Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Part spesial V [ ENDING ]


__ADS_3

Berhasil membawa gitar milik mas Erros Candra untuk Pandu Mahendra, tapi aku tidak berhasil membujuk mas Kaysan untuk menerima alasanku.


Duh Gusti, ampun, aku harus bagaimana, kenapa tadi malam aku harus ikutan nyanyi di panggung pesta rakyat. Aku kan hanya ingin menjadi ibu yang baik untuk Pandu Mahendra, aku juga hanya bermaksud untuk membujuknya untuk pulang. Tapi hatiku senang tanpa sepengetahuan mas Kaysan.


"Maafkan Rinjani, mas. Rinjani khilaf." ujarku malam itu.


"Sudah mas bilang, dik. Bicarakan apapun denganku sebelum kamu bertindak." tegasnya dengan suara datar.


"Mas kemana malam itu? Sama Dalilah foto-foto sama Nella kharisma? Siapa yang genit sekarang?" tanyaku tidak bermaksud menyalahkannya. Tapi begitulah kejadiannya saat Dalilah mengupload foto terbarunya di sosial media.


Mas Kaysan hanya diam, ia melepas bajunya sebelum kami berdua harus menjalani ruwatan di tengah malam.


Ada berbagai macam ritual yang harus kami lakukan malam ini sebelum besok pagi menjadi hari yang luar biasa bagiku dan mas Kaysan dalam sejarah berdiri kerajaan.


Tidak ada hubungan badan, tidak ada ciuman mesra selamat malam. Aku dan mas Kaysan hanya saling terdiam untuk beberapa saat.


"Good night my Empress."


"Good night my King."


Ayahanda yang berada di depan kami hanya tersenyum. Di genggamnya tangan mas Kaysan sembari diucapkannya rapalan do'a-do'a.


Mas Kaysan dengan khusyuk menunduk saat Ayahanda menyiramkan air kembang tujuh rupa di kepalanya untuk menyucikan diri. Begitu juga denganku, aku juga melakukan ritual yang sama sampai pagi.


Malam itu hanya ada suara gemericik air dan embusan angin saat aku dan mas Kaysan bersila sembari mendengarkan wejangan dari Ayahanda di pendopo belakang. Tidak ada kalimat bantahan atau pertanyaan, aku dan mas Kaysan hanya perlu mendengar penuturan Ayahanda sampai waktunya aku dan mas Kaysan harus sahur untuk puasa mutihan.


"Istirahatlah anak-anakku sebelum fajar menyingsing." ujar Ayahanda.


Kami berdua mengangguk sambil mengatupkan kedua tangan.


Setelah Ayahanda pergi menuju rumah, aku dan mas Kaysan masih sama-sama terdiam. Aku tidak tahu harus bagaimana mengatakan perasaanku hari ini, aku tidak tahu harus bagaimana untuk menyampaikan bahwa aku sedang gelisah. Sangat-sangat gelisah karena pagi nanti aku bukan lagi Rinjani yang dulu. Aku benar-benar akan memiliki gelar kebangsawanan yang diberikan Ayahanda.


Tepat pukul tiga pagi, kami menikmati segelas air putih dan nasi putih yang disajikan oleh Mbok Darmi.


"Kudu prihatin, kudu sabar." kata Mbok Darmi.

__ADS_1


Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Terimakasih Mbok." balasku saat ini.


Mas Kaysan pun ikut menimpali, "Terimakasih sudah membantu Rinjani selama ia belajar menjadi seorang Ningrat Mbok. Terimakasih." Mas Kaysan membungkuk di hadapan Mbok Darmi.


"Semoga kalian tetap guyup rukun dan saling percaya karena nantinya kalian akan dihadapkan pada tanggung jawab sosial yang besar. Kalian tidak hanya memangku jabatan sebagai Raja dan Ratu, tapi kalian juga menjadi panutan orang banyak. Sabar dan sumeh, tetap tersenyum meski hati berkecamuk dengan berbagai macam permasalahan."


Aku dan mas Kaysan mengatupkan kedua tangan dan mengangguk.


"Kalian istirahatlah. Mbok Darmi harus membuat sesaji di pendopo belakang."


Mbok Darmi membawa nampan yang berisi bekas gelas dan piring kami berdua gunakan.


Kini hanya ada aku dan mas Kaysan, di pagi hari yang terasa begitu dingin. Ku usap lenganku sebelum berusaha berdiri dengan susah karena aku memakai kain jarik dan kebaya.


Tangan mas Kaysan terulur untuk membantuku berdiri, "Ayo kita istirahat dulu, Dik. Sebelum nanti kita dibuat pusing dengan tingkah Pandu Mahendra."


Aku menggenggam tangan mas Kaysan dan beranjak berdiri. Ku peluk dia sebelum berkata, "Bantu Rinjani ya mas. Tapi jangan hukum Jani kalau melakukan kesalahan."


"Tapi Nella kharisma lebih cantik kan dari Rinjani kan mas. Nella kharisma lebih seksi dari Rinjani kan?" ujarku menggodanya.


"ssttt... punggung mas sudah pegel. Ayo ke kamar, Suryawijaya bisa jadi tidak tidur nyenyak kalau tahu bangun tidur ibunya gak ada di sampingnya."


