Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 36. [ Ingin ingkar ]


__ADS_3

Aku mengangguk. Bermain api dalam kamar, yang benar saja, terlalu mengada-ada pikirku. Juwita Ningrat akhirnya berlalu keluar dari kamar.


Kaysan duduk di depanku, tangannya yang kaku itu mulai menyuapiku. Aku bagikan anak kecil yang ditawari es krim untuk menurutinya.


Hingga isi piring itu tandas, Kaysan mulai buka suara, "Lapar ya." Godanya sambil tersenyum, ia mengambil obat dari kantong plastik dan menyiapkan tiga butir obat untukku.


"Minumlah, rasanya manis." bujuknya seperti membujuk anak balita untuk minum obat.


"Aku sudah sering menelan pil pahit kehidupan mas." kataku mengambil butiran obat itu dari tangannya.


"Rinjani, poros kehidupan akan slalu berputar, Bersabarlah."


"Terimakasih mas sudah menemukan ibu, terimakasih untuk waktu yang mas luangkan untuk ku. Mas... bagaimana jika Rinjani ingkar janji?"


"Maksud kamu apa, Rinjani?"


"Aku tidak pantas bersanding denganmu, Gusti pangeran Haryo Kaysan Adiguna Pangarep."


"Sepertinya obatmu sudah mengeluarkan efek samping Rinjani. Istirahatlah, aku akan keluar dari kamar dan membiarkanmu sendiri."


Kaysan mengambil sesuatu dari atas meja. "Bacalah, jika kamu masih tidak percaya jika makam tadi adalah pusara ibumu. Ini adalah bukti-bukti print cctv dan hasil lab forensik mabes polri. Ingat saat rambutmu aku cabut Rinjani, aku hanya ingin memastikan jika yang aku temui salah. Tapi kenyataannya, hasil lab forensik DNA ibumu dan DNAmu hampir sama."


"Mas..." Ku dengar nada suaranya bergetar.


"Istirahatlah, nanti sore akan ada abdi yang membantumu bersiap untuk hantaran Do'a." Kaysan keluar dari kamar dan menutup pintunya. Ya Tuhan, apa aku salah lagi.


Ku lihat jam dinding menunjukkan pukul satu siang. Masih ada banyak waktu untukku beristirahat dan memikirkan Kaysan.


*


Sore harinya, aku sudah terduduk di sisi ranjang. Ku dapati pintu kamar terbuka lebar, dua orang abdi menghampiriku.


"Sudah enakkan cah ayu?"


"Ayo Mbok bantu mandi dan bersiap-siap."


"Mbok?" panggilku.


"Mbok Ratmi dan Mbok Darmi. Kami abdi yang disuruh GPH Kaysan untuk membantu cah ayu mandi dan bersiap-siap."


Mataku membulat, membantu mandi? Hallo, aku benar-benar seperti anak kecil jika mandi harus dimandiin.


"Mbok Darmi, Jani bisa mandi sendiri."


"Kami hanya menjalankan titah cah ayu."


"Mbok, tapi Rinjani baru haid. Tidak mau jika harus dimandikan."


Mbok Darmi dan Mbok Ratmi saling bertatap muka, mencari persetujuan.


"Mbok cukup mengantar Rinjani ke kamar mandi saja. Jani tidak tahu tempatnya." kataku tersenyum.


"Baik cah ayu. Ayo Mbok bantu jalan." Mbok Darmi memapah tubuhku, mataku mendelik saat tahu ada bercak darah yang menempel pada seprai Kaysan.


"Mbok, ini gimana? Nanti mas Kaysan marah tidak? Seprainya jadi kotor gara-gara aku." Aku khawatir, aku benar-benar merepotkan Kaysan sampai ke abdi-abdinya.


"Tenang cah ayu. Biar diganti Mbok Ratmi. Sudah ayo sekarang kamu mandi biar bersih dan wangi." Tanpa disuruh, Mbok Ratmi mengganti seprai ranjang Kaysan.

__ADS_1


Aku mengamati baik-baik kamar Kaysan, cukup menarik untuk seorang anak raja. Lemari kaca dengan banyaknya baju-baju adat Jawa dengan berbagai motif, ditambah dengan aksesoris berupa keris dan blangkon yang berada dalam satu tempat. Belum lagi banyaknya batu-batuan yang membuat aku bergidik ngeri.


"Jangan menyentuh lemari itu jika sedang halangan cah ayu."


"Kenapa Mbok?" tanyaku penasaran.


"Isinya bukan sembarang keris dan bebatuan."


Aku melongo, "Sudah sampai, mandilah yang bersih dan keramas. GPH Kaysan menyukai rambut yang wangi."


"Iya Mbok." Aku mengangguk.


"Semua sudah disiapkan GPH Kaysan di dalam kamar mandi. Mbok tunggu disini sampai Rinjani selesai."


Kaysan benar-benar membuatku astaga, aku masuk ke dalam kamar mandi. Mengamati baik-baik isinya, setumpuk pakaian dan wewangian ia taruh di walk on closed.


