
Pernikahan Nakula tak ubahnya menjadi adegan roman picisan yang aku alami. Aku---Sadewa, dengan percaya diri menggandeng kedua kekasihku---Isabelle dan Irene dihadapan orangtuaku.
Banyak sekali mata yang tertuju padaku, menerka-nerka apa yang terjadi. Tapi aku, cuek saja. Aku hanya menebarkan senyum manis ala Ayahanda jika sedang di kelilingi oleh istri-istrinya.
Begitu juga rentetan pertanyaan dengan bahasa Inggris yang diajukan oleh mereka berdua. Tapi aku membiarkannya. Aku ingin melihat, siapa yang sanggup bertahan lama. Memerangi amarah dihati dan rasa curiga.
Aku memang salah, telah mencintai dua orang sekaligus. Tapi sebisa mungkin aku membaginya dengan rata. Aku sering bertemu Isabelle, tapi aku tidak pernah bertindak melebihi batas. Kami hanya berpelukan, gandengan tangan, atau sesekali memberi ciuman jarak jauh.
Berbeda dengan Irene, meskipun kami menjalani hubungan jarak jauh. Irene slalu membicarakan kegiatannya, terbukti dari banyaknya penggalan video Irene yang sering menghiasi layar ponselku.
Aku senang, tapi juga prihatin. Irene begitu percaya dengan diriku, hingga aku tidak tega untuk memutuskannya.
Diapun sangat antusias, saat tahu kembaranku menikah.
Berbondong-bondong dirinya datang bersama Sheila dan suaminya sekaligus untuk menjenguk adik tiri Sheila. Kylie.
Irene sempat kaget, apalagi bapaknya. Aku menduga bapaknya membawa pistol di balik punggungnya. Tapi sayang, ini di tanah kelahiran ku. Tempat dimana aku sangat aman dijaga oleh ajudan Ayahanda. Pun, bapaknya Irene sangat menghormati Ayahanda. Jadi wajar saja bapaknya Irene yang membawa kerabat dekatnya dan semuanya adalah polisi hanya bisa diam seribu bahasa. Aku menang kali ini.
Seperti Nakula, akupun tidak mengharapkan agar menjadi pangeran. Bagiku itu menjadi beban berat, apalagi diusia ku yang masih belia. Aku memang tidak pernah meninggalkan istana saat ada acara-acara resmi yang mengharuskan semua anak Ayahanda berkumpul. Tapi, aku masih ingin menjalani kehidupan sehari-hari ku menjadi mahasiswa, dengan semua masalah klasik skripsi yang terus membebani semua mahasiswa. Belum lagi masalah percintaan yang asyik untuk dibicarakan.
Bedanya, Nakula sudah ingin menikah dengan kak Rahma yang sudah ia pacari sejak Mbak Jani datang di kehidupan Nakula. Awalnya, memang aku yang terbuka lebar menerima Mbak Jani. Tapi, lama-lama... peranan penting untuk menjaga Mbak Jani di ambil oleh Nakula---dikarenakan aku harus menemani Isabelle. Kekasihku yang menemaniku sejak awal masa-masa kuliah.
Dulu---ini rahasia!
Nakula sempat menganggap Mbak Jani akan membuatnya lupa akan Narnia, karena Mbak Jani sering mengajaknya bicara dan melakukan banyak hal-hal menarik. Tapi aku melarangnya. Jika tidak, Nakula semakin akan terjerumus dalam prahara cinta yang akan membuatnya menjadi laki-laki sok cool, jual mahal, dan tidak peduli dengan apapun yang disebut dengan istilah 'cinta'.
Saat Nakula meminta izin untuk menikah dengan kak Rahma. Sebenarnya, aku hanya bermaksud mempermainkan Nakula. Apa dia benar-benar serius, atau hanya sekedar keinginan sementara. Ternyata Nakula memang bersungguh-sungguh. Terbukti dari seringnya Nakula mendatangi mas Kaysan, dan menanyakan banyaknya perihal informasi tentang cara menjadi laki-laki dewasa.
Nakula, saudara kembar ku memang sudah banyak berubah ketika mas Kaysan membawa kak Rahma ke dalam hidup Nakula. Nakula kembali, menjadi rembulan yang bersinar.
Tapi, disisi lain, aku merasa kehilangan. Kehilangan sisi lain dari diriku sendiri.
*
Isabelle memang lebih tertarik dengan budaya barat. Tak heran jika dia sering menggunakan baju minimalis modern dan kekinian. Ia juga di gadang-gadang menjadi selebgram sekelas Awkarin.
