
Malam larut seperti biasanya, temaram bulan menyisakan cahayanya yang terpendar. Kadar gula darah di tubuhku menyusut, aku butuh coklat untuk booster semangat.
Aku berbisik di telinga Kaysan, "Mas? panggilku pelan, Kaysan menoleh, "Iya."
Aku menautkan kedua jari telunjukku, malu mengatakan jika punggungku sudah ingin bersandar di kamar. Badanku sudah letih, udara malam semakin membuat bahuku dingin dan lengket.
"Masih lama ya mas?"
Kaysan tersenyum.
"Sebentar lagi, sabarlah."
"Memang kita nunggu apa mas?"
"Menunggu kamar siap."
Tenggorokanku seperti digelitik bulu ayam, wajahku sudah merah seperti Cherry. Aku benar-benar butuh gula, aku benar-benar butuh yang manis-manis. Senyuman itu bukan membuatku mengelora, tapi malah membuatku bergidik ngeri. Apa artinya aku benar-benar akan di makan habis malam ini. Hiiiii..... tanpa sadar bahuku terangkat.
"Kenapa?" Ternyata Kaysan melihatnya.
"Gak papa mas." Aku tersenyum kaku, Ayahanda dan Ibunda menghampiri kami berdua yang masih duduk di kursi pelaminan.
"Ayahanda, Ibunda." Aku beranjak dari kursi, menghampiri mertuaku.
"Cah ayu." Juwita mengelus bahuku, "Kamu pasti lelah, sebentar lagi ya. Mbok Darmi sedang menyiapkan mandi kembang untukmu."
"Mandi kembang?" Dahiku mengerut.
"Iya cah ayu. Biar badanmu segar dan rilex." Ku lirik Kaysan, "Mandi sendiri-sendiri, 'kan?"
Ibunda dan Ayahanda tertawa sambil melempar pandang, "Terserah kalian berdua. Kalian sudah menjadi satu, mau mandi sendiri boleh mandi berdua juga boleh. Tidak ada yang melarang."
Aku tersipu dan menunduk, "Kay! ingat ya, dia masih kecil. Jangan kau buat dia menyesal telah menikah denganmu!" Di peluknya aku di dekapan Juwita Ningrat, "Anak gadisku, sekarang Ibunda adalah ibumu. Jadi tidak perlu sungkan untuk berkeluh kesah atau hanya ingin bercerita tentang remeh temeh kehidupan. Ibunda akan mengajarimu banyak hal. Sekarang istirahatlah dulu." Ku balas Juwita Ningrat dengan pelukan hangat.
"Sudah-sudah cah ayu, lihatlah suamimu, dia seperti tidak terima kamu memeluk Ibunda seperti ini." Aku lirik Kaysan dan menjulurkan lidahku.
"Terimakasih Ibunda, Ayahanda."
"Hmm... Siapkan dirimu, akan banyak peraturan dan kegiatan yang akan kamu lakukan setelah ini." Suara Ayahanda begitu dingin dan tegas.
Aku mengangguk, bersamaan dengan itu. Mbok Darmi datang sambil menganggukkan kepalanya, seperti mengisyaratkan jika semuanya sudah siap.
"Kaysan, Rinjani. Istirahatlah." Ditepuk bergantian bahuku dan bahu Kaysan. Ibunda dan Ayahanda pergi menuju rumah utama.
Tak disangka, Kaysan menggengam tanganku, "Ayo."
Dengan langkah lemas aku mengikutinya. Melewati selasar dengan banyak ruangan dan kamar-kamar.
"Mas punya adik?" tanyaku penasaran. Karena banyak kamar di ruang utama begitu banyak dengan hiasan-hiasan yang berbeda disetiap pintunya.
"Punya. Besok jika mereka datang aku akan mengenalkanmu dengan adik-adikku."
"Banyak ya adik mas?"
__ADS_1
"Iya."
Kami tiba di depan pintu kamar, belum apa-apa aku sudah merinding. Kaysan melepas tangannya, sambil berbalik melihatku.
"Jangan sampai kamu salah masuk kamar, karena adik-adikku adalah laki-laki semua dan hanya satu adik perempuan."
Mataku membulat, "Memang dimana adik-adik mas sekarang?"
"Dirumah yang lain."
Aku mengangguk tak mau bertanya lebih dalam.
Kaysan membuka pintu kamar, ku telan ludah ku susah-susah. Satu langkah masuk ke dalam kamar ini, sudah seperti masuk ke kandang singa. Siap-siap diterkam seperti mangsa.
