
"Ada apa cucuku, kenapa sedaritadi hanya melamun saja?" Eyang Dhanangjaya duduk di depanku.
"Bosan eyang." kataku, aku masih merebahkan diri diatas sofa. Menghidupkan televisi yang menyiarkan berita terkini.
"Eyang, apa mas Kaysan di sekolah banyak yang mendekati?" tanyaku. Akhir-akhir ini, rasanya sepi memang mendera hati. Terlebih hari menjelang pentas teaterikal adalah hari-hari paling mendebarkan untuk semua pemain sekaligus guru pengajar.
"Suamimu slalu bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Ia hanya professional melakukan hal yang menjadi tumpuannya sekarang." Eyang Dhanangjaya tersenyum.
"Bukannya eyang adalah pengasuh mas Kaysan sejak kecil. Ceritakan eyang, bagaimana masa kecil mas Kaysan."
Eyang tertawa, ia menerawang jauh kenangan 35 tahun silam. Saat seorang orok keluar dari Gua Garba Ibunda.
Seorang anak laki-laki yang menjadi cikal bakal calon Raja. Kulitnya putih, berselimut bercak darah dan cairan plasenta. Diam, tak menangis seperti orok pada umumnya.
"Sudah sejak lahir suamimu pendiam, ia tak menyusahkan ibunya. Hanya saat-saat lapar saja dia akan menangis dengan keras."
Eyang Dhanangjaya tertawa, ia menggeleng, "Cucuku ini rahasia."
...Aku mengangguk....
"Suamimu masih ngompol saat berusia lima tahun."
Aku tertawa, "Lagi, eyang. Ceritakan lagi." Pintaku. Mengulik masa kecil mas Kaysan sepertinya perlu. Agar aku tahu kelak janin yang aku kandung lebih mirip siapa.
"Dahulu hingga sekarang, jika berada di pendopo agung harus menggunakan baju kejawen. Tapi suamimu ngeyel, dia memang terlahir menjadi pembangkang, terlebih sekarang istrinya justru ikut dalam proses pembangkangan."
...Eyang masih tertawa....
"Kaysan kecil memang seperti itu, dia tidak mau diatur, dia hanya mau melakukan apa yang dia suka. Hingga akhirnya, Rama terlahir. Ia mengambil alih perhatian Ayahanda, kedua anak itu sedaridulu tidak akur, Kaysan yang memiliki sifat keras dan seenaknya, bertemu dengan Rama yang memiliki sifat pendiam dan penurut. Kaysan cemburu, pelan-pelan ia mulai belajar tata krama dalam istana dan paugeran keraton."
Eyang Dhanangjaya menghela nafas.
"Kedua anak itu memiliki gelar pangeran saat remaja, tapi Ayahanda tidak berminat mengangkat Rama anak kesayangannya sebagai calon Raja. Ia lebih memilih Kaysan untuk meneruskan kedudukannya. Baginya darah Kaysan begitu menggambarkan darah Sultan Agung. Tapi tidak untuk yang satu itu, Kaysan setia seperti Juwita Ningrat."
"Apa eyang juga tahu, kenapa sampai saat ini mas Kaysan menjadi pendiam, dan tak mau mengutarakan keluh kesahnya?"
"Waktu dan pelajaran hidup yang menjadikannya seperti sekarang. Kamu beruntung saat bertemu dengan Kaysan, ia sudah mengikhlaskan segalanya. Biarkan saja dia seperti itu, kamu dan anak kalian cukup menemaninya. Karena ia juga sedang melakukan yang terbaik untuk kalian." Penjelasan eyang Dhanangjaya cukup besar membuatku mengerti, jika Kaysan memang paket lengkap seorang suami. Ia akan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang ia putuskan ,dan ia tahu risikonya. Haruskah aku bahagia, diatas semua luka yang pernah menggores hati Kaysan. Hingga ia lebih memilih menjadi, My introvert husband.
"Apa menurut eyang, aku pembawa sial?"
"Cucuku, tidak ada orang yang dianggap pembawa sial. Semua bayi yang terlahir memiliki kesucian, ketulusan dan kejujuran. Hanya saja, semua memang sudah ada garis takdir. Entah dewasa kelak akan seperti apa, maka setiap bayi yang terlahir harus mau menata dan ditata. Terlebih untuk keturunan Ningrat."
"Eyang, tidak marah waktu mas Kaysan meminta eyang untuk ikut kesini? Apalagi eyang sudah tua, sudah seharusnya istirahat di rumah dengan cucu dan keluarga."
"Eyang sudah terbiasa mengembara, dan disinilah eyang menemani cucu eyang yang butuh wejangan-wejangan kehidupan, agar nantinya kamu dan Kaysan bisa berdiri tegak dengan batin yang kuat." Eyang beranjak berdiri, "Eyang akan mengajarimu meditasi, agar jiwamu tenang."
Meditasi? Itu diluar perkiraanku.
*
Taman belakang adalah tempat yang di pilih eyang Dhanangjaya untuk melakukan meditasi. Suasana yang tenang dan sejuk, membuat meditasi kali ini dengan mudah aku lakukan. Terlebih sebelum aku memutuskan untuk mengiyakan ajakan eyang. Aku sudah mengisi perutku banyak-banyak.
Setelah niat ingsun. Aku duduk bersila dengan punggung yang tegak. Mataku terpejam, memusatkan pada teori-teori klasik tentang kehidupan yang diucapkan oleh eyang Dhanangjaya.
"Setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan harus bisa di pertanggungjawabkan."
__ADS_1
Pikiranku hanya terpusat pada Kaysan. Segala perkataan yang aku ucapkan tak jauh-jauh dari Kaysan.
