
Malam itu Rinjani menangis di pelukan mas Kaysan. Kalimat-kalimat yang tak seharusnya aku dengar menguap begitu saja seperti embun yang di terpa sengatan mentari.
Rinjani mengatakan bahwa dirinya juga terluka karena keadaan ini. Dia bahkan menyuruhku untuk memutuskan Anisa jika pacarku tidak mau memahami aku dan Rinjani.
Terbesit untuk mengalah, walau mungkin akan kecewa. Dan, mungkin kejadian-kejadian seperti ini akan terulang kembali jika aku memiliki kekasih baru.
Anisa menangis saat itu juga. Mas Kaysan menyuruhku untuk mengajak Anisa pulang. Sedangkan dirinya dan si kembar memilih untuk menghibur Rinjani. Bakal geger jika Ayahanda dan Ibunda tahu Mbak Jani nangis gara-gara masalah klasik yang sering kami bicarakan secara internal.
Kak Rahma menghela nafas. Ayahanda merestui hubungan mereka karena kak Rahma memang memiliki kemampuan magis dalam menyembuhkan kesehatan mental.
Kak Rahma merangkul Anisa dan membiarkannya menangis sepuasnya. Setelahnya wejangan dari istri adikku itu mengalihkan atensi Anisa. Anisa mendengarnya dengan saksama, ia manggut-manggut sembari menyeka air matanya.
Aku menunggunya, menuntaskan kasus percintaan yang abnormal yang membuat siapa saja pasti senewen jika menghadapi situasi yang sama sepertimu.
"Datanglah kemari jika kamu ada waktu luang, setiap hari Mbak Jani ada di rumah." ujar kak Rahma, mereka berdua saling berpelukan lalu mereka berpisah karena Nakula sudah merengek meminta kak Rahma untuk segera menemaninya ke kamar. Sungguh, bukan adik yang beradab. Di saat kakaknya di buat pusing dengan urusan percintaan, dia justru ingin cepat-cepat bercinta.
Aku mengira-ngira dalam hati, apa yang akan Anisa lakukan setelah ini. Ketika aku melihat Anisa, ia sepertinya masih memiliki keraguan-keraguan.
Aku berjalan mendekatinya, Anisa buang muka.
"Mau aku antar atau pakai ojek online?" tanyaku menggodanya. Seharusnya aku bisa menyemangati Anisa untuk tidak terus berlarut larut dalam kecemburuannya. Tapi, aku ingin tahu apakah di sini hanya aku saja yang berjuang?
Anisa mendengus dingin. Ia berjalan mendahuluiku menuju pelataran rumah. Tak sampai hati aku membiarkannya pulang sendirian, aku masih sayang dengan caranya marah, caranya menunjukkan kepemilikan hatiku. Meskipun kadang-kadang aku lelah menjelaskan kejujuran padanya.
"Anisa." panggilku.
Buru-buru ia mengambil helm di atas motor yang di gunakan Sadewa untuk menjemputnya tadi. Ia berjalan dengan terburu-buru menuju pintu gerbang. Pak Parto kebingungan, menuruti perintah Anisa atau perintahku.
"Sayang!" Aku tancap gas, saat dirinya sudah keluar dari rumah. Langkahnya cepat seperti ibu-ibu yang sedang di kejar tukang kredit panci.
"Naik!" tuntun ku. Sengaja aku menghalanginya dengan motor.
"Aku bisa sendiri! Aku bukan cewek manja seperti Rinjani!"
__ADS_1
Aku menghela nafas lelah...
"Rinjani manja dengan mas Kaysan, suaminya. Apa salahnya?" tanyaku.
"Salah! Karena bisa saja sikapnya yang seperti itu membuatmu mengingat kembali masa lalu mu dengan dia!" Anisa sudah kelewatan.
Aku menghargai perasaan Anisa.
Aku menghormati Rinjani.
Aku ingin semua berjalan apa adanya.
Aku ingin bersikap baik,
^^^tapi aku lelah.^^^
"Maaf sudah membuatmu repot untuk datang ke ulangtahun ku!" Aku turun dari motor, tanpa mematikan mesinnya, "Bawalah motornya, jika kamu tidak mau aku antar pulang." Aku berlalu saat Anisa justru terpaku melihatku berjalan menjauhinya. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah dengan perasaan kecewa. Kecewa karena di ulangtahun ku ada dua wanita yang aku sayangi menangis.
