
Kaysan menatap istrinya yang sedang memejamkan matanya. Malam ini Rinjani cantik sekali, ia mengenakan dress broken white mewah pilihan Kaysan. Ia tampak anggun dengan paduan riasan wajah yang natural.
Walaupun terimpit perut buncit. Kaysan dan Rinjani masih berdansa. Senyumnya mengembang, saat aura Rinjani sangat berbeda malam ini.
Rinjani memeluk Kaysan sangat posesif, membuat Kaysan tergelitik menggoda Rinjani.
"Baba kesulitan bernafas bubu, lepaskan."
Rinjani menggeleng, ia malah membenamkan semakin dalam di dada Kaysan.
Dalam pelukan suaminya, wajah Rinjani berseri-seri. Membuat Kaysan semakin enggan untuk berpisah dengan Rinjani.
"Raden Ayu Dalilah Sekar Kinasih. Petunjuk jalan menuju cahaya terang, bunga kesayangan." Bisik Kaysan di telinga Rinjani. "Nama anak kita."
Rinjani mengangguk, ia masih membisu. Membiarkan lantunan lagu mewakili perasaannya.
Terdalam yang pernah kurasa
Hasratku hanyalah untukmu
Terukir manis dalam relungku
Jiwamu jiwaku menyatu
Biarkanlah kurasakan
Hangatnya sentuhan kasihmu
Bawa daku penuhiku
Berilah diriku kasih putih
Di hatiku...
Kasih putih - Glenn Fredly.
"Rinjani."
"Apa?"
"Cerewet."
"Mas apa sih. Tidak romantis."
"Ha-ha-ha."
Kaysan membungkuk. Membuat kening mereka bersentuhan, "Bagaimana menurutmu dengan nama anak kita?"
"Terimakasih mas nama anak kita bagus, dan sesuai dengan yang aku harapkan."
Rinjani mengecup bibir Kaysan pelan.
"Hanya kecupan?" Rinjani tampak bingung. Karena tak jauh dari mereka ada Ayahanda dan Ibunda sedang berdansa dengan gaya mereka sendiri, begitu juga dengan Herman dan Laura. Ayahanda menyewa ballroom private untuk mengadakan pesta kecil-kecilan.
Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya memilih duduk di depan perapian ditemani pramusaji cantik yang menyajikan makanan bertaraf hotel bintang lima. Senyum mereka semringah seakan-akan itu adalah hadiah dari buah manis mereka ikut tinggal di Australia.
Sementara si kembar dan Keenan bersandar di tembok dengan ratapan lelah.
"Apa kita hanya menjadi figuran disini, rasanya hidupku menyedihkan jika terus berada di sini, terlebih melihat mereka yang mengumbar kemesraan." Sadewa berdecak kesal, ia menyesap anggur merah dari gelas sloki miliknya.
"Hubungi saja Irene, dia akan datang jika kamu bilang akan pulang besok pagi."
Secercah harapan Sadewa temukan, ia menenggak habis anggur merah dan mengambil ponselnya.
"Thanks, Lil bro." ucap Sadewa, ia menepi untuk menelepon Irene.
Keenan tertawa, "Saudaramu sepertinya gila cinta, berbeda denganmu."
Nakula hanya berdehem, "Kamu yakin tidak ikut kami pulang?"
Keenan menggeleng, "Aku harus menamatkan pendidikan SMAku dulu, dan menunggu mama menikah."
Nakula tertawa, "Kamu yakin betah menjadi adik Mbak Jani?"
Keenan menengadah, sedaritadi segelas anggur merah miliknya hanya ia genggam ditangannya.
"Aku hanya mau mama senang, bro. Mbak Jani mudahlah, dia hanya cerewet, itu saja."
Nakula mengangguk setuju, "Aku akan menunggumu di tanah Jawa. Sekarang, ada baiknya kita ikut bersenang-senang."
Nakula mengangkat gelas sloki miliknya, di ikuti gelas Keenan yang terangkat ke udara. Mereka mendentingkan gelas itu dan menenggaknya.
"Best wine." ucap Keenan.
__ADS_1
Sadewa bersiul riang, alisnya berkali-kali terangkat, "Irene akan kesini."
Nakula dan Keenan saling melempar pandang, mereka hanya mengangguk dan meneruskan pesta semalam.
Musik berhenti, Kaysan mengecup kening Rinjani.
"Malam yang indah untuk kamu yang terindah."
Rinjani melebarkan gaunnya dan menekuk salah satu lututnya.
"Terimakasih pangeran."
Senyum kedua insan itu merekah, membiarkan kesedihan mereka terjeda sesaat.
Kaysan berjongkok, ia mengecup perut Rinjani berkali-kali, "Dalilah Sekar Kinasih, jangan menyusahkan bubu saat baba tidak ada. Mengerti?"
Seakan tahu ucapan Kaysan, sang jabang bayi menendang.
