
Sebagaimana seorang bayi yang harus melakukan imunisasi. Siang nanti adalah jadwal rutin Dalilah untuk melakukan imunisasi dan timbangan.
Kesibukan baru menjadi seorang ibu, membuatku lebih banyak mencurahkan waktu dengan Dalilah. Menikmati setiap detik perkembangan dan gerak-geriknya. Ada perasaan tak rela meninggalkannya meski hanya untuk mandi sebentar.
Bayi mungil ini benar-benar mengalihkan duniaku, bahkan aku tidak mempermasalahkan jika Kaysan tidak menghubungiku.
Ada banyak ketakutan yang aku rasakan saat menatap Dalilah. Mata jernihnya, hidung bangirnya, dan kelembutan wajahnya membuatku takut, kelak ia akan menjadi gadis cantik yang memiliki segala hal baik yang membuatnya menjadi seorang perempuan 'incaran'.
Aku menitipkan Dalilah pada pengasuh, setelah ia sudah cantik dengan balutan baju bermotif kotak-kotak. Baju pilihan Sadewa dan Nakula. Mereka pikir putriku adalah bidak catur yang membutuhkan tempat untuk berpijak. Atau, mereka pikir putriku siap diajak touring Vespa, karena baju kotak-kotak mengingatkanku pada Nanang yang slalu menggunakan baju berlengan kotak-kotak jika akan pergi touring keliling kota.
Bedak bayi adalah suatu benda yang menyeret ku pada masa dimana aku hanya mampu membelinya untuk dijadikan riasan wajah. Harumnya tidak berubah dan aku masih menyukainya.
Aku tersenyum, sembari mengusapkan bedak bayi di wajahku. Dalilah... kita benar-benar akan bersaing.
"Mbok, Jani mau panggil pak Santosa dulu." kataku sambil membawa tas bayi berisi keperluan Dalilah.
"Nggih, ndoro ayu."
Namanya Mbok Narsih, seorang abdi dalem yang dipilih Ayahanda untuk membantuku dan mengajariku banyak hal dalam merawat seorang bayi.
Santosa kehilangan semuanya. Kebebasan serta urusan pribadi yang harus di pending sementara karena pekerjaan yang membuatnya hanya akan ada di sekitarku. Ayahanda memberinya salah satu kamar putranya untuk dijadikan tempat istirahat sementara sampai Kaysan benar-benar kembali.
"Pak Santosa..." Ku ketuk pintu kamarnya sambil memanggil namanya.
"Pak..."
Pintu kamar terbuka, Santosa yang biasanya menggunakan baju batik dan celana kain kini tampak 'aneh' saat ia memilih menggunakan kemeja santai dan celana jeans. Wajahnya segar seperti habis mandi, aromanya maskulin, rambutnya di tata sesuai umurnya.
Duhai Ayahanda, tidakkah lebih bagus jika Santosa memiliki nama lebih keren sesuai parasnya.
"Kalau mau cari cewek jangan di rumah sakit. Bahaya, nanti bapak disuntik." Ku serahkan tas bayi ke arahnya sambil menahan senyum.
"Kalau saya pakai baju batik dan celana kain. Nanti saya dikira salah kostum, kondangan kok di rumah sakit." Gurau Santosa yang langsung aku angguki.
"Ngomong-ngomong soal kondangan, kapan bapak akan siap menjadi mempelai prianya?"
Santosa menggeleng, "Masih belum terlihat hilalnya, ndoro ayu."
"Jodoh kali..." tukas ku. Santoso tersenyum dan mengangguk.
"Aku ke kamar dulu, pak Santosa siapin mobil."
Persis setelah itu, aku menuju kamar untuk menggendong Dalilah. Mbok Narsih ikut denganku, sebab jika sewaktu-waktu aku dihadapkan pada situasi urgent seperti kebelet pipis atau pup, Mbok Narsih bisa menggendong Dalilah, karena tidak mungkin Santosa si bapak gadungan yang belum ahli mengasuh bayi yang menggendongnya. Bisa-bisa Dalilah justru akan rewel.
