
Hari berikutnya aku kembali ke rumah, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Bahkan keluarga tak bertanya dimana keberadaanku waktu Nurmala Sari menginap dirumah. Aku masih melakukan hal yang sama, latihan menari, latihan memuaskan suami, tapi aku heran kenapa aku tidak pernah haid, atau jangan-jangan aku HAMIL!
Aku gelisah, belum waktunya aku untuk hamil, bahkan untuk waktu dua tahun ke depan. Aku masih harus berlatih menari, berlatih menjadi anggota darah biru, masih harus kuliah hingga menyandang gelar statra satu. Lalu bagaimana jika dirahimku sudah tumbuh jabang bayi. Tanpa sadar aku mengelus perutku yang kempis, disini di meja belajarku aku membuka kaos yang menutupi tubuhku. Tak ada tonjolan yang berarti, bahkan sisa makan siang tadi sudah tak terlihat menonjol.
Aku menengadah menatap langit-langit kamar, Tuhan bagaimana jika aku hamil. Aku belum siap Tuhan, bagaimana jika tubuhku sudah tak menarik lagi dihadapan Kaysan. Tuhan, jika ada jabang bayi di rahimku, aku harus bagaimana. Aku memang ingin hamil tapi tidak sekarang, banyak yang harus aku selesaikan, banyak yang harus aku buktikan. Apalagi aku masih awan dalam hal mengasuh bayi.
Tanpa sadar aku mengacak-acak rambutku frustasi. Jika Mbok Darmi seminggu tiga kali membuatkan Kaysan jamu perkasa, seminggu tiga kali pula aku juga minum jamu penyubur kandungan.
Kata Mbok Darmi namanya ramuan kembang macan kerah. Ramuan itu sering digunakan Pangeran/Bangsawan Keraton untuk sarana pembersih diri sehabis melakukan perang, tujuannya adalah untuk terhindar dari sawan medis ataupun sawan non medis. Selain untuk kesehatan ramuan ini memiliki fungsi sebagai penghilang rasa penat dan capek di badan. Aku tidak heran, jika abdi dalem yang sudah sepuh badannya terlihat masih bersemangat dan tidak loyo, ternyata rahasianya adalah ramuan kembang macan kerah, ramuan yang isinya berupa bunga mawar, bunga kantil, bunga kenanga, kunyit, dlingo, bangle, kayu secang, jeruk purut dan irisan daun pandan dan jahe.
Kata Mbok Darmi juga ramuan ini bertujuan untuk meningkatkan kesuburan wanita, caranya dengan direbus ditambahkan gula jawa, gula pasir, kayu manis, dan asam jawa tanpa menambahkan dlingo dan bangle.
Lalu jika aku hamil salah siap, salahkah sel sp*rma dan sel telurku yang bersatu, meski sebenarnya Kaysan sering membuang percuma benih-benih darah birunya.
Aku mengantuk, besok adalah hari Sabtu, hari dimana Kaysan dan Nurmala Sari bertemu. Kedatangan Tuniang Dewi dirumah ini tak lebih dari malapetaka buatku, selain menjadi guru menari, ternyata Tuniang Dewi memiliki arti sendiri untuk Kaysan dan Nurmala Sari. Meski sejujurnya aku tak pernah membahas kedekatan Nurmala Sari dan Kaysan waktu dulu dengan Tuniang Dewi, Tuniang lebih memilih untuk membisu dan hanya fokus mengajariku menari. Dan yang aku lakukan masih berlatih dasar berjalan.
*
Senja memang hanya datang sebentar, lalu pergi digantikan gelapnya malam. Diruang makan semua hikmat menikmati setiap hidangan yang disajikan. Brongkos vegetarian, sate klatak, nasi jagung, kerupuk udang, dan satu lagi hidangan yang sedaritadi membuat liurku mengalir, semangkuk sup ayam. Aku sudah mengincarnya, namun Nakula dengan cepat menganggat mangkuk itu ke hadapannya.
"Mau itu."
"Aku duluan, Mbak."
"Mau itu."
"Nakula, kasih ke Mbak." Ibunda melerai pertikaian antara aku dan Nakula, pertikaian sorot mata. Sedangkan Kaysan belum pulang kerja, katanya ada rapat koordinasi perluasan tanah di ujung kulon perkotaan. Tidak tahu pulang jam berapa, tidak pasti katanya.
Nakula menaruh mangkuk sup ayam di depanku, "Makan, habiskan. Kalau perlu minta mbok Darmi di rumah belakang."
"Kenapa Mbok Darmi hanya membuat satu mangkok Ibunda, kita kan berempat." tanyaku diluar kondisi biasanya, karena hari ini tidak ada Ayahanda, jadi keadaan tak sesenyap biasanya.
"Semangkuk sup ayam memang sajian untuk Nakula, karena anak itu tidak suka makanan pedas."
"Itu sate klatak tidak pedas." kataku tidak mau mengalah.
"Sudah dimakan saja, nanti biar Nakula ambil sendiri di dapur belakang. Masih banyak." Perkataan Ibunda membuat Nakula memundurkan kursinya, ia sudah mau beranjak berdiri.
__ADS_1
"Nakul, satu mangkuk lagi."
