan ia dan si kembar mengambil alih tugas memasak dan memasukkan bahan makanan ke dalam kulkas.


Ibunda dan Bunda Sasmita mengaku lelah. Mereka langsung tidur.


Rumah ini memang tidak besar, hingga kamar ku dan Kaysan disulap menjadi kamar khusus perempuan.


Kaysan dan adik-adiknya tidur di depan perapian.


Sungguh malang sekali nasib Kaysan. Nafsunya harus tertahan dengan kehadiran keluarga yang kami rindukan.


*


Aku mengendap-endap keluar dari kamar saat ku cium aroma masakan yang lezat.


Di dapur, Kaysan dan Sadewa susah menyelesaikan tugas memasak.


"Kalian semua yang masak?" tanyaku sambil membantu mereka membawa piring sajian masakan ke depan perapian. Mau tidak mau kami semua makan dengan gaya lesehan. Karena ruang makan tidak mencukupi tempat duduknya.


"Iya dong Mbak. Soal rasa aku jagonya." ucap Sadewa.


"Mbak percaya, soal rasa kamu jagonya. Jadi kamu tinggal disini saja, jadi juru masak kami berempat." Aku cekikikan. Sadewa mendelik dan menyelesaikan tugasnya menyiapkan sajian masakan.


"Mas, Ibunda dan bunda Sasmita kayaknya kecapean. Mereka belum bangun tidur." Aku menghampiri Kaysan, ia sedang mencuci perabot bekas memasak.


Ku peluk Kaysan dari belakang.


"Aku beruntung memilikimu mas."


"Hmm..."


"Aku bukan siapa-siapa jika tidak bersanding denganmu, Mas."


Kaysan tidak merespon ucapanku.


"Mas, kamu ngambek?"


"Nanti malam kita bicara dengan Ibunda. Sekarang bangunkan Ibunda dan bunda Sasmita, sudah waktunya makan siang."


*


Makan siang slalu menyenangkan saat di temani dengan orang-orang terkasih. Lalapan dan sambal terasi adalah paduan nikmat yang tidak bisa di dusta kan.


Siang ini kami habiskan dengan melihat televisi dan masih terus berlanjut dengan hal-hal yang menjadi dasar permasalahan kami berempat.


"Kami tidak lama disini, Kay. Hanya satu Minggu. Putuskan, kalian akan ikut pulang ke tanah Jawa atau tidak."


Ibunda menghela nafas.


"Tidak Ibunda, Kaysan dan Rinjani akan tetap disini. Entah sampai kapan." jawab Kaysan.


"Lalu bagaimana dengan Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya, kamu membawa mereka jauh-jauh ke sini dan kamu biarkan ikut bekerja. Mereka sudah tua, Kay. Ibunda akan membawa mereka pulang!"


"Tidak Kaysan izinkan, jika nanti di tanah Jawa mereka hanya dihukum oleh Ayahanda."


"Ayahanda pasti senang jika tahu kalian akan memiliki anak." jelas Ibunda meluluhkan hati Kaysan. Kaysan tersenyum sinis, ia menggeleng cepat.


"Belum saatnya, Ibunda. Jujur Kaysan senang Ibunda datang ke sini, tapi tidak saat Ibunda memintaku untuk pulang." Kaysan menunduk.


"Bagiku disinilah rumah, tempat aku kembali tanpa merasa dihakimi 'perasaaan', Ibunda bisa datang kesini lagi. Kami tidak akan pindah ke tempat lain." Kaysan mencium punggung tangan Ibunda.


"Maaf Ibunda, maafkan Kaysan dan Rinjani." ucap Kaysan.


Ibunda menghela nafas panjang. Bagi Ibunda, Kaysan tetaplah anak keras kepala. Keinginannya tidak bisa di manipulasi oleh orang lain, jika bukan dari hati nuraninya sendiri.


"Berjanjilah untuk kembali. Rumahmu tidak disini, tapi dirumah tempat dimana ari-arimu dikubur."


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2