Rumah sakit tujuanku adalah rumah sakit swasta milik keluarga Nurmala Sari. Jelas, Ayahanda sudah mempercayakan kepada dokter-dokternya untuk memberikan yang terbaik untuk Dalilah. Dan, segala kerahasiaan data bisa dijamin dengan aman.
__ADS_1
Aku bersyukur, perjodohan dengan Nurmala Sari ataupun sayembara menari waktu itu tidak berbuntut panjang. Nurmala Sari bahkan akan menikah dengan seorang Ningrat yang sudah dipilih orangtuanya. Undangan pernikahan pun juga sudah disebar di kalangan para bangsawan dan tokoh penting negara.
Memasuki ruang Obgyn, aku disambut baik oleh dokter anak yang menangani Dalilah waktu lahir.
"Akhirnya ketemu juga dengan tuan putri." katanya sembari mengambil Dalilah dari gendonganku.
"Berat badan ideal, bagus. Terus beri ASI eksklusif ya bubu Rinjani."
Ingin aku tertawa, ternyata Bu dokter masih mengingat panggilan sayang antara aku dan Kaysan.
"Setelah imunisasi biasanya akan demam, jadi persiapkan mental dan banyak-banyak bersabar." Bu dokter menatapku dan senyumnya mengembang.
Dalilah rewel? Belum pernah aku menghadapinya dan akan seperti apa jika Dalilah nanti menangis.
"Nanti Bu dokter buatkan resep obat. Jangan khawatir." Aku mengangguk pasrah.
Satu suntikan menembus kulit tipis Dalilah, membuatnya terbangun dan wajahnya mulai merah karena menangis.
"Masih ada satu suntikan lagi, bubu Rinjani bisa menyusuinya supaya tuan putri Dalilah tenang."
Aku mengambil posisi duduk, dan menerima Dalilah ke dalam pangkuanku. Sejenak aku menatap Santosa.
"Bapak masih disini? Apa mau divaksin juga?"
"Dasar..." ujarku sambil terkekeh, yang benar saja aku menyusui di depan bujangan. Bisa-bisa nanti pikirannya traveling kemana-mana.
Dalilah semakin meronta-ronta. Tangisnya menggengam seisi ruangan, aku menatap Mbok Narsih untuk meminta bantuan.
"Tenang, ndoro ayu. Jangan panik." ujarnya sambil mengambil Dalilah dari gendonganku. Mbok Narsih menimang-nimang Dalilah, menyanyikan kidung syair yang membuat suara Dalilah sedikit mereda. Aku tersenyum pias, Dalilah tak pernah seheboh ini saat menangis. Mungkin karena kaget, ia menjadi bayi rock n roll. Bu dokter mengelus lenganku, "Itu hal biasa, nanti sampai rumah minumkan obat penurun panas." Aku mengangguk, menatap Dalilah dengan gelisah.
Imunisasi BCG polio 1 saat usai Dalilah satu bulan sudah selesai. Kini kami berempat kembali ke rumah. Aku menyandarkan punggungku di sandaran jok mobil.
"Kenapa, ndoro ayu?" tanya Santosa.
"Seperti seharian ini Dalilah akan rewel." Aku menghembuskan nafas, dan beralih pada paras Dalilah yang merah dan sembab. Sakitnya hanya sebentar sayang, agar kamu kuat. Karena dunia yang akan kamu temui ketika dewasa nanti, akan semakin kejam. gumamku dalam hati, sembari melabuh kecupan di kening Dalilah.
"Nanti saya bantu menjaga Dalilah." ujar Santosa. Ia tersenyum meski matanya fokus mengemudi.
"Yakin?"
Santoso mengangguk.
"Setiap hari saya pantau keadaan ndoro ayu dan Dalilah."
Aku serasa tercekik pada situasi melankolis yang sangat berat. Harusnya Kaysan yang menenangkan gelisah ku sekarang.