*


Selang 20 menit, aku keluar dengan memakai semua atribut yang Kaysan siapkan. Termasuk pembalut bersayap yang tak bisa terbang. Aku benar-benar meruntuhkan gelarnya sebagai anak Raja.


"Mbok ada plastik tidak?"


"Untuk apa cah ayu?"


"Membungkus baju-bajuku yang kotor."


"Sudah, kamu sudah ditunggu kangmasmu di dalam kamar."


"Mbok... jangan sentuh baju-bajuku. Biar aku saja yang membereskan nanti." titahku sudah seperti Juwita Ningrat.


"Cah ayu..."


Mbok Darmi mengangguk. Kami berjalan lagi menuju kamar Kaysan.


Ku lihat ia sudah duduk di sofa sambil memegang ponselnya.


Mbok Darmi membungkuk, akupun juga begitu.


"Cah ayu sudah siap 'den bagus." Mbok Darmi menunjukku. Kaysan menatapku dari atas ke bawah. Sore ini aku memakai baju terusan berwarna putih seperti baju-baju lawas Noni Belanda.


"Baik, terimakasih Mbok."


Mbok Darmi membungkuk dan berjalan keluar. Kini tinggallah aku sendiri yang kebingungan.


Kaysan menepuk sofa di sebelahnya, "Duduk sini."


Kenapa dia tidak marah, kenapa malah tambah manis sekali dengan balutan baju batik lengan panjang. Auranya semakin terpancar. Membuatku semakin terpesona.


"Ya mas." Aku duduk disampingnya.


"Masih sakit perutmu?"


"Sudah mendingan mas, terimakasih."


"Bagus, kamu cantik seperti gadis jaman dulu."


"Ya mas."

__ADS_1


"Hidup memang slalu berjalan dengan ketidakpastian Rinjani. Maka akan banyak pilihan yang bisa kamu pilih. Setelah ini aku akan membuatmu menentukan pilihanmu, jika iya katakan iya, jika tidak katakan tidak. Aku tidak mau kamu terpaksa untuk menjalani sebuah pernikahan. Karena sejatinya pernikahan adalah sesuatu yang sakral yang aku harapkan untuk sekarang dan masa depan."


"Mas... Rinjani hanya ragu."


"Ragu! katakan?"


"Tadi aku diam-diam mendengar pembicaraan Ibunda dan Nurmala Sari. Jika dismenore yang aku idap bisa mempengaruhi kesehatan reproduksiku. Aku takut tidak bisa memberi mas keturunan." kataku lirih, kepalaku menunduk.


Bukannya Kaysan kecewa dengan keputusanku dia malah tertawa, "Kita bahkan belum mencobanya Rinjani. Lupakan ketakutanmu, itu hanya akan mensugesti dirimu untuk tidak yakin dengan dirimu sendiri. Masih banyak kemungkinan yang bisa dilakukan."


"Mas..."


"Hantaran Do'a sebentar lagi. Ayo kita keluar menuju pendopo, akan ada keluarga Nina dan Bu Rosmini."


"Mas mengundang mereka?"


"Iya, untuk menemanimu."


"Kamu memang mangga tua yang manis Gusti pangeran Haryo Kaysan Adiguna Pangarep." kataku sambil mengedipkan sebelah mataku.


"Jangan menggodaku Rinjani."


Aku terkekeh, "Mas beneran tidak mau menciumku?"


"Tidak!"


"Mas, yakin?"


"Rinjani!"


"Hehe, terimakasih mas. Sudah mau mendalami karakter bersamaku."


"Cukup Rinjani! Jangan memasang wajah seperti itu."


"Kenapa mas?"


"Tidak akan aku pulangkan kamu jika seperti itu."


"Apa aku mengemaskan?"


"Lebih dari itu. Bergabunglah dengan Ibunda dan lainnya."


Aku mengangguk, aku berjalan mendekati kerumunan ibu-ibu yang asik mengobrol. Nina yang menyadari kedatanganku akhirnya berhamburan memelukku.


"Jani... kamu harus kuat. Kamu harus ikhlas, semua yang datang pasti akan pergi. Ridhokan ibumu pergi ke tanah surga."


"Amin. Terimakasih Nina, aku tidak mau melihatmu menangis. Do'amu saja yang aku perlukan untuk ibu."


"Do'aku slalu untukmu, Jani. Bahkan aku sudah mendo'akanmu untuk cepat-cepat dinikahi pujangga hatimu."


"Sssttt, kita bahas lainnya."


"Kenapa?"


"Acaranya sudah mau dimulai."


Malam itu hantaran Do'a untuk ibu berlangsung dengan khidmat. Kaysan sendirilah yang memimpin Do'a-Do'a itu, meminta restu pada ibu untuk meminangku.

__ADS_1


Malamnya Kaysan mengantarku pulang, tanpa melupakan plastik hitam berisi baju-baju kotorku.


Like, love ๐Ÿ™


__ADS_2