Aku mengangguk. Hari ini cukup menguras tenaga, tapi tak menguras kebahagiaan yang tercipta.


*


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Aku sudah memakai kebaya ku, bukan baju kebaya baru, tapi baju milik Ibunda. Rambutku sudah disanggul dengan melati ronce yang menghiasi kepalaku.


Aku dan mas Kaysan bak pengantin baru yang di tarik kereta kencana untuk mengelilingi alun-alun sebelum masuk ke istana. Kami menyapa para warga yang sudah berjajar untuk melihat raja dan ratu barunya. Aku terharu melihat sambutan rakyat, begitu juga mas Kaysan yang terlihat sangat berwibawa. Suamiku tersenyum sembari menganggukkan kepalanya saat warga menyerukan namanya.


Di depan kami ada kereta kencana yang membawa Ayahanda dan Ibunda dan di tarik oleh kuda pilihan yang khusus menarik kereta kencana.


Tepat pukul delapan pagi kami sekeluarga beserta petinggi istana lainnya berada di depan awak media untuk melakukan konferensi pers sebelum dilantiknya aku dan mas Kaysan menjadi raja dan ratu secara sakral di bangsal kencana.

__ADS_1


"Rakyatku yang aku hormati sebagaimana kalian menghormatiku, perkenankan aku untuk mengenalkan kepada kalian semua di pagi hari yang begitu cerah ini. Bahwa di hari ini anak-anakku sudah siap menggantikan posisiku dan menjadi pewaris takhta kerajaan ini. Semoga kalian semua dapat menerimanya dan menyanjungnya dengan hormat dan santun." ujar Ayahanda.


Suara sorak-sorai dan tepuk tangan terdengar meriah seakan menyambutku dengan suka cita. Aku semakin terharu saat melihat barisan depan rakyat yang berjajar adalah orang-orang yang aku kenali. Mereka tersenyum manis dan melambaikan tangannya padaku.


Aku ingin menangis, sambutan hangat ini begitu berbeda dengan ekspektasiku tentang penolakan, manuver, dan demo tentang status kebangsawanan yang tidak aku miliki. Beruntunglah aku, ini semua berkat bantuan dari semua keluarga dan sanak saudara yang rela membantuku dan mas Kaysan menembus batas perbedaan dan menaiki singgasana kerajaan dengan penuh perjuangan.


Setelah pidato Ayahanda selesai, ku lambaikan tangan untuk meninggalkan warga yang mengasihiku.


Rombongan keluarga masuk ke istana untuk melanjutkan ritual khusus pelepasan takhta Ayahanda dan Ibunda.


Tiba di bangsal kencana, semua ritual harus kami lakukan dengan khusyuk. Aku dan mas Kaysan dengan khidmat menjalaninya dengan baik dan benar.


Saat Ibunda memegang kepalaku, aku tak kuasa menahan haru.


"Jadilah Ningrat yang merakyat anakku seperti Pertiwi yang diam saat dikuras habis intinya."


Aku sungkem di hadapan Ibunda. Tugas yang berat tapi aku hanya mengangguk menyetujui. "Terimakasih Ibunda atas restu paling istimewa yang Ibunda berikan. Rinjani akan menjalankan titah yang Ibunda berikan dengan baik." Ibunda mengangguk, beliau mengusap kepalaku dan mencium puncak kepalaku.


Kini giliran aku sungkem kepada Ayahanda. Aku mengatupkan kedua tanganku sebelum sungkem dengan beliau.


Ayahanda hanya berpesan, untuk menjaga lisan, jaga perbuatan, dan tetap teguhkan hati apapun masalah yang kalian hadapi nanti. Bekerjalah dengan baik dan ikhlas karena itulah yang menjadi kunci Ayahanda untuk mempertahankan benteng istana.


"Nyelehke sing kudu diselehke. Nglakoni sing kudu dilakoni. Ngikhlaske sing kudu diikhlaske. Mugi tansah pinaringan kawilujeng, kesarasan, lan katentreman lahir batin." Ayahanda mencium puncak kepalaku dan mas Kaysan secara bergantian setelah semua ritual sakral kami berdua lakukan.


Tak terasa semua ini bisa aku dan mas Kaysan selesaikan dengan baik. Kini, aku dan mas Kaysan benar-benar merasakan bagaimana rasanya duduk di singgasana kerajaan menjadi Raja dan Ratu. Memangku jabatan yang sangat besar. Dan, hari inilah awal dari perjuanganku sesungguhnya.


...***...


...Segala tentang kebersamaan, rindu, marah, dan kecewa bercampur menjadi cerita tentang kisah cinta yang kita rawat agar menjadi lebih besar dan kuat....


...Tak ada penawar kegelisahan, kekecewaan dan luka kecuali hadirmu setiap detik, setiap waktu yang mengisi kebersamaan ini....


...Semoga kita bisa menjaga apa yang kita bangun selama ini. Meskipun terombang-ambing dalam jarak yang membuat kita tahu cara merindu....


...HAPPY ENDING ๐Ÿ’—...

__ADS_1


__ADS_2