
Malam hari setelah kepulanganku dan Kaysan dari pantai. Aku memilih untuk merebahkan diriku di atas kasur kempis ini. Berguling-guling sambil menanti sesuatu.
Berkali-kali ku lihat HPku, tak jua ada panggilan masuk dari seorang yang aku tunggu.
Dimana gerangan mu yang mampu membuatku rindu.
Semakin malam membuatku semakin gelisah, bagaimana jika Kaysan mulai mencari ibu dan besok pagi sudah menemukan sosok menyedihkan itu. Ah, secepat inikah aku akan dipinang oleh keluarga Ningrat. Berdarah biru.
Gadis mana yang menolak pinangan dari Gusti Pangeran Haryo Kaysan Adiguna Pangarep. Semua bahkan antri untuk hanya bersalaman dengannya jika Kerajaan Hardingrat sedang membuat acara pesta rakyat di alun-alun depan Kedaton Keraton.
Tapi ini berbeda dengan ceritaku, aku takut menginjakkan kakiku diranah kerajaan Hadiningrat. Cinta memang gila, jika keputusan Kaysan memang benar akan menikahi gadis biasa sepertiku. Sudah ku pastikan akan terjadi gonjang-ganjing didalam keputusan para petinggi kerajaan.
Sepertinya aku memang sudah gila memberi syarat pada Kaysan untuk menemukan ibu sebagai imbalan tubuhku, jiwaku dan semua yang ada dalam diriku, ku berikan untuknya.
Nalarku sudah buntu, paling tidak aku tahu dimana rahim yang telah melahirkanku. Dimana rahim yang telah mengandungku dan membesarkan ku hingga kini.
Ketakutanku bukan hanya satu, melainkan banyak hal yang bertubi-tubi menjadi beban pikiranku.
Kehidupan selama 20 tahun yang aku rasakan jauh dari kata bahagia, jika menikah akan membawaku dalam lingkungan hidup yang bahagia sebagai bentuk 'kebahagiaan' yang sesungguhnya. Maka tidakkah aku menjadi wanita yang paling beruntung di negeri ini.
Namun jika sebaliknya, bila menikah membuat gadis biasa ini menderita. Maka raga dan jiwaku sudah dipastikan akan slalu berada dalam bayang-bayang hitam penderitaan.
*
[Side Story - Terus melangkah dengan caraku]
POV Kaysan.
Aku bagaikan laki-laki yang hilang kendali, berdekatan dengannya membuatku bingung. Bagaimana caranya mendekati gadis kecil ini, dia bagaikan jangkrik yang melompat-lompat, sulit aku tangkap.
__ADS_1
Jika aku mendekatinya, dia akan memundurkan langkahnya. Matanya suka mendelik, seperti berkata, "Stay Away!"
Entah dengan cara apa lagi untuk memilikinya, dia seperti sedang menjaga jarak. Gadis kecil itu suka membuang muka jika berada satu mobil denganku.
Menggigit bibir bawahnya, terlihat semakin ranum dan menggoda. Melihatnya seperti itu, membuatku yang tidak remaja lagi berfikir yang tidak-tidak. Mengemaskan, bibirnya suka ia lapisi dengan lipstik warna peach.
Tampilannya sederhana, slalu menggunakan kaos band-band metal dan celana jeans hitam, atau jika tidak dia akan menggunakan celana cargo pendek. Menampilkan paha putihnya. Ingin sekali aku menyuruhnya untuk menutup paha itu dari mata lelaki lain selain diriku. Rasanya aku sudah terlihat egois.
Tapi nyatanya aku adalah laki-laki pengecut di depannya. Bahkan kata-kata yang keluar dari mulutku slalu saja aneh terdengar.
Waktu itu lucu sekali, dia memakai rok diatas lutut. Lagi-lagi aku ingin berkomentar tentang penampilannya, dia berbeda. Tapi terlihat wajahnya menampilkan gambaran kegelisahan tidak nyaman. Apa dia ingin membuatku terkesan, atau dia hanya ingin terlihat sopan saat bertamu dirumah orangtuaku?
Aku diam-diam mendengar pembicaraan dirinya dengan Ibunda dan Ayahanda. Gelagatnya sudah ingin menolak ku.
