
Barangkali memang cinta tak butuh aksara, hanya perlu saling percaya.
Barangkali cinta tak perlu alasan,
untuk mencapai satu tujuan.
Barangkali cinta tak butuh pengakuan,
hanya perlu sebuah ikatan.
"Datanglah ke hotel Ambarukmo nomer 173, sepulang kuliah. Aku tunggu."
Laki-laki memang manis saat ada maunya, laki-laki juga terkadang pesimis untuk mengutarakan cinta. Dan, bodohnya lagi cinta adalah paket komplit susu rasa kopi. Manis, pahit, lekat dan nikmat. Kalau ditakar dengan baik rasanya pasti aduhai.
Seperti kopi tubruk, lugu, sederhana, tapi sangat memikat kalau kita mengenalnya lebih dalam, { kutipan filosofi kopi }. Apa aku sudah seperti kopi tubruk, ah sudah pasti di hotel nanti juga akan di tubruk.
Entah apa yang ada dalam dirinya, gerak geriknya slalu tidak pasti. Namun, aku menyukainya, entah kenapa.
Menaiki taksi online, aku menuju salah satu hotel bintang lima di pusat kota. Hotel yang pernah mangkrak dan kini kembali berdiri megah dengan bangunan baru yang lebih kekinian dan elegan.
Bukankah ini seperti main kucing-kucingan dengan awak media atau paparazi, kiprah Kaysan sudah pasti akan ada banyak orang yang mengikuti, tapi bukankah dia orang yang di segani. Pasti Kaysan sudah memikirkan hal matang sebelum dia mengajakku bertemu di hotel.
Aku berdecih, apa aku terlihat seperti ayam kampus? Emang kampret laki-laki itu, menyuruh seorang wanita yang berpura-pura menjadi gadis untuk menemui om-om di hotel. Bagaimana jika temanku tahu, gak lucu, 'kan. Akupun tidak mau martabat ku hancur karena sebuah alasan ingin bercinta dikamar hotel. Ingin ku jitak jidatnya jika bertemu nanti, bisa-bisanya membuat keputusan sendiri.
Aku menghela nafas, perjalanan menuju hotel terbilang singkat. Hanya saja di pertigaan jalan Colombo jam segini adalah jam dimana anak-anak sekolah juga sedang pulang sekolah. Kemacetan mengular, terlihat berkali-kali Kaysan mengirim pesan untuk cepat datang. Dia pikir taksi online yang aku tumpangi bisa terbang atau mendapat iringi-iringan mobil polisi. Dia lupa, jika diluar rumah, aku ini adalah rakyat biasa seperti statusku sebelumnya. Dasar! Laki-laki tidak peka.
Selang 20 menit, tibalah aku di hall hotel Ambarukmo, aku menelan ludahku susah payah. Setelah aku membayar biaya transportasi, aku berjalan menuju lobby hotel.
Ini adalah kali pertama aku masuk ke dalam hotel berbintang. Ku lihat penampilanku dari atas ke bawah, kenapa seperti mahasiswa yang mau magang. Astaga, bisa-bisa beneran dianggap ayam kampus aku. Ingin ku kutuk Kaysan menjadi ayam bertelur dua, hishh. Mau kawin aja harus repot-repot ke hotel.
Masuk ke dalam hotel, aku kebingungan. Dimana letak kamar 173, tidak mungkin aku bertanya kepada resepsionis, nanti dia tahu siapa yang aku temui. Tambah kacau jadinya.
Akhirnya aku memilih untuk mengambil HPku dan menghubungi Kaysan. Satu kali sambungan, suaranya terdengar dari balik telepon.
"....,"
"Dimana sih, lantai berapa?" tanyaku sambil mengedarkan pandangan.
"....,"
"Sebel, tungguin sebentar."
"....,"
"Edan!"
Setelah mengumpat, aku tergesa-gesa menuju lift. Dia ada dilantai 9. Nanti dilantai 9 cari ruangan paling ujung, dan dia hanya memberiku waktu lima menit. Jika terlambat aku dihukum, dengan bodohnya aku slalu termakan ucapannya dan menuruti perintahnya. Gusti, cinta tak kan sekeren ini 'kan, jika umatnya yang begitu banyak menuntut hal yang mudah namun seakan dipersulit. Ketemu dirumah saja asik.
Tiba di depan kamar 173, aku mengatur nafasku yang terengah-engah. Setelah keluar dari lift tadi, aku berlari menuju kamar paling ujung. Daripada kena hukuman, aku lari sekuat tenaga seperti saat dikejar preman dulu.
__ADS_1
Aku menekan bell kamar, selang beberapa detik pintu itu terbuka. Menampakkan Kaysan yang sungguh bikin aku ngiler, laki-laki itu ah sudahlah. Cukup aku saja yang tahu.
"Jahat kamu, Mas."