Perbuatan yang aku lakukan hanya untuk Kaysan.
Pusat kehidupanku hanya pada laki-laki yang sudah menaruh benih di rahimku.
Hingga sentuhan itu mulai merayapi tubuhku. Sentuhan laki-laki yang menjadi pusat pikiranku.
Aku terkekeh kecil. Sentuhan lembut itu sangat mengelikan. Tapi ini benar-benar mengusik kalbuku.
Aku berusaha menepis tangan itu. Hampa.
"Itulah sebabnya jika yang ada di dalam pikiranmu hanya Kaysan. Tujuan meditasi adalah mengosongkan pikiran agar menciptakan suasana jernih di dalam ragamu." ucap eyang Dhanangjaya.
Aku terciduk melakukan kesalahan.
"Maaf eyang. Mas Kaysan memang pusat hidupku."
"Terimakasih."
Suara itu berasal dari belakangku. Aku membuka mataku, ku lihat Kaysan sudah berdiri di samping pintu. Benarkah dia Suamiku, atau hanya halusinasi sesaat karena aku terlalu merindukannya.
"Eyang. Apa dia nyata?"
"Coba saja perhatikan, apa kakinya menginjak lantai?" kata eyang.
"Iya eyang. Dia menginjak lantai dan tersenyum lebar."
"Sambutlah."
"Sedang apa?"
"He-he-he. Mas Kaysan benar-benar pulang."
"Iya, sudah tidak banyak yang di kerjakan." jelasnya. Aku tersenyum senang.
"Mbah Atmoe sedang mengajariku meditasi, tapi aku belum bisa. Karena mas menghantui pikiranku." Aku mengusap dada Kaysan.
"Mas pasti lelah, lebih baik kita tinggalkan Mbah Atmoe disini." pintaku penuh maksud.
"Meditasi tidak bisa dilakukan hanya dalam sekali waktu, kamu harus tahu itu." Kaysan merangkul pundakku, ia mengajakku untuk ke ruang makan.
"Sudah minum susu?" Kaysan berdiri di depan coffee maker. Tangannya berkutat dengan biji-biji kopi.
"Mas sendiri sudah belum?"
"Belum."
Kami berdua tertawa.
"Sabar ya sebentar lagi masuk trimester kedua."
Kepulan asap kopi itu membumbung tinggi. Diiringi suara gemericik air di kamar mandi. Membuat sore ini begitu hangat untuk dilewatkan begitu saja.
"Ada banyak hal yang baru aku tahu. Percayalah jika mas Kaysan adalah pejantan tangguh."
__ADS_1
"Semenjak kamu hamil, kamu lebih banyak memujiku. Ada apa? Apa aku terlihat menyedihkan." Kaysan memincingkan matanya.
"Aku tidak memuji, tapi itu kenyataan. Aku semakin tidak ingin jauh-jauh darimu, Mas."
"Kamu bucin?" tanya Kaysan.
"Ha-ha-ha. Kita ini memang budak yang di butakan cinta mas. Sudah ah. Jani siapkan baju ganti. Mas mandi. Bau acemm." Aku mengapit hidungku. Pura-pura bau dengan bau ketiak Kaysan.
Kaysan yang usil menarik tanganku dan membenamkan wajahku pada ketiaknya.
Aku meronta-ronta, ku pukul-pukul dada Kaysan. Ia semakin tertawa. Bau ketiak Kaysan benar-benar menyengat. Tak seperti dugaan ku sebelumnya.
Aku mual...
Sekuat tenaga aku melepas diri dari cengkraman Kaysan.
Kaysan yang puas mengerjai ku melepas tangannya. Ia terkekeh, namun wajahnya seketika berubah menjadi kepanikan saat
wajahku merah menahan muntah.
Aku berlari cepat ke dalam kamar mandi.
Isi perutku merangkak naik, hingga mulutku menyemburkan cairan pahit dan getir.
Kaysan memijat leher belakangku. Ia menepuk punggungku.
Membayangkan bau ketiak Kaysan membuatku mual kembali.
"Maaf, dik. Maaf." ucap Kaysan menyesal.
Aku membasuh wajahku dan mengguyur muntahan di dalam kloset.
"Apa yang kamu lakukan itu JAHAT, mas!"
"Aku gak sengaja, Dik. Aku kira kamu masih menyukai bau ketiakku."
"Aku memang suka, tapi bayi ini yang gak suka mas. Mambu!" Selorohku.
Kaysan tersenyum simpul.
"Belum juga lahir, sudah gak suka sama ayahnya. Sedih hatiku, Dik." Kaysan mengusap-usap perutku.
"Apa ayah jahat? Apa karena ayah tidak menemanimu akhir-akhir ini? Katakan?" Ia berbicara pada perut yang belum juga terlihat menonjol.
Aku mengusap pucuk kepala Kaysan.
"Mas tidak jahat. Anak ini saja yang manja, maunya yang enak-enak."
"Karena anak ini dibuat karena perbuatan enak-enak, Jani."
"Aku lemas, habis muntah tadi mas. Lebih baik kita ke kamar. Dan, aku harap mas buruan mandi."
Langkahku gontai menuju kamar, sedangkan Kaysan ke dapur untuk membuat teh hangat. Ia juga berpesan untuk tidak perlu membuat sajian makan malam. Karena ia yang akan mengambil alih tugasku.
Benar kata eyang Dhanangjaya. Kaysan memang tidak mudah untuk ditebak. Apa yang ia lakukan slalu mengejutkan. Terlebih untukku, menjadi perempuan dan istri harus mau menata dan ditata. Karena aku adalah cerminan lain dari diri Kaysan.
__ADS_1
Happy Reading ๐