__ADS_1
Langit masih membiru, saat kami tiba di pelataran parkir. Dengan hati-hati aku menggendong Dalilah.
"Mbok Narsih istirahat dulu, kamu juga pak Santosa." titah ku kepada dua manusia yang menjadi tangan kananku.
"Ndoro ayu tidak makan siang? Saya harus melaporkan kepada Ayahanda kegiatan ndoro ayu dan Dalilah saat makan siang."
Lagi-lagi aku menghela nafas, ku tatap Santosa dan mengangguk.
"Tolong bawakan ke kamar, karena aku tidak mau meninggalkan Dalilah sendiri."
Santosa membungkuk rendah untuk memberi hormat.
Aku hanya ingin mempercayainya karena aku membutuhkannya, tapi aku tak sanggup lagi berpura-pura jika nanti akhirnya akan menjadi jentaka ; sengsara.
Pun, aku masih tak mengerti banyak hal dalam mengasuh bayi mungil. Meski satu bulan telah lalu, Dalilah hari ini benar-benar rewel.
Aku gelisah, kebingungan, mulutku yang bisa dengan mudah membungkam mulut Kaysan atau si kembar. Namun dengan Dalilah aku kalah, racauan kasih sayang tak mampu mengurangi rasa nyeri di tubuhnya. Sesekali ia terlelap hanya ketika obat penurun panas bereaksi. Setelahnya ia akan merengek.
Dalam sekejap aku sudah ada di depan pintu kamar Santosa. Aku menggedor pintu kamarnya. Santosa menatapku penuh pertanyaan.
Payudaraku nyeri, aku harus mengompresnya dan memompanya. Ini akan menjadi topik 'tabu' untuk dibicarakan dengan Santosa.
"Aku perlu melakukan sesuatu." kataku sambil tersenyum simpul, "Tenangkan Dalilah, sebisa mu asal jangan kamu berikan janji-janji palsu." kataku sambil mengulurkan Dalilah ke tangan Santosa.
"Cantik ikut om Santosa sebentar."
"Nama saya Samudera Adinoto Salahudin Rumi." ucap Santosa, "Kanjeng memanggilku dengan sebutan Santosa agar memudahkan beliau memanggilku." jelas Santosa. Ku angguki, dan terbirit-birit menuju ke dalam kamar.
Aku menyiapkan air hangat untuk mengompres payudaraku dan alat pemompa asi. Setelahnya ritual memompa asi berlangsung selama setengah jam. Setelah selesai, ku bereskan alat pemompa untuk aku bawa ke dapur dan mengambil alih Dalilah. Sudah cukup lama Samudera mengasuhnya. Ia juga butuh istirahat.
Malam ini, ketika aku melewati lorong kamar. Ku dapati Dalilah tidur terlelap di gendongan Santosa.
"Bagaimana bisa?" tanyaku heran. Santosa sama sekali tak memiliki hubungan darah dengan Dalilah, tapi kenapa Dalilah begitu nyaman berada di gendongan Santosa.
"Tidak kamu beri obat tidur kan?" tanyaku lagi.
"Bisa jadi tuan putri Dalilah merindukan ayahnya, jadi dia nyaman berada di pelukan saya, pelukan seorang laki-laki." Alisku merapat. Buru-buru ku ambil Dalilah dari gendongannya.
"Tapi ayahnya Dalilah bukan kamu!" tukas ku. Mendadak Dalilah kembali menangis kencang. Kepanikan melandaku---lagi.
"Biarlah saya gendong lagi, sementara sampai Dalilah tidak demam."
Ada apa ini gerangan, apa Dalilah merindukan pelukan hangat Kaysan---atau dia sudah genit dengan laki-laki tampan yang menggendongnya. Dia terlihat begitu tenang saat ditimang-timang Santosa. Astaga, jangan sampai Dalilah menyukai om-om. Jangan sampai!!!
Happy reading ππ
__ADS_1