"Apa lagi?" katanya sambil menuntunku duduk di kursi tamu.
"Capek. Aku haus, Mas."
"Memang kamu habis apa, Rinjani?"
Mataku melotot, dengan cepat aku memukulnya dengan bantal sofa. "Aku lari tau!"
"Kasian sekali, sepertinya kamu sudah rindu sekali denganku, Rinjani."
Aku berdecih, satu pukulan lagi mendarat di bahu Kaysan.
"Siapa yang rindu, aku enggak tuh! Jangan geer, Mas."
"Lalu untuk apa kamu berlari?"
"Untuk kamu, Mas."
Senyuman merekah, "Apa segitu cintanya kamu dengan tas ranselmu, sedaritadi kamu gendong terus."
"Aku cinta sekali dengan tas ini, dia saksi bisu tau." kataku sambil menaruh tas ranselku di atas meja.
"Lancar?"
"Kuliahnya?"
Laki-laki di depanku ini membuka tas ranselku, dan mengambil laptopku.
Ia membukanya, sedangkan aku memilih untuk berjalan-jalan di dalam kamar. Melihat pemandangan dan fasilitas lainnya.
"Kenapa seperti ini?"
"Apanya?" ucapku sambil menghampirinya.
"Kenapa wajahku seperti ini? Kamu terlihat muda seperti anak SMA, sedangkan aku seperti om-om."
Aku tergelak, sewaktu foto bersama setelah konser metal selesai tempo lalu. Kami seluruh panitia acara menyempatkan berfoto ria dengan anak Raja yang tak terduga datangnya. Jika panitia lainnya sudah lelah dan nyaris tepar, Kaysan justru menampakkan wajah seriusnya.
"Kamu memang seperti om-om, baru sadar? Jani tadi dilihatin banyak orang saat kesini, dikira anak kuliah salah tempat, masuk hotel siang-siang. Kamu gila, Mas." Aku menyilangkan jariku miring diatas kening, sinting.
"Aku ingin berdua denganmu, lagipula besok weekend. Aku tidak kerja, kamupun tidak kuliah." jelasnya tak ketinggalan binar matanya.
"Jadi intinya apa? Pindah tempat tidur?"
Kaysan mengangguk, "Tadinya aku ingin pesan kamar khusus pasangan bulan madu. Tapi rasanya aneh, statusku diluar belum menikah. Jadi nikmati apa adanya, ya?"
__ADS_1
Aku memukul bahu Kaysan, "Semua yang kamu lakukan itu berlebihan, Mas. Dan, aku tidak enak menerima semua perlakuanmu."
"Kamu Istimewa."
"Siang-siang tidak usah banyak merayu!"
"Kamar ini ber-AC, dan aku kedinginan."
"Salah siapa tidak pake baju, kamu banyak alasan. Masuk angin, kapok."
"Kapok, pisang?"
"Kepok sayang, kamu garing."
"Lagi!"
"Apanya?"
"Panggil aku sayang."
"Dasar om-om genit."
"Kamu sudah menyulut dia, sayang."
"Cukup, cukup, cukup...!"
Aku mencubit perut Kaysan. "Telingaku geli mendengar suaramu, Mas."
"Aku menyayangimu, Rinjani. Tetaplah bersamaku apapun yang terjadi."
"Tahan dulu!" Aku menahan tangannya, yang siap menari di atas tubuhku.
Sedangkan aku menghidupkan lagu dari laptopku. Lagu-lagu yang aku download beberapa hari yang lalu.
"Berdansalah denganku, Mas." lirihku sambil menarik tangannya, dia yang sudah bertelanjang dada semakin membuatku bernafsu untuk membenamkan wajahku di dadanya yang bidang. Seksi.
"Kamu bisa berdansa?" tanyanya sambil memegang pinggangku, aku menggeleng.
"Lalu untuk apa kamu mengajakku berdansa?"
Kakiku beranjak menaiki punggung kakinya, sedikit berjinjit sambil merangkulkan tanganku dilehernya, "Berat gak, Mas?" Kaysan menggeleng.
"Ajak aku kemana saja langkahmu bergerak."
Tangannya erat memegang pinggangku, diiringi musik ballet tempo dulu, kakinya mulai bergerak maju dan mundur. Terkadang berputar sesuai iringan lagu. Rambutku terurai bebas, Kaysan semakin mengeratkan pelukannya.
"Ada bagian dari hidup yang perlu kita bagi, Mas. Jika lelah katakan, tak perlu disimpan sendiri. Menepilah."
Kaki itu terus melangkah mundur. Hembusan nafasnya tak henti-hentinya mengelitik telingaku.
__ADS_1
"Tak lebih indah dari waktu yang bisa aku habiskan denganmu. Terimakasih, sudah terlahir dan ada untukku."
Ehm... mantap-mantapnya nanti malam. 🤭