
Ternyata anak-anak Ayahanda lainnya juga melakukan perjalanan ke luar negeri dan di sini tepat pukul delapan malam, semua keluarga berkumpul memenuhi pendopo belakang. Berbagai macam oleh-oleh tumpah ruah memenuhi sebagian sisi pendopo. Gelak tawa dan cerita perjalanan mereka saut menyaut menjadi kumpulan cerita panjang.
Sadewa mendominasi bagaimana cerita kami berlima pulang-pergi ke Australia. Tentunya ia menambah bumbu penyedap agar cerita kami penuh drama sekaligus menyenangkan, hasil jepretannya pun tak luput dari kesombongan yang ia katakan. Dia benar-benar adik paling cerewet, sekaligus pintar menghidupkan suasana.
Sejak tadi aku memilih diam dan hanya menjadi tim pendengaran, sesekali tatapanku tertuju kepada Kaysan dan Nanang. Mereka duduk diantara Ayahanda. Senyum Ayahanda pun tak luput sejak tadi, kedatangan Nanang cukup membuat Ayahanda senang, itu artinya permasalahan antara aku dan Ayahanda perlahan terkikis dengan kejujuran Kaysan. Tapi ada hal yang sedaritadi membuat aku semakin tidak menentu. Kejujuran Kaysan lainnya semakin membuatku takut jika nantinya akan banyak hal yang perlu di korbankan.
"Cantik, ambillah oleh-olehnya. Sebanyak yang kamu mau juga boleh." Bunda Sasmita menepuk bahuku, aku tersentak. "Bunda..."
"Melamunkan apa cantik?"
Bunda Sasmita tak berubah, dari dulu suka memanggilku cantik dengan sebelah mata yang mengerling.
cantik darimana, mungkin kalau dilihat dari lubang sedotan iya.
"Bunda tidak ambil?" tanyaku.
"Bunda sudah tua, kamu mau yang mana cantik. Kalau malu nanti bunda yang ambilkan." Apa darah konyol yang turun ke darah Sadewa adalah darah turunan bunda Sasmita. Astaga! Ibu-anak ini membuatku ingin tertawa. Bagaimana bisa bunda Sasmita sudah merangkak mengambilkan sesuatu yang menarik perhatianku. Sebuah dreams catcher berwarna pink dengan bulu angsa putih sudah berada ditangannya.
"Katanya bisa membuat mimpi indah." Bunda Sasmita menaruh dreams catcher ditanganku, aku tersenyum kecil, "Apa Rinjani boleh tidur di rumah Bunda?"
Bunda Sasmita berpikir sejenak, "Izin dulu sama suamimu. Nanti dia marah, ba-ha-ya."
"Bahaya?"
Bunda Sasmita mengangguk, "Bisa-bisa nanti rumah bunda di bakar api cemburu." Bunda Sasmita mencubit hidungku, "Kamu cantik, sayang bukan Nanang yang memilikimu. Kasian dia, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya." Bunda Sasmita menatap Nanang, tangannya melambai padanya. Ku lihat Nanang membalasnya dengan senyuman.
Ibunda yang menjadi istri tertua nampak rukun dengan istri-istri Ayahanda lainnya, senyumnya slalu cerah dan menghangat. Apa begitu gambaran ku nanti, jika aku benar-benar melakukan sayembara ini. Aku diam, sedang menyiapkan diri untuk mengatakan sesuatu.
Setelah menikmati jamuan makan malam, kami masih menghabiskan waktu di atas permadani hijau. Sambungan cerita demi cerita masih berlanjut.
__ADS_1
Aku menghela nafas pelan, sebelum akhirnya aku menyeret kakiku menuju kursi tempat dimana Ayahanda duduk.
Gelagatku dilihat oleh Kaysan, matanya mengisyaratkan agar tidak bertindak melebihi batas, ku balas ia dengan senyuman.
"Ayahanda." panggilku sudah berada di depan kaki Ayahanda.
"Ada apa putriku?" Ayahanda mengelus rambutku, hal yang tak pernah aku rasakan setelah berada delapan bulan dirumah ini. "Izinkan Rinjani untuk berbicara Ayahanda."
"Katakan."
Mataku terpejam, "Apakah Ayahanda masih bersikukuh untuk menjadikan Nurmala Sari istri dan pemimpin kerajaan untuk mendampingi kangmas Kaysan?" Aku mendongak memberanikan diri menatap Ayahanda. Ayahanda tersenyum lebar, "Jika putriku tidak sanggup, maka apa boleh buat. Kaysan tetap akan aku nikahkan dengan Nurmala Sari. Kekuasaan harus tetap berdiri dan dijaga dengan utuh."
Riuh rendah dari suara anak-anak Ayahanda mulai teralihkan saat Ayahanda dan Kaysan sama-sama berdiri.
