Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Ritme jentaka I ]


__ADS_3

POV author.


Kemarahan Kaysan terhadap Rinjani bercampur dengan perasaan rindu yang berkecamuk di dadanya. Ada perasaan lain yang enggan di akuinya dan berusaha disangkalnya. Karma telah ia dapatkan dengan telak. Rasa cemburu, amarah, dan kekacauan yang sering dirasakan Rinjani kini dialami olehnya.


Malam harinya, setelah makan malam yang disini dengan ketegangan dari segala penjuru arah. Kaysan menemui Ayahanda dan meminta penjelasan. Sekali lagi Ayahanda hanya menunjukkan senyumnya.


"Kamu baru saja pulang dan membuat kegaduhan. Lihatlah, semua takut karena amarahmu. Bahkan cucuku sedaritadi hanya menangis karena melihat dirimu." cela Ayahanda.


Kaysan membuang nafas kasar, "Pecat Santosa!"


"Apa yang kamu takutkan putraku? Kamu cemburu? Dalilah nyaman dengannya Santosa karena ia memiliki ketulusan dan hati yang lembut. Berbeda dengan kita yang keras kepala dan pemarah saat semua tidak sesuai yang kita bayangkan. Ayahanda akui itu." Ayahanda merenggangkan otot-ototnya yang kaku.


"Bagaimana dengan besanku?"


Kaysan mendongkak, "Mertuaku akan tinggal disini sementara, sampai aku mampu membeli rumah untuk mereka." ujar Kaysan lantang.


"Tidak apa-apa mereka tinggal disini, lagipula rumah ini terlalu luas jika hanya kita tinggali berlima. Dan, satu lagi. Menjadi ajudan Rinjani atau tidak, Santosa tetap bekerja denganku."


Kaysan berang, "Apalagi yang Ayahanda rencanakan?"


"Buang jauh-jauh pikiran buruk mu terhadap Ayahanda, putraku. Selama bekerja, Santosa tidak pernah kurang ajar terhadap Rinjani atau Dalilah. Justru dialah yang menyelamatkan istrimu dari drama baby blues syndrome. Dialah yang membuat Dalilah tenang selama kamu tidak ada. Harusnya kamu berterimakasih kepadanya!"


Ayahanda dengan sengaja mengompori Kaysan dengan kejujuran yang ada, "Jadi aku berhutang budi kepada seorang ajudan? Ayahanda tidak lupa dengan statusku?"


Ayahanda terbahak mendengar penuturan Kaysan, "Bukankah Ayahanda belum mengangkatmu kembali menjadi putra mahkota di depan khalayak umum? Orang-orang masih mengira jika kamu tenggelam bersama keputusanmu yang membuat geger seluruh kota."


Kaysan semakin gusar, "Apa Ayahanda menipuku untuk pulang dengan dalih Panji ingin menguasai kerajaan dan sekarang saat aku kembali Ayahanda berniat mempermainkan ku?"


Ayahanda tertawa, "Harusnya kamu menemani istrimu. Rinjani sangat merindukanmu hingga kemarin malam Minggu dia harus bersenang-senang dengan adik-adiknya untuk mengusir rasa penat karena menunggumu. Baguslah, jika kamu pulang lebih awal. Lebih banyak waktu untuk mempersiapkan segalanya." seru Ayahanda, tanpa peduli dengan carut-marut tentang keadaan Kaysan.


Sementara Kaysan harus berurusan dengan akibat-akibat perbuatannya. Rinjani sibuk mencerna apa yang sesungguhnya terjadi. Ia menghampiri Laura di kamarnya, "Mama..." panggilnya lirih.


Di dalam kamar, Laura dan Herman saling melempar pandang. Harusnya hari pertama mereka datang ke tanah Jawa disambut dengan suka cita oleh keluarga Kaysan yang berakhir pesta kecil-kecilan untuk penyambutan. Siapa sangka, justru keadaan genting harus Laura dan Keenan rasakan. Keenam beruntung, ia dibawa si kembar untuk keluar rumah. Sedangkan Laura dan Herman, mereka harus melewati malam-malam penuh ketegangan.


