Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 92. [ Partner in crime, Kitty ]


__ADS_3

Kau tunjukkan aku bahagia


Kau tunjukkan aku derita


Kau berikan aku bahagia


Kau berikan aku derita


Sheila on 7 - Berhenti berharap


*


"Aku pulang, mas." Senyumku mengembang, ku cium punggung tangan Kaysan. Lelakiku duduk di sofa dengan kantung mata yang menghitam, "Tidak tidur?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.


Kaysan diam saja, hanya menatapku dengan tidak pasti. Ku daratkan ciuman di pipi Kaysan, "Jangan capek-capek." Senyumku menyeringai sambil ku rengkuh pinggangnya, "Sehari tidak bertemu Jani kangen, mas kangen gak?"


"Ada apa denganmu, Jani?"


"Jani kangen udah gitu aja."


"Kamu senang bisa bertemu dengan teman-temanmu?"


Aku mengangguk mantap, "Ada bagusnya jika Nurmala Sari sering datang kesini, jadi Jani bisa sering bertemu Nina, bertemu kawan-kawan. Kapan Nurmala Sari kesini lagi, mas?" ucapku sumringah.


"Tidak akan, dia sudah kembali ke kotanya."


"Wah! Jani jadi gak bisa tidur di rumah Nina, di kost Hello Kitty juga. Tapi jani sudah bawa satu boneka yang dibelikan Nakula." Aku menunjuk boneka Hello Kitty dengan ukuran jumbo, sebelum pulang ke rumah, aku sengaja mengambilkan, memboncengkan boneka Hello Kitty ini seperti memboncengkan Nina. Besar, bahkan menjadi tontonan di jalan.


Semalam saat tidur dirumah Nina aku menceritakan semua apa yang terjadi, dalam benakku mungkin sudah saatnya aku membagi kisah piluku dengan Nina. Agar dia mendo'akanku supaya baik-baik saja.


"Mau menangis?"


"Boleh?"


"Menangislah."


Nina menepuk pundak ku berkali-kali, seketika aku menjerit, meracau, memaki-maki Kaysan, air mataku tumpah ruah membanjiri lengan Nina. Hingga tangisanku membuat ibu Nina melongok ke dalam kamar. "Ono opo?" tanyanya.


"Rahasia anak muda, ibu mending tidur saja." usir Nina sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Malam pertama enak, nduk?"


"Enak, Bu." jawabku masih sesenggukan.


"Enak loh, Nin. Ndang rabi, ibu mau cucu."


"Masyaallah, Bu. Nina wae jomblo diken rabi kalih sinten?" [ Nina saja jomblo, disuruh nikah dengan siapa?]


Ibu Nina yang bernama Maimunah duduk mendekati kami berdua, "Apapun yang terjadi yang sabar, pernikahan baru seumur jagung memang seperti itu, masih banyak berantem, masih banyak perselisihan, apalagi yang kamu nikahi seorang pangeran. Pangeran di negeri dongeng aja banyak penggemarnya, banyak yang memuja-muja bahkan kaum dewa. Apalagi suamimu, pangeran di dunia nyata, ibu aja kalau masih single juga mau sama pangeran."


"Ibu!" Nina tak terima,


"Apa sih, Nin. Ayahmu memang manteb dunia akhirat, tapi perutnya ituloh koyo Bagong."


"Ibu! Bagong gitu ayah Nina. Nina tidak terima!"


"wis wis wis, bojoku ojo go rebutan." [ sudah, sudah, sudah, suamiku jangan buat rebutan]


"Tenang Rinjani, bojomu juga tidak mau sama ibuku, Maimunah tidak tahu diri. Maimunah harus di hukum, Rinjani." Nina menganggat tubuh ibunya, dan menyeretnya keluar kamar.

__ADS_1


"Ibu diam saja, biar Nina urus Rinjani."


"Jani, Nina jomblo jangan di dengarkan, dengarkan kata hatimu saja. Karena seorang pengkhianat akan mengkhianati suara hatinya sendiri." Teriak ibu Nina. Sungguh kedua ibu beranak itu membuatku tersenyum.


"Maimunah binti Abdul Aziz memang suka asal bicara, Rinjani." ucap Nina kepadaku.


"Nina binti Muhammad Rujito apa bedanya?" tanyaku.


"Bedalah, ibu generasi tua. Kita generasi micin, tentu cara berpikirnya beda."


"Apa bedanya?"


"Jangan sia-siakan kesempatan, jika kamu mau melakukan pemberontak, buatlah pemberontakan yang matang."


"Contohnya?"


Nina menjelaskan banyak ini itu kepadaku, aku manggut-manggut saja. Karena ide Nina boleh juga, slalu ada kesempatan dibalik kesusahan, aku akan mengambil sisi positifnya. Tidak buruk, meskipun aku harus bungkam dengan keadaan.