Ibunya asli Jawa, sedangkan ayahnya asal Belanda. Jika dia sedang marah, ia akan meracau dengan bahasa Belanda yang tidak aku ketahui. Hobinya ngambek jika aku tidak menuruti perintahnya. Terkadang itulah yang menjadi sebab aku mencari pelarian cinta.
__ADS_1
Isabelle kecewa, karena dia terus mengharapkan kepastian dariku.
Kepastian untuk mengajaknya bertunangan.
Sejujurnya aku belum ingin terikat, aku masih ingin menikmati masa-masa muda, sebelum akhirnya aku harus memantapkan hati siapa yang pantas mendampingi namaku di dalam kartu keluarga nanti.
Satu hari setelah pernikahan Nakula. Aku hanya dibingungkan oleh Isabelle dan Irene yang meminta penjelasan. Bahkan, aku lupa dengan rencana untuk menganggu malam pertama Nakula.
Sungguh dia curang sekali, aku yang sering membayangkan bagaimana rasanya bercinta, justru Nakula dululah yang menikmatinya.
Setelah bertemu dengan Isabelle, sore harinya aku pulang ke rumah bermaksud untuk mencari Nakula dan menanyakan perihal malam pertamanya. Sayang, yang aku temui hanya Ayahanda dan bunda Sasmita di pendopo belakang.
"Bagaimana urusanmu, playboy?" seru Bunda.
"Pusing, Bun. Isabelle tidak mau putus. Irene mengharap yang terbaik." jelasku sembari menyandarkan punggungku di tiang penyangga.
"Salah sendiri kenapa kamu ikut-ikutan Ayahanda." ejek Bunda, lalu menyenggol lengan Ayahanda.
"Apa tidak boleh salah satu dari anakku mewarisi sifat ku? Cukuplah Kaysan dan Nakula yang memiliki satu istri. Sadewa biarlah menjadi pengikut ku." Ayahanda menimpali.
"Kenapa?" tanya Ayahanda.
Lagi-lagi kedua manusia dewasa yang aku hormati itu berargumen tentangku, tentangku yang bimbang memilih Isabelle atau Irene.
"Aku akan menikahi keduanya!" jawabku lugas.
Bunda berkacak pinggang, "Putraku!"
"Bunda..."
Sorot matanya penuh dengan kekacauan.
Antara marah, sedih, kecewa dan perasaan lainnya yang berkecamuk menjadi satu.
"Permaisuri Sasmita..." panggil Ayahanda.
Bunda menghela nafas panjang. Lantas mengatupkan kedua tangannya di depan Ayahanda.
__ADS_1
"Sendiko dhawuh, suamiku."
Ayahanda mengangguk, "Jika Sadewa tidak sanggup untuk memilih salah satunya, maka yang harus di pertanyaan adalah kedua gadis itu. Besok ajaklah makan malam kedua kekasihmu. Biar Ayahanda yang menengahinya."
"Baik Ayahanda." Aku beranjak berdiri, sayangnya sebelum aku pergi meninggalkan Ayahanda dan bunda, sebuah telepati sudah bunda isyaratkan.
"Nakula dimana, Bun?" tanyaku. Karena rumah terlihat sepi. Juga tak terlihat mas Kaysan dan anggota keluarganya.
"Hotel." jawab Bunda.
"Dimana?"
"Jangan mengganggu saudaramu. Biarlah mereka berduaan!"
"Bunda seperti tidak tahu aku saja. Dimana, katakan, Bun?" Aku memaksa.
"Bunda juga tidak tahu. Kaysan yang memberinya hadiah paket honeymoon."
"Apa bunda yakin, Nakula bisa melakukannya?"
"Jangan salah, tanya saja sama abdi dalem yang mencuci seprainya."
"Apa hubungannya dengan seprai!"
Ayahanda menepuk bahuku, "Sudah jangan penasaran. Sekarang temani Ayahanda dan bunda untuk menghadiri acara pernikahan keluarga Tirtodiningrat."
"Kenapa banyak sekali yang menikah, Ayahanda?"
"Karena memang sudah waktunya menikah, putraku. Sudah yakin."
Aku mendesah lelah. Rasanya baru kemarin aku memakai baju kejawen. Nanti pun juga harus memakai baju kejawen. Lama-lama aku akan membuka butik untuk menjual baju kejawen yang aku miliki.
Happy reading π
Sekarang ditemani mas Sadewa dulu. Sekalian info selama bulan Ramadhan, update tidak pasti ya reader. Mohon maaf lahir dan batin, semoga ibadah puasa bagi reader yang menjalaninya berjalan lancar dan menjadi berkah.
Salam Rahayu π
__ADS_1