Tak ingin memperkeruh suasana, Herman meminta Laura agar tidak membocorkan rahasia Kaysan---selama Kaysan tidak bersikap kasar---KDRT. Laura paham, ia yang masih merindukan Rinjani. Membuka pintu dan menyuruhnya untuk masuk.


"Mama..." panggil Rinjani lagi.


"Belum tidur?" tanya Laura.

__ADS_1


Herman menepuk sisi tepian ranjang. Meminta Rinjani untuk duduk disebelahnya, "Akhirnya anak bapak jadi seorang ibu. Bagaimana rasanya?"


Rinjani menghempaskan tubuhnya dengan cepat. Seketika mulutnya sudah gatal menceritakan segalanya.


"Deg-degan Jani, Pak. Apalagi waktu melahirkan. Huahhh... seluruh jiwa ragaku melayang di awang-awang. Mau mati rasanya, sakit sekali. Apalagi Rinjani harus menerima jahitan di mulut serviks." Rinjani mendesah lega, "Tapi waktu Rinjani melihat Dalilah, huaaa... Dia cantik kan, menurut Bapak gimana?"


Laura tersenyum mendengar penuturan Rinjani. Sedangkan Herman memberi kode kepada Laura untuk membuat Rinjani mengalihkan bahan pembicaraan.


"Cantik alami... Bibirnya mungil sepertimu yang tentunya pasti cerewet. Bapak jadi ingat dengan ibumu." kata Herman, "Bapak ingin mengunjungi makam ibumu dan meminta maaf. Apa boleh?" Herman mengelus-elus rambut Rinjani.


Rinjani mengangguk, "Ibu pasti suka Bapak mengunjunginya. Mama, kamu jangan cemburu jika bapak menemani mantan istrinya." Laura manggut-manggut pasrah, ia terjebak dalam situasi melodrama yang harus ia jalankan. Memegang rahasia yang rasanya cukup untuk


"Tidak, Mama tidak akan cemburu. Lagipula kamu akan segera punya adik."


"APA!!!" Rinjani berdiri dan berkacak pinggang. "Apa kamu belum menopause, Ma?" Laura menggeleng.


"Dalilah akan mempunyai Om dan Tante blesteran. Pasti lucu sekali." Rinjani berdecak kagum membayangkan adiknya yang akan seusia anaknya.


"Tapi belum kami proses, jadi lebih baik kamu istirahat dan membiarkan mama dan Bapak membuatkan om dan tante blesteran Jawa-Australia untuk Dalilah."


Rinjani menatap Laura dan Herman secara bergantian.


"Kalau kawin jangan keras-keras suaranya, disini kamarnya tidak kedap suara." ujar Rinjani dengan lirih. Mewanti-wanti kedua orangtuanya untuk tidak membuat polusi suara.


Pernah suatu malam ketika mereka sudah sah menjadi suami istri, Laura dengan sengaja menggoda Herman. Herman tak kuasa yang akhirnya membuatnya mengalami ejakulasi dini.


"Baiklah, mama dan Bapak harus istirahat. Besok mama akan membuatkan kue kesukaanmu dan belajar memasak masakan rumahan."


Rinjani mengangguk, "Semoga mama betah tinggal disini. Soalnya Ayahanda galak."


Laura tertawa kecil, "Ayahanda memang galak, tapi jika ada Dalilah Ayahanda akan luluh."


"Mama kira Dalilah senjata?" sela Rinjani.


"Senjata paling imut." katanya sambil mengantar Rinjani keluar kamar.


"Good night, sayang."


"Selamat bersenang-senang, Ma."

