Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Permainan menunggu V ]


__ADS_3

Aku mengatupkan kedua tanganku, memohon agar Ayahanda mengizinkanku untuk pergi malam Mingguan.


"Hanya beli bakso saja Ayahanda, habis itu pulang."


"Kalau hanya mau beli bakso, kan bisa pesan lewat ojek online."


"Ayahanda, tuan putri bosan dirumah. Tuan putri ingin jalan-jalan sebentar."


"Lalu bagaimana dengan Dalilah, cucuku tidak boleh keluyuran malam!" tukas Ayahanda.


"Ada Mbok Narsih, dan Bunda Sasmita. Rinjani juga sudah menyiapkan banyak asi perah di kulkas. Ayolah Ayahanda, warung baksonya keburu tutup." Akhirnya aku merengek.


Suasana hatiku berubah-ubah tanpa bisa di prediksi. Aku bahagia saat melihat Dalilah, namun saat sengatan di dalam otakku semakin jelas dan tajam tentang Kaysan, aku mudah menangis dan sering terjaga.


"Rinjani sudah dua bulan lebih hanya di rumah. Penat Ayahanda." Aku menunduk, sebentar saja aku ingin keluar rumah dan mengirup udara dingin.


Ayahanda menepuk puncak kepalaku, "Baiklah-baiklah, sudah jauh dari suami, sudah Ayahanda kurung di dalam rumah, memang ada baiknya kamu bersenang-senang agar pikiranmu tenang."


Aku mendongak, ku cium punggung tangan Ayahanda setelahnya senyuman mengembang di bibirku.


Aku merangkak ke belakang dan mengkode Santosa, "Cusss..." lirihku memberinya peringatan untuk segera bersiap.


Santosa mengangguk, "Saya harus izin dengan Kanjeng Sultan. Selanjutnya saya akan menuruti perintah ndoro ayu."


"Ribet." gumamku lirih sambil lalu menuju kamar. Aku harus bersiap dan berdandan seperti anak muda berusia 21 tahun. Lagipula, aku sudah lama tidak mencium aroma malam mingguan yang di penuhi oleh para pecandu kasih sayang.


Ketika senja tenggelam di ganti dengan gelapnya malam. Aku menunggu partner kencan di ruang keluarga.


Aku memakai celana jeans, kaos metal dan satu lagi sneaker kesayangan. Rambutku aku gerai panjang yang nantinya akan aku tutupin dengan topi milik Kaysan.


Sungguh ini manipulasi usia agar tidak terlihat seperti ibu muda satu anak.


"Ada ibu-ibu yang tidak mau disebut ibu-ibu." cela Sadewa.


Aku beranjak berdiri, ku lihat tiga pasangan kekasih sudah berada di ambang pintu. Mereka menatapku dengan tatapan menghina sekaligus mengejek.


"Apa!" sergahku. Mataku melotot. Berada di antara si kembar dan Nanang, aku harus siap-siap dikerjain oleh mereka.


"Sudah di perah belum ASInya, Mbak?" tanya Nakula.


"Betul itu, salah-salah nanti ASI-nya merembes dan bikin kehebohan." Sadewa memutar matanya malas.


"Sudah aku selipkan Breast pad. Jadi gak tembus!" jawabku.


"Pantes jadi kelihatan tambah besar."


Anisa menatap Nanang dengan tatapan mengajak perang. Aku tertawa, "Nang... Gawat... ada yang mau pingsan lagi nih. Siap-siap telepon ambulans."


Anisa tersenyum, ia menyembunyikan wajahnya di balik lengan Nanang.


"Tidak perlu di dengar ocehannya. Dia memang suka gitu, membahas yang sudah-sudah." sahut Nanang menghibur Anisa.


"Masih nungguin apa? Ayo berangkat, kita nonton Godzilla vs Kong, habis itu baru beli bakso." ujar Sadewa.


"Tunggu sebentar, ajudanku harus ikut. jika tidak Ayahanda akan marah." Aku terkekeh kecil, "Harap maklum, tuan putri yang cantik harus dijaga ketat oleh pengawal."


Keenam orang di depanku mendesah kesal.


"Jadi kita pacaran di dampingi ajudan. Alamak, gak bisa mesra-mesraan."


"Otakmu harusnya di refresh, Wa. Lihatlah saudara kembarmu, Nakula saja tidak protes. Iya gak kak Rahma?"


Kak Rahma hanya tersenyum, meski sedaritadi tangannya bergelayut di lengan Nakula.


"Kenapa aku berasa menjadi jomlo, padahal aku lebih berpengalaman dari kalian."

__ADS_1


Sejenak mereka sibuk dengan pembahasan masing-masing. Entah kenapa, tumben Santosa tidak on time.