*
Hari-hari berlalu, setelah malam penuh kekecewaan itu. Aku jarang menghubungi Anisa. Di kampus pun kami jarang bertemu. Anisa seolah menghindar dariku, dan aku seolah membutuhkan waktu untuk berpikir realistis. Aku tidak mau memutuskan hal yang bersifat impulsif.
Hubungan ku dan Anisa seperti jemuran yang di gantung lama. Warnanya mulai pudar, kainnya mulai kusut, baunya tidak wangi, terlebih lagi harus rela di permainkan oleh cuaca dan terombang-ambing di terpa angin.
Ada satu hal yang membuatku tidak segera lulus dari universitas yaitu nongkrong.
Buat aku, menjadi seorang Ningrat membuatku memiliki beban tersendiri. Itulah kenapa aku memilih untuk berkecimpung di dunia underground dan membuat clothing store.
Di sinilah aku bisa merasakan sedikit kebebasan untuk berekspresi dan berpendapat. Terlepas dari bayang-bayang statusku yang kadang membuatku malah mendapat perhatian khusus dari orang-orang di sekitarku.
"Lesu amat, Nang. Kenapa?" tanya Nina. Salah satu ukthi metal yang masih setia nongkrong bareng denganku. Beberapa kali aku memintanya untuk menemani Anisa jika kita sedang nonton konser metal bersama.
"Biasa... Masalah klasik." jawabku. Aku memesan es jeruk dan beberapa gorengan di angkringan yang buka tak jauh dari clothing store milikku.
__ADS_1
Nina tergelak, "Again and again."
"Hmm..."
"Sabar ya, cinta memang suka begitu. Suka ribet tapi bikin ketagihan."
"Mana kado buatku? Seumur-umur kita temenan, kamu gak pernah ngasih aku kado, Nin."
"Kadonya Do'a, Nang." Lagi-lagi gadis yang memiliki tubuh berisi itu tertawa.
"Magang di rumah sakit mana?" tanyaku.
"Rumah sakit milik universitas." jawab Nina.
Persahabatan ku dan Nina memang sudah terjalin cukup lama. Bahkan semenjak aku dan Rinjani masih berpacaran. Tak ayal, kami berdua memang terbuka dalam berbagai macam hal. Termasuk urusan asmara, masa depan, dan gagasan-gagasan yang membuat aku dan Nina suka berbagi ilmu yang tidak kami ketahui sebelumnya.
"Mau pulang atau ke store dulu kamu, Nang?" tanya Nina. Ia masih memakai baju khusus perawat. Membawa ransel yang berisi makanan ringan dan mukenah.
"Store... Ada beberapa item yang harus aku pilih untuk diskon akhir bulan." jawabku sembari membayar uang ke Pak Tarno.
"Kalau ada yang big size kabarin! Lumayan buat ganti di rumah." jelas Nina, kami berdua kembali ke store yang memiliki dekorasi yang anti mainstream. Klasik, sangar, dan cozy.
"Di gudang banyak, ada beberapa baju reject karena sablon yang tidak sesuai gambar. Ambil aja ke gudang." ujarku sesaat setelah kami berdua masuk ke store, beberapa karyawan menyambutku.
Sebagian pekerja di sini adalah mahasiswa yang bekerja secara part time. Ada yang lumayan cantik, tapi biasanya yang cantik banyak orang yang melirik. Apalagi kerja di store milikku, bebas menggunakan celana pendek. Sudah jadi tontonan monoton paha mulus pegawai ku.
Nina menghempaskan tubuhnya di sofa, "Gila sih, Nang. Wajar banget Anisa cemburunya gak kira-kira... Di rumah ketemu Rinjani, di toko ketemu cewek-cewek cantik. Emang bisa gila siapa aja yang pacaran sama kamu!" Nina tertawa terbahak-bahak.
"Ya maklumlah, udah darah biru, pengusaha muda, cakep, kata Bunda aku mirip Baskara Mahendra." ucapku jujur.
"Sombong!" tukas Nina.
Happy reading ππ
__ADS_1