Aku sudah sedemikian bingung. Entah kenapa gadis ini sulit ku dekati. Entah bagaimana caranya lagi harus mengatakan bahwa ada rasa yang aku simpan di dalam hati.
Aku bagi laki-laki yang kehilangan jati diri, hanya dia si anak penjudi yang mampu menggoyahkan hati.
Aku Kaysan Adiguna Pangarep, ratusan cinta datang kepadaku. Bahkan jika aku mau, aku bisa memiliki 4 istri ataupun selir hati yang banyak. Tapi tambatan hatiku hanya satu tuju. Gadis metal yang menguncir rambutnya seperti ekor kuda. Seperti menunjukkan kebebasan dalam berekspresi.
Pertemuan kita tidak slalu intens. Setelah pertemuan terakhir kami berdua, aku memilih untuk tidak menemuinya. Bahkan tidak mengirimnya makan siang. Biarkan kami berdua sama-sama berpikir jernih. Tanpa saling memaksa atau saling mengintimidasi dengan kata-kata dan perbuatan.
Malam Minggu itu kami bertemu lagi, dia berkata kepadaku, "Temui ibu Rosmini. Kamu tahu jawabannya." Jantungku menderu, itu artinya dia mau mencobanya. Mencoba untuk memulai membuka hatinya untuk ku.
Pagi harinya aku terlalu bersemangat untuk menemui ibu Rosmini, menemui juga kekasih baruku. Aku bagikan anak remaja yang sedang jatuh cinta. Sulit aku katakan, jika aku adalah laki-laki dewasa yang terjebak dalam cinta gadis remaja.
Lagi-lagi aku kesulitan memilih baju, karena isi lemari ku hanya ada baju kerja, baju adat, baju tidur, dan baju-baju semi formal lainnya.
Sepertinya setelah ini, aku harus belanja baju keren agar bisa memasuki dunianya.
__ADS_1
Keputusanku memang sangat beresiko. Bahkan mungkin akan terjadi perdebatan dikalangan keluarga kerajaan. Tapi... aku menghela nafas. Restu dari orangtuaku sudah ada di genggaman tanganku, kini tinggallah aku yang maju.
Di toko milik ibu Rosmini aku disidang habis-habisan oleh pemilik toko ini. Menanyakan ranah pribadiku. Aku yang sudah keblinger dengan semua pertanyaan ibu Rosmini akhirnya terpaksa berkata jujur.
Jika kekasihku adalah karyawannya. Mata Bu Rosmini membulat seketika.
Bibirnya berkata panjang lebar mengatakan rahasia, jika diam-diam Rinjani memberi tanda cinta di nomer yang dulu pernah aku tulis.
Jadi apa gadis ini sedang menarik ulur hatinya. Mempermainkan perasaan kami berdua.
Hari belum terlalu siang. Terbesit di benak ku untuk mengajaknya jalan-jalan. Terlebih juragannya memberi libur karena sudah bertemu denganku. Aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk lebih dekat dengannya.
Pantai adalah tujuan ku. Bukannya aku mendapat pelukan keduanya. Tubuhku harus kaku dibelakangnya. Gadis kecil ini lihay sekali mengendarai motor besar ditambah tubuhku yang kekar. Dia memang gadis yang berbeda, membuat ku semakin menggilainya dalam diam.
Karena mulutku akan slalu terkunci saat berdekatan dengannya. Entah karena kami belum terlalu banyak mengenal atau aku yang menahan diriku untuk tidak bertindak berlebihan.
Di kebun singkong milik warga setempat, dia menangis di peluk ku. Apa gadis ini sudah nyaman menceritakan kisah hidupnya yang kelam. Dia memberiku syarat untuk mencari ibunya.
Aku cukup kebingungan untuk mencarinya, bahkan nama ibunya aku tidak tahu.
Sepertinya memang aku harus menggunakan kekuasaanku atau aku akan kehilangannya. Gadis malang yang mencuri sebagian hatiku.
Malamnya aku sibuk sendiri, memerintahkan abdiku dan jajaran lainnya untuk mencari dimana ibu kekasihku. Entah dimana keberadaannya, aku menganggap ini adalah bagian dari caranya mengujiku. Menguji keseriusanku untuk menikahinya.
Rinjani harus berada di bawah kekuasaanku, Kaysan Adiguna Pangarep!
POV Kaysan End π
Rahayu kersaning Gusti π
__ADS_1