"Memang waiters, ambil sendiri!"
"Sudah-sudah kalian ini mau makan atau enggak, kalau enggak aku habiskan semua." oceh Sadewa yang sudah mempertontonkan berbagai macam jenis sajian di hadapannya.
"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Tuniang Dewi.
"Sudah-sudah makan apa yang sudah tersaji, dan kamu Nakula ambillah di dapur dan makan bersama."
"Baik Ibunda." Nakula beranjak dari kursi dan menuju dapur belakang, aku tahu dimana letaknya.
Kami bertiga menghabiskan makan malam dengan tenang, hingga Nakula datang dengan membawa satu mangkuk besar berisi sup ayam. Dibandingkan dengan porsiku, perbandingannya 1:3, sungguh curang.
Aku yang masih kurang akhirnya beranjak dari tempat duduk dan berpamitan dengan Ibunda dan Tuniang Dewi. Sadewa jangan ditanya, hanya manggut-manggut saja sambil melahap sate klatak yang kalau tusuknya jatuh bikin geger serumah, Mak Klontang, Jeganggik. Memalukan.
Aku berjalan ke dapur belakang, terlihat Mbok Darmi dan Parto sedang asik melahap makan malam, aku ikut duduk bersama mereka.
"Makan cah ayu." Ajak Mbok Darmi.
"Mbok, sup ayamnya masih?" tanyaku.
Aku cemberut.
"Besok Jani mau lagi, Mbok."
"Sup ayam?"
"Iya."
"Boleh cah ayu, besok Mbok Darmi buat yang banyak."
"Mbok, besok Nurmala Sari kesini, 'kan?"
Mbok Darmi dengan mata tuanya menatapku dan mengangguk, "Cah ayu tidak apa-apa? Ada yang bisa Mbok bantu?" Ada guratan rasa khawatir dari sorot mata Mbok Darmi.
"Bantu saja awasi mas Kaysan ya, Mbok. Bisa?"
__ADS_1
"Tentu bisa cah ayu, jika suamimu ngeyel nanti tidak Mbok buatkan jamu kuat. Biar saja loyo."
Aku terkekeh kecil, tidak mungkin Kaysan loyo, bahkan tidak minum jamu pun dia masih kuat staminanya. "Memang pak Parto, Mbok. Sudah loyo."
Mbok Darmi tersenyum, "Parto sudah tidak punya istri cah ayu, jadi biarkan saja loyo daripada kluyuran tidak jelas."
"Cah edan!" Parto menaruh sendoknya dan menenggak air putih di depannya.
"Pantes, Mbok. Kerjaannya hanya dangdutan sama mainan pintu gerbang, ternyata tidak ada yang dimainkan to." Aku tertawa, dengan secepat kilat aku berlari ke arah pintu, Naas aku menubruk badan seseorang. Tuhan seperti sudah menggariskan takdir bahwa aku sering menabrak sesuatu.
Kami berdua terjerembab diatas lantai, sungguh posisi yang tidak menyenangkan. Aku berada diatas tubuh, sebentar aku lihat matanya. Mata yang datar dan slalu ada untuk ku.
"Nakul! Kamu kenapa di depan pintu?"
Nakula mendorong tubuhku, lantas menggeleng, "Bukannya sudah aku bilang, Mbak. Jaga sikap."
"Rinjani!"
Aku menoleh, Kaysan sudah berdiri tegak. Menyilangkan kedua tangannya, sorot matanya tajam. Nafasnya terlihat memburu.
"Apa mas?" jawabku sambil membenarkan celana tidurku yang sedikit tersingkap.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Gak sengaja mas, nabrak Nakula."
"Apa kamu lupa aturan dirumah ini, berjalanlah dengan baik dan jangan seperti kuda liar!"
"Iya Jani salah, tidak diulangi lagi." kataku lirih, menyesal sudah kualat meledek Parto.
"Masuk ke kamar! Bukannya menyambut suami pulang. Kamu malah berbuat aneh-aneh, bagaimana jika Ayahanda melihatmu. Kamu dan Nakula mau dihukum?"
"Ayahanda sedang dirumah istri ke tiganya, mas. Mas hanya disuruh untuk menyiapkan diri untuk menari besok."
Kaysan menatap Nakula dengan tatapan siap menerkam, "Aku tahu besok Nurmala Sari datang lagi dan akan menari dengan mas, maka dari itu sekalian Rinjani mohon izin untuk pergi menemui Nina dan menginap di kost Hello Kitty."
Kaysan mengeram, lantas pergi meninggalkan aku dan Nakula.
__ADS_1
"Bagus, jadi kita tidak begitu merasa bersalah." Aku mengacungkan jempol kepada Nakula, dia hanya berdehem. Sejujurnya ini semua diluar skenario, semua terjadi begitu saja. Bahkan kepala Mbok Darmi dan Parto asik melongok keluar dari balik pintu.
[ Yang mau nyoba ramuan kembang macan kerah monggo, syaratnya hanya diminum secara rutin setiap hari. Semoga membantu ya buat yang mau mendapatkan buah hati, buat yang mau kesat 🤭, pokoknya resep ini bermanfaat buat organ kewanitaan ✌️]