
"Mas, siapa yang sakit?" Nurmala Sari datang dengan membawa box medis perlengkapan pemeriksaan.
"Ayo masuk, Mala. Dia ada di kamarku."
"Kamar...?" Dahi Nurmala mengerenyit.
"Ya." Kaysan berjalan mendahului Nurmala, meski tahu dimana kamar Kaysan, Nurmala hanya mengangguk.
Di dalam kamar Kaysan, masih terlihat Juwita Ningrat yang menemani Rinjani. Pemilik mata sembab itu masih terpejam.
"Nurmala... akhirnya kamu datang." Juwita Ningrat berdiri menghampiri Nurmala yang tampak kaget melihat seorang gadis yang berbaring diatas ranjang kaysan dengan baju yang berlumpur tanah merah. Sangat kontras dengan seprai Kaysan yang berwarna putih.
"Ibunda..." Nurmala Sari menyalami Juwita Ningrat dan membungkuk.
"Periksalah gadis ini, sudah satu jam dia tidak sadar-sadar." titah Juwita yang diangguki Nurmala.
Dengan bergegas Nurmala mengambil peralatannya. Memeriksa denyut nadi Rinjani dan kelopak matanya. Memeriksa suhu tubuh Rinjani dan memeriksa kondisi fisik lainnya.
Selesai melakukan pemeriksaan, Nurmala menatap Kaysan dengan penuh tanda tanya.
"Bagaimana Nur, keadaannya?" Juwita Ningrat sudah tidak sabar, sedangkan Kaysan hanya diam membisu. Mengamati Rinjani dengan penuh kasih.
"Sepertinya gadis ini mengalami syok berat ditambah keadaan tubuh yang sedang lemas." jelas Nurmala sambil mencatat resep obat, "Tebus obat ini ke apotek dan belikan juga gadis ini pembalut."
"Kay, belikan ini untuk Rinjani sebelum ia terbangun sudah ada obatnya dan pembalutnya." Juwita menerima secarik kertas yang ditulis Nurmala dan menyerahkannya kepada Kaysan.
Kaysan tak mengucap sepatah kata, ia keluar dengan tergesa-gesa.
Kini dikamar itu hanya ada Juwita Ningrat, Nurmala Sari dan Rinjani. Tiga wanita yang berarti untuk Kaysan, Nurmala adalah bagian dari kisah masa lalunya, Nurmala adalah seorang dokter muda yang dipercaya keluarga Sultan Agung Adiguna Pangarep untuk mempercayakan kesehatan keluarganya.
Setelah pupus harapan untuk meminang Nurmala Sari menjadi menantu di keluarga Adiguna Pangarep. Raden Ayu Nurmala Sari Tirtodiningratan kini masih melajang setelah lima tahun berpacaran dengan Kaysan. Usianya terpaut lima tahun dengan Kaysan.
Meski hubungan perjodohan mereka gagal, Kaysan dan Nurmala Sari masih tetap menjadi teman baik.
"Ibunda, boleh Mala bertanya?" Juwita dan Nurmala duduk di sofa yang berada di kamar Kaysan.
Juwita Ningrat tersenyum, ia tahu maksud Nurmala Sari.
"Gadis itu bernama Rinjani, Bunda mengenalnya di pasar karang gayam. Ibunya baru saja meninggal."
"Bagaimana mas Kaysan bisa bersamanya Ibunda?" Nurmala penasaran.
"Karena mereka telah bersama, Nurmala. Rinjani adalah gadis baik yang bernasib buruk. Gadis itu yang membuat Kaysan sering kelayapan sekarang, Ibunda senang. Kaysan bisa membuka hatinya lagi. Nur... jika Kaysan menikah. Ibunda harap kamu juga bisa legowo. Ibunda tahu tidak ada yang salah dengan hubunganmu dan Kaysan. Ibunda harap kamu mengerti apa yang tidak Ibunda jelaskan." Juwita Ningrat menggenggam tangan Nurmala Sari. [ legowo : ikhlas ]
Nurmala Sari setengah tersenyum, "Dia masih terlihat muda, Ibunda. Bagaimana dengan mas Kaysan, dia terlihat lebih cocok seperti adik untuk mas Kaysan."
__ADS_1
"Entah apa yang ada di gadis itu, Ibunda juga tidak tahu. Jika nanti dia sembuh kamu akan tahu tingkahnya yang membuat Kaysan slalu tersenyum." Juwita Ningrat mengelus rambut Nurmala, "Ikhlaskan Kaysan untuk bahagia."
Nurmala mengangguk, dari raut wajahnya terlihat seperti kekurangan gula. Nurmala Sari gelisah.
"Baiklah, semoga Rinjani lekas sembuh. Ibunda, Nurmala masih ada jadwal kunjungan ke rumah sakit. Jika nanti Rinjani sudah sadar, tolong sarankan untuk menjaga pola makan dan gaya hidup. Nurmala takut jika dismenore yang ia idap akan mempengaruhi kesehatan reproduksinya." Nurmala tersenyum kecut.
"Terimakasih Nurmala, Ibunda tidak bisa mengantarmu sampai kedepan." Juwita mengelus rambut Nurmala saat wanita itu menyalaminya dan membungkuk hormat.
"Hati-hati cah ayu."
Nurmala mengangguk, membereskan barang bawaannya dan keluar dari kamar Kaysan.
Di parkiran mobil, ia berpapasan dengan Kaysan yang sudah kembali dari apotek.
