Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Laura Bakery ]


__ADS_3

Entah bodoh atau memang hati kedua janda dan duda ini saling terisi.


Herman dan Laura seperti pasangan berbeda bahasa dan negara yang saling belajar memahami dan mengerti. Mereka tampak serasi dengan perbedaan yang ada. Tak pernah Rinjani melihat sang Bapak bahagia seperti ini, meski bukan dengan Lastri ibunya dulu. Laura sama sekali tak memandang Rinjani seperti orang asing. Keterbukaan Herman terhadap Laura akan masa lalunya, membuat Laura mengerti jika Rinjani memang tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh.


Begitu juga dengan Sheila dan Keenan. Keterbatasan waktu yang dimilik Richard membuat calon saudara tiri Rinjani juga kekurangan kasih sayang dari seorang Ayah. Pengabdian terhadap Negera membuat Richard harus bersiap kapanpun dibutuhkan. Richard adalah seorang jenderal. Panutan dari semua perwira muda. Terlebih saat Papanya meninggal. Keenan lebih suka bermain skateboard ditanam atau menghabiskan hari-harinya di kamar. Game dan sosial media telah merubahnya menjadi sosok pendiam. Dia kehilangan sosok pelindung dan ketakutan akan terjadinya serangan terorisme.


Kehadiran Herman diantara mereka, membuat Keenan berpikir negatif. Ia takut jika orang seperti Herman juga akan melakukan hal yang sama. Meskipun itu hanya praduga buruk dalam pikirannya.


"Setiap hari Bapak kesini? Seperti ini?"


Rinjani berdiri, ia melihat etalase kaca yang berisi berbagai macam jenis kue dan roti.


"Mau yang mana?" tanya Herman. Ia memakai celemek karena sedang membantu Laura membuat adonan roti.


"Bukankah Bapak harus belajar menjadi seorang budayawan? Bapak tidak lupa?"


Dua Minggu setelah obrolan ringan dengan Herman berlalu. Rinjani memberanikan diri menemui Laura tanpa Kaysan. Kaysan sudah diterima di salah satu sekolah menengah swasta yang mengenalkan budaya Indonesia di kancah internasional. Terlebih pengetahuan yang diketahui Kaysan sudah amat melekat pada dirinya. Semua itu berkat Sheila. Sheila yang memiliki sifat periang dan mudah bergaul membuatnya memiliki banyak teman. Tak terkecuali, teman di Indonesia. Ia tahu Kaysan dan Rinjani bukanlah orang sembarangan. Tentu Sheila pun harus berhati-hati dalam bertindak. Ia meminta bantuan kekasihnya untuk meretas situs web yang menyiarkan berita terbaru tentang :


..."Minggatnya putra mahkota ke benua Australia"...


"Rinjani mau itu, cheese cake." Rinjani menunjuk sepotong cheesecake dengan ceri diatasnya.


"Mau minum apa?" tanya Herman sambil mengambilkan kue pilihan Rinjani.


"Bapak bukan pelayan. Nanti Rinjani ambil sendiri." Rinjani membawa kue itu pergi ke dekat jendela. Tempat ini sangat cozy, terlebih pemandangan diluar sangat indah. Bulan September adalah musim semi, bulan penuh warna di benua Australia.


Kaysan yang mulai sibuk bekerja, membuat Rinjani kesepian. Terlebih di kota ini Rinjani tidak memiliki teman. Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya ikut Kaysan untuk menunjukkan seni perwayangan dan menceritakan kisah legenda lainnya. Rinjani kehilangan selera. Sepotong cheesecake itu masih utuh di piringnya.


"Any problem?" [ Ada masalah? ]


Laura datang membawa secangkir lemon tea.

__ADS_1


"Just bored." [ Hanya bosan ]


jawab Rinjani.


"Do you miss your husband?" [ Apa kamu rindu suamimu?" ] Laura tersenyum geli melihat Rinjani yang tak bersemangat karena ditinggal kekasih pergi bekerja.


Ia teringat masa mudanya yang hanya di hiasi kekhawatiran akan suaminya yang sering terjun ke medan perang atau di tugaskan ke area berbahaya.


"Your husband only works for a short time, not months or years. Have fun with Keenan, he'll show you around town."


[ Suamimu hanya bekerja dalam waktu sebentar, tidak berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Bersenang-senanglah dengan Keenan, dia akan mengajakmu keliling kota ]


Rinjani tersenyum miris. Kini, ia harus terjebak dengan anak ingusan. Rinjani akui, Keenan memiliki tinggi yang sama dengan Kaysan. Hidungnya mancung, terlebih kulitnya putih, lebih putih dari kulit Rinjani.


