Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antologi cerpen [ Nanang VIII ]


__ADS_3

Hammersonic festival.


"Gila... Panggungnya keren banget." Aku berdecak kagum saat melihat begitu mempesonanya panggung yang akan memeriahkan gelaran musik metal terbesar di Indonesia hari ini. Atmosfernya sudah memanas sejak tadi, sejak kami tiba di gerbang masuk ke pantai karnaval Ancol. Banyak sekali orang


Tata letak lampu yang megah dan alat musik yang di bawa langsung oleh setiap band pengisi membuatku semakin beruntung bisa datang ke sini.


"Rinjani bakal nyesel gak ikut ke sini. Dia terlalu nurut sama mas Kaysan." timpal Nina.


"Dia gak bakal nyesel! Mas Kaysan menggantinya dengan jalan-jalan ke Bali. Honeymoon lagi." ujarku sambil memotret suasana. Kenangan ini akan menjadi kenangan paling liar yang pernah ada. Headbang dengan iringan distorsi musik dari band-band luar biasa yang begitu mengguncang pecinta musik underground Indonesia.


Aku merinding... Banyak sekali personil dari band-band lokal yang turut hadir disini. Kami tumpah ruah memakai baju berwarna hitam dengan font-font yang sulit dibaca. Banyak sekali kepulan-kepulan asap rokok yang keluar dari mulut seraya menikmati udara pantai yang sepoi-sepoi dan panas.


"Makan dulu yuk. Acara masih lama di mulai." Ajak Nina. Hijabers metal itu adalah salah satu dari tiga belas orang yang ikut dalam rombongan. Salah satu Metalhead yang menjadi pusat perhatian karena memakai jilbab diantara mereka yang memilih memakai celana jeans pendek dan santai.


Pernah suatu ketika aku bertanya tentang kesukaannya pada musik metal sedangkan ia memilih menutup auratnya. Nina hanya terkekeh kecil, "Agamaku menyuruhku untuk menutup aurat sejak akhil baligh, sedangkan kesukaanku terhadap musik metal adalah untuk mengetahui sisi lain dari diriku. Aku suka seperti ini yang penting kata Bapak tetap menjaga diri."


"Gak risi ngumpul bareng cowok-cowok?"


"Selama itu di batas yang wajar ngapain risi. Lagian kalian kalau gak ada yang ngawasin suka kebablasan. Aku ini satpam kalian, biar nanti kita masuk surga bareng-bareng!"


Nina memang berhati mulia, terlepas dari niatannya untuk diet beberapa Minggu lalu yang membuatku syok berat. Berhari-hari aku mendapat teror ledekan dari mas Kaysan dan Rinjani jika Nina diet untukku. Sesuatu hal yang jauh sekali dari pikiranku bahkan hingga saat ini.


Kami memilih menepi di sekitar lokasi yang memiliki peneduh. Penat, capek, bau menjadi dominasi keadaan saat ini. Kami berangkat tadi malam menggunakan transportasi kereta api karena kami memang tidak berencana untuk menginap di ibu kota. Lepas acara selesai, aku dan rombongan memutuskan untuk langsung pulang ke tanah Jawa.


"Yang lebih gila dari acara ini adalah makanannya. Mahal banget ***! Di Jogja pecel 25rb bisa dapet 5 bungkus udah tambah gorengan. Disini. Ambyar." gerutu salah satu temanku yang langsung membuat semua tertawa.


"Ibumu udah bilang to kemaren bawa makanan yang banyak. Bawa bekal. Ngeyel!" timpal teman satunya.


"Aku emang anak ibu, tapi aku malu, anak metal kok bawa bekal!" sanggahnya yang semakin membuat kami tertawa, terlebih kami membicarakan dengan bahasa Jawa yang membuat sebagian pengunjung lainnya penasaran.

__ADS_1


"Anak metal juga manusia. Kalau lapar ujungnya cuma nyusahin!"


"Hahaha... Benar banget!"


Candaan ini masih menjadi hal yang menghibur sembari menunggu waktu sholat dhuhur.


*


IN DEATH WE TRUST


IN BRUTALITY WE BLAST


Suara itu menggema laksana auman singa. Menggelegar penuh dengan semangat dan peluh yang bercucuran dengan derasnya. Desak-desakan tak bisa dielakkan lagi. Kami berlomba-lomba mendapat tempat terdepan untuk menyaksikan band-band luar biasa dari dekat. Memang ada beberapa stage yang di sediakan pihak penyelenggara, dan stage Empire inilah yang menjadi panggung untuk puncak acara.


