
Hari ini terasa berbeda saat aku terbangun dari tidurku yang teramat suram, Kaysan tak ada di sisiku. Tak ada tangan kekar yang memeluk perutku. Aku mengerjap, dan mengusap wajahku.
"Ya, Bunda." Suara ketukan pintu membuatku beranjak berdiri dan membukanya.
"Cantik, masih lelah?"
Aku mengangguk pelan. Bunda Sasmita merapikan rambutku.
"Kaysan akan terus meneror Bunda jika tidak melaporkan kepadanya kegiatanmu. Ayo mandi dan makan..." Bunda tersenyum, ia membawakan segelas susu coklat untukku.
"Terimakasih Bunda."
"Enak tidur di kamar Nanang?" tanya Bunda Sasmita sambil menyejajari langkahku.
"Enak gak enak, Bun. Tambah enak kalau ada mas Kaysan."
Aku duduk di tepi ranjang. Bunda terkekeh, "Ayahanda sudah bercerita."
Dahiku mengernyit.
"Bercerita apa, Bun?"
"Sadewa pengen nikah muda karena mendengar suara kalian bercinta."
Bunda Sasmita menggeleng, "Ha-ha-ha." Aku tertawa getir, bercinta dengan Kaysan adalah hal enak. Sudah dapet enak-enak, dapet pahala, siapa yang gak suka. Aku tersenyum sendiri, mengutuk pikiran kotorku. Ah, bahkan ****** ***** kemarin saja belum aku ganti.
"Maaf Bunda, maklum tombol volume susah di kontrol." Ck-ck-ck...
"Tidak apa-apa, biar Sadewa belajar mendewasakan diri sebelum ia benar-benar terjun langsung ke dunia perkawinan. Takutnya saat ia mau kawin malah muncrat duluan."
Aku dan bunda Sasmita tertawa, yang di tertawakan melongok ke dalam kamar.
"Ada komedi apa, Bun?"
"Kamu, wa. Kamu." Tunjuk Bunda Sasmita sambil tertawa.
"Aku kenapa, Bun?" Sadewa bingung, raut wajahnya berusaha menerka-nerka.
"Muncrat."
"Muncrat? Apa sih Bun, jangan ngawur." Sadewa mengambil beberapa baju ganti milik kakaknya, ia juga mengambil laptop miliknya.
Semalam kami membicarakan soal keberadaanku yang harus tinggal di rumah bunda Sasmita, pun dengan syarat Nanang tinggal di rumah utama.
Nanang setuju, tapi ia juga tidak mau dibatasi oleh waktu jika bertemu dengan Bunda Sasmita.
"Sudah-sudah tidak perlu dibahas. Cantik mandilah, bunda tunggu di meja makan."
Aku mengangguk dan membuka koper milikku, "Wa, jangan lupa janjimu."
Sadewa berkelit, ia kocar-kacir keluar dari kamar.
Setelah selesai mandi, aku menghampiri bunda Sasmita dan si kembar di meja makan.
Tersaji masakan rumahan yang aku rindukan, buatan seorang ibu.
__ADS_1
"Enak nih, Bun." kataku sambil duduk di sebelah Nakula.
"Pastilah, masakan Bunda." seru si kembar.
Mereka mengambil nasi, sayur dan lauk-pauk dengan cepat.
"Maaf Bun. Ibu hamil akan tamak jika sudah mencicipi masakan Bunda." ujar Sadewa, ia menutupi piringnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ini bukan di medan perang, jadi jangan terlihat seperti tidak makan berhari-hari." ucap Bunda Sasmita yang membuat si kembar menundukkan kepalanya.
Bunda Sasmita tersenyum, "Bunda tidak marah, bunda hanya mengingatkan jika ibu hamil memang membutuhkan asupan makanan dan nutrisi yang banyak. Apalagi saat bunda mengandung kalian dulu, Bunda benar-benar kalap." Bunda menyingkap blouse yang ia kenakan.
Terlihat goresan panjang bekas operasi Caesar. "Bunda tidak bisa melahirkan kalian secara normal, karena berat badan kalian melebihi batas normal untuk anak kembar."
Sadewa dan Nakula terlihat terharu, "Bunda..."
Kenapa hatiku jadi melankolis saat melihat si kembar memeluk bunda Sasmita secara bersamaan.
"Bunda sangat bersyukur memiliki kalian berdua dan mas Nanang. Sudah ayo makan. Kasian ibu hamil di depan kalian."
Sadewa dan Nakula melihatku, mereka berseru. "Baiklah ibu hamil, kali ini kamu menang."
Aku terkekeh kecil, dan kamipun melanjutkan makan siang.
Aku tidak tahu harus melakukan apa, jikalau harus di isolasi di dalam rumah selama lima bulan, aku akan merasa bosan. Ku hampiri Sadewa yang bersantai di depan televisi. Senyumnya naik turun, tangannya sibuk bermain ponsel.
"Wa, kapan mau belanjanya?"
Sadewa menoleh, dan menunjukkan wajah kikuk.
"Cukup, yang penting kamu sudah melunasi taruhannya. Ayo, kapan? Di rumah terus Mbak cuma kepikiran mas Kaysan. Kira-kira suamiku lagi apa, wa?"
Sadewa mendengus kesal, ia menaruh ponselnya dan beranjak duduk.
"Apa gunanya ponsel Mbak?"