"Mas?" Aku tersenyum kaku, kami berdua masih berdiri diambang pintu.
"Silahkan masuk tuan putri."
"Mas?"
Hanya dibalas senyuman, lalu diangkat tubuhku seperti menganggat karung beras di pundaknya.
Aku menjerit, memukul-mukul punggung Kaysan, "Mas!" Dengan sekali lempar tubuhku terhempas diatas ranjang.
"Mas sadar, mas." Aku beranjak bangun dan duduk ke sisi ranjang. Ku lihat Kaysan yang mulai melepas blangkon dikepalanya, tangannya mulai melepas stagen yang membelit pinggangnya.
Mataku tak lepas dari adegan satu persatu printilan busana Basahan yang mulai terlepas dari badannya. Wajahku menegang, kadar gula dalam darahku tiba-tiba mengalami hipertensi. Ku tutup wajahku saat belitan kain jarik yang menutupi kakinya sampai di belitan paling akhir.
"Jani." panggilnya pelan.
"Jani?" panggilnya lagi.
"Iya mas." Masih ku tutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
"Jika bicara tataplah lawan bicaramu, bukannya tidak sopan?
Ah, ya. "Mas masih pakai baju, 'kan?"
Ku dengar ia hanya tertawa kecil, langkah kakinya mendekatiku. Ini sudah termasuk dalam radius waspada. Ku pasang kuda-kuda untuk lari mesti kamar sudah terkunci.
"Buka matamu, Rinjani." Suami oh suami, tidak pahamkah kamu jika mata suciku ini akan mulai ternodai.
Aku masih tak bergeming, ku rasakan tangannya mulai melepas printilan-printilan busana Basahanku.
"Mas!"
"Sudah diam, air hangatnya akan segera dingin jika kamu masih diam seperti ini."
"Mas."
"Jani."
"Mas, Jani bisa sendiri." Ku buka mataku pelan-pelan dengan kepala yang masih menunduk. Terlihat kaki jenjangnya yang berbulu. Aku tak berani jika harus melihatnya semakin keatas. Wow wow... pasti, menakutkan.
__ADS_1
"Kamu istriku bukan?"
"Iya mas." Eh kepala berani sekali kamu mendongkak tanpa aba-aba.
Ku lihat matanya begitu galak menatapku, seperti menelanjangiku diam-diam.
"Mas mandi duluan, kita gantian saja." Semoga ini bukan termasuk rayuan atau penolakan yang membuat wajahnya masam.
"Suami istri dianjurkan untuk mandi bersama untuk berinteraksi lebih baik. Bahkan Rasulullah Saw dan Aisyah' juga pernah mandi bersama dalam satu bak mandi"
Tubuhku mendadak kaku, "Harus ya mas? tapi Jani malu." Aku tersipu dengan kepala yang menunduk lagi.
"Kita sama-sama belajar, Rinjani. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai suami. Kamupun juga begitu, belajarlah aku akan memandumu."
"Mas, Jani malu."
"Tidak perlu malu, nanti mas matikan lampunya."
"Mas..." Tangannya sudah mulai melepas stagen, melepas pernak-pernik yang menghiasi badanku. "Mas pejamkan matamu."
"Kenapa?"
"Pejamkan saja." Dia berangsur mundur, dengan langkah seribu aku lari menuju kamar mandi dan mengunci pintunya.
"Rinjani!"
Nafasku tersengal-sengal, bahkan ini masih di dalam kandangnya. Masih bisa diterkam kapan saja.
"Buka pintunya Rinjani." Kaysan mengetuk pintu berulang kali. "Sebentar mas,biarkan Jani bernafas lega."
"Buka pintunya atau aku dobrak."
Mataku membulat, belum ada sehari menikah sudah membuat kegaduhan dan merusak pintu kamar mandi.
Aku menghela nafas panjang, dengan sekali klik pintu kamar mandi terbuka lebar.
"Hehe."
"Kamu." Dia cubit hidungku dengan gemas.
"Hanya mandi saja, 'kan mas."
"Iya, lepaskan bajumu. Tidak mungkin kamu mandi masih menggunakan jarik."
Ku tatap tubuh Kaysan dari atas hingga bawah. "Mas juga masih pake celana kolor, apa tidak mas lepas juga."
Dia tersenyum lebar, mengunci pintu kamar mandi lalu memelukku, "Nanti." Bisiknya membuatku menegang.
Ia kembali melepas jarik dibadanku, "Mas." Ku tutup dadaku.
"Tidak apa-apa, ayo mas mandikan."
*
__ADS_1
Happy Reading ๐