__ADS_1


Rinjani berjalan menuju kamarnya, secara kebetulan Kaysan juga sudah selesai berdebat dengan Ayahanda yang berakhir kekalahan di pihak Kaysan. Kaysan menepi di depan kolam ikan, sambil menyesap rokok ditangannya.


Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Rinjani masih terjaga sembari menyusui Dalilah, ia juga menunggu Kaysan kembali ke kamar. Ada beberapa hal yang mau iya tanyakan berhubungan dengan sikapnya yang dingin.


Semenjak tadi siang, Kaysan mendiamkan Rinjani yang justru membuat Rinjani merasa bersalah karena mengingkari peraturan yang Kaysan katakan.


"Tidurlah sayang, bubu mau bicara dengan baba. Ini serius, kamu jangan menangis dulu. Karena om Santosa sedang sembunyi takut dimarahin baba yang galak." gumam Rinjani sambil menaruh Dalilah di atas ranjang.


"Sebentar ya Dalilah, bubu harus meluruskan kesalahpahaman yang membuat baba cemburu." Rinjani mencium kening Dalilah.


Berjalan berjingkit, Rinjani keluar kamar dan menutup pintu tanpa suara. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang biasanya Kaysan hinggapi.


"Baru datang sudah hilang." gumam Rinjani sembari membuka tutup pintu ruangan yang ia lalui, "Lagaknya cemburu terus ngambek, padahal cuma mau disayang-sayang." Rinjani mengambil segelas air putih dan meminumnya.


"Aku curiga, mas Kaysan pulang cepat dari tanggal yang ia janjikan. Apa jangan-jangan ada sesuatu?" Rinjani berkacak pinggang sebelah tangan. Pusing menerka sendiri, ia memilih keluar rumah.


Benar saja, sosok laki-laki yang ia rindukan sedang duduk termenung di pinggir kolam.


"Kalau mau tidur di dekat Dalilah, mas harus mengganti pakaian. Bau rokok!" seru Rinjani.


Kaysan mendongkak, ia menatap lamat-lamat wajah Rinjani.


"Kamu meninggalkan Dalilah sendirian di kamar?" tanya Kaysan.


"Apa hanya Dalilah yang mas khawatirkan?"


"Aku sedang malas berdebat, tidurlah." usir Kaysan.


"Apa begini awal dari pertemuan panjang yang kita nantikan? Kalau Rinjani salah, Rinjani minta maaf. Bahkan Rinjani berani bersumpah, jika Santosa sama sekali tidak menyentuhku. Ia hanya membantuku mengasuh Dalilah, karena waktu itu Dalilah rewel habis disuntik. Dalilah keterusan, ia nyaman di gendong sama Santosa. Yang suka sama Santosa itu Dalilah bukan aku, karena Dalilah menganggap Santosa itu bapaknya."


Penjelasan ringkas yang Rinjani lontarkan seakan menjadi bukti bahwa Dalilah lupa dengan Kaysan---bapak biologis yang menurunkan darah bangsawan yang mengalir dalam darah putrinya.


Rinjani menjadi korban atas tindakan keegoisannya. Bahkan Rinjani masih tidak menyadari jika suaminya yang bersalah atas kecerobohan yang Kaysan lakukan. Ia menganggap Anne adalah kancil yang berakal cerdik. Menggunakan kesempatan untuk mengelabuhinya diam-diam.


Rencana Kaysan yang disusun secara sistematis, hancur akibat ulahnya sendiri.


Hal-hal menjadi semakin terasa berat untuk di lalui tanpa renjana. Rindu, berahi, dan sebagainya pupus ditelan jentaka akibat kecemburuan yang Kaysan telan mentah-mentah. Kaysan berdiri, ia menghampiri Rinjani dan memeluknya.


"Maaf atas sikapku hari ini. Boleh aku memperbaikinya?"

__ADS_1


Rinjani mengangguk, ia membalas pelukan Kaysan dengan hangat.


Happy reading ๐Ÿ’š


__ADS_2