"Ponselku sudah lama tak berguna, Wa. Sudah habis masa.aktif, sudah habis masa tenggang."
"Capek deh..."
Sadewa kembali merebahkan tubuhnya. Akupun begitu.
Kami lalu terdiam sekian menit. Saat infotainment memberitakan tentang perkembangan kisah cinta Andin dan Aldebaran. Kabar yang beredar, jika Aldebaran memalsukan data DNA membuat Andin kembali curiga. Lantas, Sadewa mematikan televisi.
"Rumah tangga Mbak lebih rumit daripada kisah sinetron Ikatan cinta."
"Lah, emang kamu nonton sinetron?" tanyaku penasaran. Tidak mungkin jika Sadewa anak muda, laki-laki lagi, lihatnya sinetron.
Sadewa menoleh, menunjukkan foto bunda Sasmita dengan dagunya.
"Fansnya Aldebaran." kata Sadewa lirih, "Bisa kacau jika Bunda denger kita bicarain mas Al." jelas Sadewa penuh dramatis.
Aku cekikikan, "Ganteng juga mas Kaysan, kalau marah lebih galak. Lebih gagah, tentunya..."
"Uhuk...uhuk, gak usah ngomongin burung. Nanti kangen, repot."
__ADS_1
Aku tersenyum kecut. Ada baiknya tidak membicarakan tentang 'burung' dihadapan anak muda yang kebelet kawin.
Aku tidak memberi tanggapan apapun atas perkataan Sadewa, aku memilih untuk pergi ke kamar---kamar Nanang, untuk mencari berkas-berkas yang harus aku urus. Terutama cek senilai 20 juta untuk biaya melahirkan sekaligus biaya hidup selama aku jauh dari Kaysan.
Angka 20 juta teramat banyak untukku, jika mengingat hidupku dan Kaysan di Melbourne yang tak kaya juga tak miskin. Semua terasa pas, tidak kurang tidak lebih.
Aku membuka almari milik Nanang, banyak sekali baju metal yang aku inginkan saat dulu masih sering melihat konser metal.
Sepultura, Lamb of God, Megadeth. Semua bajunya pasti di impor dari luar negeri.
Pinjem boleh ya, Nang. Dalilah menyukainya.
Aku cekikikan, Maaf ya, Nak. Kamu sering bubu jadikan alasanku untuk memenuhi keinginanku. Aku mengelus perutku, Pasti baba sudah kangen. Gumamku sambil menarik kaos dari almari, mataku membulat saat berlembar-lembar foto jatuh dari celah-celah baju yang tertumpuk.
Aku memunggut satu persatu foto-foto saat Rinjani dan Nanang berpacaran, jika dilihat, semua terasa manis dan mesra. Rinjani yang cantik, dan Nanang yang tampan.
Aku akan membuang foto ini. Kasian Anisa jika hanya menjadi pelarian Nanang.
Siang menjelang sore, aku sudah selesai membereskan baju-bajuku ke dalam almari---sementara.
Cuaca panas membuatku berkeringat. Ku buka jendela kamar dan membiarkan udara masuk, menyejukkan tubuhku. Jujur saja, dalam diam dan tidak memiliki kesibukan membuat ingatanku hanya tertuju pada Kaysan. Memang ada baiknya aku keluar rumah untuk membeli kartu perdana baru.
Aku menyaut handuk dan bersiap untuk mandi.
Ku endus aroma parfum Kaysan dari bajunya yang aku kenakan. Rasanya seperti aku di dekap tubuhnya, hangat. Namun, lama-lama aku pusing sendiri. Bodoh! alkohol mau di campurkan dimana saja memang memabukkan.
Aku keluar dari kamar, dan mencari penghuni rumah ini untuk meminjam motor.
Bibi yang bekerja di rumah ini menyapaku, "Cari apa, ehm..." Bibi rupanya bingung mau memanggilku apa.
"Jani cantik istri mas Kaysan, panggil saja itu, Bi." Bibi tersenyum dan mengangguk.
"Jani cantik istri mas Kaysan, sedang mencari apa?" tanyanya sopan.
"Bunda kemana? Si kembar juga?"
"Ibu sama den bagus lagi keluar, Jani cantik istri mas Kaysan. Mereka akan kembali saat makan malam nanti."
Aku mengangguk, "Bu, tahu kunci motor?"
Bibi tampak gugup, gelisah, bingung. "Ibu berpesan untuk tidak membiarkan Jani cantik istri Kaysan keluar rumah sendirian!"
Aku terkekeh, "Panggil Jani saja, Bi. Gak usah ditambah embel-embel, lagian bibi sudah tahukan aku istrinya mas Kaysan?"
"Sudah, Jani."
Aku tersenyum jenaka, "Jani cuma mau beli kartu perdana, Bi. Tapi, bibi punya uang 20 ribu, gak? Jani pinjem."
Duh Gusti, aku malu. Pulang dari luar negeri gak bawa uang, malah bawa kerepotan untuk semua orang.
Aku menggaruk leher belakangku, saat Bibi menatapku dengan air wajah bingung.
"Bibi punya, tapi Jani tidak diizinkan keluar rumah. Di luar ada penjaga."
APA!!! Jadi aku benar-benar di isolasi dari keramaian. Astaga, Gusti... Ayahanda....
__ADS_1
Happy Reading ππ