"Ayahanda bisa melakukan sayembara antara Rinjani dan Nurmala Sari. Jika Rinjani kalah, Rinjani akan mengizinkan kangmas Kaysan
untuk memperistri Nurmala Sari, namun Jika Rinjani menang, sudahi semua rencana Ayahanda untuk meminang Nurmala Sari menjadi Ratu ataupun istri kangmas Kaysan."
"Mbak, hentikan ucapmu."
"Bagus, dia memang tidak layak menjadi Ratu."
"Apa yang akan dilakukan gadis itu."
"Hentikan ucapanmu, Jani!"
Suara itu bergantian di antara istri-istri dan anak-anak Ayahanda, mungkin inilah jalan terbaik yang harus aku selesaikan. Jika aku menang memang karena aku layak mendampingi Kaysan, namun jika aku kalah, aku akan mundur dengan terhormat tanpa perlu diinjak-injak.
Harus aku katakan, ini berat, tapi apa yang sudah dibangun sedemikian rupa dengan banyaknya darah juang yang berkorban, aku yakin jika aku tidak mampu untuk mendampingi Kaysan menuju singgasana kerajaan. Aku hanyalah wanita yang baru terlahir kembali, ada banyak hal yang harus aku pelajari. Dua tahun tak akan cukup untukku mempelajari semuanya. Semua di taruh sedemikian rupa di pundakku. Aku tertatih dengan langkahku sendiri. Sampai manakah aku bisa bertahan, akankah hanya sampai jalanan bebatuan nan terjal. Atau bisakah aku sampai ke puncak tertinggi kejayaan? Entah.
__ADS_1
Kaysan menarik lenganku. Rahangnya mengeras, matanya merah, wajahnya bercampur sedih.
Belum sampai kaki ini melangkah keluar dari pendopo, Ayahanda mengeluarkan titahnya, "Sayembara diterima, siapkan dirimu empat puluh hari lagi."
Tangan Kaysan semakin mencengkram erat lenganku, dia menarik tanganku hingga aku terseok-seok mengikuti langkahnya.
*
Arjuna memiliki ketampanan yang luar biasa, Arjuna tidak pernah mencari wanita, hanya saja Arjuna juga tak pernah menolak jika ada wanita yang mendekatinya. Dialah sang Playboy dari cerita perwayangan, semua seakan terpikat dengan panah asmaranya.
Dahulu kala Arjuna Sang Don Juan perwayangan ingin memperistri Larasati, namun Srikandi yang menjadi istri Arjuna terlebih dulu tak tinggal diam, ia menantang Larasati untuk berduel, jika Srikandi kalah ia dengan suka rela berbagi suami dengan Larasati dan dayang-dayang Arjuna lainnya. Karena Srikandi gegabah, dia kalah sebab kepiawaian Larasati yang memiliki kelembutan hati dan pandai meredam emosinya. Srikandi harus legowo menerima Larasati dan berbagi suami.
Aku Rinjani mungkin bisa menjadi Srikandi yang memiliki sifat keras kepala dan pemberani, jika aku menang aku bisa jatuh dipeluk Kaysan secara elegan atau jika aku kalah, mungkin memang harus begini. Kekalahan ku karena aku memang tidak mampu bersanding dengan Kaysan.
Di dalam kamar Kaysan menghempaskan tubuhku diatas ranjang, "Lancang!" Suaranya terdengar geram, "Sudah aku katakan untuk bersabar sebentar!" Kaysan mengusap wajahnya kasar, langkahnya wira-wiri, seperti orang gelisah.
"Ayahanda perlu bukti, dan Rinjani akan membuktikannya." Aku beranjak mendekati Kaysan.
"Apa yang bisa kamu banggakan, Rinjani! Semua yang kamu pelajari belum cukup untuk mengalahkan Nurmala Sari!"
"Apapun sayembara yang akan dilakukan Ayahanda, Rinjani siap menerimanya. Karena aku hanya ingin mencintaimu dengan tenang."
"Justru kamu sudah memicu ketenangan ini menjadi kegaduhan. Bagiamana jika kamu kalah? Aku tidak bisa menerima Nurmala Sari menjadi Ratu apalagi bersanding dengan ku! Aku hanya mau kamu Rinjani!" Kaysan menunduk, lalu wajahnya menoleh ke arahku,
"Sepertinya memang aku perlu menghamilimu sekarang. Tidak perlu satu tahun lagi."
Kaysan membuka seluruh pakaiannya, hingga semua tanggal tak tersisa, bibirnya menyeringai. "Jangan, sekarang mas. Rinjani masih ingin melakukan pemberontakan secara matang."
"Kamu akan hamil dan tidak akan bisa pergi dariku. Apapun yang terjadi!" Kaysan merobek bajuku, amarahnya benar-benar ia luapkan diatas ranjang.
__ADS_1
Terimakasih untuk yg setia menunggu. Matur suksma dan Rahayu kersaning Gusti ๐