"Kamu sudah ada yang menjaganya, ingat dalam alam bawah sadarnya, putriku juga merasakan apa yang kamu rasakan. Bahagialah dan slalu menyematkan afirmasi positif dalam setiap kegiatanmu. Kelak dia akan meniru, dan mencontoh perilaku kita meskipun Dalilah belum terlahir."
Rinjani mengangguk, "Dalilah..." ucapnya sembari mengusap perutnya.
*
Semua keluarga berkumpul, menghabiskan waktu dimeja makan untuk menikmati makan malam sebelum mereka kembali ke kamar masing-masing.
"Bagaimana Kay, sudah kamu urus surat penting pengoperasian pabrik gula?" Ayahanda menatap was-was Kaysan yang sangat menyayangkan pemberhentian sementara pengoperasian pabrik gula. Bukan karena materi yang diperoleh dari pabrik gula yang cukup banyak, tapi banyak pekerja yang harus dirumahkan dengan alasan tidak ada pengolahan sari pati tebu. Pabrik akan beroperasi saat musim panen, dan memerlukan proses panjang hingga akhirnya terbentuklah gula pasir seperti dipasaran.
"Memang ada kerugian, tapi hanya sekali pabrik tidak beroperasi. Biarkanlah begitu sampai aku pulang nanti. Lagipula ini belum waktunya panen." jawab Kaysan. Tangannya sibuk menyuapi ibu hamil di depannya dengan sepiring tenderloin steak.
"Pabrik pengolahan minyak goreng aku serahkan kepada Panji. Ia akan tenang dan tak akan mengusikku sampai kamu pulang." jelas Ayahanda yang membuat Kaysan berpikir bahwa Panji memang sudah di luar batas.
"Ayahanda bisa menaruh orang kepercayaan untuk mengawasinya. Jangan biarkan dia menjalankan bisnis itu sendiri." Peringatan Kaysan yang membuat Ayahanda mengangguk.
"Terimakasih putraku, jagalah dirimu baik-baik disini. Karena sejatinya laki-laki memang harus pintar memilah mana katresnanan dan mana tanggung jawab. Itulah sebabnya Ayahanda memilihmu sebagai pengganti ku."
Ibunda tersenyum lega. Tak ada perseteruan lagi antara kedua laki-laki yang menjadi sumber rasa bahagia dan sedihnya.
"Kay, setelah ini ajak Rinjani istirahat. Ingat, tidak ada urusan ranjang!!! Rinjani harus istirahat cukup."
Rinjani tersenyum, Kaysan mengangguk.
Berbeda dengan Sadewa yang tertawa mengejek mereka berdua. "Tidur yang nyenyak mas, Mbak. Jangan lupa untuk berdoa."
Ting...
Pintu lift terbuka lebar, seorang gadis berambut pirang nan panjang berjalan keluar dari dalam lift.
Kepalanya clingukan mencari seseorang yang mengundangnya untuk datang ke hotel dekat bandara.
"Irene..." Panggil Sadewa.
Irene melambai padanya. "Sadewa..."
Kedua manusia itu sama-sama berlari kecil dan merentangkan tangan. Mereka berpelukan, dan mendaratkan kecupan singkat di pipi secara bergantian.
Irene yang memakai mantel tebal membuat Sadewa merasa bersalah karena telah menyuruhnya keluar rumah saat cuaca di luar begitu dingin.
"Maaf Irene." ucap Sadewa.
Irene tertawa kecil, "Aku yang minta maaf karena baru saat ini aku bisa menemuimu. Ini buat kamu." Irene memberikan Sadewa sebuah miniatur pesawat.
"Semoga saja aku bisa terbang ke negaramu." ucap Irene, ia menarik salah satu tangan Sadewa, "Aku tidak bisa lama karena papa menungguku di lobby. Sadewa, aku perlu kejelasan tentang hubungan kita?"
Sadewa terkesiap, ia tersenyum simpul.
"Long distance relationship, apa itu tidak masalah untukmu?"
Irene menggeleng, "Tidak, asalkan kamu tidak berubah. Tetap menjadi Sadewa yang aku kenal sejak awal bertemu."
Sadewa ingin bersorak gembira, tapi ia tahan karena setau Irene. Sadewa adalah laki-laki yang kalem---ia meniru sikap kembarnya saat berpacaran dengan Rahma.
Dari kejauhan tampak Nakula dan Keenan mengendap-endap mengintip pertemuan Sadewa dan Irene. Mereka di buat terkejut saat Sadewa sudah mendorong tubuh Irene hingga membentur tembok.
"Gawat, bro. Sadewa bisa mati jika papa Irene tahu Sadewa mencium putrinya." Bisik Keenan yang membuat Nakula berbalik.
"Memang siapa keluarga Irene?"
"Petinggi kepolisian." jawab Keenan yang membuat Nakula berlari ke saudara kembarnya.
Sadewa yang hampir melabuhkan bibirnya di bibir Irene terkejut sekaligus marah.