Nina memilih untuk menjaga barang bawaan kami dan berada jauh dari arena panggung. Ia juga yang membawa kameraku untuk mendokumentasikan acara, sedangkan aku sudah meringsek masuk ke dalam arena mosh pit. Ruang gerak penuh kebebasan.


Siapa bilang anak Ningrat tidak bisa seperti anak-anak lain pada umumnya. Banyak diluar sana 'Ningrat' yang memilih untuk menutupi jati dirinya demi kesetaraan sosial dalam kehidupan sehari-hari.


Di arena mosh pit, aku bisa meluapkan kegembiraan sekaligus emosi, aku bisa leluasa bergerak lincah seperti putaran gasing. Hingga akhirnya, gerak-gerak liar bak baku hantam tak bisa aku hindari.


Aku merasakan hidungku nyeri dan mengeluarkan darah.


Terhuyung-huyung aku keluar dari lautan manusia. Semua sudah terbius distorsi hingga melupakan kawan atau lawan dan itu hal biasa yang terjadi di arena mosh pit.


Tanganku sudah berlumuran darah, aku kebingungan untuk mencari jalan keluar dia antara ribuan massa yang tidak


"AIR PANAS! AIR PANAS! Minggir!" teriakan dari teman rombonganku. Ia merangkul bahuku sembari menyibakkan orang-orang yang menghalanginya laju jalanku.


"Njirr... raimu! Sesok meneh nek arep ndelok metalan nganggo klambi kejawen karo gowo tulisan anak Raja. Men penak rasah uyel-uyelan!" [ Njirr... Wajahmu! Besok lagi kalau mau lihat metalan pakai baju kejawen sama bawa tulisan anak Raja. Biar enak gak usah uyel-uyelan! ]

__ADS_1


Aku tak menggubris perkataannya. Emang enak bawa-bawa anak Raja. Yang ada tingkah lakuku nanti akan di nilai banyak orang. Anak Raja kok petakilan!


Dari kejauhan Nina sudah melihat keberadaan ku. Ia beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiriku.


"Kok bisa?" tanyanya. Aku menggeleng.


"Diperiksa, Nin. Di obatin, dia butuh pertolongan pertama!" ujar Restu. Nama temanku yang mempunyai ibu juragan nasi rames.


Nina hanya berdehem, ia membuka tas ranselnya dan mengambil peralatan P3K. Restu menunggu sebentar untuk memastikan jika aku tidak perlu di bawa ke rumah sakit. Perhatiannya memang suka berlebihan dan kadang membuat sebagian wanita yang ia dekati menjadi baper.


"Aku pergi dulu. Band favoritku bakal on stage!" Restu berlalu pergi. Sedangkan Nina sudah bersiap dengan tissue basah di tangannya.


"Sorry ya. Ini memang gak nyaman." ujar Nina. Ia mengamati wajahku lekat-lekat sembari membersihkan darah di hidungku.


Kesabarannya dan sikap keibu-ibuannya memang tidak di ragukan lagi. Bahkan saat ia berpacaran dengan Aswin yang termasuk tipikal bad boy.


Nina tersenyum, pipinya terlihat semakin tembam. Entah dietnya berhasil atau enggak aku gak peduli. Bagiku Nina memang sahabat yang baik.


"Kalau masih nyeri minum parasetamol." katanya sambil menaruh sebutir obat di atas botol air mineral.


Aku terkekeh, "Makasih, Nin. Semoga kebaikanmu dibalas dengan kebaikan."


"Amin." jawab Nina singkat. Gadis itu kembali merapikan kotak P3Knya.


Berhubung aku sudah tidak minat untuk berada di kerumunan massa yang hampir sebagian gila. Aku memutuskan untuk duduk bersama Nina. Kasian juga dia, jauh-jauh ke ibu kota dengan tiket masuk yang lebih dari satu juta hanya menikmati kemeriahan acara ini dengan sendirian.


Rasanya tidak adil, kami harus menikmatinya bersama-sama seperti saat kami menggoda Rinjani yang hampir membuatnya dan mas Kaysan bertengkar.


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2