"Mas, Jani belum haid. Gimana kalau Jani hamil?" kataku sambil mengelitik pusarnya. Tubuh Kaysan tampak menegang.


"Hentikan, Rinjani!"


"Jani, mau. Dan, jangan halangi rasaku."


Aku sudah menyusupkan tanganku, memegang milik Kaysan yang tampak hangat ditanganku. P-e-r-l-a-h-a-n bibirnya terbuka, tampak ingin mengerang, "Lepaskan saja mas, jangan di tahan." kataku sambil mengecup lehernya, menggigit cuping telinganya.


Kaysan mulai meremang, begitu juga diriku.


Diatas sofa, Kaysan sudah polos tanpa busana. Aku masih memainkan miliknya,


sesekali mengecupnya pelan, sedangkan Kaysan hanya menengadah menatap langit-langit kamar.


Aku bergegas melepas celana, hingga akhirnya aku bersenggama dengan Kaysan.


Hari ini kembali seperti biasanya. Seperti hari kemarin tak pernah terjadi apa-apa. Tikus cantik ini sedang menjalankan rencana jahatnya.


Kaysan mengerang seperti kesetanan saat tubuhku sudah memacu dengan cepatnya. Peluh menetes mengalir di dadanya.


Aku memang sengaja tak melepasnya, membiarkan sel sp*rma berlari mengejar sel telurku. Karena bukan sel telur yang mengejar sel sp*rma. Kaysan mendorong tubuhku saat cairan hangat itu belum menghangatkan rahimku.


Aku tersenyum kecut, ku usap benih birunya sambil mengecup pipinya. "Enak?" tanyaku.


Kaysan tak menjawab, ia hanya melihat ku dengan tatapan yang sulit aku mengerti.


*


Malamnya ku taruh boneka Hello Kitty diantara aku dan Kaysan.


"Gakpapa, 'kan dia disini, mas?"


"Dia siapa?"


"Kitty." jawabku.


"Kitty mengganggu jika dia ada disini, taruhlah di meja belajarmu atau di sofa." kata Kaysan sambil menarik Kitty menjauh dari sisiku.


"Aku suka Kitty, boleh ya mas?" rayuku lagi.


"Hanya malam ini saja."

__ADS_1


"Terimakasih, Mas. Kitty, 'kan gak bernyawa jadi tidak menggangu, berbeda jika yang diantara kita adalah mahluk bernyawa. Pasti menganggu." kataku sambil memeluk Kitty.


"Maksudmu apa, Rinjani?"


"Enggak ada, cuma bilang."


"Tidurlah, besok kita berangkat ke kampus bersama."


"Jani mau naik motor."


"Bersama!"


"Selamat tidur mas, mimpikan Jani ya, jangan mimpi yang lain. Takutnya nanti mimpi buruk."


Aku tersenyum puas, saat Kaysan hanya mengerutkan keningnya.


"Gak mau kasih ciuman selamat tidur ya, Jani sedih nanti."


Kaysan menghela nafas, ia menyelipkan anak rambutku dan mencium keningku, "Have a nice dream my empress."


"Terimakasih, mas. Cium Kitty juga mas, nanti dia iri, nanti dia pikir dia tidak dianggap disini."


Kaysan mengacak-acak rambutnya, "Dia tidak bernyawa, Rinjani. Dia hanya boneka!"


"Seperti aku, 'kan , mas?"


"Mau tidur atau mau bertengkar?"


"Mas mau mengajakku bertengkar? Ayo, Jani dulu pernah ikut taekwondo."


"Aku Puk-Puk, tidurlah kamu dan Kitty."


"Terimakasih, mas. Cium dulu Kittynya." mintaku lagi, sedangkan Kaysan menghela nafas panjang dan mengecup pipi Hello Kitty.


Tuhan, aku ingin tertawa dengan semua ini. Beginikah cara cemburu yang elegan, beginikah cara pemberontakan yang matang. Belum cukup rasanya.


"Mas, i love you."


"Love you too."


"Mas..."


"Apalagi, Rinjani?"


"Panggil sayang."


"Apa sayang?"


"Enggak papa, mas gak usah mulai."


"Rinjani, ini sudah jam sebelas. Tidurlah, besok kita berangkat jam tujuh."


"I love you mas Kaysan Adiguna Pangarep, my sunshine, my life, my enemy and my husband, Till the end of time, no matter what happened."


"Sudah-sudah, aku tahu kamu mencintaiku, akupun begitu."


"Katakan seperti Jani tadi mas."


"Laki-laki memang tidak menangis, tapi hatinya berdarah, dik."

__ADS_1


Dear reader, jangan marah sama Kaysan ya Marahlah pada Author yang menguji pertahanan cinta Kaysan & Rinjani. โœŒ๏ธ๐Ÿ˜‚


__ADS_2