Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 57. [Side Story - Mengejutkanmu II ]


__ADS_3

Gadis kecil ini baru saja terbangun dari arus mimpinya. Dia seperti gadis linglung, seperti banyak yang sedang ia pikirkan. Kesempatan untuk berdua dengan Rinjani terhalang dengan hadirnya Ibunda yang membawakan Rinjani senampan bubur ayam dan teh manis hangat.


Aku mendengus sebal, tapi bukan Ibunda jika tidak tahu letak dimana aku harus menyerang, memberi garis kecil ini perhatian. Ibunda tahu, semangkok bubur ayam itu adalah ide cemerlang. Aku senang bukan main, saat Ibunda berjalan keluar dan membiarkanku menyuapi Rinjani.


Dia bagai anak ayam yang patuh pada induknya. Entah bagaimana hal kecil seperti ini membuatku senang. Rasanya aku ingin mencium bibirnya yang cemberut selama aku menyuapi Rinjani. Tapi itu tidak mungkin terjadi. Setelah Rinjani minum obat, omongannya mulai melantur. Bahkan dia sempat berkata 'Bagaimana jika aku ingkar janji mas'


Aku mengerti maksudnya, dia ingin membatalkan rencana awal kesepakatan yang ia buat sendiri. Aku tak menyangka jika apa yang aku lakukan hanya akan sia-sia.


Dengan dalih efek samping dari obat yang ia minum, aku menyuruhnya istirahat. Dengan begitu aku bisa menenangkan diriku sejenak, memikirkan caranya lagi untuk meyakinkannya.


Pikirku melayang pada Nina dan Bu Rosmini, hanya mereka berdua orang terdekat Rinjani. Terbesit ide untuk mengajak mereka melakukan hantaran Do'a.


Siang itu selepas aku menyuruh kedua abdi untuk menjaga kamar Rinjani, mobilku melaju kencang menuju rumah Bu Rosmini dan Nina.


Sama seperti Rinjani, mereka berdua menangis tak percaya. Nina bahkan mengucap sumpah serapan, jika yang aku lakukan adalah kebohongan dengan dalih untuk cepat-cepat menikahi Rinjani.


Namun kabar burung, jika beberapa waktu lalu terdengar kecelakaan maut di seberang desa membuat Nina seketika bungkam. Dia terus menangis, memikirkan bagaimana nasib Rinjani. Aku menyadari jika persahabatan itu lebih kental dari sebuah ikatan darah.


*


Sore harinya, aku membiarkan kedua abdi itu menemani Rinjani di dalam kamar. Aku lebih memilih untuk mematangkan rencanaku, jika memang Rinjani belum siap menikah tak mengapa. Tapi aku butuh kejelasan pasti. Mungkin aku yang terlalu tergesa-gesa, hingga membuatnya ketakutan. Bukankah aku seperti monster yang ngebet nikah, tapi umurku sudah matang sekali, aku juga takut jika benih superku hanya akan terbuang percuma dikamar mandi!


*


Apa gadis kecilku slalu hidup dengan ketakutan, hingga slalu apa yang ia pikirkan akan berbuntut panjang. Bahkan sesuatu yang belum benar-benar terjadi sudah ia pikirkan terlalu jauh. Aku mulai mengerti saat ia mulai bercerita tentang disminore yang ia alami. Rinjani juga tidak tahu apa yang aku ragukan dengan benih-benihku, aku juga takut jika menunggu lama. Benihku akan kadaluarsa. Sayang sekali, jika keturunan darah biru ini terbuang sia-sia, aku lelaki dewasa tentu aku 'menginginkannya', tonggak keperkasaanku harus aku buktikan!

__ADS_1


Sesuai dugaanku kehadiran Nina dan Bu Rosmini membuat gadis kecilku, tersenyum.


*


Aku tidak bermaksud untuk mengacuhkannya, aku hanya memberi waktu untuk berpikir. Apakah aku berarti untuknya atau tidak, selama dua Minggu ini yang ku lakukan adalah mengirimnya buah-buahan dan salad sayur. Aku ingat Mommy Jasmine yang masih bisa hamil diusia 41 tahun, itu tandanya suaminya memang perkasa dan masih subur. Aku harus minta resep suburnya. Demi masa depan gemilang, aku terpaksa menemui Mommy Jasmine dikantornya. Tapi yang akan aku temui adalah suaminya.


Aku tertegun, suaminya masih terlihat muda. Usianya lebih tua dariku dua tahun. Jadi suami Mommy Jasmine adalah berondong muda, Hebat! Aku harus berguru dengannya.


"Aku menunggu istriku 10 tahun lamanya, sejak aku lulus SMA. Meskipun janda dua anak, aku tetap mencintainya. Anak pertama kami dulu keguguran saat dia menyelamatkanku dari sebuah tembakan. Jejak media sosial pasti masih ada. Namaku Bryan Imanuel Nicolas, mantan gembong narkoba. Carilah, kamu akan mengerti bagaimana dia berjuang untukku."


"Kekasihku mengidap disminore. Apa yang harus aku lakukan? Lalu, katakan juga resep suburmu?"


"Resep subur?" Bryan tergeletak, menatapku tak percaya, "Berapa usiamu dan kekasihmu?" tanyanya.


"34 dan 20."


"Memang apa hubungannya dengan kekasihku yang masih 20tahun?" tanyaku penasaran.


"Itu usia seorang gadis yang baru menginjak usia remaja-dewasa. Kalau dia gadis baik-baik, dia mungkin belum paham cara memuaskanmu."


