
Satu pasang mata menyorot ku teduh, ada perasaan rindu terlarang dari sorot matanya. Keakraban yang terjalin bersama cinta yang tumbuh bersama kami selama dua tahun, membawaku pada kejadian-kejadian di masa itu. Indah, meski tak seharusnya berakhir seperti ini. Dulu, aku pikir setelah putus dari Nanang, aku bisa melangkah jauh darinya. Laki-laki yang membuatku jatuh cinta dan mengerti cinta itu apa.
Nanang, laki-laki yang duduk di depanku adalah anak dari bunda Sasmita, lalu kedua kembar itu juga mengaku jika lahir dari rahim yang sama. Pantas, ketiga kakak beradik itu menyukai hal yang sama, besi tua.
Dulu aku sering sekali bertandang ke rumah Nanang, sampai-sampai ayahnya yang aku tahu sekarang adalah Ayahanda, membuatkan satu paviliun unik yang di buat di pekarangan rumah. Namanya paviliun Rinjani, karena memang itu di buatkan spesial untukku. Ada alasan lain kenapa ada paviliun itu, karena aku tak pernah diizinkan masuk ke dalam rumah mereka.
Selama berpacaran aku tidak pernah bertemu dengan ayah Nanang, hanya bunda Sasmita yang sering menemuiku di paviliun dan mengajakku bercanda. Nanang tak lebih dari sekedar hamparan lama di benakku, yang ku harap sebentar lagi hamparan tandus itu mulai bersemi dengan cinta yang baru.
Malam ini justru ia datang membawa pengakuan, dialah adik Kaysan yang memberiku kepingan hitam dan tak datang saat semua adik-adik Kaysan yang lain bertandang ke rumah dan menerimaku sebagai istri dari kakak tertua mereka, jadi inikah alasan kenapa wajah Kaysan sedaritadi layu.
Aku menoleh, melihat sorot mata yang menatap langit penuh bintang. Laki-laki itu bersandar di badan mobil, sibuk dengan kecamuk di kepalanya sendiri. Kaysan memberiku waktu untuk berbicara, lebih tepatnya untuk mencerna baik-baik keadaan ini. Lalu Nakula dan Sadewa menatap getir keadaan ini, mereka adalah biang keroknya. Merekalah kedua adik Nanang yang sering melempari ku batu saat sedang sholat di paviliun, merekalah yang sering menganggu aku dan Nanang saat berpacaran. Jadi inikah alasan Kaysan lebih memilih kedua kembar itu untuk menjagaku, karena mereka sudah tahu siapa aku dari jauh-jauh hari sebelum aku resmi menjadi bagian dari keluarga mereka.
"Apa keberadaanku dan mas Kaysan sudah menyakitimu, Nang?" tanyaku masih dengan kepala yang menunduk.
"Bisakah aku lihat matamu, Jani."
Aku mengusap air mata yang masih menetes jarang.
"Jadi inilah kenyataan yang kamu sembunyikan dariku, sejak awal kita bertemu."
"Jika aku ungkapkan sejujurnya padamu, kamu akan menjauh. Begitu juga dengan mas Kaysan."
"Apa aku harus mengerti? Katakan yang sejujurnya, kenapa harus sekarang keberadaanmu muncul ke permukaan?"
Rangkaian pertanyaan dan kecurigaan terhadap semua ini harus aku selesaikan, mau tidak mau, karena rasa yang aku miliki bukan rasa yang mudah terkikis. Bahkan aku sedang belajar untuk melakukan pemberontak secara elegan dan terstruktur.
"Aku yang salah, aku tidak menerima keberadaan kamu sebagai kakak iparku, aku marah lalu pergi. Mas Kaysan memang tidak bersalah karena menikahimu, yang salah adalah aku, yang tak bisa menahan rasa cemburuku. Kamu tahu, Jani. Butuh waktu berbulan-bulan untuk kembali."
__ADS_1
Tanpa ku tanya, kalimat-kalimat itu meluncur dari mulut Nanang. "Dipicu karena kemarahanku, Ayahanda mulai tidak menyukaimu. Aku tahu kamu menderita, aku tahu perjuanganmu di rumah, Jani. Jika kamu mau tahu alasan lain kenapa aku kembali, Nurmala Sari mantan kekasih mas Kaysan akan menjadi Ratu dan kamu hanya akan dijadikan istri kedua. Aku sakit, Jani. Akupun sakit melihat wanita yang aku cintai harus tersakiti. Kamu memang bagian masa laluku yang tetap akan menjadi bagian hidupku selamanya."
Kalimat dan kalimat lain semakin membuat air mataku meluncur dengan derasnya, aku mengguncang bahu Nanang. Bukan aku yang tersakiti dengan keadaan ini, bukan hanya aku, Nanang ataupun Kaysan. Semua rasanya sakit.