Aku berjalan menuju kamarnya. Secara kebetulan ia baru keluar dari kamarnya.


"Lama sekali dandannya..." seruku.


Santosa menoleh. Ia tersenyum. Ampuni aku Gusti jika aku menyebutnya tampan sekali.


"Maaf, ndoro ayu. Tadi saya bingung harus memakai baju apa. Jadilah hanya ini yang saya kenakan."


Rahangku hampir copot dibuatnya, 'hanya ini yang saya kenakan', perkataan macam apa yang ia lontarkan. 'Hanya ini', tapi penampilannya sudah seperti Randy Pangalila. Tipikal bad boy tapi gantengnya gak ketulungan, pantas saja Dalilah nyaman dengannya.


"Sudah-susah, ayo kita lekas pergi. Sebelum Ayahanda berubah pikiran dan Dalilah bangun." Dalilah berada di rumah utama, bersama Mbok Narsih dan bunda Sasmita. Malam ini saja aku serahkan Dalilah kepada mereka yang ahli dalam mengasuh bayi.


Kami berdelapan berjalan menuju pelataran parkir. Kami terbagi menjadi dua mobil. Sebelum kami keluar dari rumah, aku membuat peraturan baru yang membuat ketiga pasang muda-mudi itu semakin kesal dan meracau.


TIDAK BOLEH BERMESRAAN DIHADAPAN TUAN PUTRI RINJANI.


Sadewa mengumpat, ia meracau sendiri dan geram dengan peraturan ku yang terbilang konyol dan tidak masuk akal. Sedangkan ia menggembor-gemborkan kejadian yang sering ia ketahui---saat aku bercinta dengan Kaysan.


Nakula dan Rahma ikut bersamaku, dengan Santosa yang menjadi sopirnya. Selama perjalanan hanya ada suara Santosa yang bersiul menikmati alunan lagu dari radio.


Sesekali aku melirik ke bangku penumpang, Nakula dan Rahma terlihat menjaga jarak, namun tangannya masih bertautan.


Aku menggelengkan kepala, "Kalian seperti truk gandeng!"


"Bilang saja kalau Mbak iri!" sahut Nakula.


"Mbak tidak iri, tapi kak Rahma lebih cocok jalan dengan Santosa. Usianya sepantaran. Sedangkan kamu terlihat seperti adiknya kak Rahma."


Nakula tak bisa mendebat hal itu, ia menatap kak Rahma mencari pembelaan.


"Selesaikan kuliahmu dan segara nikahi aku."


Secercah harapan menghantam wajah Nakula. Ia tersenyum dan mengangguk mantap.


"Ya, aku baik-baik saja."


"Tapi, ndoro ayu terlihat murung? Sebaiknya malam Minggu digunakan untuk bersenang-senang, sesuai alasan ndoro ayu tadi terhadap Ayahanda."


Aku tertawa garing, "Jangan mengkhawatirkan aku, Santosa. Khawatirkan saja dirimu yang masih jomlo di usia matang."


Santosa tersenyum, "Lalu apa yang harus saya lakukan untuk mendapat gadis cantik seperti ndoro ayu?" Kalimat itu terlontarkan dengan nada terbata-bata dan malu-malu.


Nakula berdehem, "Mbak Jani memang cantik, tapi sayang sudah ada yang punya!" tukasnya, telak.


Santosa mengangguk, ia tetap fokus mengemudi mengikuti mobil di depannya.


Tak lama setelah itu, kami tiba di warung bakso langgananku yang jelas Nanang ketahui.


Kami berdelapan duduk berhadap-hadapan. Mengobrol hal-hal yang tidak penting, hingga mulut Nanang mencetuskan ide untuk membuat taruhan.


"Sambal lima sendok, tidak boleh minum selama bakso belum habis. Yang kalah harus mentraktir semua ini dan nonton nanti." ujar Nanang.


"Yang benar saja! Aku anak bawang. Aku tidak boleh makan pedas-pedas, kata Ibunda nanti Dalilah mencret kalau aku makan pedas."


"Anak bawang tapi udah punya anak. Hey, Rinjani mantan kekasihku. Jangan curang!!!" Sergah Nanang.


Mendengar 'Rinjani mantan kekasihku' Santosa menatap tajam ke arah Nanang. Ia ingin mencegahku menerima taruhan itu. Tapi aku menggeleng. Hal sepele seperti ini justru semakin memeriahkan suasana dan membuatku sejenak melupakan keragu-raguan yang berkubang di kepalaku.


"Oke-oke, tapi kalau Dalilah kenapa-kenapa kamu yang menanggungnya."


Delapan mangkok bakso tersaji di depan meja, berserta es teh manis yang membuat selera makan kami langsung bergejolak.