"Lalu?" Aku mulai terbawa suasana. Lupa siapa aku, jati diriku.


"Jangan memaksanya jika dia belum siap. Lalu, ingat satu lagi. Resep suburku dan istriku adalah sering mandi bersama, dan olahraga. Besok saat sudah beristri, kamu bisa mengganti barbel dengan tubuh istrimu. Satu lagi yang paling penting, berpikir positif."


"Terimakasih, aku simpan baik-baik resep rumah tanggamu. Jika aku butuh sesuatu, aku akan datang kemari. Semoga kita bisa bekerja sama." Aku menjabat tangan Bryan, "good luck." Bryan tersenyum manis.

__ADS_1


*


Kadang keberadaanku memang seperti hantu, menghilang lalu datang tiba-tiba. Seperti malam ini, Ya! Aku tahu Rinjani menjadi MC di acara tahunan konser metal yang diadakan komunitasnya. Dengan waktu yang sempit, aku mendatangi salah satu panitia acaranya. Membuatku menjadi salah satu sponsor utama di acara tersebut. Aku ingin mengejutkan Rinjani, tidak peduli rupiah yang aku keluarkan. Tujuanku hanya satu, Rinjani menjadi milikku.


Mendengar suaranya yang cerewet aku sudah senang, itu tandanya hatinya sudah membaik. Sudah ada kesempatan untuk membicarakan pernikahan-lagi.


Aku melihatnya dari kejauhan, bersama kerumunan orang-orang yang sudah kepanasan. Tiba di penghujung acara, aku mulai dilanda gelisah. Membuatnya terkejut dengan kehadiranku adalah tujuanku, tapi aku seperti terjebak di dalam permainanku sendiri. Ini adalah hal gila yang ku lakukan, berada dikerumunan orang-orang yang sudah membabi buta. Aku tak yakin rencanaku berhasil, ku lihat Rinjani mulai menutup acara. Dia memanggil sponsor utama, jantungku berdegup kencang. Mataku mengedar, melihat orang-orang yang sudah sedikit meredam emosinya. Di atas panggung, Rinjani juga mengedarkan pandangannya. Apa dia juga menungguku, seulas senyum terlukis dibibirku. Dengan langkah pasti aku meringsek diantara penonton lainnya.


Mata Rinjani berbinar-binar, rasanya aku ingin memeluknya. Merengkuh tubuhnya lalu berputar-putar. Mengatakan padanya jika aku sangat-sangat merindukannya. Tapi yang bisa ku lakukan hanya tersenyum kaku, tidak banyak yang keluar dari mulutku. Paling tidak misiku berhasil, Rinjani semakin terikat olehku.


*


Sepanjang perjalanan pulang, aku menyukai saat tangannya memelukku dengan erat. Pelukan dari jari-jari kecilnya membuatku semakin bernafsu. Tapi bukan Rinjani, jika tidak menarik ulur hatinya. Hingga terpaksa, kami berdebat singkat di pinggir jalan. Dia memaksa ingin bekerja , aku memaksa ingin menikah. Akhirnya dia mengalah, ku sadari memang aku yang egois dan tergesa-gesa. Semoga Rinjani bisa mengikuti langkah lebar ku menuju singgasana pelaminan dan kerajaan.


*


Pagi harinya, aku terburu-buru mengajak Rinjani untuk pamit ke rumah ibu Rosmini. Aku datang terlalu pagi, dia terlihat sedang sarapan. Sepiring nasi dan dua telur ayam, itu adalah sarapan favoritku saat SD. Rasanya aku ingin menyendok nasi dan telur itu, tapi Rinjani seperti tak mengizinkan, meski hanya melihat telur dan nasi hangat yang menggoda indera penglihatanku.


Dia pergi ke dapur, meninggalkanku sendirian. Aku yang tak mau menyia-nyiakan waktu, akhirnya menyusul Rinjani ke dapur. Dia tidak ada, dia menghilang. Aku kebingungan mencarinya, apa maksudnya dia bersembunyi. Apa dia tidak mau pamit dengan ibu Rosmini dan masih ingin tetap bekerja. Lama mencarinya dan menunggu, sebuah kekehan terdengar keras dari balik pintu. Seorang anak manusia lari terbirit-birit menahan kencing saat mengajakku bermain petak umpet. Aku mendengus kesal, sekaligus senang. Dia sedang mempermainkanku!


*


Aku rindu dengan Rinjani, tapi banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Terlebih, aku ingin cepat-cepat menikahinya. Waktu dua minggu sepertinya cukup untuk Rinjani menikmati waktunya sendiri. Waktu dua minggu juga sudah cukup untuk menyelesaikan semua tugas-tugasku dan menyiapkan semuanya. Meski hanya pernikahan rahasia, aku ingin membuatnya terkesan. Hari-hari sebelum hari pernikahan tiba, aku mencari sebuah rumah untuk dijadikan kediaman Rinjani, karena tidak mungkin aku dan Rinjani mengadakan pernikahan di rumah kontrakan Rinjani. Rumah itu pula sebagai bentuk rasa syukurku karena akan meminang Rinjani. Rumah itu sebagai hadiah untuknya. Aku sudah menyiapkan semuanya secara matang. Kini, hanya satu lagi untuk meyakinkan Rinjani.


Menjemput bapaknya dari persembunyian.

__ADS_1


[Masih flashback sampai malam pertama versi Kaysan, sabar ya. ๐Ÿ’š]


__ADS_2