"Mala..." Kaysan menghampirinya.
"Ya mas, ada apa?" tanya Nurmala.
"Apa Rinjani sudah sadar?" Nurmala tersenyum, "Jika belum sadar, 'kan bisa mas kasih nafas buatan." Goda Nurmala yang direspon bulatnya mata Kaysan.
"Jangan asal bicara Nurmala! Aku menjaganya."
Nurmala menghela nafas panjang, "Kenapa mas dulu tak menjagaku seperti mas menjaga Rinjani sekarang?"
"Nurmala, hentikan!" Kaysan sudah menajamkan matanya.
Di dalam kamar ia mendapati Rinjani masih terpejam.
"Ibunda, kenapa Jani belum sadar?" Kaysan memeriksa suhu badan Rinjani.
"Biarkan dia istirahat, Kay. Ibunda harus ke kembali kamar untuk mencari baju ganti Rinjani. Ibunda tinggal, ingat jangan melakukan sesuatu yang fatal." Peringatan Juwita Ningrat yang membuat Kaysan mengangguk pasrah.
"Ibunda, apa perlu Jani dibawa kerumah sakit?"
"Tidak perlu, Kay. Nurmala tadi berpesan hanya untuk menjaga pola makan dan gaya hidup."
"Baik Ibunda. Terimakasih sudah menjaga Rinjani."
Setelah Juwita Ningrat keluar kamar, kini tinggallah mereka berdua.
Kaysan duduk di sisi ranjang, menghadap Rinjani dengan kedua tangan yang saling menggenggam, "Aku ingin meminta restu pada ibu lewat do'aku. Bangunlah, nanti malam kita bersama kirim Do'a untuk ibu. Bangunlah gadis kecilku, terimalah aku bersanding denganmu."
*
Aku mendengar semua pembicaraan mereka berdua, Ibunda Ratu dan wanita yang di panggil Mala oleh kekasihku.
__ADS_1
Apa artinya dia Nurmala Sari mantan kekasih kekasihku. Semakin ku dengar pembicaraan mereka semakin aku tak ingin terbangun. Bahkan kata-kata Nurmala Sari seperti mengejekku. Tentang organ reproduksiku yang sering bermasalah saat haid. Aku tahu 'anak' dalam sebuah kerajaan adalah impian untuk melanjutkan penerus tahta. Lalu bagaimana jika diriku bermasalah, bagaimana nanti jika aku tidak bisa memberikan Kaysan keturunan.
Aku memejamkan mataku dalam ketakutan, hingga ku dapati tangan Kaysan menggengam tanganku. Kata-katanya membuatku semakin takut, bagaimana jika harapan Kaysan bersanding denganku adalah sebuah kesalahan dan aku hanya akan membuatnya malu dihadapan Ayahanda Raja yang sudah memberinya izin mendekati gadis biasa, anak penjudi pula.
Sepertinya aku harus tegas dengan hubungan ini. Ku buka mataku perlahan-lahan, cahaya lampu menyilaukan mataku. Kepalaku pusing, fokus mataku berkunang-kunang.
"Jani, Jani sudah sadar." Kaysan seperti mendapat secercah harapan.
"Mas..."
"Berbaringlah, jangan dipaksakan." Aku menarik tanganku yang masih di genggam oleh Kaysan.
"Mas, antar Rinjani pulang." pintaku tak mau menatap mata yang berbinar itu.
"Tidak aku izinkan sebelum kamu benar-benar sembuh."
"Mas, aku butuh waktu untuk sendiri." kataku berusaha mencari alasan.
"Rinjani!" Nada suaranya berubah menjadi nada ketegasan.
"Mas, aku hanya slalu merepotkanmu dan Ibun..."
Lengkingan suara itu membuatku mengalihkan pandanganku, "Cah ayu, sudah sadar. Ayo minum dulu." Juwita Ningrat menjentik jarinya mengusir Kaysan dari sisi ranjang.
Aku yang merasa tidak enak hati, terhuyung menganggat tubuhku sendiri. "Ibunda maaf, Rinjani hanya merepotkan Ibunda terus." kataku sambil menunduk menahan pusing sekaligus menghormatinya.
"Sudah-sudah... Rinjani makan dulu dan minum obatmu." Ku lihat di tangan Ibunda Ratu sudah tersedia sepiring bubur ayam.
"Kamu pilih, Ibunda atau Kaysan yang menyuapimu?" Pilihan yang membuatku semakin pusing.
Aku berganti menatap Kaysan dan Ibunda.
"Rinjani bisa makan sendiri Ibunda." kataku mengambil posisi aman.
Juwita Ningrat terkekeh, "Kay, malu dia Kay."
Kenapa aku terlihat seperti bocah yang sedang di kerjain dua orang dewasa.
"Baiklah, Ibunda memberi kalian waktu. Tapi ingat Kay, setelah selesai menyuapi Rinjani, biarkan dia istirahat, redam egomu untuk berduaan." Juwita Ningrat menyerahkan piringnya ke tangan Kaysan.
Ku lihat Kaysan senang sekali, dia mengangguk, "Seperti ini sudah cukup Ibunda." katanya.
"Cah ayu, pencet tombol pemadam kebakaran itu jika Kaysan mulai bermain api." Juwita menunjuk tombol berwarna merah dengan logo api yang berjajar dengan tombol-tombol lainnya.
*
__ADS_1
Lanjut, like dulu πππ