"Keenan, not bad boy." [ Keenan, bukan cowok nakal ] Laura tersenyum jenaka, "Mas..." Rinjani melongo, saat Laura memanggil Bapaknya dengan sebutan 'mas', Rinjani menggeleng.


"Sepertinya aku benar-benar akan memiliki ibu enam." Dengan cepat ia menghabiskan cheese cake yang sudah tak berbentuk lagi.


...Carlton Gardens...


"Keen, can you speaking?" [ Keen, dapatkan kamu berbicara? ]


Keenan berbalik dan menatapku, manik matanya yang abu-abu membuatku terpikat untuk lebih melihatnya. Manik mata yang tak pernah aku lihat sebelumnya.


"Aku tidak menyukaimu." Begitulah kira-kira ucapannya padaku. Hingga aku perlu menanyakan kepadanya tentang kedekatan orangtua kami.


Duduk di bangku taman, dibawah pohon


Cupressus funebris. Aku dan Keenan duduk sambil menjaga jarak. Aku termenung sendiri, entah apa yang bisa aku lakukan disini. Kadang aku rindu kampung halaman, jajan cilok, makan bakso, nasi kucing, atau sekedar pulang-pergi ke kampus. Belum juga mendapat gelar statra satu, aku sudah harus hengkang dari kampus karena hal kejadian waktu itu. Anisa berkali-kali mengirimku pesan untuk meminta kejelasan, namun ia pun juga menyetujui keputusanku untuk memperjuangkan kebahagiaan. Kata Bapaknya, cinta memang tidak tahu tempat, bisa muncul tiba-tiba dan tertanam begitu saja. Tanpa meminta pada siapa cinta itu akan tertambat. Ah! melankolis sekali Bapaknya Anisa.


"Keen. I'm hungry." kataku.

__ADS_1


Keenan menoleh, "I'm not hungry." seru Keenan.


Tuhan, kenapa ada Nakula versi bule disini. Lebih ruwet urusannya kalau berdebat pakai bahasa Inggris.


"Take be back home!" seru ku.


Keenan beranjak berdiri, "Lalu untuk apa kamu berlama-lama di situ." katanya seperti itu.


Aku mendesis, Keenan lebih menyebalkan dari Nakula. Bagaimana aku bisa hidup dengan adik seperti ini, yang ada Bapak akan kebingungan men-translate ucapku dan Keenan jika bertengkar.


"Keen, apa kamu mau ke tanah Jawa jika orangtua kita menikah?"


"You're dreaming so high!" [ Mimpimu ketinggian! ]


"So, you don't like our parents getting married?" [ Jadi, kamu tidak suka orangtua kita menikah? ]


Sambil berjalan di pinggir trotoar jalan, aku masih mengulik seberapa besar rasa yang Keenan miliki untuk Bapak dan keluarga barunya. Tapi Keenan tetap tidak peduli.


"Keen. Aku haus." kataku. Uang yang aku miliki sekarang bukan uang yang bisa aku pergunakan untuk jual-beli. Uangku masih berupa rupiah. Kedatangan kami saat musim dingin membuatku dan Kaysan tidak sempat menukar uang di perbankan dengan jumlah yang banyak. Karena memang tidak banyak juga jumlahnya. Aku tersenyum kecut, saat melihat Keenan hanya mendengus kesal.


"You're so beautiful. But you're so fussy!"


Aku tertohok bukan karena aku cerewet. Aku terkejut saat Keenan anak ingusan ini menyebutku cantik. "Why, brother, why?"


Keenan hanya diam, ia menarik tanganku untuk menyebrang jalan.


*


Ucapan Sheila masih terngiang di kepala Kaysan. Jika pihak KBRI Australia sedang mencari informasi keberadaan Kaysan dan istrinya. Daftar pencarian orang yang dibuat khusus atas titah Ayahanda membuat Kaysan takut menerka apa yang akan terjadi setelah ini. Kehidupan yang baru saja akan ia bangun mulai di usik kembali.


Kapan aku dan Rinjani bahagia? batin Kaysan.

__ADS_1


Ia menutup buku laporan kerjanya. Hari ini adalah hari melelahkan baginya. Apalagi anak remaja seusia SMA sudah berani mengeluh-eluhkan Kaysan sebagai guru primadona. Banyak siswa yang menganggap kulit Kaysan eksotis, apalagi senyumnya. Meluluhkan hati kaum hawa.


Happy Reading ๐Ÿ’š


__ADS_2