"Katakan apa saja, semuanya. Katakan! biar sekalian aku rasakan semuanya."
Tangan Nanang terulur, menghapus air mataku. "Terimalah aku sebagai adikmu, aku akan menjagamu sebagai adik dan keluarga."
Aku menggenggam tangan Nanang, dan menahannya di pipiku. "Sakit!"
"Jangan takut, jangan layu, jadilah Rinjani yang seperti dulu. Menjadi warna cerah dalam hidup kami." Nanang berusaha tersenyum, walau ku lihat sudut air matanya berair.
"Sepertinya sudah cukup, kita kembali ke hotel." Suara Kaysan membuatku dengan cepat melepas tangan Nanang.
Aku sedang tidak ingin menatap Kaysan ataupun Nanang. Aku beranjak dari duduk dan berjalan menuju tempat lain.
Disudut ini tidak ada yang mendekatiku, hanya aku, desiran ombak dan angin malam yang menyapu wajahku. Tangisku juga belum usai, masih berlanjut bahkan sampai aku terisak-isak. Rasa sesak di dada ini tak kunjung menghilang, aku tidak kehilangan seseorang, justru ia hadir dan masih.
"Pulang yuk, Mbak." Sadewa mendekatiku.
"Kamu lagi kamu lagi! Pergi!" Aku berteriak.
Mataku merekatkan pandangan pada lautan lepas. Hingga laki-laki dengan wajah datarnya mendekatiku, ikut terdiam. "Salahkah aku dengan pilihan ini? Apa sebaiknya aku pergi... saja dari kalian, agar semua kembali seperti sedia kala." kataku terbata.
"Jika Mbak pergi, bukankah Mbak seperti seorang pecundang?"
"Bawa aku pergi, Nakul."
__ADS_1
"Jangan menambah masalah." Mata Nakula berputar jengah, seperti ia sudah tahu jika aku hanya akan merepotkannya.
"Terlalu banyak kejutan malam ini." Kepalaku menggeleng pelan.
"Mas Kaysan sudah menyiapkan ini semua sejak lama, harusnya Mbak tahu, ini semua mas Kaysan lakukan untuk mempertahankan Mbak sebagai istri satu-satunya."
"Mbak mau bertemu bunda Sasmita."
"Paviliun itu masih ada, datanglah kerumah sebagai mantu bunda Sasmita. Tak lebih indah dari menyatunya semua keluarga Mbak."
Aku berbalik, ketiga laki-laki yang membuatku menangis itu berdiri dengan mulut yang menyesap rokok di masing-masing tangannya.
"Kenapa disini hanya aku yang merasa tersakiti, Nakul. Apa mereka sedang membodohi ku selama ini?" tanyaku pada Nakula.
Dengan kedua tangan yang terbenam di kantong celananya, Nakula hanya mengangkat bahunya. Langkah kakinya pergi mendahuluiku.
"Nakul, tunggu. Mbak pulang saja denganmu, melihat mereka membutuhkan tenaga ekstra."
Aku melengos meninggalkan Kaysan, Nanang, dan Sadewa.
Aku menautkan tanganku dilengan Nakula, ia hanya melirik dengan ekor matanya. Lalu melangkahkan kakinya lagi menuju Sydney Harbour Bridge, jembatan yang terkenal di kota ini. "Ayahanda tidak menyukaiku karena aku yang menjadi sebab mas Kaysan dan Nanang bertengkar." Aku menyandarkan kepalaku dilengan Nakula, "Apa aku begitu buruk di mata kalian?" lanjutku lagi.
"Tidak buruk, hanya perlu di poles agar menjadi porselen mahal."
Ditengah Sydney Bridge, jip putih itu berhenti saat aku dan Nakula mengacungkan jempol tangan sebagai tanda ingin numpang layaknya mencari 'omprengan'.
Menjelang setengah sepuluh malam, kami tiba di hotel. Suasana masih sedemikian runyamnya. Kaysan diam, aku juga, Nanang apalagi, sedangkan Sadewa tanpa ada beban sudah melenggang ke restoran, Nakula jelas mengekorinya. Mereka bak pinang dibelah dua. Apa-apa harus sama, jika iya. Apa Nakula juga menyukai gadis blesteran. Sepertinya aku punya misi lain selain membuat Kaysan mengatakan kejujuran lainnya.
__ADS_1
Aku senang hari ini, bukit rahasia itu mulai terbuka satu persatu, meski aku harus siap dengan kejutan-kejutan lain yang diberikan atas dasar kejujuran.
Hey reader, terimakasih sudah menunggu ๐