Seharusnya taruhan ini adalah hal yang begitu mudah, namun mengingat ada Dalilah yang menyerap nutrisi dari asi yang diminumnya. Aku ragu-ragu menuang sambal ke dalam mangkok ku.

__ADS_1


Entah benar atau tidak, aku sendiri tidak awam dengan gagasan orang zaman dulu yang mengatakan jika minum es anak akan pilek, jika makan pedas anak akan sakit perut. Entah mana yang benar... hanya kenyataan dan bukti yang bisa menunjukkan kebenaran.


"Ibu-ibu satu anak jangan curang!" sela Sadewa. Kedua telingaku menajam,


"Brisik!" ujarku, ku tuang sambal sampai lima sendok.


"Waktu hanya sepuluh menit!" kata Nanang sambil mengatur stop watch.


Kami semua mengangguk, dan menunjukkan tatapan permusuhan.


"Ready, set. Go...!!!"


Aku mengaduk baksoku, mencicipinya kuahnya sedikit. Rasa pedas langsung menyeruak di bibirku, lalu menuju lambungku, dan akhirnya membuat lambungku panas.


Isabelle yang tak terbiasa memakan sambal, bibirnya semakin terlihat merah. Ia menyerahkan mangkoknya untuk Sadewa, "Beib, aku tidak tahan." keluhnya, mata Sadewa melotot. "Apa kamu bercanda, beib?" Isabelle menggeleng, "Habiskan beib, jika kamu mencintaiku."


"Persetan dengan cinta, beib. Ini pedas sekali..." Sadewa megap-megap. Seketika meja kami di penuhi dengan gelak tawa yang menyita pembeli lainnya.


"Lima menit lagi, time over." ujar Nanang.


Kami melanjutkan lagi taruhan sialan ini.


Mulutku kebas oleh rasa panas dan pedas. Dahi Santosa berkeringat, yang justru semakin menambah kesan maskulin di tubuhnya.


Nanang apalagi, dia sok gentleman. Padahal aku tahu sekali, dia juga kepedasan.


Nakula dan Rahma, bukan lagi. Kedua sejoli ini memang harus di juluki truk gandeng. Mereka masih bergandengan tangan saling menguatkan. Yang lebih parah dari semua ini adalah wajah Sadewa. Pipinya tembam dengan bakso yang memenuhi seluruh mulutnya.


Aku tak kuasa menahan tawa, hingga aku tersedak bakso yang tak semuanya aku kunyah, "Nyerah..." kataku tersendat-sendat.


Santosa mengambilkan gelas milikku, "Minumlah ndoro ayu."


Aku mendesah lega saat es teh sudah mendinginkan saluran pencernaan ku.


"Time over." ujar Nanang.


Kami menghela nafas secara bersamaan.


"Idemu sinting mas. Aku mau muntah!!!" sahut Sadewa, ia berlari menuju toilet. Semua menyeka keringat masing-masing. Seakan tak peduli dengan suara Sadewa yang muntah-muntah di dalam toilet. Isabelle menghampiri Sadewa ke dalam toilet, raut wajahnya menunjukkan wajah menyesal.


"Yang kalah, Rinjani. Ia duluan yang minum." ucap Nanang.


Aku menjentikkan jariku, mengatakan jika hal itu kecil untukku, "Ayahanda memberiku uang saku untuk malam Minggu. Lihatlah." Aku merogoh dompetku dan menunjukkan kartu debit.


"Yang benar saja, Mbak. Warung bakso gak ada alat geseknya!"


"Anak bawang yang tidak pintar!"


Aku menyengir kuda, "Pakai uang kalian aja dulu. Nanti Mbak ganti." Nakula dan Nanang melengos.


"Biarkan saya yang membayarnya. Kemarin saya habis gajian." Santosa menyeruak dengan gagasan yang langsung aku setujui.


"Maaf ya pak Santosa, harusnya aku yang mentraktirmu."


Santosa tersenyum, ia mendekati penjual bakso dan membayar tagihannya.


"Aku mau pulang, mas. Tidak jadi nonton." Sadewa keluar dari kamar mandi, dengan Isabelle yang memapahnya.


"Bagaimana dengan kalian berempat? Mau pulang atau lanjut nonton?" tanya Nanang.


"Pulang sajalah, aku tidak tenang meninggalkan Dalilah terlalu lama. Lagian, sudah basah semua ini Breast pad ku."


"Pulang satu, pulang semuanya."


Ala hasil, malam Minggu ini hanya kami isi dengan taruhan konyol berbuah malapetaka untuk Sadewa. Kami pulang dengan tawa diatas penderitaan Sadewa yang mengaduh kesakitan---perutnya mulas---wajahnya pucat---kentutnya berbau busuk.

__ADS_1


Happy reading πŸ˜‚πŸ’š


__ADS_2