"Jangan, nanti kamu mati di tembak Bapaknya." ujar Nakula. Keenan tertawa, ia berhasil mengerjai si kembar yang membuatnya selalu kalah jika berhadapan dengan mereka berdua.
__ADS_1
"Ciuman hal biasa disini, tapi tidak jika kamu menjadikan Irene pelampiasan nafsumu karena menginginkan nikah muda."
Irene yang melihat Keenan juga ada berada disitu tertunduk malu.
"Kalian berdua benar-benar tidak pernah memberiku kesempatan bersenang-senang."
Nakula menepuk pundak kembarannya.
"Sudahlah, belum saatnya kita melakukan itu."
"Belum saatnya! Kamu harus ingat, pacarmu wanita dewasa. Bisa jadi dia menginginkan pernikahan tapi tak berani mengatakan karena kamu masih seorang mahasiswa!"
Nakula jengkel, ia menepis bahu saudaranya. "Kak Rahma tidak begitu." ucapnya membela diri.
"Jangan munafik saudaraku, kita ini kembar. Kita sudah punya intuisi sejak kita di dalam rahim Bunda." Sadewa dan Nakula berdebat.
Keenan memberi isyarat kepada Irene untuk membuat Sadewa diam. Irene yang bingung akhirnya menuruti keinginan Sadewa untuk mengecup bibirnya. Hanya sekilas, bahkan tak terasa hangatnya bibir keduanya.
"My first kiss." ucap Irene ia tersipu malu, namun Sadewa yang mendapat kecupan tiba-tiba membulatkan matanya saat mendengar suara tepuk tangan.
*
Kaysan bermaksud membeli beberapa makanan di restoran hotel saat Rinjani terus merengek masih lapar dan tak bisa tidur. Saat hendak menuju lift, ia mendapati tontonan menarik.
"Mas tidak pernah mengajari kalian seperti ini. Bahkan dulu saat berpacaran dengan Rinjani, mas tidak pernah menyentuhnya. Berbeda dengan yang kalian lakukan bertiga. Jelaskan apa yang terjadi?"
Sadewa yang merasa terintimidasi merasa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Maaf mas, Irene hanya bermaksud memberi salam perpisahan sebelum aku pulang."
"Hanya itu?" tanya Kaysan curiga.
"Hari ini Irene resmi menjadi pacarku."
Kaysan rasanya ingin tertawa, tapi sayangnya ia sedang bersikap layaknya seorang kakak yang menasehati adiknya.
"Dengan siapa dia datang?"
"Papanya di lobby." jelas Sadewa. Nakula dan Keenan mundur teratur.
"Ayahanda tidak mengajari anak laki-lakinya untuk menjadi pecundang. Antar dia kembali ke orangtuanya."
Sadewa mengangguk, ia menggandeng tangan Irene. Tapi Kaysan yang mengikutinya membuat Irene enggan di gandeng oleh Sadewa. Ia melepasnya---paksa.
Kaysan tersenyum dan tak tega melihat kedua insan di depannya terlihat canggung, "Kalau hanya bergandengan tangan boleh. Mas pura-pura tidak melihatnya."
Kaysan berbalik, ternyata asyik juga mengerjai orang. Beginikah yang dirasakan Rinjani saat ia sedang mengusili aku. Hahaha.
Pintu lift terbuka tepat di lantai lobby. Kaysan berpisah dengan Sadewa dan Irene. Sadewa cemas, sedangkan Irene dengan senangnya mengandeng tangan Sadewa.
"Besok aku ikut ke bandara, diantar papa."
"Hmm..."
Seorang laki-laki bertubuh tegap dan kekar menghampiri keduanya. Sadewa semakin cemas saat melihat mesin senapan tergantung pada bahu kirinya.
"Papa, dia Sadewa yang aku ceritakan tadi." Irene bergelayut manja di lengan papanya.
Sang papa meneliti tubuh Sadewa dari atas ke bawah.
"Kecil, tidak berotot, senyum yang kaku."
Sadewa tertusuk hatinya. Wajahnya berubah menjadi masam.
"Bagaimana dia akan menjagamu, Irene."
Irene terkikik kecil, "Papa tetap akan menjadi penjaga ku, karena Sadewa besok akan pulang ke tanah Jawa, Indonesia."
"Jawa, Indonesia?" Papa Irene mengernyit bingung.
Sadewa mengangguk, "Berkunjunglah ke istana Hadiningrat, saya akan menyambut baik kedatangan kalian di bangsal kencana."
Sadewa membungkuk hormat.
"Dia anak seorang Ningrat, papa."
"Ningrat?" Sang papa semakin tak mengerti.
"Darah biru."
Sang papa lantas memberikan penghormatan kepada Sadewa. Sadewa mengangguk, ia bingung sendiri menghadapi situasi yang membuatnya gila sendiri.
Lebih baik aku lulus kuliah dulu, sebelum memikirkan nikah muda. Gawat urusannya jika mertuaku bawaannya pistol. Salah sedikit, dor.... Mampus.
__ADS_1
Happy Reading ππ